Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Perhatian Tomi


__ADS_3

Satu minggu aku gunakan untuk beristirahat di rumah, karena setelahnya aku memaksa untuk datang ke kantor


Rasanya sudah cukup hampir satu bulan aku tidak ke kantor, dan aku merasa tidak enak menyerahkan tanggung jawabku pada yang lain


Hari ini aku minta tolong pada mbak Sri untuk mengantarku ke kantor


Dan sudah bisa ku tebak bagaimana reaksi orang sekantor ketika aku tiba. Mereka langsung berlari kearah motor, mendekap dan mencium pipiku, dan membimbingku masuk


Yang paling kaget dengan kedatanganku tentu saja pak Kusno, mendengar aku mengucap salam, beliau yang sedang membaca koran langsung menurunkan koran dari wajahnya dan menjawab salamku dengan lirih, menatapku dengan tatapan heran dan haru


"Sini, biar bapak saja yang bawa Dinda" ucap beliau sambil mengambil alih tanganku dari pegangan seorang ibu yang tadi membimbingku masuk


"Harusnya jangan dulu masuk kerja, istirahat sampai kamu benar-benar pulih" ucap pak Kusno yang ku jawab dengan tertawa pelan


"Nanti giliran apel kamu nggak usah ikut, kamu di kantor saja"


"Iya pak....." jawabku masih dengan tertawa karena perhatian beliau


Setelah aku duduk, beliau kembali ketempat duduknya dan melihat ke arahku dengan serius


"Aku baik-baik aja pak, sumpah...." ucapku sembari tertawa kecil meyakinkan beliau yang sepertinya tak yakin


Beliau hanya mendecak dan menganggukkan kepalanya saja


Tak lama terdengar langkah sepatu terburu-buru di depan ruangan kami yang tak lama kemudian muncul wajah bu Halimah, Redho dan Nadia


Ketiganya langsung berlari menghambur ke arahku, bahkan bu Halimah dan Nadia tampak meneteskan air mata mereka


"Apa sudah benar-benar sehat?" tanya bu Halimah


Aku mengiyakan pertanyaan beliau yang dibalas beliau dengan kembali mendekap ku dari samping


"Mbak Dinda tidak yakin mungkin dengan kerja kami" ucap Redho yang langsung ku balas dengan menatap sedih kearahnya


"Bukan gitu Dho....." jawabku sambil menjelaskan alasanku padanya


Redho dan Nadia yang ku ketahui adalah orang yang menghandle semua pekerjaanku tertawa melihat reaksiku


"Bercanda mbak...." jawab mereka


Ketika giliran apel, semuanya berdiri dan keluar dari ruangan tapi tidak denganku, pak Kusno dan yang lain dengan tegas melarang ku keluar dari ruangan dan menyuruhku tetap di sini menunggu sampai apel selesai


Aku sendirian di dalam ruangan ini, karena bengong aku memilih menyalakan komputer dan mulai mengecek pekerjaanku yang dikerjakan oleh Redho dan Nadia


Sekitar sepuluh menit terdengar olehku banyaknya langkah kaki di luar yang itu artinya apel selesai dan seluruh pegawai berjalan menuju ruangan mereka masing-masing


Dan aku mengembangkan senyumku ketika semua teman satu ruangan ku masuk


Setelah semuanya duduk, aku mulai meminta tugasku yang segera aku kerjakan, walau awalnya Nadia dan Redho memaksa agar mereka yang mengerjakan, tapi aku bersikeras bahwa aku baik-baik saja dan bisa mengerjakan tugasku

__ADS_1


"Din....?!"


Aku mengangkat kepalaku ketika kudengar suara pak Burlian memanggil namaku


Kulihat beliau berdiri di depan pintu dengan mengembangkan senyum ke arahku


"Sudah benar-benar sehat?" tambah beliau sambil berjalan ke arahku. Dan aku mengangguk dan mengulurkan tanganku, menerima uluran tangan beliau


"Redho sama Nadia terus bantu Dinda, ya?, jangan biarkan dia terlalu capek, kita tahu sendiri luka tusuk yang dideritanya mengharuskan Dinda itu istirahat setidaknya dua bulan"


Redho dan Nadia menganggukkan kepala mereka mendengar perintah pak Burlian


"Ya sudah lanjutkan pekerjaan kalian, dan kamu Dinda jika butuh apa-apa jangan sungkan memberitahu teman-temannya"


"Baik pak...."


Lalu beliau keluar dan aku kembali melanjutkan pekerjaanku sampai setidaknya satu jam kemudian sampai akhirnya kembali aku mendengar suara ketukan pintu yang kembali membuat kami seisi ruangan menoleh kearah pintu


"Maaf pak, saya mau nemuin Dinda"


Aku hanya mampu memandang tak berkedip pada Tomi yang masuk dan berjalan cepat ke arahku setelah sebelumnya menganggukkan kepalanya kearah pak Kusno


"Sayang ngapain kamu sudah kerja" ucap Tomi lirih dengan memandang khawatir padaku


Aku berusaha tersenyum dan menoleh ke seluruh ruangan dimana yang lainnya memandang pada kami berdua


"Aku sudah sembuh kak...." jawabku meyakinkan Tomi yang segera menarik kursi dan duduk di sebelahku tanpa persetujuan dariku sebelumnya


"Iya kak, aku sudah di ruangan Dinda"


Aku menoleh kearah Tomi yang memasukkan hp ke saku bajunya


"Kak Burlian..." jawabnya seperti faham maksudku


"Mana yang harus dikerjakan, biar kakak yang kerjakan" ucap Tomi sambil menarik dokumen yang ada di hadapanku


Baru saja aku mau protes, dokumen tersebut telah berpindah ke tangannya, dan dengan cepat Tomi menarik keyboard dan memutar layar komputer kearahnya


"Kak, biar aku saja"


Tomi seperti tak mendengar protes ku, dia terus saja mengerjakan pekerjaanku, dan sesekali bertanya apabila ada yang tidak dimengerti nya, dan selanjutnya aku hanya duduk menungguinya bekerja


"Dho, tolong belikan makan siang untuk kita semua, ya, bisa kan?" ucap Tomi ketika dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat


Redho segera berdiri dan berjalan kearah kami, dan Tomi segera mengeluarkan beberapa lembar uang merah


"Dinda nasi bebek bakar madu, dan minumnya es jeruk, jangan terlalu manis, kalau bisa sedikit asem, juga tolong kamu cari buah untuk kita, untuk bapak ibu yang lain kamu tanyain mereka maunya makan apa"


Aku kembali hanya bisa menatap bengong pada Tomi yang begitu hafalnya dengan makanan kesukaanku

__ADS_1


"Boleh nambah bakso setan nggak kak?"


Dengan cepat Tomi menggelengkan kepalanya


"Oh iya Dho, tolong bilang sama pelayannya nasi bebek bakarnya jangan dikasih sambel"


Aku spontan memanyunkan bibirku dengan wajah cemberut


"Luka kamu belum sembuh benar Dinda, aku nggak mau luka kamu kembali parah"


Aku menarik nafas panjang tapi tak urung hal itu membuatku bahagia


Sedangkan Redho segera bertanya pada yang lain mereka mau makan apa


"Dho, saya nasi padang ya, beli dua satunya untuk pak Burlian" tambah Tomi ketika Redho akan keluar dari ruangan


Redho menganggukkan kepalanya lalu segera keluar dari dalam ruangan. Sepeninggal Redho, Tomi melanjutkan pekerjaannya sedangkan aku menoleh tak enak pada seluruh teman satu ruanganku yang tersenyum dikulum melihat ke arahku, terlebih pak Kusno yang mengetahui bagaimana hubunganku dengan Tomi


Tepat di jam istirahat Redho kembali lagi ke ruangan dengan membawa kantong berisi makan siang kami


Dengan sigap Nadia dan bu Halimah membuka bawaan Redho dan segera memberikannya pada kami


"Untuk pak Burlian biar aku saja Dho yang ngasihnya" ucap Tomi cepat ketika Redho telah akan keluar ruangan kembali


"Kamu makanlah!" tambah Tomi yang segera mengambil kantong dari tangan Redho


"Makan disini apa di ruangan kak Berlian dek?"


"Sini saja" jawabku dengan segera berdiri berniat hendak bergabung dengan bu Halimah dan Nadia


Tomi segera kembali berjalan ke arahku, dan dengan cepat menggenggam tanganku, membawaku berjalan kearah dua temanku yang terus memandang curiga kearah kami


Setelah aku duduk, Tomi keluar dan bu Halimah segera memberondong aku dengan banyak pertanyaan


"Itu yang kontraktor kemarin kan Din, yang ngasih kejutan ulang tahun kamu, yang nungguin kamu di rumah sakit?, dia siapa?, sepertinya dia sangat perhatian sama kamu"


Aku hanya tertawa mendengar banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh bu Halimah


"Dia adik sepupunya pak Burlian" jawabku singkat dengan membuka bungkus nasi milikku dan langsung memakannya


Bu Halimah dan Nadia mengangguk-anggukkan kepala mereka mendengar jawabanku, lalu kami sama-sama makan


"Nggak ada sambel nya kan dek?"


Aku menoleh kearah Tomi yang tiba-tiba telah berdiri di belakangku dengan meletakkan puding berwarna warni di atas meja


"Bagus deh" sambungnya ketika melihat kotak nasiku


Aku tersenyum dan segera menyeruput es jeruk yang memang pas sesuai seleraku

__ADS_1


Rupanya Tomi duduk bergabung makan bersama kami, dan kembali dia menunjukkan perhatian kecilnya dengan mengambilkan tisu dan memberi gelas es ketika aku ingin minum


Dan kembali perhatiannya ini membuat dadaku berdebar tak karuan


__ADS_2