
Sepanjang jalan menuju desa A aku lebih banyak diam, sedangkan pak Kusno dan dua orang pemborong tampak mengobrol serius
Berkali-kali Tomi melirik kearah Dinda yang tampak gelisah
"Kamu kenapa dek?"
Aku hanya melirik sekilas pada Tomi yang terus fokus menyetir
"Kakak lihat kayanya gelisah"
Aku bergeming, aku paling tidak suka sama orang yang ikut campur masalah ku
"Iya maaf" lanjut Tomi karena Dinda masih terus diam
"Pak Tomi, kata mbak Dinda bapak dulu kakak kelasnya, ya?"
Aku memejamkan mataku dengan khawatir mendengar pertanyaan pak Kusno
Tomi tersenyum dan melihat sekilas kearah pak Kusno melalui kaca spion
"Bukan cuma kakak kelas pak, tapi kita dulu....." Tomi sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Dinda
Dia melihat jika Dinda menggeleng pelan dengan wajah panik yang membuat Tomi tersenyum dalam hati
"Tapi apa pak?" kejar pak Kusno
"Satu team bola basket" sambung Tomi yang membuat Dinda menarik nafas lega
Aku melirik sambil mendecak pelan agar yang lain tak mendengar, sedangkan Tomi tersenyum penuh kemenangan yang membuatku tiba-tiba kesal
Sekitar tiga puluh menit kemudian kami sampai di tujuan, Tomi dan dua tender lain langsung melihat lokasi jalan yang akan mereka bangun, sedangkan aku dan pak Kusno menuju kantor kepala desa
Ternyata kedatangan kami berdua sudah mereka ketahui dari pak camat. Sehingga begitu kami masuk seluruh perangkat desa telah berkumpul dan langsung ingin mengadakan rapat sedikit
"Kami kesini tidak hanya berdua, tetapi di luar ada juga tiga orang tender yang sedang mengecek lokasi" jelas pak Kusno
Segera pak kades dan jajarannya keluar menyambut Tomi dan dua rekannya yang tak lama muncul setelah kami masuk
Aku duduk di barisan perangkat desa, sedangkan pak Kusno dan yang lain duduk bersebelahan dengan pak kades
Maka jadilah rapat singkat begitu Tomi dan kedua temannya duduk. Saat kepala tender menjelaskan apa saja yang akan dibangunnya di desa ini selain jalan, tiba-tiba hp ku berdering
Tak ingin menjadi pusat perhatian, aku segera izin keluar
"Ada apa lagi?" tanyaku malas ketika kulihat yang menelepon adalah Adi
"Aku nggak mau pergi buk dari rumah ini. Bagaimanapun juga rumah ini kita yang bangun, hasil kita berdua"
Aku menarik nafas panjang menahan kesal
"Aku lagi kerja, jangan ganggu aku!"
"Tapi aku nggak akan pergi dari rumah ini!"
"Terserah kamu kalau urat malu kamu sudah putus"
Setelah berkata seperti itu, aku segera memutus panggilan dan kembali masuk kedalam ruangan
Tomi segera menangkap perubahan kesal di wajah Dinda. Aku segera duduk dan hanya menatap kosong ketika pak kades memberikan sambutan
Tuing
Kembali aku membalik handphone, melihat siapa yang mengirimiku pesan
Aku tersenyum ketika melihat jika itu adalah pesan grup. Aku sama sekali tak membukanya, melainkan kembali menatap ke depan
__ADS_1
Tomi selalu menatap kearah Dinda, meneliti setiap inci wajahnya yang menatap kosong
Tuing
Kembali handphoneku berdenting tanda pesan masuk. Aku yakin itu bukan pesan grup, karena pesan grup telah ku ubah pengaturannya menjadi silent
Aku membalik handphone. Tomcat?
Aku menatap kearah Tomi yang juga menatapku, lalu membuka pesan yang dia kirimkan
Jangan melamun nanti ayam tetangga mati
Wajahku langsung ku tekuk demi membaca pesannya yang tak bermutu itu
Sedangkan Tomi menggerakkan sekilas bibirnya kesamping.
Selesai acara rapat tersebut, Pak kades segera mengajak kami meninjau kembali lokasi yang tadi telah didatangi Tomi dan kedua rekannya
Pak Kades menjelaskan semuanya secara terperinci sehingga kepala tender mendapat informasi yang valid
Jalan desa yang berbatu menyulitkan ku berjalan dengan memakai heels. Berkali-kali heels yang kupakai menginjak koral yang hampir membuatku jatuh
Tomi yang berjalan di depan memperlambat langkah kakinya karena menunggu Dinda yang agak jauh tertinggal di belakang
Aku berniat untuk melepas heels dan berjalan tanpa alas kaki, tapi niat tersebut aku urungkan karena aku yakin telapak kakiku akan sakit
Maka dengan pelan aku kembali berusaha menyusul rombongan yang sudah agak jauh meninggalkan ku
"Perlu bantuan?" ucap Tomi yang mengulurkan tangan ke arahku
Aku menepis tangannya. Tomi tersenyum kecut
"Kamu kenapa sih dek?, perasaan semalam kita baik-baik saja"
"Ini berat buat aku Tom. Tolong fahami kondisi aku"
Tomi mengangguk. Karena rombongan sudah jauh di depan, aku memilih untuk duduk disebuah gardu pos ronda, meluruskan kakiku yang terasa kram
Aku segera menarik kakiku ketika Tomi berjongkok di depan kakiku sambil menarik sepatuku
"Kamu mau ngapain?"
Tomi tak menggubris ucapan Dinda, dia langsung menekuk dan meluruskan betis Dinda berkali-kali
"Gimana?, sudah berkurang kram nya?"
Aku yang masih kaget dengan perbuatannya hanya mengangguk cepat
Tomi lalu memasangkan sepatu di kakiku kembali setelah sebelumnya mengelap sepatuku yang sedikit kotor terkena tanah
"Please Tom jangan buat aku baper" batinku sambil menggigit bibirku
Tomi ikut duduk di sebelahku, dia tahu jika Dinda merasa tak nyaman dengan perbuatannya tadi
"Maaf..." lirihnya
Aku hanya mengangguk. Lalu kami berdua saling diam tanpa bicara, hingga akhirnya panggilan telepon dari Adi membuyarkan lamunanku
Aku mendecak kesal sebelum mengangkat panggilannya
"Ada apa lagi?"
"Jadi kamu benar-benar memblokir atm ku?"
Aku kembali mendecak dan memutar malas mataku. Sedangkan Tomi yang duduk di sebelah Dinda hanya bisa diam melihat Dinda yang kembali berubah kesal
__ADS_1
"Aku serius dengan semua ucapan aku Adi, kali ini aku tidak main-main"
Kudengar Adi memaki-makiku dengan kasar
"Terserah kamu mau ngomong apa, ingat Adi, ini hanya permulaan. Kamu akan mendapat banyak kejutan dariku"
Kembali kudengar Adi memaki-maki, tak ingin terpancing dengan makiannya, aku segera memutus obrolan
Tomi tetap diam tanpa berani bertanya. Aku menarik nafas panjang sambil menoleh ke ujung jalan, dimana pak kades, pak kusno dan dua kepala tender berjalan menuju kearah kami
"Malah duduk disini...." protes pak Kusno yang ku jawab dengan nyengir
Lalu kepala tender berpamitan dengan pak kades dan berjanji dalam beberapa hari ini material akan sampai sehingga pengerjaan jalan bisa segera direalisasikan
Kami semua bergantian menyalami kepala kades dan jajarannya, setelah itu kami naik mobil
"Sudah jam 13.00 lewat, pak Tomi kita cari tempat makan" ucap kepala tender
"Okey pak, makan dimana kita?"
"Terserah yang penting enak"
Tomi mengangguk lalu segera melajukan mobilnya menuju rumah makan yang dulu sering sekali kami datangi
Kulihat Tomi juga berjalan menuju meja yang sama persis ketika dulu kami kesana, dan tepat dugaanku, Tomi menuju kesana
Dengan menelan ludah aku juga menarik kursi dan menunduk ke kaki kursi dimana dulu kami pernah mengukir nama kami di sana
Kembali aku harus terkesiap karena lagi-lagi aku masih mendapati nama kami masih ada di sana.
Itu artinya meja ini belum pernah diganti, batinku menatap mata Tomi yang juga menatapku
Tuing
Aku segera mengambil hp dalam tas, Tomi
Aku langsung menatap kearahnya lagi yang duduk tepat di depanku
Adek ingat nggak, dulu kita duduk di sini hingga berjam-jam hanya demi wifian gratis
Aku tersenyum membaca pesannya. Lalu aku memasukkan kembali hp kedalam tas dan segera memasang wajah datar seakan tak terjadi apa-apa
"Ini pak menunya" ucap seorang pelayan
"Pesan Bebek bakar madu, bakso seafood setan, dan es kopyor, nasinya sedikit saja" ucap Tomi
Dua kepala tender yang sedang membaca buku menu, menoleh kearahnya heran
Aku adalah orang yang paling kaget mendengar ucapan Tomi, karena itu adalah pesananku tiap kami makan disini
"Wah pak Tomi sampai hafal" ucap kepala tender sambil tersenyum
"Itu buat Dinda" jawabnya
Seluruh mata langsung memandang ke arahku. Wajahku langsung menegang
"Sampai makanan kesukaannya pun pak Tomi hafal?"
Aku memejamkan mataku dengan cepat lalu membuang nafas dalam
"Kita dulu tiap habis latihan basket sering mampir kesini" bohongku
Pak Kusno menatap heran ke arahku, seakan tak percaya. Sedangkan Tomi mengangguk lalu diapun membuat alasan
Aku meliriknya dengan tajam karena keteledorannya ini. Aku memang bahagia karena Tomi masih mengingat semua tentang kenangan kami, tapi tidak di depan kepala tender dan pak Kusno juga, rutuk ku dalam hati
__ADS_1