
Adi berdiri mematung di depan pintu kamar tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Dia tahu jika istrinya sangat marah dan kecewa padanya.
Sekali lagi dia berusaha mengetuk, tapi kembali tak ada sahutan.
"Buk..?"
Tapi aku sama sekali tak menyahut, aku segera merebahkan tubuhku keatas ranjang, bermain ponsel lagi
Gila, suami gue pulang say
Tuing tuing tuing
Group langsung ramai
Lisa : *Jangan suruh masuk Din
Mila : Kalau dia macam-macam, kamu kasih tahu kita
Putri: Mau apa dia pulang?, pasti mau minta maaf, cihh
Rohaya: Jangan termakan say dengan rayuannya
Vita: Gebukin aja Din, kita siap kok bantuin😀😀
Nanda: Ish, kok perasaan gue nggak enak ya*...
Kalimat Nanda justru makin membuat grup ramai. Sejenak dengan mereka aku melupakan sedih dan kesal ku, aku bahkan bisa tertawa ngakak membaca komentar mereka
Sedangkan Adi yang masih berdiri di depan kamar hanya bisa termangu mendengar suara Dinda yang tertawa lepas
"Benar yang dikatakan Yesa, Dinda jauh lebih bahagia dengan sahabat-sahabatnya"
Tapi kemudian dia tersadar, jika sahabat istrinya memang sangat care satu sama lain.
"Buk, ayah tidur di kamar Arik ya?"
Aku yang sedang asyik chatingan dengan sahabat-sahabatku hanya mendecak kesal mendengar suaranya
"Ya buk?" ulang Adi
Dia berharap jika Dinda akan membukakan pintu kamar dan membiarkannya masuk
"Terserah!!!" teriakku
Adi menelan ludah dengan perasaan kecewa. Setelah mendengar jawaban Dinda mau tak mau Adi harus rela turun kebawah, masuk ke kamar Arik yang sudah nyenyak
Dengan sayang diciumnya kening Arik
"Maafkan ayah ya nak..." lirihnya
Lalu Adi memiringkan tubuhnya, mendekap Arik yang sedikit menggeliat
...----------------...
Pagi hari selesai shalat aku segera berjibaku di dapur, walau kesal bagaimanapun suasana hatiku, tapi kewajibanku sebagai ibu harus aku tetap aku laksanakan.
Aku tak mau kedua anakku terbengkalai karena masalah ini. Karena mereka hanya punya aku, sedangkan ayah mereka sudah bukan milik mereka lagi, mereka harus rela berbagi dengan orang lain
Adi yang semalaman tak bisa tidur begitu mendengar jika istrinya telah bangun segera turun dari ranjang dan segera keluar dari kamar Arik
"Buk?"
Aku menghembus nafas dalam mendengar Adi kembali memanggilku. Tapi aku pura-pura tak mendengar, aku terus saja memotong-motong ayam
__ADS_1
Adi menarik kursi, duduk sambil terus menatap istrinya yang membelakanginya
"Maafkan aku buk, sumpah aku menyesal, aku khilaf buk"
Aku tetap diam, dan memukul-mukul kan pisau ke talenan dengan kasar
"Sumpah demi apapun buk aku akan lakukan asal ibuk mau memaafkan ku"
Aku meletakkan pisau dengan kasar, mencuci tanganku lalu duduk berhadapan dengan Adi
"Demi Alloh aku sangat sakit hati dengan kelakuanmu ini Adi. Aku selama ini selalu percaya jika hubungan kita baik-baik saja"
"Aku selama ini sangat mempercayaimu, hingga filling sendiri aku abaikan"
"Kamu ingatkan bagaimana mimpiku kamu selingkuh?"
Wajah Adi terkesiap
"Apa jawabanmu?, ayo kita cari perempuan yang ada dalam mimpimu itu, kamu cek hp aku, kamu tanya seluruh temanku"
Aku menutup wajahku
"Aku bukanlah wanita sempurna dan wanita sholehah Adi yang sanggup menerima poligami suamiku"
"Aku tidak sanggup membagi suamiku dengan perempuan lain"
Adi hanya diam terpaku melihat Dinda yang sudah terisak
"Berhari-hari aku berpikir, menyalahkan diriku, apa salahku Adi sampai kamu selingkuh di belakang ku?, apa aku tidak cantik lagi?, apa aku tidak bisa memuaskan mu?, apa aku tidak becus mengurus mu?"
"Perasaan aku telah menjadi istri yang baik untuk kamu, kamu aku modali, kamu tidak suka masakan luar, tiap hari aku masakin, baju kamu aku yang cuci, bahkan saat demam pun aku tetap masak makanan untuk kamu"
"Sekarang bilang sama aku, salahku dimana?"
"Jawab, karena waktumu tak banyak"
Adi menarik nafas dalam
"Aku khilaf buk"
Aku membuang wajah mendengar jawabannya
"Kamu bukan khilaf Adi, tapi kamu memang ada kesempatan dan ada niat"
"Kamu merasa kamu sudah beruang sekarang, makanya kamu bermain perempuan"
"Kamu lupa siapa yang menemani kamu dari nol, kamu tak ingat siapa yang membuat kamu jadi begini"
"Aku tidak bisa menerima pengkhianatan kamu Adi, aku tidak bisa"
Setelah berkata seperti itu, aku bangkit. Membangunkan kedua anakku dan menyiapkan baju sekolahnya
Naya yang pertama kali bangun langsung melesat masuk kamar mandi, sedangkan Arik aku harus butuh waktu karena memang dia agak sulit dibangunkan
Melihat Adi masuk ke kamar Arik, aku segera keluar, menghindar. Dan Adi mengambil alih dengan membujuk Arik bangun
Aku biarkan Adi di kamar Arik, biar dia tahu bagaimana repotnya aku jika pagi
Aku tetap memasang wajah cemberut ketika Adi selesai memandikan Arik dan kulihat dia juga memakaikan Arik seragam sekolah, pekerjaan yang seumur hidup berumah tangga denganku yang tidak pernah dilakukannya
"Salah ayah..." protes Arik ketika ayahnya salah memasangkan rompi ke badannya
Aku hanya melirik sekilas, lalu aku kembali merapihkan jilbab Naya
__ADS_1
Selesai memakai seragam, kedua anakku ku ajak kebelakang untuk sarapan
Aku sama sekali tidak menawari Adi seperti biasanya, bahkan kami sarapan bertiga
"Ayo cepat habiskan susunya, setelah itu ibuk tunggu di depan ya..." ucapku yang segera berjalan kearah depan
Di depan saat aku mengeluarkan motor aku lihat mas Toro dan kedua temannya yang kemarin ku pecat berdiri di depan pagar
Aku melengos dengan wajah jutek ketika melihat mereka.
Naya dan Arik muncul ketika aku sedang memanaskan mesin motor.
"Buka pagarnya nak" ucapku pada Naya yang segera berlari
Arik segera naik, dan aku segera mengegas motor berhenti di sebelah Naya
"Mbak..." sapa mereka
Aku diam tak menjawab sapaan mereka, aku terus cemberut ketika melewati mereka
Kulihat dari spion ketiganya masuk dan wajahku kian kutekuk
...----------------...
Aku segera memasang standar motor dan menatap dengan tajam kearah empat orang yang saat ini duduk menatapku
"Mau apa lagi kalian kesini?"
Mas Toro dan kedua temannya langsung menatap kearah suamiku
"Kami berempat mau minta maaf buk"
Aku melengos.
"Maaf mas Toro, urusan antara kita tidak ada lagi, semuanya telah jelas kemarin" jawabku sambil berjalan masuk.
Adi mengejar istrinya dan segera menarik tangannya
"Tolonglah buk hargain aku sebagai suami, ibuk tidak pernah menghargai aku, selalu merendahkan aku"
"Ohhh begitu ya??, jadi aku selalu merendahkan kamu dan tidak menghargai kamu, begitu?"
Adi diam
"Dimana yang aku tidak menghargai kamu?, di bagian mana yang aku selalu merendahkan kamu?, bilang!"
"Sifat keras kepala kamu dan mau menang sendiri inilah yang membuatku akhirnya berpaling dari kamu!!" jawab Adi
Emosiku langsung naik
"Kalau begitu, pergi kamu dari rumah ini. Ingat Adi, kamu menikah denganku itu membawa hutang, hutang kamu jaman kamu masih bujang itu kita bayari setelah kita menikah"
"Dan perlu kamu camkan, kamu bisa memakai baju bagus seperti ini karena uang ku!!"
Merah padam wajah Adi dihina istrinya seperti itu
"Kenapa marah?, benarkan yang saya bilang?"
"Kamu itu hanya kuli, dan naik jadi orang kaya setelah menikah dengan ku"
Toro dan kedua temannya yang mendengar pertengkaran bosnya saling pandang
"Jadi...?" gumam mereka sambil menggelengkan kepala tak percaya
__ADS_1