
Setelah Adi selesai menanda tangani surat perjanjian tersebut, dengan cepat Pak Bara mengambil kertas tersebut, melipatnya lalu memasukkannya kedalam tasnya
"Satu bulan, ingat mas Adi, satu bulan" ucap Pak Bara sambil segera berdiri dari kursinya, dan menjabat tanganku
Aku mengantarkan pak Bara sampai batas teras, setelah mobil pak Bara menjauh, aku segera masuk kedalam rumah meninggalkan Adi yang mengejar langkahku
"Mau apa lagi kamu, hah?" ucapku karena dia terus mengikuti ku naik tangga
"Ini rumahku, jadi aku berhak disini!"
Aku memutar tubuhku menghadapnya
"Oh ya?, kalau begitu, ayo kita urus ke pengadilan, kita hitung-hitungan banyakan uang yang kamu habiskan apa yang aku habiskan"
Wajah Adi terkesiap, melihatnya termangu aku segera melanjutkan langkahku
Tapi Adi tak tinggal diam, dia terus mengejar Dinda dan ikut masuk pula ke kamar
Kulihat, di dalam lemari telah tersusun pakaiannya yang tadi pagi aku lemparkan keluar
"Jika ini mau kamu, kamu di kamar ini, aku yang pindah ke kamar Arik" ucapku sambil segera mengambil baju yang akan kupakai malam ini lalu bergegas keluar dari kamar
Adi mendengus kesal karena melihat Dinda yang masih tak bisa ditaklukkannya
Jam makan malam, aku hanya mengajak kedua anakku untuk makan, selesai dari sana, segera aku mengajak keduanya masuk kamar Arik
Naya yang sudah beranjak besar sepertinya tahu jika aku dan ayahnya sedang ribut
Begitu kami duduk di atas ranjang, Naya langsung bertanya padaku
"Ibuk sama ayah berantem, ya?"
Aku tersenyum kecut menatap kearahnya
"Naya..." panggilku ragu
Naya memandang ke arahku seperti menunggu kelanjutan kata-kataku
Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya aku menyampaikan kebenaran tentang hubunganku dengan ayahnya
"Sekarang ayah bukan hanya milik kita lagi, tapi ayah sekarang juga milik wanita lain dan juga milik seorang anak kecil lainnya"
Kulihat wajah Naya berubah marah
"Ayah menikah lagi?" sentaknya
Aku mengangguk pelan sambil menarik nafas dalam
Secepat kilat Naya turun dari ranjang dan membuka kasar pintu, aku tak bisa mencegahnya karena terburu dia yang sudah keluar kamar
"Ayah....." Naya berteriak lantang
Adi yang ada di lantai atas segera menurunkan kakinya dari ranjang demi mendengar teriakan Naya
Mendapati ayahnya tak ada di ruang tamu dan ruang keluarga, Naya bergegas naik ke kamar
Dengan kasar Naya membuka pintu, dan didapatinya jika ayahnya berjalan kearah pintu
Dengan tatapan marah, Naya segera merebut hp yang ada di tangan ayahnya. Segera membawanya turun
Adi berusaha mengejar Naya dengan tujuan merebut kembali hpnya, tapi lari Naya jauh lebih cepat darinya
Dengan cepat Naya masuk ke kamarnya, mengunci pintu, lalu membuka galeri hp dan langsung membuka menu gambar
Air matanya jatuh berlinang ketika didapatinya gambar sang ayah dengan perempuan lain
Apalagi ketika dilihatnya foto sang ayah menggendong anak kecil. Tampak sekali kebahagiaan dalam foto tersebut
Tak puas hanya melihat foto, Naya segera membuka video, dia yakin di sana ayahnya pasti menyimpan banyak video tentang balita yang dilihatnya tadi
__ADS_1
Dan benar dugaannya, di sana terdapat video bagaimana sang ayah begitu antusiasnya melihat sang bayi belajar tengkurap, video saat sang bayi dimandikan, dipakaikan baju, video mereka jalan-jalan bertiga
Naluri kecemburuan Naya membuatnya kalap dan marah. Suara gedoran pintu dari ayahnya tak digubrisnya
Sambil terus terisak dibukanya aplikasi WhatsApp, dan dicarinya chatingan sang ayah dengan istri barunya
Ternyata dari sekian banyak pesan yang ada, tak satupun pesan dari istri muda ayahnya, Naya yakin ayahnya pasti telah menghapus pesan tersebut
Melihat Adi yang menggedor pintu kamar Naya, memancingku untuk keluar
"Ngapain kamu gedor-gedor kamar Naya?"
Adi menoleh dengan tatapan tak suka
"Ajari anak kamu sopan santun, jangan suka merebut hp orang sembarangan!"
Aku tersenyum sinis mendengar jawabannya.
Dan kembali Adi memanggil-manggil Naya, setelah cukup lama akhirnya Naya membuka pintu
Kulihat wajahnya penuh dengan air mata, ada rasa bersalah dalam hatiku ketika melihat air matanya
Tapi aku harus mengatakan ini, aku tak ingin membohongi kedua anakku, aku tak ingin mereka selalu bertanya kemana ayah mereka pergi
Adi terkesiap ketika melihat wajah Naya yang menatap tajam kearahnya sambil berurai air mata
"Jadi benar ayah menikah lagi?"
Adi bergeming, Naya makin tajam melihat kearahnya
"Ayah jahat, ayah jahaaatt..." teriaknya
Adi berusaha menangkap tangan Naya yang memukulnya, tapi Naya yang kalap tak mampu diredam oleh Adi
Air mataku ikut menetes ketika melihatnya kembali menangis meraung
Aku segera menghentikan Naya, ku dekap tubuhnya dari belakang
"Sudah nak, sudah"
Naya berbalik dan memelukku
"Ayah bukan ayah kami lagi, ayah jahat buk..." isaknya
Aku hanya bisa mengelus pundaknya sambil menatap kearah Adi yang tampak frustasi
Arik mendekat, lalu bertiga kami berpelukan
"Lihat Adi, karena keegoisanmu, kau telah melukai kedua anakmu" ucapku
Adi mundur, menyandarkan tubuhnya di tembok dengan mendongakkan matanya keatas
Sementara tangis kedua anakku masih belum reda, keduanya masih terus terisak
"Sudah nak, sudah. Jangan nangis lagi ya, kalian masih punya ibuk"
Naya makin menangis kencang. Ku usap-usap lagi rambutnya untuk menenangkannya
Diluar dugaanku, Naya melepas pelukannya padaku, berbalik kembali menyerang ayahnya
Adi yang terduduk di lantai hanya menundukkan kepalanya saja ketika Naya kembali kalap memukulinya
"Ayah jahat, aku benci sama ayah. Ayah jahaattt....." teriak Naya sambil terus memukul kepala, badan dan menendang ayahnya
Adi tak berkutik, dibiarkannya Naya meluapkan segala emosinya
"Sudah nak" tarik ku
Naya kembali menghambur ke pelukanku, dan menangis tersedu-sedu
__ADS_1
Ku bimbing kedua anakku masuk ke kamar Naya, ku nasehati mereka, terlebih pada Naya, karena dia yang sudah besar
"Aku benci ayah" lirihnya
Aku mengangguk, dan menghapus air matanya. Menarik kepalanya ke dekapanku, dan menciumi puncak kepalanya berkali-kali
Cukup lama Naya menangis, hingga aku harus berjam-jam membujuknya untuk tidur
Karena Naya masih juga tak berhenti menangis, dengan pelan Adi masuk kedalam kamar Naya
"Ayah pergi dari kamarku!!!!" teriaknya
Dengan wajah kesal aku melotot kan mataku pada Adi
"Pergi kamu, aku susah payah membujuknya agar dia diam, malah kamu membuatnya kembali histeris!" geram ku penuh penekanan
Dengan gontai Adi keluar dari dalam kamar, sebelum sampai pintu kembali dia menoleh pada Naya yang kembali terisak di pelukan Dinda
Adi naik ke kamarnya, di tangga hp yang tadi dilemparkan Naya padanya berdering
Panggilan dari Yesa. Dengan malas dia segera menolak panggilan itu, dan kembali hpnya berdering, karena kesal Adi lalu mematikan hpnya agar Yesa tak bisa menghubungi lagi
Yesa yang mendapatkan penolakan dari Adi menjadi kesal dan berteriak tak jelas di rumahnya
...----------------...
Seperti biasa, aku yang selalu bangun pagi setelah menyelesaikan kewajibanku langsung melakukan rutinitas ku sebagai seorang ibu
Aku ingin memasakkan sup untuk Naya, karena mood anak itu sedang buruk karena kejadian semalam
Biasanya Naya jika dia marah akan susah untuk disuruh makan. Jadi untuk mensiasatinya aku memasakkan sup kesukaannya
Ketika kedua anakku sarapan, Naya hanya memakan sup saja tanpa nasi sesendok pun
Aku tak mempermasalahkan itu, yang penting perutnya terisi
Setelah memasukkan bekal kedalam tas kedua anakku, aku bergegas mengantarkan mereka ke sekolah. Jika biasanya Naya akan mencium punggung tangan ayahnya ketika akan berangkat sekolah, maka hari ini hal itu tidak terjadi
Adi yang mengulurkan tangannya pada Naya harus menelan kecewa karena anak gadisnya mengabaikan tangannya, hanya Arik yang menyalaminya
Sepulang dari mengantarkan kedua anakku sekolah, aku bersiap untuk berangkat kekantor
Saat aku sedang memakai bedak, karyawan di kolam menelpon
"Mbak, kalau bisa datang dulu ke kolam, ini ikan sudah siap panen, akan kita panen besok atau kapan?"
Aku diam sebentar sambil melihat ke jam yang ada di hp
Setengah jam lagi jam kantor dimulai, kalau aku ke kolam sekarang tentu aku akan terlambat
"Nanti jam 12.00 mbak kesana, sekarang mbak mau kekantor dulu"
"Baik mbak, kami tunggu"
Lalu aku meletakkan hp dan melanjutkan dengan memakai lipstik
Saat aku keluar dari rumah, Adi mengejar langkahku
"Buk, aku harus bagaimana sekarang?"
"Terserah!" bentak ku yang langsung masuk mobil
Adi mengetuk-ngetuk kaca mobil, dan aku terpaksa menurunkannya
"Bagaimana caranya aku harus membayar hutang dengan pak Bara?" ucap Adi dengan wajah memelas
"Kamu jual saja rumah kamu dengan istri muda mu itu, toh uang yang harusnya kamu bayarkan dengan pak Bara kamu belokkan kesana" jawabku sinis
Adi hanya terpaku mendengar jawaban sinis Dinda. Dia tak bisa berbuat apa-apa saat Dinda pergi meninggalkan rumah dan dirinya yang menatap bengong
__ADS_1