Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Kena Batunya


__ADS_3

Semalaman Mila dan Tomi serta kakak Dinda menunggu di depan ruang icu, bahkan sesekali dia masuk memeriksa keadaan Dinda


Tomi yang baru saja mendonorkan darahnya tampak segar bugar dan tidak lesu sama sekali, dia terus mengobrol dengan kakak Dinda yang memang sudah mengenalnya karena memang dulu Tomi mantan tunangan Dinda


Mila sama sekali lupa dengan ketiga anaknya di rumah, pikirannya hanya fokus pada Dinda, dia tak ingin Dinda kolaps dan terjadi hal yang tidak diinginkan


"Kamu pulang saja kenapa Mil?, kan ada kakak sama kakaknya Dinda yang nungguin Dinda


Mila menggeleng


"Jika terjadi apa-apa sama Dinda kakak berdua nggak bisa melakukan apa-apa, paling cuma teriak-teriak panggil dokter"


Kakaknya Dinda tersenyum mendengar jawaban Mila


Pagi hari, saat dokter telah datang, barulah Mila keluar dari rumah sakit, sedangkan Tomi dan kakaknya Dinda yang tertidur di kursi tunggu masih tampak pulas


Mila menguap lebar ketika dia sampai di parkiran mobil, lalu meregangkan ototnya sebelum akhirnya dia masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobil dengan pelan


Sampai di rumah segera dia masuk kedalam kamar, dan langsung merebahkan tubuhnya dan tak ingat dunia lagi


Sedangkan Julistiar yang membawa Adi, begitu mobil sampai di polsek, tiga teman Julistiar langsung menarik Adi turun dan didudukkan paksa untuk segera di ambil BAP


Julistiar hanya menarik nafas panjang melihat kearah Adi yang tertunduk


"Beri air minum dulu, dan ini tolong belikan nasi bungkus lalu kasih sama mas Adi" ucap Julistiar memberi uang pada petugas yang lain


Karena tadi Julistiar meminta jangan dulu di BAP, maka polisi yang bertugas memBAP meninggalkan dulu ruangan tersebut setelah mendapat kode dari Julistiar untuk meninggalkan mereka


Julistiar duduk di sebelah Adi yang masih tampak tertunduk, menepuk pundaknya berkali-kali


"Mengapa ini bisa terjadi mas?"


Adi diam tak bersuara, dia masih menunduk dalam


"Saya belum mendapat kabar terbaru dari istri saya bagaimana keadaan Dinda, entah dia selamat atau tidak, karena terakhir istri saya nelepon, katanya Dinda kritis"


Adi mengusap wajahnya dengan menarik nafas panjang


"Apa mas tidak berpikir sebelumnya jika hal buruk terjadi pada Dinda bagaimana?, kritis itu bahaya loh mas, nyawa taruhannya"


Adi masih menunduk tak bersuara sedikitpun


"Coba kalau mas tidak gegabah, mas tidak akan dipenjara seperti sekarang, dan Dinda tidak mungkin kritis, apa mas tidak memikirkan nasib kedua anak mas, mereka masih kecil dan masih butuh sosok seorang ibu"


"Mereka sudah kehilangan sosok ayah mereka, karena mas lebih memilih selingkuhan mas dibanding keluarga dan anak-anak mas, masa mas juga tega merebut ibu mereka, mas mau mereka jadi anak yatim piatu?"


Adi terisak, dan sekarang berusaha menghapus air matanya


"Aku menyesal mas, sungguh" ucapnya pelan


"Penyesalan selalu diakhir mas, itulah mengapa kita diminta berfikir ulang sebelum melakukan sesuatu"


Adi kembali diam dan terisak, dan Julistiar segera memberinya sebotol air mineral dan juga nasi bungkus


"Makanlah dulu mas, nanti setelah selesai akan ada teman saya yang akan mem BAP"


Adi masih diam bergeming ketika Julistiar memberikan sebuah bungkusan padanya


"Makanlah dulu mas, saya yakin mas sejak semalam belum makan apa-apa"


Adi mengangguk dan membuka bungkusan tersebut, lalu memaksakan makanan tersebut masuk kedalam mulutnya


Dalam keadaan bermasalah, terlebih karena ini menyangkut masa depan dan nyawa seseorang, tentulah nafsu makan jadi hilang


Sementara Julistiar yang keluar dari ruang BAP, segera berjalan kearah depan dengan menempelkan hp di telinganya


Dan Mila yang telah bangun dan sekarang sedang makan siang langsung mengambil hpnya yang terletak di sebelah piring

__ADS_1


"Ya pa?, bagaimana udah ketangkep Adi nya?"


Julistiar menarik nafas panjang mendengar pertanyaan istrinya


"Tidakkah mama mau bertanya bagaimana keadaanku, sudah makan belum, sudah tidur apa belum?" keluh Julistiar


Terdengar suara Mila terkekeh


"Kalau itu aku sudah tahu jawabannya pa, pasti belum kan?"


Julistiar tersenyum kecut


"Gimana pa?, serius aku tuh..."


"Iya, Alhamdulillah sudah ketangkep dan sekarang mas Adi nya lagi papa suruh makan"


"Enak aja disuruh makan, nggak usah dikasih makan pa, dia enak-enakan makan, sahabat aku kritis di icu"


Kembali Julistiar tersenyum


"Bagaimana Dinda?"


"Mama baru bangun pa, semalaman di rumah sakit nungguin Dinda"


"Sendirian?"


"Nggak, sama kak Tomi dan kakaknya Dinda juga. Papa belum mau pulang?"


"Nanti, setelah proses BAP mas Adi selesai, udah itu aja ya ma, papa cuma mau ngasih kabar terbaru tentang penangkapan Adi"


"Pa, aku boleh kesana kan?"


"Untuk apa?" tanya Julistiar cepat


"Adalah pokoknya"


"Halah terserah lah pa, aku telpon papa aku aja sekarang, mau minta ijin sama beliau"


"Ya Tuhan sayang jangan"


Tapi sia-sia karena panggilan telah diputus oleh Mila


Julistiar hanya bisa menarik nafas panjang kemudian kembali melihat kedalam ruang BAP dimana Adi masih terlihat makan


"Bagaimana ini..?" batin Julistiar bingung


Dia kembali berusaha menelepon Mila tapi tak diangkat, dia semakin yakin jika sekarang istrinya itu sedang dalam perjalanan


Lalu Julistiar menemui temannya yang bertugas mem BAP, agar nanti mem BAP Adi agak lama agar Mila tak memiliki kesempatan untuk menemui Adi, dan temannya menyetujui tapi ada nada ragu dalam dirinya


"Jika mbak Mila ngadu sama bos, bagaimana pak?"


Julistiar kembali menarik nafas panjang, bukan rahasia umum lagi jika seluruh polisi disini takut dengan Mila karena jabatan tinggi ayahnya


"Kalau itu saya juga takut...." gumam Julistiar tak jelas


Keduanya lalu diam hingga akhirnya Julistiar mengambil kesimpulan


"Untuk urusan istri saya biar itu menjadi urusan saya, semoga saja dia memakluminya, sekarang segeralah kamu BAP Adi, aku akan menunggu di luar, khawatir jika tahu-tahu istri saya datang"


Pria tersebut mengangguk dan segera masuk ruangan dan langsung mem BAP Adi


Karena temannya telah masuk ruangan, Julistiar memilih menunggu di luar kantor


Dan benar saja, baru sekitar sepuluh menit di duduk di luar dan mengobrol dengan temannya Mila datang


Kedua teman Julistiar langsung berdiri dan menganggukkan kepala mereka ketika Mila berjalan mendekat kearah mereka

__ADS_1


Mila langsung melepas kaca mata hitamnya dan memasang senyum manis pada suaminya, dan menganggukkan kepalanya pula kearah dua anggota teman suaminya


Julistiar membalas senyuman istrinya dengan senyum kecut.


"Maaf bapak-bapak, yang piket siapa ya?" tanya Mila


Dua orang anggota tadi menjawab jika merekalah yang sekarang piket


"Ah kebetulan sekali jika begitu, saya mau minta ijin lihat tahanan yang baru ditangkap suami saya siang ini, boleh?"


Kedua petugas yang telah diberitahu Julistiar siapa lelaki yang ditangkapnya dan apa hubungannya dengan Mila hanya saling toleh


Mila langsung memasang wajah datar kearah dua petugas tadi lalu menoleh kearah suaminya


Lalu kedua polisi tadi menjelaskan jika Adi sedang di BAP dan tidak bisa dijenguk karena prosedurnya memang belum boleh untuk dibesuk


"Saya nggak akan bawa-bawa nama papa saya, tapi saya bawa nama pribadi saya, jadi saya mohon bapak berdua bisa diajak kompromi" ucap Mila melunak


Kedua petugas tadi masih bersikukuh menjelaskan jika untuk sekarang Adi belum bisa dibesuk, yang membuat wajah Mila yang datar berubah dingin


"Siapa nama kamu?" tanyanya pada dua anggota yang wajahnya langsung menegang


"Oh, Arif dan Ikbal...." ucapnya membaca nama yang menempel di baju keduanya sambil menempelkan hp ke telinga


"Sayang jangan gitu dong, taati peraturan, ya?" Julistiar membujuk


Dada Julistiar didorong pelan oleh Mila karena dia sedang menelepon seseorang


"Papa...?" ucap Mila nyaring sambil menoleh kearah dua petugas yang kembali saling toleh


"Ini pa, aku sedang ada di polsek, aku nggak dibolehin masuk sama yang namanya Arif...., Arif apa nama lengkap bapak?" tanyanya


Petugas yang bernama Arif makin menegang, begitu juga dengan temannya


Sedangkan Julistiar sudah mengusap kasar wajahnya


"Nggak mbak, mbak tadi salah sangka, mbak boleh masuk kok...." jawab petugas yang bernama Arif cepat


Wajah Mila yang masih datar tidak memperdulikan perkataan petugas tersebut


"Bentar pa, iya pa, ini aku sudah disuruhnya masuk. He eh pa, aku mau kasih pelajaran sama bajingan tengik yang berhasil ditangkap suamiku"


"Boleh kan pa?, ahhh papa baik banget, makasih ya pa..I love you pa...."


Mila lalu menarik hp dari telinganya dan kembali menatap dingin kearah dua petugas dan juga kearah suaminya


"Awas kalian bertiga, sekali lagi menghalangi saya, saya suruh papa memindahkan kalian bertiga ke seberang pulau"


Ketiga polisi itu hanya menelan ludah bahkan Julistiar ikut mensejajari langkah Mila yang masuk dengan angkuhnya


Adi langsung menoleh kebelakang ketika didengarnya ada langkah heels masuk kedalam ruangan


Wajahnya langsung menegang ketika melihat Mila masuk dengan wajah murka menatapnya


Tanpa ampun Mila langsung menarik Adi dan melayangkan tendangannya kearah dada dan perut Adi hingga laki-laki itu terhuyung dan membentur tembok


Julistiar langsung menahan tubuh Mila yang kembali memasang kuda-kuda untuk menendang Adi


"Ma, stop. Sudah. Adi sudah berhasil kami tangkap dan bisa dipastikan dia akan menerima hukuman berat, jadi tolonglah mama kooperatif, hormati kerja kami"


Mila mendengus, di injaknya kaki Julistiar yang membuat lelaki itu menjerit kesakitan lalu kembali Mila melayangkan tendangannya ke kepala Adi yang kali ini membuat lelaki itu ambruk kelantai dan Mila terus menendang tubuhnya berkali-kali sampai Julistiar dibantu petugas BAP tadi untuk menghentikan aksi brutal Mila


"Kamu harus rasakan sakit ini Adi, sahabat saya sampai saat ini masih kritis akibat ulah kamu, bahkan detak jantungnya sempat berhenti, kamu tahu??!!!" teriak Mila


"Ya ampun ma, sudah...." ucap Julistiar terus menahan tangan dan bahu Mila agar tak kembali kalap menendang Adi yang saat ini terkapar tak berdaya di lantai


"Jika sampai terjadi apa-apa sama sahabat saya, kamu akan menerima akibatnya yang jauh lebih sakit dari ini" geram Mila

__ADS_1


__ADS_2