
Aku terus fokus bekerja hingga beberapa panggilan di hp banyak yang aku abaikan, terutama nomor yang tak ku kenal
Begitupun dengan pesan singkat sama sekali belum ku buka.
Barulah setelah jam istirahat aku memeriksa hp. Ada dua kali panggilan yang ku abaikan dari nomor baru, panggilan grup Rempong, panggilan dari suamiku dan panggilan dari kakakku
Lalu aku membuka pesan.
Keningku berkerut ketika nomor baru yang ku abaikan mengirimiku pesan.
Didorong rasa penasaran akhirnya aku memilih pesan dari nomor baru itu untuk kubuka pertama kali
Assalamualaikum, dek ini kakak, save ya nomornya
Aku memiringkan bibirku dan mengulangi membaca pesannya
"Kakak?" gumamku
Lalu aku membuka profilnya ingin mengetahui namanya
Aku langsung terhenyak begitu membaca nama yang tertera di akun tersebut
Tomi Mahendra
"Ya Tuhan dapat dari manalah orang ini kontak ku?" gumamku sambil mengacak rambut panjangku yang ku kuncir
"Ini pasti ulah Rohaya" geram ku
Lalu aku membuka kembali pesan lain, membuka grup rempong. Hanya membaca tanpa berniat untuk komentar
Selanjutnya aku pindah pada pesan dari suamiku yang mengatakan jika hari ini dia harus keluar propinsi, ke ibu kota, katanya ingin mengunjungi pabrik.
Aku tertegun membaca pesannya
Ke Pabrik???
Tumben-tumbennya, biasanya via calling dan transfer saja kok ini pakai langsung kesana?
Pesan itu terkirim tiga jam yang lalu. Segera aku mendial nomor suamiku, tak aktif berada diluar jangkauan
Aku menarik nafas dalam, sudah dua minggu sejak dia pergi keluar propinsi nganter sawit itu baru ini dia pergi lagi
"Kok aku jadi curiga ya?" batinku
Kembali aku mendial nomornya, masih tak aktif, aku lihat suamiku aktif satu jam yang lalu
Karena di dorong rasa penasaran aku menelpon bagian gudang
"Bapak ada?" tanyaku begitu panggilan terhubung
"Nggak ada bu, sudah beberapa hari ini bapak nggak ke gudang"
Aku diam, sudah beberapa hari??, tetapi suamiku bilang kemarin dia mengontrol gudang
"Ah ya sudahlah, selamat kerja lagi ya, jangan lupa makan"
"Iya bu"
Aku menarik nafas dalam memandang kosong pada hp. Ah sudah lah, biarkan kalau suamiku mau keibu kota, toh keuangan tetap aku yang kontrol
Lalu aku keluar menuju kantin kantor dimana di sana telah penuh dengan teman sekantorku
"Kok baru nongol sih Din?"
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan mereka
"Ntar pulang kantor kita shopping yuk, banyak barang diskon loh"
Mata kami langsung membulat jika sudah mendengar kata diskon
"Habis jam kantor kita cus ya..."
"okeee" jawab kami kompak
"Inilah yang menyebabkan mengapa banyak suami yang korupsi" celetuk seorang bapak yang bekerja di bagian Administrasi kantor
Mendengar itu kami terkekeh
...****************...
Nyaris hampir maghrib aku baru sampai di rumah. Tadi aku sudah menelpon Naya, memberitahunya jika aku sedang belanja dengan teman-temanku
__ADS_1
Kedua anakku saat aku sampai sedang bermain handphone, para pekerja sawit kulihat belum pulang, masih menunggu di gazebo yang terletak di sudut halaman
Melihat motorku masuk mereka langsung menoleh yang ku balas dengan senyuman
"Karena mbak sudah di rumah, kami pulang ya mbak?" pamit salah satu dari keenam orang itu
"Loh, Mas Adi nggak ada?"
"Ke kota katanya"
Aku menganggukkan kepalaku dan mencoba kembali tersenyum.
"Nanti pagarnya ditutup lagi ya pakde"
Mereka menganggukkan kepala lalu mengambil motor mereka masing-masing dan pulang.
Sambil masuk kedalam rumah, aku kembali mendial nomor suamiku
Tersambung tapi tak diangkat
"Kebiasaan, kalau lagi pergi susah banget di telepon"
Aku memasukkan handphone kembali kedalam tas dan masuk kedalam rumah, mencium kepala kedua anakku sebelum masuk ke kamar.
_Di tempat lain_
Adi sedang mendaki puncak kenikmatan dunia ketika handphonenya berdering.
Dia sangat mabuk hingga lupa akan dunia dan seisinya. Yang diingatnya adalah kesenangan dan kenikmatan yang akan diraihnya saat dia sampai di puncak
Erangan dan lenguhan dari istri mudanya, Yesa makin membuatnya blingsatan dan gila.
Hingga suasana Maghrib tak mereka hiraukan karena merek asyik memadu kasih
Yesa, seorang perempuan muda yang umurnya tak jauh beda dengan Dinda, berumur 35 tahun juga, seorang janda anak satu yang kalau menurut ceritanya adalah korban kdrt suaminya sehingga kabur dari rumah dan bertemu dengan Adi ketika sedang kongkow di cafe
Dari sanalah api perselingkuhan Adi mulai terpercik, apalagi Yesa adalah janda aduhai yang sangat menggoda
Awalnya mereka hanya saling berkirim pesan hingga akhirnya hubungan mereka makin intens dan makin serius
Hingga tanpa ragu Adi menikahinya secara siri dan sekarang mereka telah memiliki anak berumur tiga bulan
Sikap Adi masih tak berubah, masih sangat manis tapi akhir-akhir ini Yesa mulai banyak menuntut, alasannya karena anak mereka masih kecil dan butuh kasih sayang seorang ayah yang mengakibatkan Adi harus sering-sering menemuinya karena anak mereka
Seperti hari ini, Adi kembali pergi menemui istri mudanya, dia pintar dia tidak membawa mobilnya, dia menggunakan travel dan membuat alasan jika dia ke ibukota, dengan demikian dia bisa cukup lama di rumah baru yang dibelikannya untuk istri mudanya itu
Entah permainan panas mereka akan berhenti sampai di mana, Adi semakin gila bergerak bebas di atas tubuh istrinya, dada besar Yesa yang ranum karena dia sedang menyusui telah berkali-kali dilahapnya.
Hingga satu jam berikutnya barulah tubuhnya ambruk di sebelah tubuh Yesa yang juga bermandikan peluh.
Senyum puas merekah di bibirnya, dengan manja Yesa menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka
...****************...
Karena suamiku sampai detik ini tak juga bisa dihubungi, aku mengalihkan perhatianku dengan menonton film drakor
Tapi itu hanya sebentar, karena sudah berkali-kali aku membuka aplikasi WA berharap jika Adi akan membalas pesanku dan mengabari ku
Tapi aku kembali harus menelan kecewa karena pesanku saja belum dibacanya, boro-boro mau di balas
Hingga aku kembali menyibukkan diri dengan menonton drakor ketika ada panggilan masuk
Nomor baru
Jangan-jangan nomor Tomi, karena nomornya sama sekali tak kusimpan, pesannya juga tadi langsung ku hapus
Lalu ada suara notifikasi pesan singkat. Tak kubuka, aku hanya menarik layar kebawah agar aku bisa membaca pesannya tanpa membuka aplikasi
Kakak tahu adek masih marah dengan kejadian lalu, tapi tolong beri kakak kesempatan untuk menjelaskan
Hatiku yang panas karena suamiku tak juga aktif sekarang makin panas karena isi pesan dari si Tom cat
Aku hanya menoleh kearah kedua anakku yang tertawa-tawa melihat youtube, lalu berpamitan pada mereka hendak ke kamar
"Ibuk ke kamar nak ya, ayah kalian nggak pulang, kalo kalian mau tidur sama ibuk, nyusul aja nanti"
"Ya buk"
Hanya jawaban singkat karena mereka masih fokus menatap handphone
Sampai di kamar aku segera duduk di tepi ranjang, mendial nomor suamiku yang masih tak diangkatnya.
__ADS_1
"Se***an kamu Adi, kemana kamu??" geramku sambil membanting handphone keatas kasur
Dadaku turun naik, pikiran buruk kembali melintas di kepalaku, apalagi Adi memang beberapa bulan ini bertingkah aneh walaupun tetap menunjukkan perhatiannya padaku
Handphoneku berdering, dengan cepat aku mengambilnya dan berharap jika itu adalah panggilan suamiku
Ternyata nomor baru, dan aku yakin itu nomor Tom cat
"Mau apa kamu nelpon-nelpon aku, hah?, stop hubungin aku. Aku sudah punya anak dan suami. Jangan gila kamu!" bentakku begitu aku menerima panggilan itu
"Aku tahu kalau adek sudah ada anak dan suami, tapi tolong dengarkan penjelasan aku!"
"Nggak ada yang perlu didengarkan lagi, aku sangat membencimu Tom, sangat membencimu, bahkan jika kamu mati sekalipun, dosa kamu padaku tak akan aku maafkan"
"Aku tahu kamu Dinda, bukan sehari aku mengenalmu, tapi telah bertahun-tahun"
"Arrghhh... stop Tom, stop kamu bilang masa lalu, aku muak mendengarnya!"
Lalu aku putuskan panggilan dan menutup wajahku yang seketika terasa panas, karena aku telah terisak
"Kamu jahat Tom, aku tak akan pernah memaafkan kamu" lirihku terisak
...****************...
Adi terbangun di tengah malam saat mendengar anak bayinya menangis. Yesa yang tidur lelap di sebelahnya tak mendengar jika bayi mereka terjaga karena kehausan
Dengan pelan Adi menyibakkan selimut, memakai baju dan boxer yang berserakan di lantai, lalu dia turun berjalan kearah box bayi, mengambil anak bayinya
"Ahhh anak papa bangun ya, haus?, iya?"
Tangis bayi mungil itu masih belum berhenti walau telah dalam dekapan Adi.
Adi lalu membawanya ke sebelah Yesa dan menggerakkan badan Yesa
Yesa terjaga dan segera memiringkan tubuhnya memberi bayinya asi, sedangkan Adi keluar dari kamar berjalan menuju belakang karena dirasanya jika perutnya lapar
Dia menelan kecewa karena tudung saji tak ada isinya. Lalu dia membuka kulkas mengambil telur dan mie instant
Sambil menggelengkan kepala dia masak sendiri, dia jadi teringat Dinda. Sesibuk apapun istrinya itu, dia selalu masak untuknya dan anak-anak mereka
Dinda?
Secepat kilat Adi masuk kembali ke kamar mengambil handphone karena sejak sampai di rumah istri mudanya dia sama sekali belum membuka hpnya.
Dan benar apa yang ada di benaknya, ada empat kali panggilan tak terjawab dari istrinya
"Jam 00.05" batinnya
Biasanya Dinda belum tidur karena dia asyik chatan dengan teman-temannya atau bisa jadi juga sekarang Dinda sedang menonton drakor
Segera dia mendial nomor Dinda, tersambung dan tak lama tersambung
"Maaf sayang hpnya aku silent, jadi nggak dengar jika kamu nelpon"
Aku menarik nafas dalam mendengar alasan suamiku
"Sudah sampai ibukota?"
"Sudah sayang, siang tadi"
"Kapan pulang?"
"Ehmm kalau itu belum tahu sayang karena aku belum ke pabrik, rencananya besok"
Tanpa Adi sangka, anak bayi mereka kembali menangis kencang
Aku yang mendengar ada suara tangisan bayi seketika bangun, menyandarkan pundakku di sandaran kasur
"Itu suara tangisan bayi, bayi siapa yah?"
Adi gelagapan, dengan cepat dia berlari keluar kamar
"Mana nggak ada sayang, kamu salah dengar kali.."
Aku diam dan memejamkan mataku menebak suara suamiku, apakah suaranya gugup atau suaranya masih sama seperti tadi
"Aku dengar sendiri yah, ada suara bayi nangis"
"Nggak ada sayang, masa di hotel ada suara bayi nangis sih, ini ayah lagi di hotel"
Aku diam, mencoba mempercayai kata suamiku. Tapi kembali aku curiga ketika teringat bau minyak telon sewaktu dia pulang dari luar propinsi kemarin
__ADS_1