
"Tak disangka, merdu juga suara mas Tomi" goda pak Arsen ketika kami telah di jalan
Tomi menjawab dengan tersenyum begitupun dengan aku, juga tersenyum mendengar ucapan pak Arsen
"Langsung kembali ke kantor atau kemana ini?" tanya Tomi
"Langsung pulang ke kantor saja" jawab pak Bagaskoro
"Iya benar, saya masih ada kerjaan lain" sambung pak Arsen
Tomi mengangguk dan segera menjalankan mobil menuju kantor
Di tengah jalan hp ku berdering
"Pak Bara?" gumamku
Tomi mengerling ke arahku ketika mendengar ku bergumam
"Ya pak?" ucapku ketika menjawab panggilan dari pak Bara
"Ini rombongan pak Endro ngajak ke rumah mbak Dinda sore ini"
"Ada urusan apa pak ya?" tanyaku sambil melirik kearah Tomi yang kembali menoleh ke arahku
"Masalah ruko kemarin"
"Oh kalau masalah itu, bilang saja sama bapak-bapak itu, mereka langsung berurusan saja sama Adi, karena itu bukan urusan saya, dan juga ruko itu jadi milik Adi sekarang"
"Bagaimana jika besok saja mbak?, sekalian dengan mas Adi nya?"
Aku diam sebentar, menggigit kukuku
Dan kembali Tomi menoleh dan dia semakin yakin jika Dinda gugup
"Nanti aku pikir ya pak, soalnya aku masih di jalan" elak ku
Lalu panggilan berakhir dan aku kembali fokus menatap ke depan
...----------------...
Sabtu pagi, setelah mengantar kedua anakku sekolah aku segera meluncur ke toko. Kali ini tujuanku adalah toko kedua, sesuai dengan janjiku kemarin dengan pak Bara, hari ini kami akan bertemu di ruko ini
Toko telah selesai di buka ketika aku sampai, dan juga sudah ada pembelinya
"Pagi buk....." sapa karyawan ketika aku masuk
Aku tersenyum sambil melambaikan tanganku kearah mereka
Lalu aku duduk di kursi, tempat biasa aku duduk, melihat catatan stok barang dan sesekali ikut melayani pembeli
Hingga akhirnya jam sembilan rombongan pak Bara datang dan aku yang sedang melayani pembeli akhirnya digantikan dengan karyawan lain
"Langsung kelantai atas saja pak" ajak ku pada mereka
__ADS_1
Aku menoleh sekilas kearah para karyawanku yang memandang penuh curiga sejak rombongan pak Bara tadi datang
Saat kami semua telah duduk melingkar di lantai terdengar langkah kaki dari arah tangga dan muncul Adi
Aku segera membuang sekilas wajahku ketika melihatnya masuk
Dengan sedikit berbasa-basi Adi duduk di dekatku, dan dia tersenyum kaku ke arahku yang ku balas dengan melengos
Tanpa basa basi, bapak yang biasa berbicara mewakili keempat temannya itu mulai membuka suara
Dan dapat kulihat dengan jelas jika Adi mulai gelisah.
"Jadi keputusannya bagaimana mas Adi?" tanya bapak tersebut setelah menjelaskan duduk perkaranya
Adi diam tak menjawab dan menarik nafas panjang, cukup lama dia terdiam sampai akhirnya dia menoleh ke arahku
"Tolong bantu aku Din...." lirihnya
Aku menoleh kearahnya dengan mengernyitkan dahiku
"Ini adalah satu-satunya hartaku yang tersisa Din, jika ruko ini sampai diambil oleh rombongan bapak-bapak ini, aku tidak punya apa-apa lagi" lanjutnya mengiba yang membuatku menggeleng tak percaya
"Jangan banyak drama lagi mas, kamu tahu sendirikan keputusan pengadilan" jawabku
"Tolonglah Din, aku dan anak istriku butuh biaya makan, masa kamu tega membiarkan kami jadi gembel"
Aku melengos dan kembali menggeleng dan tersenyum tak jelas
"Gila kamu mas..." jawabku sambil tertawa tak jelas
"Nggak!!!!" teriakku
Keenam bapak-bapak yang ada di ruangan ini langsung terdiam mendengar ku berteriak kencang
"Uangku habis tidak bersisa Adi membayar hutangmu, semua usahaku sekarang dimulai dari nol lagi kalau kamu mau tahu, bahkan kolam hingga detik ini belum juga diisi ikan"
Adi diam dan hanya menatap bingung ke arahku
"Dan sekarang jika rombongan bapak-bapak ini mau narik ruko ini, silahkan, ambil" ucapku lagi dengan emosi
"Tolonglah Din...."
"Tolong apa lagi?, hemm?, kamu nggak mikir mas sebelum melakukan sesuatu, uang kita yang kamu hambur-hambur kan jumlahnya ratusan juta, coba kalau kamu mikir, kamu nggak akan melakukan itu. Giliran sekarang kamu baru mikir, kemana selama ini otak kamu?"
Adi menunduk dan tampak sekali dia kacau
"Jika memang tidak ada kepastian dan tidak menemukan jalan keluarnya, dengan sangat terpaksa, ruko ini kami sita"
Aku segera menoleh kearah bapak yang berkata tadi dan menarik nafas panjang
"Bagaimana mas Adi?"
Adi mengangkat wajahnya dan menarik nafas panjang lalu kembali dia menoleh ke arahku
__ADS_1
"Apa boleh buat pak, saya juga tidak punya uang untuk membayar hutang saya" jawabnya lemah
"Oke baiklah jika begitu, pak Adi silahkan menandatangani surat pemindahan ruko ini" bapak tadi menyodorkan sebuah map kepada Adi, dan ketika Adi membukanya kulihat di atas surat tersebut telah melekat sebuah materai
Dengan gemetar Adi menandatangani surat tersebut, lalu dengan segera map tersebut diambil bapak tadi dan memperlihatkannya kepada keempat temannya
"Bagaimana dengan barang-barangnya mbak Dinda?" tanyanya
Sekarang giliranku yang bingung
"Sebentar pak, saya mau bicara dulu dengan karyawan saya"
Bapak tadi mengangguk dan aku segera berdiri lalu turun, kulihat masih ada beberapa pembeli, dan ketika mereka sudah selesai semua berbelanja, aku meminta salah satu dari mereka menutup rolling
Butuh kekuatan hati saat aku duduk bersama mereka di lantai, ku pandangi wajah mereka satu-satu
Kulihat wajah mereka berdelapan tampak murung dan sedih
"Maafkan ibu....." hanya kata itu yang keluar dari mulutku, selebihnya aku telah terisak
Empat karyawan perempuan ikut menangis, sementara yang laki-laki masih tampak menunduk
"Terus kami bagaimana buk?" tanya salah satu karyawan laki-laki kepadaku
Aku makin terisak
"Ibu nggak ada pilihan lain mbak, mas. Uang ibu benar-benar sudah habis untuk melunasi hutang pak Adi" lirihku
Isakan tangis makin terdengar di telingaku. Dan aku kian sedih menatap Siska dan ketiga temannya
"Mereka masih bisa kerja di sini mbak, ruko ini tidak akan menjadi milik kami, karena kami tidak butuh ruko, yang kami butuhkan adalah uang. Jadi ruko ini mulai hari ini akan kami jual, akan kami pasang baliho yang menyatakan jika ruko ini di jual, dan sampai ruko ini belum laku, mbak masih bisa membuka usaha di sini"
Aku dan seluruh karyawan menghembus nafas lega mendengar ucapan bapak yang memang sejak awal dialah yang paling sabar dan pengertian
Siska refleks saling berpelukan dengan temannya, sedangkan karyawanku yang laki-laki mengusap wajah mereka dan saling merangkul kan tangan mereka ke pundak masing-masing
"Terima kasih pak" ucap kami serempak
Keenam bapak-bapak tersebut mengangguk dan aku menoleh kepada karyawanku, tersenyum sambil mengusap kasar wajahku yang basah oleh air mata
Sementara kulihat Adi tampak menundukkan kepalanya
"Izin masang baliho di atas ya mbak" ucap pak Alfian
Aku mengangguk dan beliau berjalan kearah rolling membuka pintu rolling dan saat kembali kulihat di tangannya ada sebuah baliho besar
"Mas-mas bisa bantu saya masangnya di atas?" tanya beliau kearah empat karyawanku yang laki-laki
Dua orang berdiri dan berjalan naik kelantai atas
Aku dan karyawanku yang telah berdiri menyalami pak Bara dan yang lainnya ketika mereka berpamitan
Hingga semuanya telah naik kedalam mobil barulah rolling kembali dibuka lebar, dan aku kembali menatap kedelapan karyawanku lalu kami sama-sama tersenyum
__ADS_1
"Din....?" panggil sebuah suara
Aku segera menoleh dan sadar jika Adi masih ada di ruko ini