
"Maafkan kakak Din...." lirihnya serba salah
Aku yang masih terisak tak menggubris permintaan maafnya
"Jika begini terus, bisa stress aku kak...."
Tomi kembali mengusap kepala Dinda
"Sabar..., ya?"
Aku masih terus terisak dan Tomi terus membujukku. Dengan pelan akhirnya aku melepas dekapanku.
Mengusap kasar wajahku dan mengambil tissue yang diberikan Tomi
Menghembus kuat hidungku lalu memberikan tissue tersebut kepada Tomi lagi dan kembali mengambil tissue lalu menghembus kuat kembali hidungku
Selesai itu barulah tissue bekas ingus yang dipegang Tomi aku ambil
Tomi tersenyum sekilas melihat tissue bekas yang dipegangnya kuambil
"Maaf...." ucapku dengan suara manja
Tomi kembali tersenyum
"Itu tadi refleks atau keinget kebiasaan masa lalu?"
Mataku langsung terbelalak dan langsung tersadar jika refleks ku tadi adalah kebiasaan ku dulu, tiap kesal dan marah sama Tomi atau ribut sama Tomi dan aku menangis, maka ketika Tomi memberi tissue, maka tissue bekas ingus akan aku kasih lagi sama Tomi menyuruhnya memeganginya lalu membuang ingus lagi, barulah tissue bekas tadi aku ambil
Aku memutar tubuhku membelakangi Tomi dan Tomi kembali tersenyum
"Jika kamu sudah tenang, kakak akan turun dan menemui rombongan tadi"
Aku membalikkan badanku menghadapnya kembali dengan menatap serius padanya
"Kamu akan lakukan apa pada mereka?"
Tomi diam sejenak
"Ya setidaknya kakak akan buat kesepakatan yang tidak akan merugikan kamu"
Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban Tomi
"Tapi kamu tadi lihat sendiri bagaimana bapak yang bernama Endro itu sangat marah sama aku"
Tomi tersenyum
"Serahkan sama kakak, kakak akan tangani masalah ini"
Aku menarik nafas panjang
"Kakak pergi sekarang ya?, nggak enak jika mereka menunggu lama, kan tadi kakak sudah janji jika hanya setengah jam"
Dengan berat hati aku mengangguk. Lalu Tomi kembali mengusap kepalaku, dan sambil tersenyum dia berjalan kearah tangga
"Tomi tunggu!"
Tomi yang sudah akan menuruni tangga menoleh
"Terima kasih..." lirihku
Tomi mengangguk sambil tersenyum lalu melanjutkan langkahnya
Sepeninggal Tomi aku duduk di kursi yang ada di lantai atas. Meletakkan tanganku di kening, dan duduk terpekur sendiri
"Sepertinya aku butuh Putri ini untuk konsultasi"
Dengan segera aku turun dan mengambil hp yang masih terletak di meja
Karyawan toko mencuri-curi pandang ke arahku, aku hanya melambaikan tangan pada mereka karena aku sedang menempelkan hp ke telinga
Siska yang berdiri di depan mesin kasir masih menoleh dan memandang sedih kearah Dinda
__ADS_1
"Ibu baik-baik aja Sis, all be fine"
Siska hanya mengangguk dengan wajah mendung dan kembali melanjutkan tugasnya
Sedangkan aku segera duduk kembali di kursi dengan menghapus wajahku dengan tissue
Aku yakin mataku pasti merah dan bekas menangis jelas kentara di wajahku
Aku memutar kursi membelakangi area depan, berharap jika pembeli ataupun karyawanku tak lagi memandang ke arahku
Hp yang sejak duduk sudah menempel di telingaku kian aku tekan untuk memastikan jika nanti suara Putri dapat aku dengar dengan jelas
Tersambung
"Ya Bestie?"
"Dimana Put?"
"Di kantor lah"
"Nggak libur?"
"Lah, aku kan pelayan masyarakat mana ada libur kecuali hari minggu sama tanggal merah"
Aku terkekeh mendengar jawabannya
"Halah, kantor sendiri juga" jawabku
Sekarang terdengar tawa dari Putri
"Kenapa, ada hal penting?"
Aku diam sejenak memikirkan ulang rencanaku
"Din?"
Aku menarik nafas berat
"Aku mau konsultasi sama kamu"
"Lu mau konsultasi by phone, atau lu tempat gue, atau gue yang kesana?, lu pasti liburkan?, lu mah enak ASN, weekend libur"
Aku kembali terkekeh
"Eh iya, gimana?, lu kesini apa gue yang kesana?"
"Nanti aku yang kesana, tapi agak sorean ya, nunggu toko tutup"
"Oke, gue tunggu"
"Makasih ya Put sebelumnya, tapi maaf, jangan ceritain ke anak-anak ya, lu tahu sendiri, nanti mereka heboh"
Kembali terdengar Putri tertawa
"Iya, iya, tenang aja"
Lalu aku mengakhiri panggilan dan menarik nafas panjang sambil menggigit ujung hp
...----------------...
Di tempat lain
Tomi segera memarkirkan mobilnya dan segera turun, lalu bergegas masuk kedalam restoran, dan menuju meja tempat rombongan bapak-bapak yang tadi mendatangi toko Dinda
"Maaf jika menunggu lama" Tomi berbasa basi
Masih bapak yang bertubuh tambun dan tiga temannya yang lain berwajah cerah menyambut Tomi, sedangkan pak Endro masih berwajah kesal
"Langsung ke intinya saja pak" lanjut Tomi
Mulailah bapak yang bertubuh tambun tadi menceritakan kronologi hutang piutang Adi sama mereka berlima
__ADS_1
Mulai dari menunggak hingga janji manis yang tidak terealisasi sampai detik ini
Dan sekarang desas desus tentang Adi yang tak tahu keberadaannya sampai pula ditelinga mereka, itulah sebabnya mereka memaksa Dinda untuk melunasi segala hutang Adi, karena Dinda adalah istrinya
Tomi mendengarkan dengan seksama cerita dari bapak tersebut bahkan Tomi juga melihat semua bukti nota hutang Adi pada mereka
"Pantas saja Dinda shock" batinnya begitu dia melihat lembaran nota yang jumlahnya cukup banyak tersebut
"Karena mas adalah kakaknya Dinda, jadi kami mengharapkan bantuan mas untuk mencari jalan tengahnya"
"Kami bisa saja menemui Adi dan memaksa Adi untuk membayar hutangnya, atau jika tidak ada cara lain dan Adi masih mengelak, maka kami akan melaporkan Adi ke polisi dengan tuduhan penggelapan dan penipuan"
"Tadi mbak Dinda mau memberi alamat Adi pada kami, sayangnya alamat itu belum sempat kami ambil karena keburu sahabat kami tadi marah"
Pak Endro yang merasa tersindir hanya mendengus, sedangkan tiga orang yang lain tersenyum di kulum
"Sebentar pak, apakah jika bapak-bapak semua menemui Adi dan maaf seandainya Adi tidak bisa membayar, apa yang akan bapak tempuh selanjutnya?, apakah masih akan berencana melaporkannya ke polisi?, atau bapak semua masih akan memaksa Dinda melunasi hutang suaminya?"
"Saya akan melakukan keduanya, Adi akan saya penjarakan dan saya akan memaksanya melunasi hutangnya apapun alasannya!" pak Endro menjawab cepat
Tomi tersenyum samar mendengar jawaban emosi pak Endro, lalu dia menatap kearah yang lain
"Walau bagaimanapun juga kami semua telah dirugikan oleh mas Adi, dan kami memintanya untuk tetap membayar hutangnya pada kami, karena maaf mas, kami pengusaha kecil ini jika tidak punya modal lagi, maka usaha kami akan mati"
"Jika usaha kami mati, bagaimana dengan nasib keluarga kami dan juga anak buah kami, akan banyak sekali korban disini"
"Belum lagi dengan cicilan kami yang harus kami bayar juga setiap bulan, jadi kami mohon kerja samanya mas, tolong bantuannya, biar kita sama-sama enak"
Tomi diam sejenak mendengarkan jawaban bijak dari bapak bertubuh gempal yang sejak tadi tampak santai dan berwibawa
"Baiklah pak, saya minta dengan Dinda alamat Adi, bapak semua bisa temui dia, dan jika bapak semua tidak menemukan jalan terbaik dan ingin menjebloskannya ke penjara kami ikhlas" jawab Tomi
Karena sejujurnya dia ingin sekali lelaki bajingan yang telah menyakiti wanita yang sangat dicintainya itu masuk penjara
"Anda dengarkan mas, saya mau uang saya bukan hanya Adi masuk penjara!" bentak pak Endro yang tangannya langsung dipegang dengan temannya
"Saya tahu, tapi bapak semua temui dulu Adi, setelah itu bapak semua bisa temui saya lagi jika memang bapak semua meminta uang bapak semua kembali"
Sambil berkata seperti itu Tomi mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada bapak yang berwibawa tadi yang segera mengambil dan membacanya sekilas
"Tomi Mahendra?" ucapnya
Tomi mengangguk
"Itu nama saya, dan juga nomor telepon saya jika bapak semua membutuhkannya"
"Anda seorang kontraktor?"
Kembali Tomi tersenyum dan mengangguk
"Oke baiklah mas Tomi saya akan menyimpan nomor anda, dan iya tolong nanti setelah saya mengirimi anda pesan, anda kirimkan alamat Adi pada kami, biar kami bisa bergerak ke lokasi"
"Pasti pak, nanti saya akan minta alamat Adi sama adik saya"
Lalu mereka berjabat tangan, saat bapak tadi berjalan menuju kasir, langkahnya dihentikan oleh Tomi
"Biar saya yang membayarnya pak"
Kelima bapak-bapak tadi mengangguk dan langsung berlalu masuk ke mobil mereka
Sedangkan Tomi segera membayar tagihan. Baru setelah itu dia berniat pergi lagi ketempat Dinda
Karena tadi diingatnya jika Dinda menangis, di tengah perjalanan Tomi menghentikan mobilnya di sebelah penjual rujak
Dinda sangat suka dengan buah mangga muda, karena itulah Tomi membelikannya rujak yang semua buahnya adalah mangga muda
"Istrinya lagi ngidam ya pak?" tanya penjual rujak ramah sambil meracik rujak yan dipesan Tomi
Tomi tersenyum mendengar pertanyaan penjual itu
"Istri ngidam itu terkadang aneh-aneh pak, dulu istri saya malah ngidam pengen makan kue ulang tahun, padahal saat itu kami tinggal di pelosok" lanjut bapak itu sambil tersenyum
__ADS_1
Tomi kembali tersenyum
"Entah kapan aku bisa merasakan repotnya memenuhi permintaan istri ngidam" batinnya