
Aku segera masuk kedalam ruanganku dimana belum ada satu orangpun di sana
"Dek...?"
Panggilan Tomi mengagetkanku, memang kulihat tadi ada mobilnya di parkiran
"Boleh masuk?"
Aku menggeleng, aku memilih mendekat kearahnya
"Ada apa?" tanyaku ketus
Tomi tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado dari balik jasnya
"Selamat ulang tahun" ucapnya sambil memberikan kado tersebut ke arahku
Aku membuang wajahku sambil menarik nafas panjang
"Astaghfirullah, aku yang ulang tahun sendiri sampai lupa jika ini hari ultah ku" jawabku sambil terkekeh
Tomi senang karena Dinda tak lagi jutek padanya
"Ini, ambil" ucapnya sambil kembali menyerahkan kado kepadaku
Dengan ragu aku mengambil kado yang diberikannya padaku, lalu tersenyum simpul kearahnya
"Terima kasih" ucapku pelan
Tomi mengangguk, lalu kami berdua sama-sama diam, kembali rasa canggung menyelimuti perasaan kami berdua
Dulu jika aku ulang tahun, aku dan Tomi akan merayakannya berdua dengan naik motor berboncengan, lalu kami menuju tempat makan favorit kami dimana di sana telah menunggu enam sahabatku dengan berbagai macam kue tart dan makanan yang banyak
Lalu kami akan makan sepuas kami, dan Tomi lah orang yang akan membayar seluruh makanan yang kami makan
Dan tiap aku ulang tahun, Tomi selalu memberikanku hadiah special dan perhatian yang sangat banyak padaku. Itulah yang makin membuatku cinta padanya
Aku hanya menatap dalam pada Tomi yang saat ini juga menatapku
"Andai waktu bisa diulang..." lirihnya
Aku menunduk, entah ada rasa sedih yang tiba-tiba datang ketika aku mendengar dia mengucapkan kalimat itu
"Kita tidak bisa hidup hanya dengan mengenang masa lalu, Tom" lirihku
Tomi menarik nafas panjang dan kembali menatap dalam mata Dinda yang berkaca-kaca
"Aku sangat merindukan kamu Din..." lirihnya
Aku menelan ludahku, air mata yang sejak tadi aku tahan langsung jatuh. Segera aku masuk kedalam kantor, duduk di kursiku dan memutarnya membelakangi pintu
Tomi terpaku di tempatnya, dilihatnya jika bahu Dinda tampak berguncang, dia sangat yakin jika wanita pujaannya sedang menangis
Tomi hanya bisa menarik nafas panjang dan pergi meninggalkan ruang pelayanan umum tersebut
...----------------...
Tomi: Bisa hari ini kita survey tempat kedua?
Aku menarik nafas panjang ketika membaca pesan yang dikirim Tomi
Me: Lama tidak?
Tomi: Ya sama kaya kemarin
Me; Sebenarnya aku hari ini sudah ada janji mau nengok kolam saat jam istirahat, jika setelah jam istirahat mungkin bisa
Tomi; Oh, kalau begitu biar aku bicarakan dulu sama Pak Arsen dan pak Bagaskoro
Aku meletakkan hp dan melanjutkan pekerjaanku
Tuing
Aku kembali membuka hp
Tomi: *Kata pak Bagaskoro pending besok aja
Me: oh, okey*
Aku kembali fokus bekerja, begitupun dengan teman seruanganku yang lain
"Mbak, aku mau ke kabupaten, mau nitip sesuatu nggak?" tanya Redho mendekat kemeja ku
"Nitip apa?" tanyaku bingung
__ADS_1
"Makanan kek, apa kek gituu.." jawabnya sambil menaik turunkan alisnya
"Huuuu..." sungutku sambil mengambil dompet
"Nih, terserah mau beli apa" ucapku sambil menyerahkan selembar uang merah
"Ya mbak, ini sih cuma dapat gorengan"
Aku langsung memukul kepalanya dengan mistar yang ada di dekatku
"Terus mau berapa?, gorengan segitu banyak kali Dho, bisa kenyang perut kita satu ruangan"
"Eh Din, ibu dengar ada warung makanan baru tuh, katanya makanannya enak-enak loh" sambung bu Halimah
Aku terkekeh
Segera aku memberi selembar lagi pada Redho
"Nih, beli tuh apa yang dikata bu Halimah"
"Yes...!!!" jawab Redho sambil mengepalkan tangannya senang
"Din.... jangan terlalu royal, uang itu ditabung" ucap pak Kusno
Aku tersenyum kearah beliau. Ah, beliau sama seperti bapakku, selalu memberi nasehat
"Nggak apa-apa pak, uang Dinda kan banyak, dia loh usahanya banyak, bukan cuma kerja kantoran" timpal bu Halimah
"Padune kowe seneng nek ditraktir we" jawab pak Kusno yang membuat kami semua tergelak
Akhirnya Redho pergi dan aku keluar sebentar dari ruangan karena mendapat telepon dari karyawan kolam lagi
"Ya mas?"
"Pak Adi maksa ingin mengeringkan kolam besok mbak, ini dia kesini dan ngamuk-ngamuk"
Aku menarik nafas panjang
"Tahan dia, sebentar lagi mbak kesana"
Segera aku masuk keruangan ku, mengambil kunci mobil
"Mau kemana Din?" tanya bu Halimah
Tanpa izin dulu dengan pak Burlian aku langsung melesat ke parkiran, Tomi yang melihat dari balik kaca ruangan pak Burlian langsung memasang wajah khawatir
Segera dia pergi keruangan pelayanan umum
"Dinda tadi mau kemana pak?"
Pak Kusno yang terus memeriksa buku besar mengangkat kepalanya, menoleh kearah bu Halimah
"Dinda ngomong nggak mau kemana?"
"Nggak, dia cuma ngomong ada urusan"
Pak Kusno menoleh kearah Tomi
"Kami nggak tahu pak, kenapa ya?" pak Kusno meletakkan buku yang sejak tadi diperiksanya, menatap penuh selidik pada Tomi yang berwajah panik
"Terima kasih pak" hanya itu jawaban Tomi, setelah itu dia segera keluar ke parkiran, membuka hp, melacak dimana keberadaan Dinda
Setelah didapatnya, segera dia masuk kedalam mobil
"Loh mas Tomi tadi kemana?" pak Arsen yang tersadar segera bertanya pada pak Burlian dan pak Baskoro
"Palingan keruangan Dinda" jawab pak Burlian santai sambil tertawa
Pak Bagaskoro dan pak Arsen ikut tertawa
"Bahaya itu si duren, istri orang diuber-uber nya"
Pak Burlian terkekeh mendengar ucapan pak Arsen
"Mereka dulu hampir menikah, sudah bertunangan, dan tinggal menunggu hari H, malah Tomi berkhianat"
Pak Arsen dan pak Baskoro menatap serius pada pak Burlian
"Tomi itu adik sepupu saya, dia sangat mencintai Dinda, hingga detik ini, entah dengan cara apa kami menasehatinya untuk melupakan wanita itu"
"Jika mas Tomi mencintai mbak Dinda, kenapa dia menikah dengan orang lain?"
Pak Burlian menarik nafas panjang
__ADS_1
"Ceritanya panjang, saat itu yang kami tahu Dinda memutuskan pertunangan dengan Tomi dan seminggu setelahnya Tomi menikah, ehh, dua bulan setelahnya Tomu jadi duda" cerita pak Burlian sambil tertawa diakhir kalimatnya
"Dua bulan?, itu artinya sangat singkat, mengapa mereka berdua tidak kembali lagi?"
"Aduh pak, bapak kaya nggak tahu perempuan, perempuan itu kalau sudah sakit hati, sampai mati dia akan benci"
Pak Arsen dan Pak Baskoro tergelak, membenarkan ucapan pak Burlian
Sementara Tomi yang mengejar Dinda, mendapati jika perempuan itu melajukan mobilnya kearah jalanan berbatu dan agak jauh dari keramaian
Dari jauh dapat dilihatnya jika Dinda turun dari mobil dan melepas sepatunya
Aku yang keluar dari kantor segera melajukan mobilku menuju kolam, sepanjang jalan aku telah menahan emosi, tetapi emosi ku seketika meledak ketika ku dapati Adi dengan arogannya berteriak-teriak marah pada pekerja kolam yang tak menuruti perintahnya
"Stop kamu Adi, stop!!!!" teriakku mempercepat langkahku
Adi yang telah mencengkeram kerah baju seorang karyawan kolam segera melepaskan cengkeramannya dan menoleh marah Dinda
"Kamu apa-apaan, hah?, kurang cukup kamu arogan padaku, hingga sikap arogan itu harus kau tunjukkan juga sama mereka ???!"
Adi yang memantau Dinda dari jauh, melihat jika perempuan itu tampak mengangkat-angkat tangannya dan menunjuk-nunjuk kearah Adi
"Aku harus bagaimana sekarang?" gumamnya bingung
"Mau kamu apa Adi, mau menguasai seluruh harta, iya?"
Adi menatap tajam kearah Dinda
"Semua asetku kamu blokir, semua karyawan tidak ada menghargai ku sekarang, semuanya membangkang"
Aku tersenyum sinis
"Itu karena sadar, siapa kamu sebenarnya, tak lebih dari seorang pecundang!"
PLAKKKK...
Refleks tangan Adi melayang ke wajah Dinda, Tomi yang melihat bagaimana Dinda terhuyung akibat tamparan Adi merasakan dadanya bergemuruh hebat, langkahnya telah siap untuk berlari ketika kesadarannya menghentikan niatnya
"Jika aku kesana, semuanya akan makin kacau" geramnya sambil mengepalkan tangan menahan marah
Melihatku ditampar, beberapa karyawan langsung memegangi tangan Andi, bahkan ada yang memegang bahuku
"Mas Adi, memang ini urusan keluarga kalian, tapi jika sekali lagi mas melakukan kdrt pada mbak Dinda, kami tak segan-segan akan melaporkan mas ke polisi" ancam seorang karyawan yang sudah berumur separuh baya
Aku yang merasakan sakit di pipiku hanya bisa menatap Adi dengan emosi, tapi tak urung air mataku mengalir
"Hebat kamu sekarang Adi ya, bahkan kamu sudah berani berlaku kasar sama aku, aku pastikan kamu akan membayar mahal ini semua"
Adi kembali akan bersiap melayangkan tangannya ketika dengan sigap beberapa karyawan memegang bahunya
"Pengecut, beraninya sama perempuan" geram Tomi
"Ingat ya, mulai hari ini, jika Adi datang ke kolam, segera usir dia, karena kolam ini semua adalah hasil kerja keras saya, hasil SK saya yang digadaikan di bank, jadi Adi tidak punya hak atas kolam ini"
"Dan juga, masalah pakan ikan, saya sudah berbicara pada pak Bara, jadi mulai hari ini semuanya ada di kendali saya, dan jika menurut mas-mas dan bapak semua sudah waktunya panen, silahkan panen, beri tahu saya kapan waktunya, saya akan menyiapkan makanan untuk kalian seperti biasa"
"Dan untuk kepengurusan kolam, akan aku serahkan pada kakak saya, biar kakak saya yang akan mengurusnya"
"Sudah ya mas-mas dan bapak semua, saya mau kembali kekantor lagi"
"Dinda tunggu!" kembali Adi menarik kasar tanganku
"Urusan kita belum selesai"
"Akan kita selesaikan di pengadilan" jawabku tajam
Adi langsung terdiam mendengar jawaban Dinda
"Ingat pesan saya ya semuanya, bila lelaki ini datang ke kolam lagi, segera usir!!!"
"Siap mbak"
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku, lalu aku segera meninggalkan kolam
Saat aku berjalan terburu menuju mobil, kembali Adi mengejar dan menarik kasar tanganku
Aku menepis tangannya dan berusaha kembali berjalan cepat, tapi kembali Adi menarik pundakku bahkan dengan kasarnya dia mendorongku hingga aku terjatuh di rumput, di pinggir kolam
Melihat itu, seluruh karyawan kolam tak tinggal diam mereka segera berlari menolong Dinda dan mengusir Adi dengan kasar
Tomi yang melihat hanya mampu terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa, dadanya makin bergemuruh dan tangannya terkepal
"Saya akan membuat perhitungan denganmu Adi" geramnya
__ADS_1