Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Fix, Berpisah


__ADS_3

"Halo Bos?" sapa pak Bara yang membuat wajah Adi memucat


Aku tersenyum samar melihat raut tegang di wajahnya


Keenam bapak-bapak itu berjalan masuk dan langsung duduk di kursi tanpa memperdulikan wajah tegang Adi yang menatap nanar pada mereka


"Nggak usah repot mbak Dinda, yang ada keluarin semua" seloroh pak Bara yang ku balas dengan tersenyum


Aku segera masuk kedalam dan mengetik pesan untuk Naya


Nak tetap di kamar ya, jangan keluar dulu. Di depan ada tamu ayah. Pakaikan headphone ke telinga adek, biar dia nggak dengar jika teman ayah ngomongnya kencang


Setelah itu aku langsung membuka kulkas dan mengeluarkan es batu dan mengambil sirup, lalu membuatkan es sirup untuk pak Bara dan teman-temannya


Kudengar seperti ada suara membentak, aku yakin itu pasti pak Endro, lelaki yang pernah menunjuk mukaku kemarin


Hufff aku menarik nafas panjang ketika teringat bagaimana beliau menunjuk-nunjuk mukaku dengan emosinya saat itu


Selesai membuat sirop, aku juga meletakkan toples kue dan keripik lalu membawanya keluar


Melihatku keluar, semua diam dan dapat kulihat jelas jika wajah mereka semua sangat tegang dan menahan marah


Hanya wajah Adi yang kulihat tertunduk dalam


Aku meletakkan nampan dan mempersilahkan semuanya mencicipi


"Jika mbak Dinda tak keberatan, mbak bisa bergabung bersama kami"


Aku yang sudah bersiap kembali kebelakang, menoleh kearah pak Bara yang berbicara padaku lalu mengangguk


Aku duduk paling pinggir di sebelah Adi


"Nah begini mbak Dinda, karena mas Adi ini sudah tidak bisa kami ajak baik-baik, maka dengan terpaksa mas Adi kami laporkan ke polisi" ucap bapak yang sewaktu di toko yang paling sabar berbicara padaku


"Bukan hanya pasal penipuan dan penggelapan tapi kami akan menambahkan kasus perbuatan tidak menyenangkan"


Aku hanya diam mendengar ucapan bapak itu


"Bagaimana dengan pak Bara?, apakah bapak juga akan melaporkan sama seperti kami atau bapak masih bersabar?"


Pak Bara tersenyum


"BPKB mobil pribadi dan sertifikat rumah istri mudanya sudah berada di tanganku bapak-bapak"


Aku melirik dengan cepat kearah pak Bara


"Jadi bisa dipastikan, jika rumah dan mobil itu menjadi hak ku sekarang"


Wajah Adi makin tegang mendengar ucapan santai pak Bara. Sementara lima bapak yang lain mendengus kesal

__ADS_1


"Jika begitu rumah ini dan mobilnya kami sita juga" ucap pak Endro


"Nggak bisa pak, mobil itu milik saya, pakai uang saya belinya, bukan uang Adi" jawabku cepat


"Jika bapak semua mau penjarakan Adi, terserah. Penjarakan saja, tapi tolong jangan ganggu hidup saya dan kedua anak saya, saya sudah habis-habisan membayar semua hutang Adi, bapak-bapak semua tahu sendiri, hingga detik ini kolam ikan belum saya isi karena uang untuk bibitnya nggak ada"


Kelima bapak itu diam dan saling toleh


"Telepon saja polisi, bawa sekalian Adi nya" sambung ku dengan dada turun naik


"Kamu lihat sendirikan Adi bagaimana bapak-bapak ini menagih hutangmu padaku?"


"Dan itu, pak Endro, beliau bahkan sempat mau menamparku karena geram dengan perbuatan kamu!!" teriakku marah


Kulihat pak Endro melengos mendengar ku menyebut namanya


"Ngomong kamu Adi, jangan cuma diam, kamu punya mulut!" teriakku sambil mendorong bahunya


"Aku mau jawab apa Din, kamu tahu sendiri, aku sudah tidak punya apa-apa lagi"


Aku mengusap kasar wajahku mendengar jawaban Adi


"Jadi solusinya bagaimana ini?!"


Aku dan Adi menoleh kearah seorang bapak yang terlihat emosi menatap kearah kami


"Sudahlah pak, bawa saja dia ke penjara" lirihku frustasi


"Nggak pak, nggak, aku akan cerai sama Dinda dan bapak-bapak pasti tahu, dalam perceraian ada yang namanya pembagian harta gono gini, dan aku janji, begitu aku dapat harta gono gini nya semua hutangku akan aku bayar"


Aku menatap tak percaya pada Adi sambil menggeleng-gelengkan kepalaku


"Percaya diri sekali kamu jika akan mendapatkan harta gono gini?" ucapku sinis


"Diam lah Din, ini masalah serius, masalah kita, kita bicarakan nanti"


Aku melengos mendengar jawabannya


"Kami tidak bisa diberi janji lagi mas Adi, sudah berapa kali anda memberi janji sama kami sampai kami bosan, kali ini kami tidak bisa lagi anda tipu, kali ini anda benar-benar harus mendekam di penjara, jika memang nanti anda dapat harta gono gini, dan kami mendapatkan hak kami, baru tuntutan pada anda kami cabut"


Wajah Andi kian menegang ketika dilihatnya salah seorang dari rombongan tadi menelepon seseorang


"Tolong pak, kali ini aku tidak akan menipu lagi"


Lelaki itu tak menggubris permohonan Adi dan masih saja menempelkan hp ke telinganya


"Saya mohon pak" Adi segera bersimpuh di kaki pria paruh baya itu, dan aku hanya bisa menarik nafas panjang melihat kelakuannya


"Baiklah, tapi kami minta surat berharga yang bisa jadi jaminan"

__ADS_1


Adi menoleh padaku dan aku bergeming


"Tolong Din..."


Aku menggeleng


"Semua aset atas nama aku, dan kamu tahu sendirikan Adi, dari mana kita mendapatkan itu semua?"


Adi segera bangkit dari posisi bersimpuhnya di kaki lelaki yang akan melaporkannya, berpindah memohon padaku


Aku bergeming dan tak memperdulikan permohonannya


"Kami tidak akan menggadaikan atau melakukan apapun pada surat itu mbak Dinda, jadi mbak jangan khawatir"


Aku menarik nafas dalam mendengar ucapan pria paruh baya tersebut dan menatap kearahnya dengan sedih


"Baiklah pak, jika memang nanti keputusan pengadilan agama tentang perceraian kami selesai saya akan menghubungi bapak"


Pria paruh baya tersebut mengangguk dan aku dengan berat hati bangkit dari kursi lalu berjalan naik ke kamar


Kubuka lemari tempatku menyimpan surat-surat berharga kami. Sertifikat tanah, ruko, kolam dan juga bpkb mobil


Dengan menghembus nafas panjang aku mengambil surat sertifikat ruko kedua dan membawanya turun


Adi menatap nanar ketika melihatku turun dengan membawa surat sertifikat berwarna hijau muda itu


Lalu aku memberikan surat sertifikat tersebut pada bapak tadi


Beliau membuka surat tersebut, dan temannya yang lain mendekat dan ikut melongok kan mata mereka pada kertas tersebut dan terlihat seperti membaca


"Itu surat sertifikat bangunan ruko kami yang toko kedua pak, letaknya tidak terlalu jauh dengan ruko yang kemarin bapak-bapak datangi" ucapku pelan menjelaskan pada mereka


"Baiklah, karena telah disepakati jika surat ini sebagai jaminan sebelum mas Adi melunasi, maka surat sertifikat ini kami bawa pulang"


Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah sedih, sedangkan Adi kembali menunduk dalam


Pak Bara dan bapak-bapak yang lain segera berdiri dan hanya pak Bara dan bapak yang memegang sertifikat tadi yang menyalami aku dan Adi, sedangkan yang lain yang wajahnya masih kesal segera keluar dari dalam rumah


Setelah dua mobil yang membawa tamu kami pergi, aku segera masuk dan langsung mendorong keras bahu Adi


"Itu, kamu lihat sendirikan akibat perbuatan gila mu bermain perempuan?"


Aku mengusap kepalaku dengan kalut dan menunduk melihat lantai dengan pikiran kacau


"Bertahun-tahun kita bersusah payah mengumpulkan aset malah akhirnya seperti ini"


Sambil berkata seperti itu air mataku telah mengalir deras


"Tega kamu Adi, dimana pikiran kamu, kamu hanya memikirkan nafsu syahwat mu saja"

__ADS_1


Adi hanya diam mendengar ku berkata seperti itu


"Oke, seperti yang kamu bilang tadi, kita akan bercerai, setelah itu tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara kita, kita jalan masing-masing"


__ADS_2