Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Over Protective


__ADS_3

Tomi kembali merengkuh bahuku kedalam dekapannya, dan berkali-kali menciumi puncak kepalaku sambil tangan kanannya yang semula mengusap kepalaku berpindah ke perutku yang masih rata


"Bagaimana kalau kamar kita pindah di bawah saja?, kita pakai kamar tamu atau tukeran sama Naya?"


Aku menarik kepalaku dari dada Tomi lalu menatapnya dengan heran


"Kenapa?"


Tomi menatap wajahku dengan dalam


"Kakak takut kamu kenapa-napa. Makanya kita pindah ke bawah saja"


Aku menarik nafas panjang, dan balas menatap matanya dengan dalam


Aku tak ingin berdebat, aku tahu ini adalah anak pertama buat Tomi, sedangkan bagi aku ini anak ketiga


Walau aku sudah dua kali merasakan hamil dan melahirkan, tapi ini pertama bagi Tomi


Dan aku tahu ini sangat diharapkannya, tentulah dia ingin yang terbaik untukku dan juga untuk calon anaknya


"Kenapa, nggak mau?" tanya Tomi dengan lirih karena aku hanya diam menatapnya


Aku menggeleng


"Iya kak, nggak apa-apa. Dimana saja aku nurut, asal kalo aku ngidam diturutin"


Tomi tersenyum lebar mendengar jawabanku


"Kalau itu sudah pasti, apapun yang kamu inginkan akan kakak turutin"


Aku menganggukkan kepalaku lalu mulai membenahi bantal karena aku akan istirahat


"Kakak kasih tahu ibuk ya sayang?"


Aku hanya berdehem karena aku telah merebahkan tubuhku, membiarkan Tomi meraih hp lalu duduk di sebelahku yang sudah berbaring


"Wahhh ibuk pasti sudah tidur ini sayang" ucap Tomi lagi menoleh ke arahku dengan wajah kecewa


Aku terkekeh


"Sadar...? Lah emang kakak pikir ini jam berapa?"


Tomi terkekeh, lalu dia meletakkan kembali hp-nya lalu memiringkan tubuhnya dan mendekap perutku lagi


"Jangan heran jika tiba-tiba mood ku berubah, sering menangis tanpa sebab, sering marah nggak jelas, pengen makan ini dan itu nggak kenal waktu, pokoknya kakak harus siap mental" ucapku ketika Tomi memainkan anak rambut di keningku


"Apapun. Apapun Kakak akan siap, karena memang ini yang selama ini kakak harapkan. Menuruti ngidam istri" jawab Tomi sambil tertawa pelan kemudian aku juga ikut tertawa mendengar ucapannya


Kemudian aku menguap lebar yang membuat Tomi beralih kembali mengusap-usap keningku, membuatku semakin merasa tenang hingga akhirnya aku terlelap


...----------------...


Seperti biasa aku selalu bangun lebih awal dibandingkan suami dan kedua anakku. Setelah mandi aku langsung membangunkan Tomi dan juga membangunkan kedua anakku karena kami harus melaksanakan kewajiban kami

__ADS_1


Barulah setelah itu, aku mulai berencana untuk membuat sarapan, tapi ternyata niatku ini langsung dihentikan oleh Tommi


"No no no no, pokoknya mulai hari ini nggak ada istilah masak-masak. Nggak ada istilah kerja-kerja di rumah. Pokoknya tahu aku, Kamu duduk manis kalau di rumah"


Aku hanya bengong melihat Tomi mengambil pisau dari tanganku


"Lah terus aku ngapain Kalau pagi-pagi begini? Emangnya kakak nggak mau sarapan? Kasihan anak-anak loh, mereka pergi sekolah perutnya kosong ?"


Tomi menggelengkan kepalanya, kemudian dia beralih membuka pintu kulkas dan mulai sibuk mengeluarkan seluruh bahan makanan dari dalam sana. Kemudian dia menatap ke arahku


"Mulai hari ini yang bertugas memasak sarapan itu kakak"


Mulutku ternganga mendengar ucapan Tomi


"Emangnya kakak bisa masak?" tanya aku nggak yakin


"Ya bisalah kalau hanya sekedar buat sarapan, nggak berat-berat amat kan?" ucap Tomi yang sekarang tengah memecahkan telur kemudian mengaduknya


"Kamu duduk saja sayang, Biar semuanya Kakak yang tangani"


Kemudian dengan lihainya Tomi mulai membuat menu sarapan pagi ini di mana Aku sesekali memberi instruksi kepadanya yang dijawab Tomi dengan anggukan kepala dan tersenyum manis


Ketika kedua anakku telah memakai seragam sekolah mereka, mereka langsung menuju meja makan dan kembali Tomi yang menyiapkan sarapan untuk mereka


"Loh, yang masuk sarapan papa?" tanya Naya ketika menyendok nasi hangat ke mulutnya


"Iya sayang, kenapa? nggak enak, ya?" tanya Tomi sambil dia ikut juga menyendok kan nasi ke mulutnya


Lalu setelah selesai sarapan aku segera berdiri dari kursi berniat hendak naik ke atas karena aku mau mandi


Tapi lagi-lagi langkahku dicegah oleh Tomi dan dia menggeleng cepat


"Mandinya di kamar mandi bawah saja sayang, biar pakaiannya aku yang menyiapkan"


Aku hanya bisa diam, sedetik kemudian aku menganggukkan kepalaku menyetujui apa yang dikatakannya


Kemudian Tomi langsung berlari naik tangga sementara Aku memilih masuk ke dalam kamar mandi yang ada di lantai bawah dan segera mandi


"Sayang, bajunya aku letakkan di kamar tamu. Kamu ganti bajunya di sana saja ya?" ucap Tomi lagi


Aku kembali hanya bisa menganggukkan kepalaku, kemudian berjalan ke arah kamar tamu dan berganti baju di sana.


Ketika aku tengah berganti baju, ada suara ketukan di depan pintu yang ternyata itu adalah Naya. Dengan wajah yang diliputi rasa penasaran Naya masuk kemudian dia duduk di atas ranjang menatap ke arahku dengan wajah tegang


"Ibuk sakit ya?, Kok Papa sikapnya aneh?"


Aku kemudian tersenyum ke arah Naya


"Nggak sayang ibuk itu nggak sakit papa kamu saja yang over protektif"


"Maksudnya buk?" tanya Naya masih dengan raut kebingungan


Aku yang telah selesai memakai baju seragam lalu duduk di sebelah Naya, menarik nafas panjang sebentar, lalu dengan ragu Aku mulai memberitahu Naya jika aku saat ini hamil

__ADS_1


Di luar prediksiku, Naya langsung berwajah ceria dan refleks memeluk dengan erat


"Jadi Naya bakal punya adik?. Naya doain ya buk semoga Adiknya cewek, biar Naya ada temennya" jawab Naya dengan suara gembira


"Mau cewek ataupun cowok itu sama saja. Yang penting nanti adiknya sehat, ibuk juga sehat"


Aku dan Naya sama-sama menoleh ke arah pintu, di mana Tomi berdiri di sana sambil tersenyum ke arah kami berdua


"Kalau sudah siap, Ayo kita berangkat" ucap Tomi lagi yang dijawab Naya dengan anggukan kepala


Saat aku sudah memegang kunci mobil, karena niat semula aku akan menyetir sendiri kembali dicegah oleh Tomi


"Bukannya apa-apa ya sayang, bukannya kakak melarang kamu bawa mobil. Tapi kakak nggak mau Kamu kecapean. Jadi mulai hari ini dan seterusnya, itu kakak yang akan antar jemput kamu. Kamu nggak boleh bawa mobil sendiri"


Aku akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang mendengar ucapan Tomi. Ku akui memang dia sangat bahagia mengetahui jika aku hamil, tapi aku tidak menyangka Jika dia akan sangat over protektif seperti ini


Tapi walaupun begitu, aku sangat bersyukur karena artinya Tomi benar-benar sangat menyayangi aku dan calon anaknya


"Iya deh aku nurut. Pokoknya selagi itu menguntungkan untuk aku, aku fine-fine aja" jawabku


Jadilah hari itu aku diantarkan oleh Tomi ke kantor. Kupikir dia hanya mengantarku sampai ke parkiran, saja tapi ternyata tidak


Tomi mengantarku sampai aku masuk ke dalam ruangan, dan di dalam ruangan tersebut pula Tomi menelpon Pak Burlian


"Kak kalau bisa mulai hari ini istri aku nggak usah ikut apel ya?" ucap Tomi ketika Hp sudah menempel di telinganya


Aku langsung melotot kan mataku ke mataku ke arah Tomi kemudian aku menggeleng dengan cepat


"Nggak boleh kayak gitu sayang, apel itu wajib. Kan apelnya hanya sebentar. Aku nggak apa-apa kok berdiri sebentar"


Tomi memberi kode ke arahku untuk aku diam. Dan aku langsung memonyongkan bibirku


"Kak, istri aku itu lagi hamil dan kakak tahu ini adalah anak pertama untuk aku. Jadi aku nggak mau kenapa-napa. Pokoknya aku minta sama kakak, kalau bisa istri aku itu nggak usah ikut apel. Kalaupun nanti ada sanksinya, kakak sanksi saja aku, jangan istri aku"


Aku hanya bisa menepuk jidatku mendengar ucapan Tomi


"Ya Tuhan benar-benar laki satu ini" gumamku sambil menggelengkan kepala


Entah apa jawaban dari Pak Burlian di seberang. Karena aku lihat wajah Tomi tampak tersenyum sumringah dan aku yakin bahwa Pak Burlian mengabulkan permintaan konyol Tomi


"Nah sayang, Kakak Burlian sudah mengabulkan permintaan kakak. Jadi artinya kamu nggak boleh ngeyel lagi, ya?" ucap Tomi sambil mengeluarkan flat shoes dari dalam kantong yang tadi dibawanya


"Mulai hari ini kamu nggak usah pakai heels, kamu pakainya flat shoes saja"


Dan aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sambil tersenyum. Kemudian aku mengulurkan kakiku karena saat itu Tomi sudah berjongkok di depan kakiku, melepas heels yang saat ini sedang aku pakai


Selesai dengan Tomi memakaikan heels ke kakiku, kemudian Tomi langsung berdiri. Kemudian kami berdua sama-sama kaget melihat Pak Kusno dan bu Halimah berdiri di depan pintu memandang heran ke arah kami berdua


"Titip istri aku ya Pak, Bu. Tolong jagain dia" ucap Tomi sambil tersenyum penuh arti


Kemudian Tomi segera menyalami pak Kusno dan bu Halimah, setelah itu Tomi mengacak puncak kepalaku, kemudian aku mencium punggung tangannya


Dan Tomi langsung mengelus perutku yang membuat bu Halimah dan Pak Kusno mengangguk-anggukkan kepala mereka mengerti apa maksud dari ucapan Tomi tadi

__ADS_1


__ADS_2