Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Orang-Orang Baik


__ADS_3

Dengan telaten Mila memasangkan baju rumah sakit ke tubuh Dinda yang masih belum sadar


Denyut jantungnya yang tadi sempat terhenti kini telah kembali berdenyut normal walau tidak senormal biasanya


Cairan infus dan juga infus darah cepat sekali habis, jadi perawat segera keluar ketika diminta oleh Mila untuk mengambil stok darah kembali


"Cuma tinggal satu kantong dokter" ucap perawat itu ketika kembali kedalam ruang operasi


Mila segera keluar, melihat Mila keluar, Tomi yang sejak tadi menunggu dengan panik segera berdiri


"Bagaimana Dinda?"


"Kritis, semoga dia bisa melewati masa kritisnya"


Tomi mengusap wajahnya


"Tadi denyut jantung Dinda sempat terhenti" gumam Mila dengan mata kembali berkaca-kaca


"Astaghfirullah, terus sekarang bagaimana keadaannya Mil?"


Mila menceritakan kepada Tomi bagaimana paniknya dia tadi ketika denyut jantung Dinda terhenti, dan Tomi yang mendengarkan juga ikut tegang


"Saya harus menelpon bagian PMI kak, menanyakan stok darah A di sana ada apa tidak"


"Darah kakak A, ambil saja darah kakak, mau berapa banyak kakak rela jika itu bisa menyelamatkan Dinda"


Mila mengangguk, dengan segera dibawanya Tomi keruang PMI rumah sakit ini


"Masih butuh tiga kantong lagi" ucap Mila ketika darah Tomi telah diambil


"Ambil darah kakak lagi saja Mil"


Mila menggeleng


"Habis mendonorkan darah untuk Dinda, kakak tewas" seloroh Mila sambil terkekeh


"Biar aku mengubungi teman-teman dulu, siapa tahu mereka ada yang sama dengan Dinda darahnya"


Mila mengambil hp dalam saku bajunya, dan betapa kagetnya dia ketika dilihatnya ratusan pesan masuk dan puluhan panggilan tak terjawab


"Ya pa?" Mila langsung menelepon suaminya karena ada beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya


"Tadi sore Dinda nelepon papa sampe dua kali, kira-kira ada apa ya ma?"


Mila langsung melirik kearah Tomi yang sedang istirahat untuk memulihkan tenaganya sehabis mendonorkan darah


"Jadi tadi Dinda sempat nelepon papa?" nada suara Mila mulai meninggi


"Iya ma, kenapa ya ma, mama tahu kenapa?"


"Orang nelepon itu artinya penting pa, kenapa tidak diangkat? coba kalau telepon Dinda papa angkat Dinda nggak akan kritis kaya sekarang!!"


Julistiar yang baru sampai di rumah hanya menelan ludahnya ketika istrinya menyemprotnya


"Iya maaf, papa tadi lagi sibuk ma, nggak dengar jika hp papa berbunyi, Dinda kenapa ma?"


"Sekarang papa cari Adi, tangkap dia bagaimanapun caranya, dia telah menusuk Dinda, dan sekarang Dinda kritis, semoga saja Dinda bisa melewati masa kritisnya"


"Adi nusuk Dinda?"


"Iya pa, makanya sekarang papa cepat cari Adi, di seluruh penjuru dunia bila perlu"


"Iya ma, iya, siap"


Wajah Mila langsung ditekuk begitu dia mengakhiri panggilan suaminya


"Gimana ceritanya sih kak Dinda bisa ditusuk Adi?"


Tomi menggeleng


"Kakak juga nggak tahu Mil, kakak ketemu dia di jalan waktu dia beli rujak, terus sudah itu dia pulang, kok tahu-tahu setelahnya nelpon teriak minta tolong, dan ketika kakak sampai di rumahnya Dinda telah bersimbah darah"


"Terus Adi nya?"


"Dikejar warga, nggak tahu, dapat apa nggak"


Mila mengepalkan tangannya dengan emosi


"Awas dia jika dapat, akan ku buat dia jauh lebih sakit ketimbang Dinda" geram Mila

__ADS_1


"Apa kata Julistiar tadi?"


"Rupanya Dinda sempat nelpon mas Julistiar, tapi mas Julistiar nggak dengar jika Dinda neleponnya"


Tomi menganggukkan kepalanya


"Terus apa tindakan Julistiar sekarang?"


"Aku suruh mas Julistiar cari Adi sampai dapat, awas saja jika dia tidak bisa menemuka Adi, dia akan menerima amukan ku juga"


Tomi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


"Tadi katanya mau hubungin teman-temannya, mereka sudah tahu belum bagaimana keadaan Dinda?"


"Ya Tuhan sampai lupa aku" jawab Mila sambil segera melakukan panggilan video


Panggilan Mila dengan cepat langsung direspon sahabat-sahabatnya


"Gimana Dinda?"


"Lu gimana sih di chat nggak bales, di grup nggak komen, di telpon nggak di angkat?"


"Dinda baik-baik aja kan?"


"Heh, gimana gue bisa jawab kalau kalian ngoceh semua?"


"Ya habis kita khawatir Mil sama Dinda"


"Dinda baik-baik aja kan?"


"Karena itulah gue nelpon kalian"


"Gimana-gimana?"


"Kalian ada yang punya darah A nggak?"


Semuanya diam


"Nggak ada?, Dinda butuh tiga kantong darah lagi, ini sudah ada kak Tomi yang dengerin sekantong, masih kurang banyak"


"Gue sih darahnya A, tapi....." jawab Nanda menggantung


"Gue lagi bunting....."


"Hah?, lu bunting lagi?"


Lalu terdengarlah tawa kaget dari yang lain tapi setelahnya mereka rebutan mengucapkan selamat


"Yaaaa berarti nggak bisa dong?"


"Keluarga, tetangga atau siapa kek, jika ada antar langsung kesini ya, urgent banget ini"


"Iya, iya..."


"Eh Mil, kalo kita kesana sekarang bisa nggak?"


"Mau ngapain kalian kesini? nggak usah besok aja"


"Lah lu kok malah nanya buat apa kita kesana?, aneh lu, kita kan bestie nya Dinda, ya jelas mau support dia lah...."


"Ini udah malam, ada gue sama kak Tomi yang jagain Dinda, kalian tenang aja, doa banyak-banyak semoga Dinda bisa lewati masa kritisnya"


"Gimana ceritanya sih Dinda bisa di IGD dan butuh banyak darah?, emang dia kecelakaan atau gimana?"


Mila menarik nafas panjang


"Dinda ditusuk si Adi brengsek itu"


"What????!!"


"Ya itu, makanya gue emosi banget, apalagi tadi detak jantung Dinda sempat berhenti"


"Astaghfirullah....."


"Makanya buruan kalian buat status, telpon keluarga atau tetangga terserah siapa aja, antar mereka kesini, oke?"


"Iya Mil, oke-oke"


Mila menarik nafas lega mendengar jawaban sahabat-sahabatnya, lalu dia kembali sibuk menelepon kenalannya di rumah sakit ini siapa saja yang memiliki darah A dan bersedia mendonorkan darahnya

__ADS_1


Tomi pun melakukan hal yang sama, dia segera menghubungi teman-temannya, bahkan sampai pak Burlian dan pak Kusno di teleponnya


Tentu saja pak Kusno langsung share informasi tentang Dinda yang lagi butuh darah di grup


Dengan cepat beberapa teman sekantornya merespon jika mereka ada yang berdarah A dan siap mendonorkan darah mereka


Begitu juga dengan Pak Burlian, beliau langsung yang akan mengantarkan anak buahnya ke rumah sakit, sekalian beliau ingin membesuk Dinda


Berita penusukan yang dialami Dinda dengan cepat sampai ke telinga seluruh karyawannya, secara serentak mereka langsung datang ke rumah Dinda, Siska, Reni dan teman-temannya yang lain hanya bisa menangis terisak ketika mereka membersihkan bekas darah Dinda yang berceceran di lantai


Begitu mendengar jika Dinda butuh darah, seluruh karyawannya yang memiliki darah A langsung menyatakan kesiapan mereka mendonorkan darah mereka


Sepuluh orang karyawan langsung berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi Dinda, bahkan karyawan sawit memakai mobil truk dan ada juga yang menggunakan motor biar cepat sampai


Dan Naya beserta Arik yang terus menangis sedang ditenangkan oleh mbak Sri beserta Reni dan yang lainnya


Rumah Dinda malam itu jadi ramai, bahkan orang tua Dinda sampai shock mendapati kabar tentang penusukan yang menimpa anak mereka


Mila dan Tomi yang akan kembali keruang ICU, tempat perawatan Dinda setelah operasi kaget ketika melihat begitu banyak orang di luar rumah sakit dan mereka semua tampak tegang


"Apa ada yang sakit?" tanya Mila cepat


"Kami mau membesuk bos kami bu dokter, beliau korban penusukan mantan suaminya


"Dinda?"


"Iya" jawab mereka serempak


"Ayo ikut saya" ajak Mila


Segera rombongan tersebut berjalan cepat mengikuti Mila dan Tomi


"Lihatnya dari luar saja, karena Dinda baru selesai kami operasi"


Sepuluh orang yang mengintip melalui kaca mengusap wajah mereka dan mereka tampak terlihat sekali sedihnya


"Bu dokter, kami semua ingin mendonorkan darah kami, kebetulan kami ber sepuluh ini darahnya A semua"


Mila langsung menarik nafas lega


"Serius kalian semua ingin mendonorkan darah untuk Dinda?"


"Serius bu dokter, mbak Dinda itu baik sekali sama kami, mungkin dengan inilah kami bisa membalas jasanya"


"Lagian kami semua akan sangat menyesal jika terjadi apa-apa sama mbak Dinda" timpal yang lainnya


"Baiklah jika begitu" jawab Mila dengan terharu sambil menoleh kearah Tomi yang juga tampak terharu


Mila segera mengeluarkan hpnya, menghubungi perawat dan memintanya untuk mengantarkan rombongan karyawan Dinda kebagian PMI


"Sebenarnya Dinda butuh sekitar tiga kantong lagi, tapi jika bapak-bapak dan mas-mas semua seluruhnya sehat ketika diperiksa nanti dan layak mendonorkan darah, itu juga akan lebih baik, siapa tahu ada pasien lain yang membutuhkan"


"Benar bu dokter"


Mila menganggukkan kepalanya lalu rombongan karyawan Dinda tadi langsung dibawa kebagian PMI oleh perawat


Sepeninggal mereka tampaklah pak Burlian berjalan dengan tiga orang karyawannya


"Bagaimana Dinda, Tom?"


"Di ICU kak"


Pak Burlian beserta tiga karyawannya menyalami Dinda


"Mereka yang akan mendonorkan darahnya untuk Dinda" sambung pak Burlian lagi


"Sudah ada sepuluh orang karyawan Dinda yang mendonorkan darah mereka pak, jadi In Syaa Alloh stok darah untuk Dinda telah tercukupi"


"Alhamdulillah" ucap keempatnya dengan lega


"Saya bisa lihat Dinda bu dokter?" tanya pak Burlian


"Maaf sekali belum bisa pak, Dinda masih kritis, dan untuk sekarang kita hanya bisa melihat melalui jendela kaca saja"


Pak Burlian mengangguk dan menurut lalu mereka berempat mengintip melalui jendela kearah Dinda yang matanya terpejam


Ternyata tak cuma pak Burlian dan karyawan Dinda saja yang datang, keluarga Dinda juga datang


Bahkan kakak Dinda sangat emosional ketika melihat adiknya terbaring lemah. Berkali-kali dia meninju tembok dengan kesal, pak Burlian dan yang lainnya berusaha menenangkannya dan menasehatinya untuk sabar

__ADS_1


"Adi cari mati...." geramnya


__ADS_2