Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Kecewa


__ADS_3

Aku yang masuk kedalam kamar segera melongokkan wajahku kearah Yusuf yang masih tampak pulas. Dengan menarik nafas panjang akhirnya aku meraih handuk yang ada di belakang pintu kamar mandi kemudian melepas baju dinas yang sejak tadi masih melekat di tubuhku, kemudian melilitkan handuk, lalu mandi


Sementara Naya yang masuk kedalam kamarnya, dengan wajah marah dan dada dipenuhi emosi, segera duduk di kursi yang ada di depan cermin besar. Menatap pantulan wajahnya dengan dada turun naik


“Kurang ajar. Kalau aku tahu dari dulu jika om Tomi tidak benar-benar mencintai ibuk aku, tentulah aku tidak akan meminta dia menjadi ayah sambungku” geramnya sambil terus menatap pantulan wajahnya dengan marah


“Dengan ibuk aku yang istrinya saja dia menganggap begitu. Lalu bagaimana dengan aku sama Arik yang hanya anak tiri?” lanjutnya


“Ibuk nggak boleh tahu apa yang tadi aku dengar. Aku nggak mau ibuk kepikiran, terus stress, terus kandungannya jadi bermasalah. Aku harus cari tahu apa penyebab tadi om Tomi bicara begitu sama eyang. Dan mengapa tadi begitu dari dapur wajah ibuk jadi berubah masam. Aku yakin sudah terjadi hal buruk yang aku tidak tahu”


Selesai berkata seperti itu, Naya dengan cepat bangkit dari duduknya kemudian keluar dari dalam kamar, berjalan kearah ruang tamu. Mengambil tas nya yang tertinggal di atas sofa


Saat dia akan mengambil tas nya. Dilihatnya papa sambungnya berjalan kearah depan. Naya dengan cepat langsung menyambar tas nya, kemudian tidak menoleh ketika Tomi memanggil namanya


“Naya, dengarin papa dulu nak”


Naya tak menggubris panggilan papa tirinya, dia makin mempercepat langkahnya menaiki tangga, kemudian segera dia masuk kedalam kamar dan segera mengunci pintu rapat-rapat


“Enak aja mau bicara. Dia pikir aku nggak sakit ati apa?” sungut Naya


Dengan cepat dibukanya tas yang tadi di ambilnya dari bawah kemudian mencari nomor mbak Sri


“Angkat bude…..” gumam Naya dengan gugup sambil menggigit-gigit kukunya


Tiga kali diulanginya menghubungi nomor mbak Sri, tapi masih juga tak diangkat. Sampai akhirnya dengan menarik nafas panjang Naya mengetik sebuah pesan


Bude, tadi waktu di belakang ibuk bilang apa sama bude?


Terkirim tapi masih belum dibaca. Dan sekali lagi Naya harus menarik nafas dalam dan berusaha menahan kesal di dalam hatinya. Sementara sore kian bergerak gelap. Karena masih juga tak mendapatkan balasan dari mbak Sri, akhirnya Naya mengalah dengan mandi kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Terus menggenggam hp di tangannya, berharap jika pesan yang tadi dia kirimkan pada mbak Sri segera dibalas dengan perempuan yang sudah mengasuh dia dan adiknya itu


Kembali dada Naya bergemuruh ketika dia teringat dengan ucapan yang tadi diucapkan oleh papa tirinya. Kemarahan yang ditahannya sejak tadi timbul kembali, sehingga membuatnya mengepal tangan dengan mata menyipit


“Awas kamu om, kamu akan menerima balasan dari aku!” geramnya


Sementara aku yang berada di dalam kamar dan tengah menggendong Yusuf karena suara adzan, hanya diam ketika Tomi masuk kedalam kamar. Aku yang duduk di atas ranjang, segera menggeser dudukku sehingga aku membelakanginya


Dengan bersenandung lirih aku mengusap-usap rambut tebal Yusuf, dan berusaha seperti tak menyadari jika ada Tomi di kamar ini

__ADS_1


“Sayang sholat yuk” ajak Tomi sambil mengusap kepalaku


Aku bergeming, sedikitpun aku tidak menjawab ucapannya apalagi menoleh padanya. Aku terus saja mengusap rambut Yusuf dan terus bersenandung lirih. Dan Tomi yang seperti tahu jika aku marah, diam. Dia duduk di belakangku, menarik nafas panjang kemudian menoleh lagi ke arahku


“Maafin ibu ya Din. Kamu kan tahu bagaimana selama ini ibuk sayang sama kamu”


Aku masih diam tidak menanggapi ucapannya, sementara suara adzan telah berganti dengan iqamah. Dan terdengar suara panggilan ibu mertuaku dari luar


“Iya buk, nanti dulu…..” jawab Tomi menjawab panggilan ibunya


“Aku shalat duluan ya. Nanti kamu nyusul saja” lanjut Tomi dengan mengusap kepalaku


Dan aku masih tak bereaksi atas sikap manisnya padaku. Aku masih saja tak menoleh sampai suara pintu ditutupun aku masih tak menoleh kearah Tomi. Sepeninggal Tomi aku menarik nafas kesal, dan aku kembali cemberut


Karena mukena ku adanya di ruang mushala rumah besar ini, maka jadilah aku belum shalat. Sampai akhirnya pintu kamar dibuka kembali, dan ternyata yang masuk adalah Tomi barulah aku meletakkan Yusuf kembali di atas ranjang. Dengan pelan aku kembali menepuk-nepuk pahanya yang membuatnya kembali tenang, kemudian setalah itu barulah aku turun dari atas ranjang


“Sayang?” panggil Tomi sambil menarik tanganku ketika aku masih saja cuek padanya yang sekarang duudk di tepi ranjang. Dengan kasar aku menepis tangan Tomi kemudian aku keluar dari dalam kamar, dan berjalan ke mushala


Baru saja aku mau rakaat kedua, aku dengar suara tangisan Yusuf. Awalnya pelan, tapi lama kelamaan suara tangisnya makin kencang sehingga membuatku shalat dengan cepat


“Naya siapkan untuk makan malam nak. Ibuk mau ambil adik” ucapku cepat ketika aku lihat Naya menatap ke arahku


“Nggak tahu kok tiba-tiba dia nangis” ucap Tomi ketika aku mengambil Yusuf dari gendongannya


Aku masih tak mempedulikan Tomi, aku yang telah menggendong Yusuf menggerak-gerakkan tubuhku berharap jika Yusuf makan berhenti menangis. Bahkan ketika akan kuberi asi, bukannya mau seperti biasanya, Yusuf malah menolak dan terus saja menangis


“Kamu kenapa nak……” lirihku sedih


Karena masih saja menangis, aku membaringkan Yusuf, membuka bajunya, dan meletakkan tanganku diatas perutknya, kemudian aku menepuk tanganku yang tadi aku letakkan di atas perut Yusuf


“Nggak kembung” gumamku


Tomi yang duduk di sebelahku ikut berusaha mendiamkan Yusuf dengan mengusap-usap kepalanya. Dan membujuk Yusuf dengan berbagai cara


“Anak itu senditif. Dia tahu apa yang terjadi pada orang tuanya”


Aku menoleh kearah pintu dimana ibu mertuaku telah berdiri di sana. Aku melengos dan kembali menggerak-gerakkan badanku berusaha membuat Yusuf tenang

__ADS_1


“Makanya kalau ada apa-apa itu jangan dipendam. Anak kamu tahu itu kalau kamu memendam sesuatu” sambung ibu mertuaku yang membuatku harus memejamkan mataku dan menghembus nafas dalam


“Sabar Din…. Sabar…..” batinku


“Sini Yusuf nya!” ucap beliau sambil menarik Yusuf dari dalam gendonganku. Dengan menelan ludah dan berusaha untuk tidak marah aku membiarkan beliau menarik Yusuf dari dalam gendonganku


“Cup cucu eyang sayang. Kenapa sayang? Hemmmmm…?” bujuk beliau


Tapi Yusuf bukannya berhenti menangis ketika digendong oleh eyangnya, dia malah makin menangis kencang. Aku yang terduduk di pinggir ranjang hanya bisa menarik nafas panjang mendengar tangisan anakku


Sekarang Tomi beserta ibunya membawa Yusuf keluar dari dalam kamar, dan meninggalkan aku sendiri yang termangu melihat mereka. Sekali lagi aku menarik nafas panjang, kemudian mengurut dadaku yang tiba-tiba terasa nyeri.


Selanjutnya tanpa bisa aku cegah, air mataku telah mengalir dengan derasnya. Dan aku hanya bisa menangis tertunduk dengan sedih. Sementara suara tangisan anakku kian kencang, dan hatiku kian terasa tersayat mendengar suara tangisannya


“Kita bawa adik ke dokter saja buk, siapa tahu adik ada yang sakit” ucap Naya yang masuk kedalam kamar. Dengan cepat aku mengusap kasar wajahku lalu melengos menghindari tatapan Naya yang sepertinya kembali menatapku dengan curiga


Aku mengangguk, kemudian aku bangkit dan membuka lemari. Mencari kunci mobil pribadiku, mobil yang telah lama tidak pernah aku pakai. Kemudian aku memberikan kuncinya pada Naya dan memintanya untuk memanaskan mesin mobil tersebut


Naya yang mengambil kunci mobil dari tanganku segera berlari keluar dari kamar. Sementara aku segera menyambar tas dan dompetku, kemudian tak lupa aku juga menyambar selimut Yusuf


“Sini….!” Ucapku ketika aku telah berdiri di depan ibu mertuaku yang masih saja berusaha membujuk Yusuf. Ibu mertuaku melirik tajam ke arahku, tapi aku tak mempedulikannya. Aku terus saja menarik paksa Yusuf dari gendongannya


“Arik, ambil tas ibuk nak. Bawa kedalam mobil!” ucapku pada Arik yang berdiri di sebelahku ketika tas yang tadi aku letakkan di bahuku jatuh akibat aku mengambil Yusuf


“Kamu mau kemana?” tanya Tomi dengan nada tinggi ketika aku memasukkan Yusuf kedalam gendongan


“Ke dokter” hanya itu jawabanku. Dan aku menjawab itu pun masih tanpa melihat kearah wajahnya


Setelah itu aku tidak mempedulikan lagi bagaimana Tomi dan ibu mertuaku, karena aku telah berjalan meninggalkan mereka berdua. Mobil yang tadi telah dipanaskan oleh Naya masih berada di dalam garasi. Dan Naya yang berdiri di teras segera menyentuh tanganku ketika aku sampai di dekatnya


“Om Tomi nggak ikut, buk?” tanyanya


Aku yang telah akan berjalan kearah garasi menghentikan langkahku, kemudian menoleh heran kearahnya


“Om?” tanyaku


Naya melengos. Kemudian dia menarik tangan Arik dan berjalan mendahuluiku masuk kedalam mobil. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dengan heran melihat kelakuannya. Kemudian aku menoleh kedalam rumah, berharap jika Tomi menyusulku yang telah duluan keluar dari dalam rumah

__ADS_1


“Terserahlah……” putusku dengan pasrah karena Tomi tak juga muncul


Akhirnya aku membuka pintu mobil, meminta Naya untuk duduk di sebelahku, memangku adiknya. Setelah Naya memangku adiknya, barulah aku berjalan kearah bagian stir, dan duduk di belakang kemudi. Beberapa detik aku masih belum menjalankan mobil, masih berharap jika Tomi akan keluar dan menyusul kami. Kami kembali aku harus menelan kekecewaan karena ternyata Tomi masih juga tidak keluar dari dalam rumah sampai akhirnya aku memundurkan mobil kemudian keluar dari dalam garasi


__ADS_2