
Wajah Tomi yang sudah basah cukup menunjukkan jika isi surat yang tadi dibacanya pasti berisi sesuatu yang membuatnya sedih. Rasa penasaran kian memenuhi isi kepala semua yang ada di sana. Tapi tidak demikian dengan Putri, dia yakin isi surat itu pasti berisi seluruh harta yang Tomi berikan pada Dinda dikembalikan oleh wanita itu. Karena Dinda sudah mengatakannya jauh-jauh hari sebelum gugatannya melayang ke pengadilan. Apalagi ketika di ruang mediasi kemarin, Dinda kembali membahas masalah itu walau Putri sama sekali tidak memberitahu Tomi
“Apa isinya?” tanya ibunya Tomi penasaran
Dengan menarik nafas panjang pak Burlian menjawab
“Dinda mengembalikan seluruh yang Tomi berikan sama dia. Di luar telah ada seserahan ketika mereka menikah dulu, rumah ini juga dikembalikan oleh Dinda. Mobil sampai tabungan semuanya Dinda kembalikan tanpa terkecuali”
Seluruh istri adik-adik Tomi ternganga mendengar ucapan pak Burlian termasuk istrinya pak Burlian. Sedangkan ibunya Tomi hanya mengedipkan matanya saja tak tahu harus menjawab apa
“Bu Dinda bilang, buku rekening, surat rumah dan juga BPKB mobil di rumah ini semua. Beliau simpan di dalam lemari yang ada di lantai atas. Pak Tomi bisa ambil sendiri. Dan satu lagi yang ingin beliau sampaikan, beliau minta seluruh barang beliau yang beliau beli pakai uang beliau sendiri beliau memintanya dikembalikan. Kebetulan di depan juga sudah ada mobil yang sengaja beliau sewa untuk membawa seluruh barang-barang beliau”
Tangis isak Tomi semakin terdengar jelas ketika pak Marsudi berkata demikian. Seluruh keluarga hanya bisa terdiam tak ada satupun yang bersuara
“Bagaimana pak Tomi, apakah anda bersedia memberikan seluruh barang bu Dinda?”
Tomi menggeleng, air matanya kian deras mengalir
“Aku tidak akan memberikan satupun barang Dinda yang ada di rumah ini. Yang aku inginkan itu Dinda kembali ke rumah ini. Karena ini rumahnya, rumah Dinda yang sengaja aku bangun atas dasar cinta aku sama dia”
PLAAAKKK!!!
Sebuah tamparan keras dari tangan ibunya membuat Tomi dan seluruh yang ada di dalam ruangan ini sontak kaget
“Harus berapa kali ibu bilang sama kamu Tomi. Jangan merendahkan harga diri kamu di depan Dinda. Jika Dinda memang ingin berpisah dari kamu, sudah kamu kabulkan permintaan dia. Kamu ini lelaki, jangan hanya karena seorang wanita kamu jadi cemen begini!!!” bentak ibunya
Tomi tak mempedulikan omelan ibunya, dia terus saja menangis yang membuat Aldi, yang duduk di sebelahnya merangkul bahunya
“Ibuk. Ibuk sadar tidak sih jika yang menghancurkan rumah kak Tomi ini ibuk!!” teriak adik kedua Tomi lantang
Semua yang ada menelan ludah mereka mendengar teriakan lantang tersebut. wajah ibu Tomi kian merah padam dibentak oleh anak keduanya. Dengan wajah marah dia segera berdiri dari duduknya. Berjalan cepat menuju kamar pribadi Tomi
Dari sana terdengar suara gradak gruduk dan beliau berteriak memanggil ketiga menantunya yang membuat ketiganya segera berdiri dan berjalan cepat masuk kedalam kamar Tomi
“Cepat kalian bawa semua barang ini keluar!!!” teriaknya emosi sambil tangannya tak hentinya mengeluarkan semua isi lemari.
Seluruh pakaian Dinda dikeluarkannya dari dalam lemari. Dan ketiga menantunya sibuk memunguti baju yang dilempar oleh mertua mereka, dan membungkusnya dengan sesama baju yang ukurannya jauh lebih besar sehingga tak lama berselang telah ada tiga buntelan besar yang berisi seluruh pakaian Dinda
“Bawa keluar dan masukkan kedalam mobil yang sudah menunggu di depan!!” kembali beliau berteriak dengan mendahului para menantunya menyeret satu buah buntelan pakaian
Tomi yang melihat segera bangkit. Direbutnya dengan kasar pakaian Dinda yang diseret oleh ibunya. Istri pak Burlian dan Putri yang melihat hanya bisa terdiam
“Ini baju istri aku, dan akan selamanya disini”
“Oke jika kamu ingin tetap baju istri kamu disini. Tapi jangan harap jika ibu akan sudi menganggap kamu anak ibu lagi!!!!”
__ADS_1
Pak Marsudi dan pak Burlian menggelengkan kepala mereka. Dengan pelan pak Burlian menempelkan hp ke telinganya dan tak lama beliau menyerahkan hp ke tangan Tomi
“Mbak Dinda, bicaralah sama beliau”
Tomi dengan cepat mengambil hp yang diberikan oleh pak Marsudi dan segera menangis meraung begitu bedan tersebut di loud speakernya dan terdengar suara Dinda
“Kak Tomi….. kakak jangan jadi anak durhaka. Mengapa aku lebih memilih mundur jadi istri kakak karena aku tidak ingin kakak durhaka sama ibu kakak. Sayangi beliau, bukankah kakak sendiri yang bilang jika beliau jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini?”
Tomi langsung terduduk di lantai dan kembali menangis sesenggukan mendengar ucapan Dinda
“Tolong kembalikan seluruh pakaianku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu. Dan maaf jika aku lebih meminta pak Marsudi yang kesana. Karena seperti yang sudah aku bilang, aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kakiku di rumah itu. Tolong ya kak, relakan kepergianku. Aku ikhlas menerima semua yang kakak lakukan sama aku selama ini. Karena aku yakin semuanya sudah ditakdirkan Tuhan buatku”
Seluruh yang ada di ruangan yang mendengar ucapan Dinda hanya bisa menarik nafas panjang. Bahkan mata Putri sampai berkaca-kaca
Setelah itu tak terdengar lagi suara Dinda hingga membuat Tomi kembali menangis histeris. Dan ibunya Tomi kembali memerintahkan ketiga menantunya untuk membawa seluruh pakaian Dinda tanpa bisa dicegah oleh Tomi
“Cari sepatu sama tas nya. Seluruhnya nggak boleh ada yang ketinggalan. Jika dia sudah tidak ingin menginjakkan kakinya di rumah ini. Itu artinya seluruh pakaiannya tidak boleh juga ada di rumah ini!!”
Ketiga menantunya kembali sigap mencari sepatu dan tas dan seluruh benda milik Dinda, hingga semua tak ada yang tersisa lagi. Seluruhnya sudah dimasukkan kedalam mobil semua. Dan ketika sudah diberitahu jika seluruh barang Dinda sudah habis, si supir segera berangkat menuju rumah Dinda. Dan sekarang giliran para adik ipar Tomi mengeluarkan seserahan yang dulu mereka bawa ketika pernikahan Tomi masuk kedalam rumah besar tersebut
“Seluruhnya lengkap ya pak. Tak ada yang dibuka. Karena menurut bu Dinda, dua minggu setelah kalian menikah, kalian pindah ke rumah ini. Dan memang tidak membawa satupun barang dari rumah beliau. Karena itulah seserahan ini masih utuh seperti awal ketika kalian memberinya pada bu Dinda”
Hancur berkeping-keping hati Tomi melihat kotak seserahan yang dulu diberikannya ketika mereka menikah. Semuanya isinya masih utuh, tidak ada yang berkurang satupun. Hanya kotak yang berisi kunci mobil dan surat rumah saja yang kosong, karena kedua isi kotak tersebut memang sengaja mereka bawa ke rumah ini
“Sabar kak….. semua ini takdir kakak” lirih mereka dengan suara tercekat
Tomi menenggelamkan wajahnya di pelukan ketiga adiknya. Ibu Tomi membuang wajahnya melihat keempat anak lelakinya saling rangkul tersebut, dengan cepat dia menghapus air mata yang lolos di matanya, setelah itu dia berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut, masuk kedalam kamarnya. Kamar yang dulu pernah dia tempati ketika dia tinggal di rumah ini
**
Sudah dua malam ini aku kembali ke rumahku. Rumah mbak Sri sudah selesai direnovasi dan sudah tidak ada alasan lagi untukku tidak kembali ke rumah lamaku. Saat ini ketika ketiga anakku sedang bercengkrama bermain di ruang keluarga, terdengar suara ketukan dari luar
Aku yang kebetulan duduk di ruang tamu menoleh kearah pintu dan menebak kira-kira siapa yang bertanda ke rumah kami malam begini. Kalau keluarga ku tidak mungkin karena mereka sudah sejak pagi tadi sampai sore tadi membantuku berbenah di rumah ini
Dari kaca aku lihat jika yang berdiri di luar adalah seorang perempuan. Dan tiba-tiba degup jantungku berdetak keras ketika aku melihat wajahnya
“Kartika?” lirihku kaget
Tapi tak urung suara salam dan ketukannya ku jawab. Segera aku membuka pintu dan benar seperti yang kulihat tadi, perempuan yang berdiri diluar beneran Kartika. Perempuan yang sekitar lima belas tahun lalu pernah menemui ku dan memintaku untuk merelakan Tomi menikahinya karena dia saat itu hamil anak Tomi
“Dinda….” Lirih perempuan itu sambil mengulurkan tangannya ke arahku
Dengan tanpa ekspresi aku menerima uluran tangannya dan mengajaknya duduk di teras. Aku diam ketika Kartika sudah duduk. Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya
Untuk memecah rasa canggung, Kartika menanyakan kabarku yang ku jawab singkat dengan mengucapkan kata baik. Kulihat dia seperti gelisah sehingga membuatku langsung menanyakan apa tujuannya datang kemari
__ADS_1
“Maaf ya Tik, kamu mau apa kesini. Kita itu pernah sekali ketemu, dan itu saudah sangat lama sekali. Sampai aku sanksi ketika melihat wajah kamu tadi. Ini beneran kamu apa bukan” ucapku
Kulihat Kartika tersenyum kaku mendengar ucapanku
“Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu istirahat kamu” jawabnya
“To the point aja Tik. Nggak usah basa-basi” jawab ku cepat
Kartika tahu jika dari nada suaraku aku tidak suka dengan kehadirannya. Rasanya hatiku masih sakit jika ingat bagaimana dulu dia datang memohon-mohon padaku untuk merelakan Tomi menikahinya, padahal saat itu pernikahanku sama Tomi tinggal menunggu hari
“Tomi sangat mencintai kamu Din…..” lirihnya
Aku tersenyum sinis mendengar ucapan nya, aku segera melirik kearahnya yang menatap serius ke arahku, kemudian aku menggelengkan kepalaku
“Katakan apa tujuan kamu kesini, itu saja Tik. Nggak usah kamu bahas-bahas Tomi. Aku yakin kamu tahu kabar pernikahan kami”
Kembali aku lihat Kartika mencoba tersenyum
“Aku di luar propinsi Din. Aku sengaja pulang kesini cuma untuk menemui kamu, aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya jika Tomi sangat mencintai kamu”
“Cukup Tik. Jika kamu kesini Cuma pengen ngomong masalah Tomi sangat mencintai aku kamu salah. Tomi itu tidak benar-benar mencintaiku. Jika dia memang sungguh-sungguh mencintaiku, dia tidak mungkin berselingkuh dengan kamu dan menganggap aku tidak ada artinya seperti sekarang”
Kartika menelan ludahnya
“Tapi yang aku katakan benar Din. Selama menjadi suamiku, sedetikpun Tomi tidak pernah mencintaiku. Hanya kamu yang ada di dalam hatinya, sampai sekarang”
Kembali aku tersenyum sinis mendengar jawabannya
“Nggak mencintai kamu, tapi dia mau meniduri kamu. Itu artinya walau sedetik Tomi pernah mencintai kamu Kartika. Nggak ada lelaki yang meniduri perempuan yang dinikahinya itu nggak dicintainya. Apalagi dulu kalian sempat berpacaran di belakangku”
Kartika terdiam
“Jadi tujuan kamu kesini itu maksudnya apa, heemm?”
Kartika menarik nafas panjang
“Hidup Tomi kian hancur Din. Aku nggak mau dia makin hancur setelah berpisah dari kamu. Hanya kamu wanita yang dicintai Tomi di dunia ini. Hanya kamu semangat Tomi”
Aku langsung tertawa mendengar jawaban Kartika. Tawa yang sangat menyakitkan buat hatiku
“Kamu salah jika datang kesini. Aku tahu kamu ingin membujukku, kan?. Tapi maaf Tik, aku nggak bisa kembali sama Tomi lagi. Jika kamu kasihan sama Tomi, kenapa nggak kamu aja balik lagi sama dia. Aku yakin kamu masih mencintai Tomi kan?”
Kartika menunduk, dan aku kembali tersenyum sinis kearahnya
“Kamu bisa pergi sekarang Tik. Bilang sama Tomi, percuma dia meminta kamu datang kesini dan membujukku. Karena aku akan tetap pada pendirianku”
__ADS_1