Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Bukti Video Dari Arik


__ADS_3

Tomi kian tertunduk dalam mendengar ucapan Mila, wajahnya kian mendung dan diselimuti dengan sejuta penyesalan terbesar dalam hidupnya


“Istirahatlah kak, besok kakak harus menguburkan janin anak kakak. Walaupun janin tersebut belum sempurna, dan masih sangat kecil, tapi dia harus dikuburkan dengan layak. Dan tentulah kalian sudah menyiapkan namanya bukan, kebetulan anaknya perempuan. Dan sayang sekali dia tidak bisa dilahirkan, cobalah jika dia lahir secara normal dan sehat. Aku yakin dia akan menjadi wanita tangguh dan hebat seperti ibunya” ucap Mila dengan kembali senyum getir


Tomi masih diam, dan air matanya mengalir ketika mendengar Mila menyebut tentang anak yang harus dia kuburkan besok pagi.


“Aku akan masuk, Dinda butuh aku. Dan aku akan menjaganya” sambung Mila sambil berdiri dan segera mengambil dan memakai baju khusus untuk dipakai ke ruang ICU. Setelah itu dia langsung masuk dan tidak menoleh pada Tomi yang menangis dalam diam


“Morning bestie terkuat ku….. cepat sadar ya…..” lirih Mila sambil membelai kepala Dinda dengan sayang


Setelah itu Mila menarik kursi lalu menempelkan kepalanya di ranjang tempat tidur Dinda kemudian dia langsung terpejam. Sementara Tomi yang masih terisak, perlahan bangkit dan kembali mengintip kedalam ruang ICU


Setelah memastikan jika saat ini Mila ada di sebelah istrinya, Tomi duduk kembali dan menyandarkan kepalanya dan mencoba untuk memejamkan matanya. Berkelebat di kepalanya bagaimana dulu dia sangat khawatir ketika Dinda koma, bagaimana dulu dia rela tak pulang kerumah sampai berhari-hari demi menunggui Dinda di rumah sakit. Bagaimana dia dulu berjuang keras meyakinkan Dinda untuk mencintainya lagi. Tapi mengapa, baru menginjak dua tahun pernikahan mereka badai itu datang, dan itu berakibat fatal untuk anak yang dikandung Dinda


Tomi menghempas nafas panjang dan mengusap wajahnya frustasi. Matanya tidak mengantuk sama sekali, yang ada di kepalanya adalah ribuan penyesalan dan penyesalan yang tak akan pernah bisa dia luruskan


“Maafkan aku Din, maafkan aku……” lirihnya


Jam delapan pagi, dokter yang bertugas untuk memeriksa keadaan pasien di ruang ICU telah berjalan kearah ruangan tersebut. Tomi yang baru saja memincingkan matanya langsung terjaga begitu mendengar ada langkah kaki


Tomi mengusap wajah dan meregangkan kakinya, kemudian dia berdiri dan menyapa dokter tersebut, dan meminta pada dokter untuk memperbolehkannya ikut masuk. Tapi ternyata dokter tersebut menolak walaupun Tomi sudah mengatakan jika dia adalah suami dari pasien yang akan diperiksa oleh nya


“Di dalam sudah ada dokter Mila. Dan sesuai dengan kesepakatan, selain dokter tidak ada yang boleh masuk keruangan ICU”


Tomi akhirnya menurut dan menelan kekecewaan karena dokter masih juga tidak memberinya izin


“Ada baiknya jika anda ke ruang jenazah dan membawa pulang jenazah janin anak anda untuk dimakamkan”


Tomi mengangguk mendengar ide yang disampaikan oleh dokter tersebut, dan akhirnya memberi jalan pada dokter tersebut untuk masuk kedalam ruang ICU. Dan Tomi kembali mengintip melalu kaca jendela dan melihat bagaimana Mila terbangun dan tampak sekali letih di wajahnya


Dokter segera memeriksa keadaan Dinda secara intensif dan Mila tetap berada di tempatnya sambil terus menggenggam erat jari sahabatnya itu


“Pulanglah dulu dokter, anda harus beristirahat. Dan untuk pasien akan saya tempatkan satu perawat khusus yang berjaga di sini”


Mila mengangguk, kemudian dia berdiri dan ditatapnya wajah Dinda dengan tersenyum getir


“Gue pulang ya bestie, tapi sore nanti gue bakal balik lagi kesini. Lu jangan khawatir, lu nggak sendiri. Gue akan selalu ada untuk lu” lirih Mila sambil membelai rambut sahabatnya


Kemudian Mila berjalan beriringan dengan dokter yang juga keluar dari ruangan tersebut. Dan ketika tiba diluar dia tidak melihat adanya Tomi, dan Mila juga tidak berniat bertanya pada dokter kemana gerangan Tomi, karena dia yakin jika saat ini Tomi pasti sudah pergi dan bisa jadi sedang menguburkan janin anaknya

__ADS_1


Sementara di kantor tempat Dinda berdinas, teman satu ruangannya bertanya satu sama lain karena hingga nyaris jam Sembilan Dinda belum juga tampak batang hidungnya


“Nggak biasanya Dinda kaya gini…..” gumam pak Kusno seperti pada dirinya sendiri


Bu Halimah dan Nadia juga mengangguk setuju


“Apa dia sakit?” tanya pak Kusno lagi


Kembali Bu Halimah dan Nadia mengangkat bahu mereka


Karena tak mendapat jawaban dari rekan kerjanya yang lain, pak Kusno berinisiatif menghubungi nomor Dinda. Tapi berkali-kali dia menghubungi nomor Dinda, selalu tak diangkat walau berdering


“Nggak diangkat” lirihnya


Wajah cemas mulai menjalari bu Halimah dan Nadia. Begitu juga dengan Redho. Hingga akhirnya Redho mengusulkan ide pada pak Kusno untuk menghubungi nomor Tomi


“Kayanya nggak etis kalau saya menghubungi suaminya, nanti apa kata beliau” tolak pak Kusno


“Aku saja kalau begitu” ucap bu Halimah yang meminta nomor Tomi pada pak Kusno


Tapi ternyata sama saja, telepon dari bu Halimah juga tak diangkat oleh Tomi, dan pesan yang dikirimkan bu Halimah juga hanya centang dua. Karena tak juga mendapat respon dari Tomi bu Halimah akhirnya mengangkat bahu


“Biar saya keruangan bos. Mungkin bos tahu” putus pak Kusno yang segera berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan bos nya


Tak lama dia juga menggeleng karena baik nomor Dinda maupun nomor Tomi tidak ada yang menjawab panggilannya


“Biar saya coba menghubungi nomor bibi saya, siapa tahu beliau tahu dimana Tomi dan Dinda”


Segeralah pak Burlian mendial nomor ibunya Tomi, tersambung dan langsung diangkat


“Dinda keguguran dan Tomi sekarang lagi pulang memakamkan janin anaknya. Dinda kritis di ICU”


Perubahan wajah pak Burlian ditangkap jelas oleh pak Kusno yang duduk di depan beliau. Perasaan khawatir sejak tadi yang memenuhi dadanya semakin menuntut jawaban


“Kami akan kesana sekarang bi” putus pak Burlian sambil segera berdiri dari kursinya


“Dinda kenapa pak?” tanya pak Kusno cepat


“Dinda keguguran dan sekarang kritis”

__ADS_1


Mulut pak Kusno ternganga, dan sangat shock


“Saya tinggal sebentar pak. Saya akan ke rumah sakit bersama istri saya. Saya akan membawa Berlian pulang”


Pak Kusno hanya dapat menganggukkan kepalanya dan berjalan tergesa mengekor di belakang pak Burlian


“Bagaimana?. Dapat info?” berondong bu Halimah begitu pak Kusno masuk


“Dinda masuk rumah sakit, dia keguguran dan kritis”


Sontak bu Halimah dan Nadia terpekik tertahan dan pecahlah tangis keduanya


“Terus bagaimana sekarang?” tanya keduanya dengan wajah basah dan terisak


Pak Kusno lalu menjelaskan jika saat ini pak Burlian ke rumah sakit dan meminta pada semua rekannya untuk mendoakan keselamatan Dinda


“Dinda kenapa lagi ya Alloh….” Isak bu Halimah


Sementara di rumah, Tomi yang pulang membawa janin anaknya hanya mampu menangis terisak ketika seorang ustadz memandikan dan mengafani anaknya. Dengan ditemani oleh ayah mertuanya dan seorang ustadz, Tomi membawa jenazah janin anaknya kepemakaman, dan memakamkan anaknya yang berukuran sangat kecil tersebut


“Maafkan papa nak…..” isak Tomi sambil mengusap nisan anaknya.


Sementara ibu Dinda yang diberitahu jika anaknya kritis di rumah sakit langsung melesat ke rumah sakit dengan adik bungsu Dinda. Dan tangisnya langsung pecah ketika dilihatnya anaknya terbujur dengan wajah pucat pasi di atas ranjang ruang ICU


“Berlian biar saya bawa pulang bu, saya dan istri saya yang akan merawatnya selama Dinda belum sadar” pamit pak Burlian pada ibunya Dinda yang hanya bisa mengangguk lemah


Berlian langsung tenang ketika dia berada di dalam gendongan istrinya pak Burlian, dan itu membuat ibunya Dinda menjadi tenang melepas cucunya untuk dibawa pulang oleh mereka


“Ibu pasti tahu apa yang terjadi pada anak saya. Karena ibu tinggal serumah dengana anak saya. Apa yang terjadi pada anak saya?” tanya ibunya Dinda pada ibunya Tomi ketika mereka berdua duduk bersama di depan ruang ICU setelah keduanya sama-sama tenang setelah cukup lama terisak


Ibunya Tomi terdiam, sedikitpun dia tidak berani menjawab pertanyaan besannya. Pak Burlian dan istrinya juga menatap kearah bibi mereka dengan tatapan penuh tanda tanya


“Papa sama eyang menuduh ibuk selingkuh dengan ayah. Oleh karena itulah ibuk stress sampai keguguran” jawab Naya


Air mata ibu Dinda kembali mengalir deras, ditatapnya besannya yang duduk di sebelahnya dengan tatapan tak percaya. Begitu juga dengan pak Burlian dan istrinya, keduanya sama-sama melongo tak yakin


“Ini nek videonya…..” ucap Arik


Pak Burlian dengan cepat mengambil hp yang disodorkan Arik, kemudian secara bersama-sama beliau melihat dan mendengar semua ucapan Tomi pada ibunya yang ada dalam video yang direkam secara sembunyi-sembunyi oleh Arik tersebut. Dan kembali keduanya menggelengkan kepala. Naya dan Arik terisak, dan masuk kedalam dekapan nenek mereka

__ADS_1


“Kami mau pulang ke rumah kami nek, itu bukan rumah kami. Dan itu juga bukan papa kami. Kami cuma punya ibuk, dan sekarang ibuk kamipun sekarat oleh mereka” isak Arik


“Iya cu, iya. Kalian pulang ke rumah kalian. Untuk apa tinggal di istana jika kaliam tersiksa, lebih baik kalian tinggal di rumah sederhana tapi bahagia. Dan untuk anda ibu besan, terima kasih yang tak terhingga atas perlakuan anda pada anak saya. Dinda memang bukan anak anda, jadi wajar jika anda tidak mengkhawatirkan keselamatan Dinda. Jika Dinda mati, Tomi bisa ratusan kali beristri, tapi saya? Saya ibunya Dinda. Saya yang akan hancur jika terjadi hal buruk pada anak saya. Melihatnya koma seperti saja nyawa saya serasa sudah diujung kerongkongan saking sakit dan khawatirnya saya”


__ADS_2