
Kedua anak gadis pak Burlian saling toleh kemudian keduanya ikut menangis melihatku yang menangis ketika mendekap Yusuf. Yusuf yang sekarang berada di dalam dekapanku hanya menggerakkan badannya karena dekapanku yang erat di tubuhnya
Puas meluapkan kerinduanku pada Yusuf aku menoleh kearah istrinya pak Burlian yang matanya tampak merah. Nyata sekali jika dia juga menangis melihat keharuan ku. Beliau memaksakan sebuah senyuman di wajahnya sambil mengusap pelan lenganku
“Berlian sekarang sama ibuk ya. Jangan nakal. Mama sama kakak-kakak pasti akan sangat merindukan kamu” lirihnya yang kembali berurai air mata
Aku melirik kearah kedua anak gadis pak Burlian yang menangis sesenggukan yang dipeluk pak Burlian
“Kami akan merindukan Berlian pa…..” lirih salah satu dari mereka
Pak Burlian menarik nafas panjang mendengar ucapan anak gadisnya. Dan aku yang mendengar hanya bisa diam tanpa tahu aku harus berbuat apa. Tidak mungkin aku memberikan Yusuf sama mereka disaat aku sudah sadar dan ingat semuanya
“Kalian masih bisa menemui dan membawa Yusuf kapan pun kalian mau” ucapku akhirnya
Dengan cepat kedua gadis cantik itu menarik kepala mereka kemudian menatap ke arahku dengan wajah basah
“Tante serius?”
Aku mengangguk. Lalu dengan cepat keduanya berjalan ke arahku dan mengambil Yusuf kemudian masih dengan beruraian air mata keduanya memeluk Yusuf yang bersuara tak jelas sambil menggerak-gerakkan tangannya kearah wajah kedua kakak barunya
Keenam sahabatku menarik nafas panjang, kemudian mereka mengusap bahuku
“Hati kamu memang besar Din…..” puji Putri sambil merengkuh bahuku
Aku tersenyum getir mendengar ucapannya. Sementara pak Burlian dan istrinya menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit aku jelaskan
“Terima kasih bu karena telah mau mengasuh Yusuf selama aku koma kemarin”
Istri pak Burlian mengangguk, begitu juga pak Burlian. Kemudian pak Burlian menoleh kearah Tomi yang berdiri di dekat pintu masuk yang hanya bisa memandang sendu kearah kami
“Sekarang aku sudah tenang mengembalikan Berlian kepada orang yang tepat” ucap beliau yang kutangkap sebagai sebuah sindiran
“Baik-bak ya Din. Jaga kesehatan kamu”
Aku menganggukkan kepalaku ketika pak Burlian berkata begitu ketika kan berpamitan pulang. Demikian juga dengan seluruh sahabatku, mereka semua pulang sehingga yang tersisa saat ini adalah Tomi.
“Sayang kita perlu bicara” ucap Tomi mengejar ku yang masuk bersama Yusuf
Aku tangkap ada sinar marah dimata Naya, tapi aku tak mempedulikan keduanya, aku terus saja masuk dan menutup pintu kamar. Tapi pintu yang baru saja aku tutup segera di dorong oleh Tomi
“Please Din dengerin aku”
Aku tetap bergeming, aku lebih memilih membawa Yusuf duduk di pangkuanku dan tak puas-puas menciumi seluruh wajah, bahkan tangan dan telapak kakinya tak luput dari ciumanku
“Kamu yang ibuk lihat ketika ibuk koma kemarin” ucapku ketika menciuminya
“Din?”
Aku menarik nafas panjang kemudian menoleh kearah Tomi yang sepertinya frustasi karena sejak tadi aku tidak mempedulikannya
__ADS_1
“Mau apa Tom?. Cukup ya. Aku baru saja melewati hari yang panjang sebagai orang setengah mati. Jadi aku mohon sama kamu jangan buat hidupku kembali mati. Sudah cukup kamu menyakitiku dengan memfitnahku. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakitiku lagi. Aku tahu Tom kamu sangat menyayangi ibu kamu, tapi tidak seharusnya kamu juga membela beliau ketika beliau memfitnahku. Aku ingat Tom, malam itu aku mengatakan jika yang salah itu aku karena telah memberikan kamu kesempatan kedua untuk menjadi suamiku. Dan harus aku akui itu ternyata kebodohan terbesarku mempercayai seorang penghianat macam kamu”
Tomi terdiam, matanya hanya berkedip mendengar ucapanku
“Jika ada pemilihan wanita terbodoh, maka predikat juaranya adalah aku. Aku terlalu bodoh mempercayai seorang lelaki yang pernah mencampakkan ku untuk menjadi suamiku. Aku terlalu bodoh karena tidak belajar dari pengalaman. Dan sekarang aku tegaskan lagi sama kamu Tom. Aku bukan tipe perempuan yang gampang ninggalin seseorang. Entah karena kekurangan atau kelebihannya, tapi kalo aku capek, aku lebih memilih mundur”
Tomi menggeleng, segera dia duduk di sebelahku. Menarik bahuku hingga menghadap kearahnya. Dan kembali dia menggeleng cepat
“Nggak. Kamu nggak boleh mundur. Cukup dulu kamu mundur, dan sekarang kamu tidak boleh mundur walau hanya selangkah”
Aku melepaskan tangan Tomi dari bahuku
“Beri aku waktu Tom. Ini terlalu sulit untukku. Jika kamu menganggap ini biasa saja, kamu salah. Ini sangat berat untukku”
Diam, kami berdua diam. Hanya suara Yusuf yang terdengar sebagai penanda jika ada orang di dalam kamar ini
“Kamu pulanglah. Aku tidak akan pernah pulang ke rumah itu lagi. Itu bukan rumahku, rumahku sekarang ini, rumah pertamaku. Rumah dimana aku mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan di rumahku sendiri”
Tomi menarik nafas panjang, menoleh ke arahku sekilas, kemudian dengan pelan dia bangkit dan berjalan kearah pintu. Sebelum menutup kembali pintu, Tomi menoleh lagi kearah kami, tapi aku yang kembali sibuk dengan Yusuf tidak mempedulikannya
Tiga hari setelah aku di rumah orang tuaku, mbak Sri datang, dan mengatakan jika dia siap kembali kerumahnya jika memang aku akan kembali ke rumah lamaku. Berat untukku mengambil keputusan, satu sisi aku tidak enak hati meminta padanya untuk keluar dari dalam rumahku, satu sisi lagi aku tidak mungkin selamanya tinggal di rumah orang tuaku lagi
“Biarlah mbak, mungkin aku akan tinggal di ruko saja. Toh, ruko bagian atas nggak ada yang menempati” ucapku
Mbak Sri menggeleng, dia tetap bersikeras bahwa dia akan kembali ke rumah mereka. Dan memberikan kunci rumah padaku. Dia bilang jika rumah tersebut telah di rapihkannya, dan semua barang miliknya juga telah siap dibawanya kembali ke rumah mereka
“Tidak sekarang mbak. Mungkin nanti, aku masih akan berfikir dulu. Entah aku akan disini, atau kembali ke rumah lama, mungkin juga aku akan tinggal di ruko atau mungkin aku akan kembali ke rumahku dengan Tomi”
Karena belum ada keputusan, aku akhirnya meminta pada mbak Sri untuk tetap tinggal di rumah itu. Dan besoknya aku telah kembali beraktifitas ke kantor. Dan bisa ku tebak bagaimana semua teman sekantor ku begitu antusias ketika menyambut ku. Pak Kusno yang menjadi ayah kedua ku ketika di kantor, tampak terharu sampai beliau memelukku dengan meneteskan air mata
“Bapak sangat senang karena kamu kembali sehat Din” lirih beliau sambil menyusut matanya
Aku ikut terharu dengan kepedulian beliau. Secara bergantian seluruh teman satu ruangan bergantian memelukku
“Kalian berdua kan yang handle pekerjaan mbak selama ini?” tanyaku pada Redho dan Nadia yang dijawab keduanya dengan anggukan kepala
“Kirim nomor rekening kalian” ucapku ketika jam istirahat
Saat itu kami sedang berkumpul makan siang. Dan kembali seperti dulu ada kurir yang membawakan makan siang kami, dan aku tahu jika itu kiriman dari Tomi. Tapi aku tidak mau menunjukkan di hadapan teman sekantorku jika hubunganku sedang tidak baik-baik saja dengan Tomi. Jadi walau aku kecewa dengan yang dilakukan Tomi padaku, aku masih menerima makan siang di kirimkannya
“Untuk apa mbak?” tanya keduanya dengan nada kaget
“Teman mbak kan ada yang pegawai bank, nah dia bilang ada undian berhadiah di kantornya. Dan sebentar lagi akan ada pengumuman pemenangnya. Kali aja nanti pemenangnya itu nomor rekening kalian” elak ku
Redho dan Nadia terkekeh
“Mbak ini ada-ada aja. Kita itu nggak pernah ikut undian” jawab keduanya
Tapi aku tak putus asa, aku terus meyakinkan mereka berdua jika memang ada undian dan aku ingin mengirimkan nomor rekening mereka berdua sama Lisa agar memasukkan keduanya dalam undian
__ADS_1
Karena aku terus bersikeras, akhirnya keduanya menurut. Dan ketika nomor rekening telah mereka berikan padaku, dengan cepat aku membuka e banking di aplikasi hp ku, kemudian aku mentransfer nominal gajiku dua bulan kepada mereka masing-masing satu bulan
Mereka yang tengah asyik makan, kompak mengambil hp mereka ketika mendengar ada notifikasi dari e banking mereka. Dan keduanya langsung menatap ke arahku dengan bengong. Aku yang kembali menyuapkan makanan ke mulutku hanya tersenyum
“Kan yang kerja kalian, jadi yang harus dapat gaji juga kalian” jawabku santai
Bu Halimah tersenyum dan mengelus tanganku
“Alhamdulillah koma lama tidak merubah sifat baikmu Din”
Aku menoleh kearah beliau dengan tersenyum pula
Selesai makan siang, kami tidak langsung melanjutkan pekerjaan. Selain karena belum jam nya, kami juga ingin bersantai terlebih dahulu, menurunkan makanan ke lambung dulu
Din, keruangan bapak sebentar
Aku tertegun ketika membaca pesan yang dikirim pak Burlian. Tapi karena ini perintah, maka aku seger berdiri dan berpamitan dengan bu Halimah dan Nadia, mengatakan jika aku akan ke ruangan bos, karena diminta beliau
Setelah mengetuk pintu ruangan pak Burlian, aku masuk. Tapi langkahku seketika langsung terhenti ketika aku melihat jika di dalam ruangan tersebut ada Tomi dan ibunya
“Tolong Din…..” ucap Tomi ketika aku bergeming menatap kearahnya
Dengan menarik nafas panjang aku akhirnya masuk dan memilih duduk berhadap-hadapan dengan Tomi dan ibunya. Pak Burlian yang duduk di satu kursi lain menatap kearah kami bertiga setelah aku duduk
“Maafkan bapak karena memanggil kamu” ucap pak Burlian yang tak ku jawab
“Bapak hanya sebagai penengah. Tidak membela kamu, tidak juga membela Tomi apalagi membela Bibi bapak” lanjut pak Burlian
Aku masih bergeming, aku hanya *******-***** tanganku untuk menghilangkan kegugupan di dadaku
“Tolong maafkan ibu Din…..”
Aku menelan ludahku ketika mendengar ucapan permintaan maaf dari ibunya Tomi
“Tomi sangat mencintai kamu Din. Hidupnya kacau karena kamu mengabaikannya. Apa kamu tidak melihat bagaimana kurus dan tak terurusnya dia sekarang”
Aku tetap diam dan hanya melihat kearah Tomi. Yang dikatakan oleh beliau memang benar, Tomi memang tampak kurus, itu sudah aku ketahui sejak aku melihatnya di rumah sakit ketika aku sadar kemarin. Tapi itu bukan urusanku, itu urusan pribadi dia
“Tolong maafkan lah ibu Din. Tomi membela ibu karena rasa sayang dan cintanya sama ibu. Tomi tidak ingin mengecewakan ibu. Dan ibu juga egois, mengapa hari itu ibu begitu marah ketika mantan suamimu menelepon. Ibu menyesal karena ibu kamu keguguran”
Aku menggeleng
“Ibu stop. Tolong jangan bawa masalah ini dengan menyangkut pautkan dengan keguguranku. Aku sedang berusaha menerima ikhlas takdir keguguranku. Jadi aku mohon ibu jangan menyebut itu lagi. Dan untuk masalah maaf, aku telah memaafkan ibu. Ibu memang surganya Tomi. Karena ibu memang ibunya Tomi, sampai matipun ibu tidak akan tergantikan. Tapi aku juga minta maaf sama ibu, karena aku sampai detik ini masih tidak bisa memaafkan Tomi. Aku benar-benar kecewa sama Tomi. Dan maaf pak Burlian, aku harap bapak menghormati keputusanku”
Setelah berkata seperti itu aku bangkit dari sofa dan menganggukkan kepalaku kearah pak Burlian
“Dinda tunggu!” tanganku segera ditarik oleh Tomi
Aku berbalik menatap matanya
__ADS_1
“Maafkan aku Tom. Aku belum bisa untuk saat ini. Tapi kamu yakinkan jika ada Tuhan yang Maha membolak balik hati manusia?” lirihku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya
Kemudian aku segera berjalan kearah pintu dan segera keluar dari dalam ruangan tersebut