
Aku menganggukkan kepalaku kemudian menarik nafas panjang lagi. Sementara Tomi hanya bergeming menatap test pack yang masih terbungkus rapat di tangannya
“Kamu hamil lagi sayang?” tanyanya sambil menoleh ke arahku
Aku mengangkat bahuku sambil menarik nafas panjang lagi. Kemudian aku menatap bingung kearah Tomi
“Ya sudah, sana masuk kamar mandi. Tes dulu” ucap Tomi berdiri dan mengulurkan tangannya padaku
Aku segera mengambil tangan Tomi, kemudian aku berdiri dan berjalan ragu ke kamar mandi. Sebelum masuk kamar mandi, aku kembali menoleh kearah Tomi yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
Aku menelan ludah ketika aku melihat hasil testpack yang barusan aku ambil. Menarik nafas panjang lalu keluar dari dalam kamar mandi
“Bagaimana?” tanya suamiku begitu aku muncul dari balik pintu
Aku langsung memberikan test pack ketangannya. Dan menatap wajahnya dengan gugup. Tak lama bibir Tomi mengembangkan senyum, kemudian dia langsung memelukku
“Positif sayang?” tanyanya
Aku mengangguk, tetapi wajahku murung. Yang membuat Tomi langsung menunduk melihat wajahku
“Hei, kenapa wajahnya? Kok sedih?”
“Yusuf bagaimana?” tanyaku menahan tangis
Tomi tertawa kecil, kemudian membawaku duduk di atas ranjang, tak lama pintu kamar kami diketuk, dan Tomi berdiri, membuka pintu kamar. Kulihat mbak Sri berdiri sambil menggendong Yusuf yang berada dalam handuk
Aku langsung turun dan mengambil Yusuf yang ada di dalam gendongan mbak Sri
“Biar aku yang mengganti bajunya mbak. Terima kasih ya mbak, mbak boleh pulang kalau mau pulang” ucapku sambil membalurkan minyak telon ke seluruh tubuh Yusuf
Mbak Sri mengangguk, lalu berpamitan pada kami. Selesai aku mengganti baju Yusuf, aku langsung memangkunya, menciumi harum aroma tubuhnya yang membuat aku candu. Bau syurga kalau aku bilang
“Maafin mama ya nak….” Lirihku mellow sambil kembali menciumi Yusuf.
Yusuf bergumam tak jelas dengan menendang-nendang. Tomi yang duduk di sebelahku, mengusap kepalaku, kemudian mencium wajahku sekilas
“Ke dokter yok nanti malam, kita periksa”
Aku mengangguk. Tapi aku masih diliputi rasa takut, takut dengan reaksi ibu mertuaku jika dia shock tahu aku hamil lagi. Aku memberitahu Tomi tentang kekhawatiranku, dan Tomi langsung menghiburku dengan mengatakan jika ibunya pasti senang jika mengetahui aku hamil lagi
__ADS_1
Dan ketika selesai makan malam, dengan takut-takut aku memberitahu ibu mertuaku jika aku akan ke dokter
“Kamu sakit?” tanya beliau khawatir ketika aku mengatakan niatku
Aku menoleh kearah Tomi meminta dukungannya. Dan Tomi segera duduk di sebelahku, meraih tanganku dan menggenggamnya. Sementara Yusuf saat ini sedang dalam bermain dengan kedua kakaknya
“Kamu kenapa Din, sakit? Kok kaya ragu gitu bilang sama ibuk?”
Aku menelan ludah dan kembali menoleh kearah Tomi
“Kami mau periksa buk, kayanya Dinda hamil lagi” jawab Tomi pelan
Kulihat wajah ibu mertuaku tampak kaget, tapi hanya sedetik, karena detik berikutnya beliau langsung berdiri dan memelukku dengan erat
“Serius Din?”
Aku tersenyum kaku.
“Kalau di test pack tadi sih iya buk, tapi nggak tahu. Makanya ini mau ke dokter” jawabku
“Ya sudah, berangkatlah. Biar ibuk sama cucu di rumah”
Aku menggeleng
Ibu mertuaku mengangguk, lalu aku dan Tomi langsung berdiri dan mengambil Yusuf yang saat ini sedang tengkurap di depan kedua kakaknya.
“Aku saja sayang” ucap Tomi ketika aku berniat menggendong Yusuf
Barulah ketika di dalam mobil, Yusuf aku pangku. Dan Yusuf kembali bergerak ketika di dalam pangkuanku, barulah setelah setengah perjalanan, dia tertidur. Setengah jam berikutnya kami sudah masuk ke rumah sakit khusus ibu dan anak, tempat biasa aku periksa ketika hamil Yusuf
“Kok baru periksa sekarang?” ucap dokter ketika selesai memeriksa ku
Aku mendecak mendengar pertanyaannya. Lalu aku duduk di depannya, begitu juga dengan Tomi, dia ikut duduk juga di depan dokter yang menyerahkan hasil usg ke tanganku
“Sudah jalan dua belas minggu” terangnya
Aku mengusap wajahku, lalu menoleh sedih kearah Yusuf yang masih tampak pulas dalam gendongan papanya
“Aku pikir habis nifas kemarin aku nggak dapet-dapet karena memang normal dokter”
__ADS_1
Dokter tersebut tersenyum
“Rezeki mbak Dinda. Memang ada sebagian orang nggak menstruasi setelah nifas, bahkan ada yang sampai berbulan-bulan. Tetapi ada juga orang kaya mbak Dinda ini”
Aku diam, mencoba memahami keadaanku saat ini.
“Jangan stress” tambah dokter ketika melihat wajahku
“Aku mikir asi dokter, bagaimana dengan Yusuf. Dokter tahu, dia masih enam bulan. Apa iya aku sambung susu formula. Aku nggak yakin”
Dokter tersebut tersenyum. Kemudian mulailah dia menasehati ku, dikatakannya jika aku masih bisa member asi untuk Yusuf jika aku kuat, tapi jika aku lemah maka susu formula adalah jalan satu-satunya. Setelah mendengarkan ucapan dokter tersebut, barulah aku tenang. Dan aku yakin jika aku sanggup member asi untuk Yusuf dalam beberapa bulan ke depan.
Setelah selesai mengambil obat di apotek, kami pulang. Dan kedatangan kami di rumah langsung disambut oleh ibu mertuaku
“Bagaimana?” tanyanya
Aku mengangguk, dan karena aku sudah tenang dengan pencerahan yang tadi dokter berikan, jadi wajahku tidak setegang tadi
“Sudah jalan tiga bulan buk, dan sepertinya kehamilan ini beda dengan Yusuf. Karena yang ini aku nggak teller-teler kaya dulu”
Ibu mertuaku tersenyum, dengan segera beliau mengajakku duduk dan menunjukkan wajah cerianya karena akan mendapat cucu lagi
Besoknya aku mengirim foto hasil test pack dan hasil usg semalam ke grup ku. Dan tak lama berselang, mulailah hp ku tuing tuing ramai pesan masuk
Serius Din kamu hamil lagi? Tanya Lisa
Top cer juga kak Tomi komentar Vita diikuti dengan emoticon tertawa
Aku senyum-senyum membaca dan membalas pertanyaan para sahabatku. Begitu juga di kantor, aku bilang dengan teman satu ruanganku jika aku hamil lagi. Bu Halimah dan Nadia memelukku erat ketika aku memberikan kabar kehamilanku
Dan pak Burlian yang aku yakin sudah diberitahu oleh Tomi jika aku hamil, kembali memperhatikan pekerjaanku. Dan aku hanya menurut saja apa kata beliau. Tidak berani membantah
Malam ini adalah jadwal aku periksa kembali. Tapi malam ini kami tidak pergi bertiga, melainkan berenam. Ibu mertua dan kedua anakku ikut. Dan ketika pulang dari periksa, aku yang ingin makan mengajak keluargaku untuk mampir kesebuah café yang biasa aku dan para sahabatku datangi
Karena itu malam minggu, tentulah café tersebut ramai. Tomi yang menggendong Yusuf, aku yang menggandeng Arik dan Naya bersama neneknya, kami berjalan masuk dan duduk di bagian sudut. Seorang pelayan datang, lalu aku memesan makanan yang aku inginkan
Tak lama pesanan kami sampai. Lalu kami makan. Tentu saja yang duluan makan adalah aku, sedangkan Tomi kembali mengambil tugas memangku Yusuf, sampai aku selesai makan, barulah dia makan
Karena Yusuf selalu bergerak gelisah, mungkin karena dia tidak nyaman di tempat ramai, maka aku membawanya keluar lebih dulu. Aku hanya bisa melirik sekilas kearah orang-orang yang duduk di dalam café ini, lalu meneruskan langkahku tanpa berniat sedikitpun untuk kepo
__ADS_1
“Dinda….!!! Teriak suara perempuan ketika satu kakiku telah keluar dari pintu. Reflex aku menoleh kearah sumber suara
“Yesa…..??! desis ku