
Malam Yang Panjang
Dengan berjalan tertatih aku keluar dari dalam kamar dengan dibimbing oleh suami dan ibu mertuaku. Sementara Naya yang terbangun juga tampak panik dan ikut memegangi tanganku. Terlihat ada ketegangan di wajahnya
Aku berusaha untuk meraih tangannya yang memegangi tanganku, kemudian aku berusaha untuk tersenyum, agar Naya tidak terlalu tegang dan panik melihat kondisiku yang saat ini menahan sakit
“Ibuk nggak apa-apa. Doakan ibuk ya Nak….” ucapku sambil menggigit bibirku karena kembali rasa nyeri menyerang bawah perutku
Naya mengangguk kemudian dia mencium wajahku. Terlihat ada air mata di wajahnya selesai dia mencium wajahku
“Naya tahu ibuk wanita kuat. Ibuk pasti bisa melahirkan dengan selamat” lirihnya sambil menggenggam tanganku dengan erat
“Di rumah saja sayang ya…. Jagain adek. Telpon nenek atau oom, biar mereka kesini jagain kamu dan adek” ucapku
“Sudah aku telpon sayang. Dan mereka sekarang sudah di jalan” jawab Tomi sambil kembali merengkuh bahuku, mengajakku berjalan kembali
Aku mengangguk, lalu kembali tersenyum kearah Naya
“Kasih tahu para sahabat ibuk nak… kamu kirim kabar di group saja”
Naya mengangguk, kemudian dia ikut berjalan dan kembali membimbingku. Sementara Tomi membukakan pintu mobil, Naya dan ibu mertuaku membantu ku naik ke mobil
“Ibuk……!!!”
Aku menghentikan gerakan tubuhku yang akan bersandar ketika mendengar teriakan Arik. Mobil yang sudah Tomi nyalakan mesinnya, dan telah siap untuk berjalan, terpaksa Tomi hentikan karena Tomi juga mendengar teriakan Arik
Arik berlari dari teras, dan langsung membuka pintu mobil tempatku duduk. Dengan cepat dia memelukku sambil menangis
“Ibuk harus pulang lagi ke rumah….” isaknya yang tak urung membuatku menitikkan air mata
“Iya sayang, doakan semoga ibuk dan adek selamat, ya…..?” lirihku sambil mengusap kepalanya
Kemudian aku kembali mengeraskan rahangku ketika kembali rasa sakit yang hebat menyerang bawah perutku
“Sudah ya nak, ibuk sudah nggak tahan. Doakan ibuk nak…..” hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan karena aku telah menghembus nafas kasar untuk menahan rasa sakit yang kembali menyerangku
Arik melepas dekapannya, segera dia menutup pintu mobil, Naya dan Arik yang berdiri di teras hanya bisa memandang kepergian mobil yang membawaku dengan pandangan sedih dengan wajah basah
Saat mobil akan keluar dari pagar, ibu dan ayahku sampai bersama adikku.
“Tolong tungguin Naya sama Arik ya dek, pak….” Ucap Tomi
Sementara ibuku yang langsung turun dari motor ayahku, langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah ibu mertuaku
“Sehat ya nak…..” ucap ibuku sambil mengusap kepalaku
Aku mengangguk sambil mengeraskan rahangku, dan ibuku yang mencondongkan tubuhnya ke depan karena beliau mengusap kepalaku mengetahui jika aku menahan sakit, kemudian beliau mendekap kepalaku dan menciumi pelipisku. Kudengar bisikan lirih doa dari mulutnya, yang membuatku tersenyum getir sambil menahan sakit.
Sementara kaca jendela yang memang belum aku tutup membuat ayahku yang berdiri di luar mobil bisa melihatku dengan jelas. Tangan beliau terulur dan mengusap sayang kepalaku
“Doa ayah selalu menyertaimu nak…..” lirih ayahku yang membuat hatiku kian tenang
Aku menoleh kearah adikku yang memandang dengan wajah tegang dan sedih ke arahku
“Kami sayang mbak……” ucap adikku yang kujawab dengan anggukan kepala
“Jalan Tom!” ucap ibuku yang membuat Tomi segera melajukan mobilnya ketika adikku selesai berkata.
Tomi melajukan mobil dengan ngebut karena melihatku sejak tadi beberapa kali meremas jok mobil dengan mengeraskan rahangku
“Sabar sayang….. sabar…..” ucap Tomi panik
Aku tidak menjawab, melainkan semakin bergerak gelisah ketika kembali rasa sakit itu menyerangku berkali-kali dalam jarak waktu yang sangat dekat. Bukan hanya jok mobil yang ku remas, melainkan ujung bajuku sampai kugigit.
Setengah jam mobil mulai masuk ke kawasan rumah bersalin tempat biasa aku periksa. Dengan cepat Tomi turun dari mobil dan tak lama telah muncul dengan beberapa orang perawat. Salah satu perawat mendorong kursi roda. Dan perawat yang lain yang membukakan pintu mobil, sekarang membantuku turun
Setelah aku turun dari dalam mobil, segera didudukkannya aku di atas kursi roda dan langsung didorongnya kursi roda tersebut. Dan kembali aku mengerang kesakitan ketika kursi roda mulai berjalan
__ADS_1
“Hati-hati, jangan ngebut-ngebut” ucap Tomi pada perawat yang mendorong kursi rodaku
Aku meraih tangan Tomi yang berjalan di sampingku, kuremas tangannya dengan kencang ketika aku kembali kontraksi. Dan Tomi membiarkan saja aku menyakiti tangannya, tidak ada sepatah kata kesakitan sedikitpun yang keluar dari mulutnya padahal aku saat itu sangat kencang meremas tangannya
“Mbak Dinda……” ucap seorang perawat yang biasa bertemu aku jika aku periksa ketika aku akan masuk kedalam ruangan
“Cepat hubungin dokternya!” ucap Tomi panik
Perempuan muda itu menganggukkan kepalanya, dan tampak menempelkan handphone ke telinganya. Sementara aku yang telah masuk kedalam ruangan sekarang sedang dibantu untuk berbaring di tempat tidur
Ibuku dan ibu mertuaku ikut masuk, dan keduanya langsung berdiri di kanan kiriku. Ibuku mungkin adalah orang yang paling panik saat ini. Aku dapat melihat jelas ada raut ketakutan di wajahnya, berkali-kali beliau mengusap kepalaku dengan tak hentinya menyebut asma Alloh
Ibu mertuaku juga demikian, beliau berusaha memegangi tubuhku yang bergerak gelisah. Sementara Tomi duduk di dekatku, menatapku dengan wajah tegang dan kudengar nafasnya tampak tak teratur
Ibuku dan ibu mertuaku beserta Tomi menyingkir ketika perawat masuk hendak memeriksa bukaan ku.
“Bukaan empat ucapnya”
Aku menarik nafas panjang mendengar ucapan perawat itu. Itu artinya masih lama sekali aku harus menunggu sampai bukaan sepuluh. Sedangkan sakitnya sudah tidak berhenti, sejak tadi sakit it uterus saja menyerangku
Seprai ranjang yang kutiduri tak luput dari remasanku ketika kontraksi mulai kurasakan. Setiap kontraksi menyerangku, maka aku akan menghembuskan nafas berkali-kali dengan cepat. Seakan aku kehabisan nafas, dan Tomi yang tiap melihatku kesakitan akan berdiri dan mengusap kepalaku
“Aku mau bangun…” ucapku sambil mengulurkan tanganku kearahnya
Tomi menggeleng
“Masih lama ini kak, aku mau jalan-jalan dan jongkok dulu biar bukaan nya cepat nambah” ucapku lagi
“Benar yang dikatakan mbak Dinda itu pak Tomi” ucap perawat yang membantuku duduk
“Tapi sayang…?”
Aku menggeleng dan mengulurkan tanganku kearah Tomi yang dengan cepat menangkap tanganku. Sambil menghembus nafas panjang berkali-kali aku mulai berjalan dan bahkan nekad berjongkok. Dan tiap kali kontraksi kembali datang, maka aku akan memejamkan mataku dengan kuat dan berhenti bergerak. Menikmati kesakitan yang maha dahsyat ini
“Rasa sangat luar biasa ya Rabb……” lirihku sambil menarik nafas panjang
Ketika rasa sakitnya sudah tidak terasa, aku kembali berjalan dan berjongkok kembali, begitu seterusnya. Tapi ketika kontraksi menyerang maka aku akan berhenti dan menghembus nafas panjang-panjang
“Dinda…..!!!”
Aku yang sedang mendongakkan kepalaku karena menahan sakit, segera menoleh kearah berlawanan ketika kulihat Mila tampak berlari.
“Bukaan berapa?” tanyanya ketika dia sampai didekatku, mengusap wajah dan keningku yang basah oleh keringat
“Kalo tadi baru empat” jawab ku
Mila mengambil alih tanganku yang sejak tadi digenggam Tomi, lalu berganti dengan dirinya yang sekarang membimbingku berjalan
“Atur nafas sayang yaa……, tarik…. Lepaskan dengan teratur….., jalannya pelan saja. Jika sakit, kamu bisa berhenti” ucap Mila
Aku menuruti semua ucapan Mila, dan mengikuti instruksinya dengan menarik nafas teratur
“Tolong ambilkan minum!” perintah Mila pada perawat yang baru masuk
Perawat itu mengangguk dan keluar lagi dalam ruangan yang tak lama telah kembali dengan membawa botol air mineral. Dan langsung memberikannya pada Mila
“Ini minum dulu bestie….” Aku mengangguk dan meraih botol yang diberikan Mila dan menenggak isinya
“Kamu kok pakek pakaian kaya gini sih Mil?” tanyaku sambil menyerahkan botol air mineral tadi ke tangannya
Mila menunduk dan tampak membelalakkan matanya
“Ya Tuhan……” desisnya
Aku tersenyum, tapi hanya sedetik. Karena detik berikutnya aku langsung meremas kuat tangannya ketika aku merasakan sakit kembali
“Kembali ke tempat tidur, yok?” bujuk Mila. Aku menggeleng
__ADS_1
“Kayanya masih lama Mil. Aku masih mau jalan dulu”
Mila mengangguk, dan kembali membimbingku berjalan. Dengan Tomi yang berada di sebelahku.
“Kamu tahu dari mana aku disini?” tanyaku sambil terus berjalan latihan berjongkok
“Nggak usah bawel napa sih?” ucap Mila
Aku berusaha tertawa, tapi kembali harus meringis
“Dari voice note Naya di group. Itupun dikasih tahu sama laki gue, kan dia baru pulang dari dinas, dia bukak hp gue karena nggak biasanya hp gue bunyi tengah malam. Tahunya voice note dari anak gadis lu, yaa gue langsung cap cus saja ngambil kunci mobil, nggak inget apa-apa lagi. Bahkan pamit sama laki gue aja gue lupa” jawab Mila sambil cekikikan
Tak urung ucapannya membuatku tertawa juga. Dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Dan kembali aku harus menghembus nafas panjang berkali-kali ketika aku merasakan sakit yang tidak berhenti-henti
“Balik ketempat tidur!” ucap Mila sambil segera membimbing tanganku dan membawaku berjalan kearah ranjang
Dengan dibantu Tomi dan Mila aku kembali berbaring.
“Dokternya mana?” tanya Mila pada perawat
“Masih di jalan dok”
Mila mendecak, dilihatnya jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan angka tiga lewat. Dan kulihat dia bergerak gelisah denga terus melihat kearah pintu masuk dan berkali-kali berjalan mondar mandir
Sementara aku yang sekarang berbaring, kembali harus memiringkan tubuhku karena kembali kontraksi menyerangku dan kali ini rasa sakitnya sangat hebat. Sampai tubuhku menggigil saking sakitinya
“Sayang kamu kenapa…?” tanya Tomi panik dengan segera berdiri dan memegangi tanganku
Aku tidak menjawab, melainkan mengerang dengan tubuhku menggigil karena menahan sakit
“Mil, Dinda kenapa?”
Mila segera memeriksa keadaanku, dan mulai berbicara dengan nada panik pada perawat yang mulai kembali memeriksa pembukaanku
“Bukaan tujuh dok” ucap perawat itu
Aku kembali harus menarik nafas panjang karena harus menunggu lagi, padahal sakit yang kurasakan sudah tidak berhenti lagi.
“Eeeehhhh……”
Tomi, Mila dan perawat langsung menoleh ke arahku begitu mendengar suaraku
“Mbak jangan ngeden dulu, belum waktunya…..” ucap perawat yang tadi memeriksaku
Tapi aku tidak memperdulikannya, aku kembali ngeden yang membuat Mila langsung membentak perawat itu dengan marah
“Maaf ya Din…..” ucap Mila yang langsung memeriksa jalan lahirku
“Bukaan Sembilan” ucapnya
“Cepat siapkan semua alatnya!” ucap Mila lagi yang langsung mengambil hp dalam dompetnya dan langsung telrihat berbicara sambil marah-marah
“Lu dimana hah?, lu kan tahu, lu harus stand by di rumah sakit ini. Awas kalo sampai ada apa-apa sama sahabat gue, lu yang bakal nerima amukan gue!!!!”
Aku telah berulang kali menarik nafas panjang tak teratur, ibu dan ibu mertuaku diminta oleh Mila untuk keluar. Sebelum keluar, ibuku mengusap kepalaku dan kembali membisikkan doa di telingaku. Tapi aku sudah tidak bisa merespon sayang dari ibuku karena sakit yang semakin hebat menyerangku
“Semuanya sudah siapkan?” ucap sebuah suara
Aku melirik kearah dokter yang masuk, yang saat ini tengah memakai sarung tangan. Kulihat dia tampak menoleh kearah Mila yang memandang tajam kearahnya
“Kak Tomi nanti bantu mengangkat bahu Dinda, ya?” ucap Dinda yang juga tampak bersiap
Dan aku yang kembali ngeden saat ini hanya bisa memegangi pahaku. Instruksi dari Mila dan juga dokter OpGin yang memintaku mengatur pernafasanku kuikuti
Berkali-kali aku menghembus nafas tak teratur, dan ngos-ngosan. Tapi anak yang ada di dalam perutku masih saja belum hendak keluar
“Aku menyerah Mil……” lirihku lemah
__ADS_1