Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Bahagia Dengan Caraku Sendiri


__ADS_3

Setelah dirasa cukup puas aku menumpahkan kesedihanku, aku kembali menyalakan mesin mobil dan kembali melajukan mobilku dengan pelan menuju kantor. Di kantor aku benar-benar melupakan masalah pelik yang sedang aku hadapi di rumah. aku bersikap normal seperti biasanya, tertawa dengan teman satu ruanganku, meminta tolong pada Nadia atau Redho, semuanya tak ada yang berubah


Dan ternyata sebelum jam istirahat, kembali ada deliver yang mengantarkan makanan seperti hari-hari kemarin. Aku hanya menarik nafas panjang karena Tomi masih memperhatikanku walau tadi pagi aku sudah meminta padanya untuk tidak mengirimi makan siang untukku


“Weehhh, tumben mbak ada desert coklat…..” ucap Nadia ketika dia membuka kantong kresek miliknya


Aku jadi terpengaruh dengan ucapannya, dengan penasaran aku juga membuka kantong kresek yang ada di depanku. Benar yang tadi diucapkan oleh Nadia memang di dalam sana ada satu buah cup berisikan coklat yang sangat menggugah selera. Tapi karena aku masih kesal dengan Tomi desert tersebut sama sekali tak ku sentuh, melainkan kantong tersebut kembali aku ikat


“Aku mau ke toko. Telah lama sekali aku tidak melihat toko ku” ucapku sambil berdiri


“Loh, kamu nggak makan Din?”


Aku menggeleng kearah pak Kusno, kemudian aku mengambil dompet dan juga hp ku kemudian aku berpamitan pada semuanya. Ketika aku di luar kantor, aku melambaikan tanganku kearah security yang duduk di pos jaga


“Ya bu?” ucapnya ketika dia berdiri di depanku


“Di ruangan aku ada kantong kresek putih berisi makan siang. Mas ambil untuk makan siang mas. Aku mau keluar, takutnya makanannya keburu dingin, nanti nggak enak lagi”


Security itu menganggukkan kepalanya dengan wajah sumringah, kemudian dia langsung berlalu dari hadapanku dan berlari kecil masuk kedalam kantor. Sementara aku segera masuk kedalam mobil dan segera meninggalkan halaman kantor


Sepanjang jalan menuju toko aku sudah senyum-senyum sendiri. Terbayang sudah olehku wajah-wajah seluruh karyawanku yang setelah sekian bulan tidak aku lihat. Selama ini hanya kakakku yang mengontrol seluruh usahaku, termasuk dua toko itu. Aku hanya menerima laporan keuangan dan sesekali mengontrol toko melalui cctv yang ada di hp ku


Tak lupa aku mampir ke toko roti dan buah, membelikan oleh-oleh untuk mereka. Aku yakin mereka pasti senang ketika aku datang nanti. Sampai di depan toko pertama, ternyata rolling nya tertutup karena jam istirahat


Aku segera turun dari dalam mobil dan menempelkan hp ke telingaku


“Sis buka rolling, ibuk di depan”


Tak perlu menunggu sekian menit, karena begitu aku selesai bicara terdengar olehku rolling seperti di tarik dari dalam. Dan benarlah tebakanku, seluruhnya karyawanku nggak laki-laki nggak perempuan semuanya berhamburan keluar ketika melihatku


Aku kembali tertawa lepas ketika mendapat pelukan dan sambutan hangat dari mereka. Benar-benar mengembalikan mood ku yang berantakan kemarin.


“Kami kangen sama ibuk…..” ucap mereka yang membawaku masuk


Aku masih mengembangkan senyumku ketika aku masuk ke dalam toko, dan ikut duduk di lantai bersama mereka yang ternyata sedang makan siang


“Oh iya lupa, sana ambil buah dan kue di dalam mobil ibuk. Dua kantong saja ya, dua lagi untuk toko sebelah” ucapku pada karyawan ku yang laki-laki yang langsung berdiri keluar toko


Dan masih seperti dulu, mereka tak ada jaimnya segera berebutan buah dan kue begitu kantong kresek tersebut di letakkan

__ADS_1


“Bagaimana kabar kalian, sehat?” tanyaku sambil ikut makan buah bersama mereka


“Sehat buk, ibuk sendiri bagaimana?” tanya mereka


Tentu saja aku menjawab jika aku sehat dan baik-baik saja. Lalu mengalir lah obrolan ringan kami sambil diselingi tawa dan canda antara kami. Kami masih seperti dulu, tidak berubah dan masih tetap akrab. Waktuku disini tak lama, cukup setengah jam karena aku harus ke toko kedua juga. Jadilah setelah mendekap mereka satu persatu aku berpamitan


Begitu juga ketika aku tiba di toko kedua, antusias karyawanku sama persis ketika aku di toko pertama tadi. Dan aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan di toko pertama tadi, hanya mengobrol tidak menanyakan toko sedikitpun, karena aku sudah memutuskan jika akhir pekan ini akan aku habiskan di toko saja. Sama seperti dulu ketika aku janda. Aku rasa dengan aku banyak di luar di akhir pekan, aku tidak akan terus-terusan bersama ibu mertuaku dan Tomi yang mungkin saja bisa mengacaukan mood ku lagi


Jam satu siang aku berpamitan pada mereka semua. Dan karena jam istirahat mereka juga habis, rolling kembali di buka lebar. Aku mengklakson sekali sambil melambaikan tanganku kearah seluruh karyawanku yang berucap hati-hati padaku


Dan seperti mendapatkan kekuatan baru, aku kembali ke kantor dengan wajah sumringah dan tenaga yang baru juga. Begitu sampai kantor, seperti biasa seluruh pegawai belum seluruhnya masuk kedalam ruangan, masih tampak mengobrol di luar bahkan masih ada beberapa yang duduk di kantin kantor


“Ceria sekali wajah kamu Din…..” sapa pak Kusno ketika aku masuk dan duduk di kursiku


“Iya dong pak. Namanya juga temu kangen dengan karyawan” jawabku sambil duduk


“Makan siang kamu di ambil security, katanya kamu yang minta” sambung pak Kusno


“Iya pak, memang aku yang nyuruh”


Pak Kusno menganggukkan kepalanya mendengar jawabanku. Kemudian selanjutnya pekerjaan berjalan kembali sampai jam kantor bubar


Jam empat kami semua keluar dari kantor dan aku segera berjalan berbarengan dengan Nadia dan bu Halimah


“Iya, emangnya kenapa? Kok kaya heran gitu?”


Keduanya menggeleng sambil tersenyum


“Suami aku sibuk, kasihan kalau dia harus antar jemput aku terus” jawabku sambil menepuk bahu keduanya


“Dah ah, aku mau pulang. Kasihan Yusuf” lanjut ku dengan memutar badanku dan langsung berlalu dari keduanya


“Hati-hati Din….” Teriak bu Halimah


Aku menoleh dan mengangkat jariku dengan membentuk saranghae kearah beliau sambil tersenyum. Kemudian dengan semangat aku langsung naik kedalam mobil dan antri sama kendaraan lain yang juga akan keluar dari halaman kantor


Di garasi aku melihat masih ada motor mbak Sri, dan aku tersenyum melihat itu. Itu artinya beliau masih ada di rumah dan tidak pulang sebelum aku pulang. Dan aku bersyukur karena beliau benar-benar pengertian dengan kesibukanku


“Yusuf…..” panggilku dengan nada sayang ketika aku turun dari dalam mobil disambut dengan Yusuf yang ada di dalam gendongan mbak Sri

__ADS_1


“Anak ibuk…..” tambahku lagi dengan langsung mengambilnya dari gendongan mbak Sri


“Naya sama Arik mana mbak?” tanyaku sambil berjalan masuk


“Ada buk, di dalam. Nonton tivi”


Aku ber O panjang dan meneruskan langkahku masuk kedalam rumah. Aku duduk di ruang tamu, tas yang tadi aku tenteng aku letakkan di atas meja, kemudian aku langsung bermain dengan Yusuf. Penat kerja seharian di kantor hilang seketika ketika aku melihatnya


Mbak Sri yang masuk kebelakang muncul dengan membawa segelas susu untukku, kemudian meletakkannya di atas meja. Aku tersenyum kearah beliau dan mengucapkan terima kasih atas perhatiannya


“Buk, ibuk berantem ya sama mertua ibuk?” lirih mbak Sri yang membuatku yang sedang meletakkan gelas susu menoleh kearahnya


“Kepo!!!” sungutku yang dijawab mbak Sri dengan terkekeh


“Tadi beliau kejar omongan sama Naya…..” lanjut mbak Sri


“Hah??!” jawabku kaget


Mbak Sri mengangguk. Dan aku segera menoleh kearah ruang TV dimana aku hanya mendengar suara TV tanpa mengetahui keberadaan kedua anakku


“Kok bisa? Gimana ceritanya?” lanjut ku dengan penasaran


“Bisa buk. Mertua ibuk tadi ngomong kasar sama Naya yang membuat Naya akhirnya balas berteriak marah sama beliau”


Aku langsung menghembus nafas panjang mendengar lanjutan ucapan mbak Sri


“Ya Tuhan, kenapa sih Naya jadi kasar begini……” keluhku


“Mertua ibuk yang mulai duluan, dia bilang kalau pak Adi dan ibuk berhubungan kembali, dan diam-diam ibuk selingkuh di belakang pak Tomi”


“Astaghfirullah…..” ucapku dengan langsung merebahkan kepalaku di sandaran sofa


“Terus?” lanjut ku lagi


“Ya Naya bilang dong buk, kalau itu fitnah, terus aku belain Naya, aku bilang kalau yang disangka oleh ibuk besar itu nggak benar. Karena ibuk sendiri bahkan sempat bertanya sama aku apa pernah pak Adi datang ke rumah. Terus aku ceritain lah bagaimana kemarin ibuk bercerita jika pak Adi menelepon ibuk”


“Dari sana Naya makin marah, dia menegaskan jika yang bersalah disini adalah ayahnya, bukan ibuk. Jadi sudah sepatutnya ibuk besar tidak menuduh yang tidak-tidak tentang ibuk”


Aku kembali menarik nafas panjang dan memijit keningku yang tiba-tiba terasa pusing. Kemudian aku menoleh cepat kearah ibu mertuaku yang keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


“Ajarin anak kamu sopan santun Dinda” ucap beliau dingin


Aku hanya bisa menelan ludahku dan mengangguk pelan mendengar ucapannya


__ADS_2