Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Mila Mengamuk Kembali


__ADS_3

Mulailah aku dihadirkan ke depan. Dengan sigapnya Mila dan Putri menggandeng tanganku membawaku ke depan. Begitu sampai di depan aku langsung dimintai sumpah untuk berkata yang sebenar-benarnya.


Setelah mengambil sumpah, Mulailah aku ditanyai oleh jaksa penuntut umum. Dengan lancar aku menceritakan semua kronologi kejadian sampai penusukan itu terjadi.


Aku tidak melihat bagaimana perubahan wajah Tommy ketika aku menceritakan bagaimana Adi yang semula berniat melecehkan ku. Aku tidak tahu bahwa tangannya mengepal sangat kuat dengan rahang yang juga mengeras dan giginya yang gemeletuk.


Yang aku lihat adalah Mila karena aku sangat mengkhawatirkan sahabat bar-bar ku satu itu. Kulihat bagaimana wajahnya berubah marah dan menatap tajam ke arahku.


Dan dapat aku lihat juga bagaimana Putri memegangi pundak Mila. Aku yakin saat itu Putri sama perasaannya denganku sama-sama takut melihat wajah Mila yang berubah angker


Saat aku menceritakan semua kronologi itu, Adi hanya tertunduk dalam dan tidak berani mengangkat kepalanya sedikitpun.


Kembali aku juga menceritakan bagaimana akhirnya Tommy datang menolongku pada saat aku menyebutkan nama Tommy refleks Adi mengangkat kepalanya.


Lalu setelah itu aku tidak bisa menceritakan apa-apa lagi karena setelah itu terjadi penusukan dan aku tidak sadarkan diri karena saat aku sadar tahu-tahu aku juga di rumah sakit.


Setelah selesai memberikan kesaksian lalu aku turun dan saat aku kembali ke tempatku hanya Putri yang mendekat sedangkan Mila masih duduk di tempatnya dan aku tahu kenapa Mila tidak mau membawaku duduk kembali, aku yakin saat ini dia pasti marah denganku.


Dan ketika aku duduk wajah Mila masih datar tanpa ekspresi tidak seperti tadi yang mendukungku dan memegangi pundakku


Aku hanya bisa menelan ludah ketika melihat ke arah Mila yang sangat marah padaku.


Lalu aku juga menoleh ke belakang ke arah Tommy yang sejak aku turun tadi terus menatap lekat ke arahku.


Dan sekarang yang dimintai keterangan adalah temannya Pak Endro seorang bapak yang sangat berwibawa, yang selau berkata pelan namun tegas dan dengan santainya beliau menceritakan semua bagaimana hutang piutang Adi kepada mereka.


Dan dapat aku lihat bagaimana Yesa yang duduk agak jauh dariku duduk dengan gelisah. Aku yakin karena ini menyangkut masalah hutang piutang. Dan Aku juga yakin bahwa Yesa belum tahu jika toko yang diberikan Adi kepada Pak Endro CS itu sudah kembali menjadi milikku.


Sidang berjalan cukup lama sekitar 1 jam. Dan Adi tidak bisa menyangkal setiap perkataanku maupun juga kesaksian yang diberikan oleh temannya Pak Endro tadi.


Adi membenarkan semua apa yang ku katakan tadi, dia benar-benar mengatakan bahwa memang dia melecehkan ku. Dan semakin Kulihat Bagaimana berubah angkernya wajah Mila, lalu aku menoleh kembali ke belakang dan kulihat wajah Tomi juga tegang.


Hingga akhirnya sidang ditunda sampai minggu depan untuk membacakan keputusan hukuman Adi


Dan ketika Adi digiring keluar dari ruang sidang dia berhenti di sebelahku, dan menoleh ke arahku.


Mila yang sejak tadi menahan amarahnya begitu melihat Adi berhenti dan menoleh ke arah kami sontak langsung berdiri dan tangannya langsung mengepal keras.


"Kali ini bisa Aku pastikan bahwa kau akan membusuk di penjara. Tunggu saja Adi lepas dari pengadilan ini aku akan menyusul mu ke penjara dan kau akan ku buat mati di dalam penjara" ancam Mila.

__ADS_1


Aku segera menarik tangan Mila dalam mengusap punggung tangannya sambil menggeleng ke arahnya. Mila menoleh dan melihatku dengan tatapan penuh kebencian.


"Ayo, anda tidak bisa lama-lama di ruang sidang ini. Anda harus kembali ke penjara" ucap seorang polisi yang segera menarik tangan Adi keluar dari ruang sidang.


Tanpa bisa aku cegah ternyata Mila telah berlari keluar juga dan sekarang telah memegang pundak Adi dengan kasar.


Dan tanpa bisa dicegah pula, tinju kerasnya langsung melayang ke wajah Andi.


Aku yang tak bisa berlari menyusulnya hanya meminta Putri untuk mengejar Mila dan menghentikannya tapi ketika sampai di luar ternyata sudah ada Kak Julistiar, suaminya Mila yang berhasil menghentikan aksi Barbar istrinya.


"Please mah berhenti jangan buat malu aku, please ma please...." teriak suaminya.


Putri hanya bisa terpaku melihat bagaimana Julistiar memegang tangan Mila dengan kencang dan juga beberapa orang polisi juga tampak memegangi Mila, tapi bukan Mila namanya jika bisa dihentikan.


Kalian lepaskan tangan saya atau saya akan menelpon Papa saya untuk memecat kalian semua!!!" ancam Mila


Dua orang polisi yang memegang tangan Mila langsung melepaskan tangan Mila tapi tidak dengan Julistiar dia terus memegangi tangan Mila


"Nona Mila Pelapolri yang terhormat, tolong anda jangan arogan!!!" teriak Julistiar yang membuat kami semua yang berdiri di koridor sontak terdiam


Sepertinya perkataan Julistiar dituruti oleh Mila terbukti dia langsung tenang dan menoleh dengan wajah masam kearah suaminya.


"Tolong Nona tinggalkan ruang sidang ini silakan Nona pergi. Tahanan ini adalah tahanan kami, dan ini menjadi urusan saya bukan urusan nona"


"Oh, begitu ya?, Oke... kalau memang urusan Anda, Anda selesaikan ya. Tapi jika Anda memang tidak bisa menyelesaikannya secara baik-baik itu artinya urusan ini kembali menjadi urusan saya"


Aku, Tommy dan Putri saling toleh.


Lalu aku mendekat dan mengusap pelan punggung Mila berusaha untuk menenangkannya


"Mil sudah ya... Maaf, aku tahu kamu marah itu sebenarnya marahnya sama aku bukan sama Adi apalagi sama Mas Julistiar"


Mila menoleh lalu ditatapnya wajahku dengan marah


"Urusan kita nanti, sekarang urusan aku sama Toxic satu ini, ngerti kamu?!" bentaknya


Kulihat wajah Mas Julistiar tampak frustasi dan dia menempelkan HP ke telinganya


"Pa tolong Papa bicara sama anak kesayangan papa. Dia sekarang melakukan tindakan di luar akal sehat pa, tolong bantu aku pa, tolong nasehati dia"

__ADS_1


Mila langsung menatap tajam karena suaminya lalu dengan pelan diambilnya HP yang menempel di telinga suaminya


"Ya Pah ini mila. Ya Mila pulang, Iya Mila janji Mila nggak akan arogan lagi. Iya iya Mas Julistiar aja yang lebai"


Lalu dikembalikannya HP ke tangan suaminya dan kembali bila berbalik menatap kearah Adi lalu sebuah tamparan keras mendarat mulus di wajah Adi.


Kami semua terkesiap melihatnya dan Mila berjalan melenggang dengan santainya meninggalkan kami yang hanya bisa melongo menatapnya.


Tommy yang semula diam berjalan ke arah Adi. Aku tahu saat itu Tomi menahan amarahnya terlihat dari rahangnya yang mengeras dan tangannya mengepal


"Menyesal aku dulu merestui mu menikahi Dinda. Jika aku tahu bahwa kau akan melakukan perbuatan serendah ini aku tidak akan pernah merelakan Dinda menjadi milikmu"


"Jika kau tahu betapa sakitnya hati aku saat tahu kau menyelingkuhi Dinda dan sekarang sakit itu makin bertambah dengan kau yang berusaha melecehkan Dinda. Demi Tuhan Adi, aku sangat mencintai Dinda dan aku yakinkan kepadamu bahwa Dinda akan menjadi milikku dan tidak akan pernah aku berikan lagi sama kamu"


Aku hanya bisa menelan ludahku mendengar ucapan Tomo dan aku lihat juga bahwa wajah Adi terkesiap


"Woi kalian mau pulang nggak? Kalau nggak, udah aku tinggal!!" teriak Mila yang menyadarkan kami sehingga kami meninggalkan Adi yang hanya menunduk dalam.


Aku yang masih belum bisa berjalan cepat sekarang tanganku digenggam oleh Tommy dan Putri yang berjalan sebelahku juga terlihat mengikuti gerakan pelan langkah kakiku


Aku tidak menoleh lagi ke belakang. Tapi aku mendengar bagaimana terdengar suara isak tangisan. Aku yakin Yesa sedih melihat suaminya yang akhirnya akan dibawa lagi ke dalam penjara.


"Tolong tunggu aku ya Ma. Tolong setia sama aku jangan pernah tinggalkan aku karena aku tidak punya siapa-siapa lagi" lirih Adi dengan sedih ke arah Yesa yang berlinangan air mata.


Yesa hanya bisa menganggukkan kepalanya dan saat dia menoleh ke belakang ke arah rombongan pak Endro CS, segera diusapnya dengan kasar wajahnya lalu dia berkata kepada mereka


"Tolong Pak kita bicara masalah toko kemarin"


Pak Endro dan teman-temannya saling toleh.


Anda membicarakan toko yang mana ya? tanya salah satu dari bapak-bapak itu.


Sementara Adi telah dibawa keluar dari koridor ruang sidang.


Yesa yang mendengarkan pertanyaan dari bapak itu tampak tak mengerti


"Ya....toko yang suami saya berikan kepada bapak-bapak"


Kelima bapak-bapak itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala mereka

__ADS_1


"Tokoh itu telah menjadi milik Dinda. lagi, bukan milik kami"


"What??!" pekik Yesa tertahan.


__ADS_2