
"Ini maksudnya apa?" aku menggeleng frustasi dengan bingung
Keenam sahabatku langsung mendekat, dan mengajakku mundur
"Mas Adi ayo kita pergi, jangan buat keributan disini!" kembali lawyernya Adi berkata dengan nada tinggi karena Adi masih tampak kesal pada Tomi
Aku segera menerobos antara Adi dan Tomi lalu berjalan cepat meninggalkan ruang sidang
Keenam sahabatku melakukan hal yang sama, mereka ikut menerobos hingga baik Adi maupun Tomi terpaksa mundur dengan sedikit terhuyung
"Din.....?" mereka berteriak memanggilku
Aku makin mempercepat langkahku, menuruni tangga menuju parkiran, tak memperdulikan bagaimana keenam sahabatku berteriak memanggilku
Dengan cepat aku membuka pintu mobil lalu segera memundurkannya dan ngegas meninggalkan sahabatku yang makin berteriak panik
Ternyata Tomi dan Adi juga mengejar Dinda, keduanya juga berlarian dengan panik
"Cepat kita kejar Dinda!" ucap Rohaya tegang
Putri langsung membuka pintu mobilnya, begitupun dengan Mila
Empat yang lain segera berbagi antara mobil Putri dan Mila. Begitupun dengan Tomi, dia segera masuk kedalam mobilnya, tinggallah Adi yang hanya bengong tak tahu harus ikut siapa
Mila yang telah menghidupkan mesin mobilnya kembali keluar dari dalam mobil, membanting keras pintu mobil yang membuat Vita dan Nanda yang telah duduk di dalam terperanjat
"Mil...?" teriak mereka menurunkan kaca mobil
Mila tak memperdulikan teriakan kedua sahabatnya, dengan emosi didekatinya Adi
Dengan kasar didorongnya dada Adi
"Jika terjadi sesuatu hal buruk sama Dinda, kamu adalah orang pertama yang akan menerima bogem mentah dariku!" tunjuknya tepat ke wajah Adi
"Mil, cepat!!!" teriak Vita dan Nanda berbarengan
Sekali lagi Mila mendorong dada Adi, lalu bergegas masuk kedalam mobil, dan mengegas keras ketika melewati Adi
Mila melajukan mobil dengan cepat menyusul mobil Tomi yang juga tampak ngebut di depan
Sementara Putri yang mengejar Dinda sudah hampir mendekati mobil sahabatnya itu
Suara klakson dari belakang mobil yang ku kemudikan tidak ku pedulikan. Aku benar-benar kesal hingga aku makin mempercepat laju mobilku
Putri sedikit menyingkir ketika mobil Tomi yang juga ngebut menyalipnya dan sekarang berada bersebelahan dengan mobil Dinda
"Dek...., please berhenti dek!"
Sedikitpun aku tak menggubris teriakan Tomi
Aku makin menekan gas dan meninggalkannya yang masih ngebut mengejar ku
Aku sekali lagi memukul stir mobil ketika Tomi kembali memepet mobilku
Dengan segera aku menurunkan kaca mobil dan menatapnya dengan marah
"Berhenti dek!"
Kembali aku lihat kebelakang melalui kaca spion, mobil Mila dan Putri juga telah berada tepat di belakangku
Kembali aku menarik nafas dengan kesal lalu menghidupkan lampu sen, lalu menghentikan mobilku di bawah pohon
Melihat mobil Dinda menghidupkan lampu sen, baik Mila dan juga Putri melakukan hal yang sama
Apalagi ketika akhirnya mobil Dinda berhenti, keduanya segera menghentikan mobil mereka dan bergegas turun
Aku menelungkupkan wajahku di atas stir dan tak memperdulikan ketukan dari para sahabatku di pintu
"Din, buka Din....!"
__ADS_1
Aku masih tak memperdulikan mereka, terus saja menyembunyikan wajahku
"Buka dek!"
Aku makin tak mau mengangkat wajahku ketika teriakan panik Tomi jauh lebih mendominasi dari keenam sahabatku
Suara ketukan berubah menjadi gedoran kasar yang akhirnya membuatku membuka kaca mobil
Tangan Tomi langsung terulur masuk dan langsung menarik leherku, mendekapnya
Aku hanya diam ketika Tomi mendekap kepalaku
"Tolong jangan lakukan ini lagi...."
Aku masih diam sampai akhirnya Tomi melepaskan pelukannya dan aku membuka pintu mobil dan turun
Keenam sahabatku langsung berebutan menubruk ku, bahkan Mila yang terkenal paling bar-bar menangis
"Kamu tahu, kamu membahayakan diri kamu Din, kamu nggak ingat anak kamu apa?" teriaknya marah sambil berlinang air mata
Kembali Mila memelukku erat dan berulang kali mengusap-usap kepalaku
Aku menghapus air mataku dan menatap mereka dengan perasaan bersalah
"Maaf....."
Keenamnya menggeleng dan kembali kami berpelukan bersama. Dan Tomi yang melihat hanya tersenyum kecut dan menarik nafas dalam
"Ingat Din, kamu punya kita, kamu nggak sendiri"
Aku mengangguk dan kembali menghapus air mataku
"Maaf ya dek...."
Aku melirik kearah Tomi dan menatapnya dengan dalam
"Bukan karena kamu bercerai sama Adi makanya aku mendekati kamu lagi, bukan, bukan karena itu"
"Aku tidak pernah bisa melupakan kamu Din...." lirihnya
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali
"Tolong Tom, aku sedang tidak ingin mendengarkan apapun, aku sangat shock mengetahui jika kamu ada perjanjian dengan Adi"
"Janji kami tidak seperti yang kamu bayangkan Din"
Aku kembali menggeleng
"Tidak Tom, bagiku dikhianati oleh orang yang ku sayang adalah luka terberat buatku"
"Tapi Din?"
Aku kembali menggeleng
"Beri Dinda waktu, kakak tahu kapan kakak harus datang, dan kapan kakak harus pergi" ucap Putri
Tomi menarik nafas panjang dan mengangguk, lalu kembali melihat ke arahku dengan dalam
"Aku pergi Din"
Aku mengangguk dan kembali menoleh kearah keenam sahabatku yang kembali memelukku
...----------------...
Kami telah duduk lesehan di restoran eco resto favorit kami. Di atas meja juga telah tersaji pesanan kami
Tanpa menunggu waktu lagi kami segera makan dan mulai terlibat obrolan hangat
Semua sahabatku tidak menyebut perceraianku sama sekali, mungkin mereka tak ingin aku kembali sedih dan marah
__ADS_1
Hingga makanan habis dan kami seperti anak kecil bermain aneka permainan yang ada di eco resto ini, masih saja sahabat-sahabatku tidak bertanya, padahal tadi ketika ruangan sidang, Mila berkata meminta penjelasan dariku dan Putri
Bersama dengan keenam sahabatku aku benar-benar tertawa lepas, lupa jika tadi aku marah dan kesal, lupa jika hari ini aku resmi menjadi janda
Hingga sore barulah kami semua meninggalkan eco resto dan masuk kedalam mobil
Lambaian dari keenam sahabatku mengiringiku ketika aku masuk lebih dulu kedalam mobil dan berlalu dari hadapan mereka
"Yuk, kitan juga pulang" ucap Putri melangkah santai kearah mobilnya dan tangannya langsung ditangkap Mila
Putri menoleh dengan kaget, dan didapatinya wajah kelima sahabatnya yang tadi cerah bersahabat berubah tatapan marah
"Kalian kenapa?"
"Lu yang kenapa!" bentak Mila
Putri menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu nyengir
"Masalah Dinda, ya?"
Yang lain tidak menjawab, melainkan menarik Putri masuk kedalam restoran lagi
"Duduk!"
Putri duduk di depan kelima sahabatnya yang berdiri menatap tajam kearahnya
"Lu benar-benar ya Put, jika bukan karena kak Tomi yang ngasih tahu kita untuk support Dinda di persidangan, kita nggak bakal tahu kalo Dinda hari ini sidang putusan"
Putri diam tak menjawab dan membiarkan semua sahabatnya mengeluarkan amarah mereka
"Selesai?" tanya Putri pelan ketika semua temannya diam memandang kearahnya yang masih saja diam
"Aku memang sahabat Dinda, tapi khusus kasus ini aku sebagai lawyernya, dan sebagai lawyernya aku tidak berhak memberitahu siapapun tanpa mandat dari klien ku"
Mila dan sahabatnya yang lain saling toleh mendengar penjelasan Putri
"Dan Dinda sendiri yang minta padaku untuk tidak memberitahu kalian, dan harusnya kalian menghormati keputusan Dinda bukannya malah marah-marah begini" rajuk Putri
"Ya kita kan nggak tahu yang sebenarnya Put..." suara Mila melunak
"Kalian bukannya nggak tahu, tapi kalian itu egois"
Kembali kelimanya saling toleh
"Yee kok lu yang gantian marahin kita sih Put..." protes Nanda
"Lah emang bener kan?"
"Ish, kita itu bukan egois, kita itu care...."
Putri mendecak
"Terus gimana sekarang?"
Semuanya menoleh pada Lisa
"Ya nggak gimana-gimana, kita akur lagi, orang kita sudah tahu yang sebenarnya, dan yang paling penting itu adalah Adi si toxic itu sudah didepak oleh Dinda" jawab Mila cepat
Wajah Putri masih datar sedangkan sahabatnya yang lain segera merangkulnya
"Iiihhh.... maafin kita kali...." ucap Mila dengan wajah menyesal
Putri mengerling sebentar dengan jutek, lalu tersenyum manis yang membuat mereka kembali berpelukan lagi
Sedangkan aku yang meninggalkan sahabat-sahabatku yang masih di belakang segera menjalankan mobil menuju rumah
Aku tak ingin kedua anakku menunggu terlalu lama dan bosa
Sedangkan Tomi yang tadi ditinggal Dinda dan sahabat-sahabatnya pergi, tanpa sepengetahuan mereka menguntit dari belakang, dan ketika dilihatnya mobil Dinda keluar dari eco resto tersebut, kembali Tomi mengikuti Dinda dari jauh
__ADS_1
Dan ketika mobil Dinda masuk lorong rumahnya, barulah Tomi menarik nafas lega dan pulang kerumahnya