
"Ya Alloh sudah dong Mil, aku nggak apa-apa kok"
Tapi Mila tetap bersikeras
"Perempuan model begini nih yang gue benci" ucapnya menatap tajam ke arahku
"Mil, I'm fine. Toh kalau ada apa-apa sama aku, kamu duluan yang bakal aku hubungi" bujuk ku
Mila menepiskan tanganku yang memegang pundaknya
"Gue janji, jika sekali lagi Adi melakukan kdrt sama aku, aku bakal nelpon kamu dan nyuruh suami kamu untuk nangkap Adi" ucapku sambil menatap kearah Adi
Mila mendecak kesal, dan mendorong bahu Adi dengan kasar
"Kalau lu laki, lawan gue di ring tinju"
Aku menghembus nafas panjang melihat Mila yang masih emosi
"Lu jangan mikir gue cewek atau gue istri polisi apalagi lu mikir gue anak dan adiknya polisi, tapi lu mikirnya gue musuh lu, karena sejak mengetahui perselingkuhan lu, gue resmi menjadikan lu sasaran samsak gue"
Wajah Adi kembali menegang. Memang dia pernah mendengar dari Dinda, jika Mila adalah satu-satunya sahabatnya yang tak ada takutnya pada apapun, dan Mila adalah cewek yang paling berani dibanding yang lain
"Gue nggak melawan perempuan" elak Adi
Mila tergelak
"Nggak perempuan?, cuihhh, lah ini lu nampar Dinda, bukan melawan perempuan, iya?, banci lu!"
Aku segera menarik tangan Mila dan mengajaknya kembali ke gazebo tepat disaat suaminya muncul
Kembali wajah Adi menegang, ketika suami Mila turun dari dalam mobil dan langsung memeluk mesra Mila
"Selamat ulang tahun Din, maaf gue nggak ada kado"
Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya
"Ada apa sayang?"
Mila langsung membawa suaminya kembali ke teras. Seluruh karyawan langsung menatap tegang
"Ni banci udah melakukan kdrt sama teman aku, pa"
Julistiar, suami Mila langsung menatap tajam kearah Adi yang wajahnya menegang
"Sayangnya Dinda tidak melaporkan anda ke kantor, jika Dinda melapor saja, bisa ku pastikan, saat ini juga aku akan menyeret mu ke penjara"
"Aku nggak apa-apa kok Mas, saking sayangnya Mila sama aku, makanya dia minta mas kesini" elak ku
Kembali Mila membuang mukanya, kesal.
"Kamu punya nomor aku kan, Din?, telpon aku jika ada apa-apa" sambung suami Mila
Aku mengangguk
"Ya sudah, yok sayang kita pulang kasihan anak-anak sama pengasuh saja di rumah"
Mila memasang wajah cemberut, dia masih tak ikhlas karena Dinda hanya menganggap biasa saja perbuatan suaminya
Melihat Mila pulang, sahabat-sahabatku yang lain pulang juga.
Ketika karyawan kolam hendak berpamitan, aku menghentikan niat mereka
"Kita rembukan dulu"
Mereka menurut, dan kembali duduk
"Ren, Sis, uang toko ada?"
"Ada buk, ini" ucap keduanya sambil menyerahkan kantong kresek ke arahku
"Nanti ibu cek semuanya, kalo kalian mau pulang, silahkan, terima kasih untuk kejutannya" ucapku
Mereka tersenyum dan berpamitan pulang
Sepeninggal semua sahabatku dan karyawan yang lain, aku langsung mengadakan rembukan sedikit tentang kolam
Walau sepenuhnya aku tidak tahu bagaimana manejemen kerjanya, tapi begitu mendengar laporan dan masukan dari mereka semua, aku jadi sedikit faham
"Dan untuk pakan, itu akan kita pikirkan lagi setelah panen, dan untuk panen karena kata mas dan bapak semua sebaiknya besok, silahkan dipanen. Segera di hubungi siapa yang akan menampungnya, apa sudah ada?"
"Biasanya itu sudah ada buk, itu urusannya mas Adi"
Aku segera menoleh kearah Adi yang sejak tadi duduk di kursi mendengarkan diskusi kami
"Sini, aku minta nomor yang biasa nampung ikan" ucapku
__ADS_1
Dengan malas Adi menyebutkan nomor dan nama orang yang biasa nampung ikan dari kolam kami
"Cuma orang ini?, kolam kita banyak loh, nggak mungkin cuma dia saja"
Kembali dengan wajah malas-malasan Adi menyebutkan kembali dua nomor kontak padaku
Dengan segera aku menelpon mereka dan mengatakan jika mulai sekarang untuk urusan pengiriman ikan menjadi tanggung jawabku dan berurusan denganku langsung
Setelah disepakati, besok hingga dua hari yang akan datang, akan diadakan pengeringan kolam. Dan penampung yang telah ku telepon juga sudah deal dengan negosiasi harga
Adi kian merasa terpojok ketika ternyata harga yang ditawarkan pembeli jauh lebih tinggi ketimbang yang selama ini Adi laporkan padaku
Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku kearah Adi menyadari jika selama ini dia banyak berbohong tentang keuangan kolam
"Oke, mas-mas dan bapak-bapak, siap yah besok kita panen?"
"Siap....!!!" jawab mereka kompak
Adi yang mendengar jawaban kompak anak buahnya dulu melengos kesal
Aku tersenyum dan mengajak mereka berdoa di dalam hati semoga niat baik kami yang hendak panen besok dilancarkan oleh Sang Maha Penguasa Kehidupan
...----------------...
"Dek, tunggu!"
Aku terpaksa menghentikan langkahku demi mendengar Tomi memanggilku
"Iya?"
"Hari ini kita cek lokasi"
Aku melihat jam di hp
"Jam 10?"
Tomi mengangguk
"Oke"
Lalu aku melanjutkan langkahku tapi kembali terhenti ketika Tomi menarik tanganku
"Ini di kantor" ucapku melepas pelan tangannya
"Bagaimana keadaan kamu dek?"
"Alhamdulillah baik, bisa lihat sendiri kan?"
"Kenapa adek tidak mau Adi masuk penjara?"
Aku menatap serius wajahnya
"Tahu dari Mila?"
"Julistiar itu teman kakak"
Aku mengangguk pelan, Haduh dunia kok sempit banget, sesalku
"Jangan pernah menutupi kekerasan yang dilakukan suamimu, asal adek tahu, jika adek sakit, kakak jauh lebih sakit"
Aku terkekeh dan melambaikan tangan di depan wajahnya sambil berlalu dari hadapannya
Aku masuk keruangan masih sambil tersenyum-senyum yang membuat penasaran Nadia dan bu Halimah
"Cie yang pagi-pagi udah senyum-senyum bahagia" goda mereka
Aku terkekeh dan segera duduk di kursiku
"Pak, nanti jam 10.00 kita cek lokasi lagi"
"Siap" jawab pak Kusno
Jam 10.00 tepat, kami sudah di dalam mobil Tomi, dan sama seperti kemarin, aku duduk di depan
Pak Bagaskoro dan Pak Arsen yang telah mengetahui jika Tomi dan Dinda dulu adalah mantan tunangan bersikap sama seperti kemarin, mereka tak ingin Dinda malu
Perjalanan di dalam mobil sangat hening, dan aku menjadi bosan
Untuk membunuh bosan, aku mengeluarkan earphone, saat aku hendak memasangkan di telingaku aksiku dihentikan pak Arsen
"Mas Tomi, cobalah putar musik, dari tadi hening, kasihan mbak Dinda"
Aku menoleh kebelakang, kearah pak Arsen sambil tersenyum
Tomi segera memperlambat laju mobilnya dan menghidupkan car mp4 player
__ADS_1
Tak lama mengaku lah lagu yang sedang viral, yang akan membuat hati setiap wanita pasti akan melayang
Aku takkan pernah berhenti
Mencintaimu sampai aku mati
Aku akan selalu setia
Menemanimu setiap waktu
Tak pernah terpikir olehku
Untuk mengkhianat cintamu
Engkau satu-satunya wanita
Yang selalu aku rindu
Sayang aku takkan pernah
Pergi meninggalkanmu
Aku bernafas untukmu
Percayalah padaku
Sayang aku akan selalu
Membuatmu bahagia
Aku bernafas untukmu
Duhai kekasihku
O uh
Tak pernah terpikir olehku
Untuk mengkhianati cintamu
Engkau satu-satunya wanita
Yang selalu aku rindu oh
Sayang aku takkan pernah
Pergi meninggalkanmu
Aku bernafas untukmu
Percayalah padaku
Sayang aku akan selalu
Membuatmu bahagia
Aku bernafas untukmu
Duhai kekasihku
Sayang aku takkan pernah
Pergi meninggalkanmu
Aku bernafas untukmu
Percayalah padaku
Sayang aku akan selalu
Membuatmu bahagia
Aku bernafas untukmu
Duhai kekasihku
Tak terasa air mataku mengalir saat aku mendengar lirik syair lagu tersebut, dan aku menarik nafas panjang sambil mengusap cepat wajahku
Tomi yang duduk di sebelah Dinda melirik dan dia mendapat jika Dinda menahan tangisnya
Secara refleks Tomi mengambil tissue dan memberikannya pada Dinda
Aku yang kaget segera mengambil tissue yang diberikan Tomi dan mengusap mataku
"Lagunya bikin baper ya mbak" ucap pak Arsen lagi
__ADS_1
Aku tak menjawab, hanya mengangguk cepat, khawatir jika yang dibelakang mengetahui jika aku menangis