Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Lagu Untuk Dinda


__ADS_3

"Ya Alloh sudah dong Mil, aku nggak apa-apa kok"


Tapi Mila tetap bersikeras


"Perempuan model begini nih yang gue benci" ucapnya menatap tajam ke arahku


"Mil, I'm fine. Toh kalau ada apa-apa sama aku, kamu duluan yang bakal aku hubungi" bujuk ku


Mila menepiskan tanganku yang memegang pundaknya


"Gue janji, jika sekali lagi Adi melakukan kdrt sama aku, aku bakal nelpon kamu dan nyuruh suami kamu untuk nangkap Adi" ucapku sambil menatap kearah Adi


Mila mendecak kesal, dan mendorong bahu Adi dengan kasar


"Kalau lu laki, lawan gue di ring tinju"


Aku menghembus nafas panjang melihat Mila yang masih emosi


"Lu jangan mikir gue cewek atau gue istri polisi apalagi lu mikir gue anak dan adiknya polisi, tapi lu mikirnya gue musuh lu, karena sejak mengetahui perselingkuhan lu, gue resmi menjadikan lu sasaran samsak gue"


Wajah Adi kembali menegang. Memang dia pernah mendengar dari Dinda, jika Mila adalah satu-satunya sahabatnya yang tak ada takutnya pada apapun, dan Mila adalah cewek yang paling berani dibanding yang lain


"Gue nggak melawan perempuan" elak Adi


Mila tergelak


"Nggak perempuan?, cuihhh, lah ini lu nampar Dinda, bukan melawan perempuan, iya?, banci lu!"


Aku segera menarik tangan Mila dan mengajaknya kembali ke gazebo tepat disaat suaminya muncul


Kembali wajah Adi menegang, ketika suami Mila turun dari dalam mobil dan langsung memeluk mesra Mila


"Selamat ulang tahun Din, maaf gue nggak ada kado"


Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya


"Ada apa sayang?"


Mila langsung membawa suaminya kembali ke teras. Seluruh karyawan langsung menatap tegang


"Ni banci udah melakukan kdrt sama teman aku, pa"


Julistiar, suami Mila langsung menatap tajam kearah Adi yang wajahnya menegang


"Sayangnya Dinda tidak melaporkan anda ke kantor, jika Dinda melapor saja, bisa ku pastikan, saat ini juga aku akan menyeret mu ke penjara"


"Aku nggak apa-apa kok Mas, saking sayangnya Mila sama aku, makanya dia minta mas kesini" elak ku


Kembali Mila membuang mukanya, kesal.


"Kamu punya nomor aku kan, Din?, telpon aku jika ada apa-apa" sambung suami Mila


Aku mengangguk


"Ya sudah, yok sayang kita pulang kasihan anak-anak sama pengasuh saja di rumah"


Mila memasang wajah cemberut, dia masih tak ikhlas karena Dinda hanya menganggap biasa saja perbuatan suaminya


Melihat Mila pulang, sahabat-sahabatku yang lain pulang juga.


Ketika karyawan kolam hendak berpamitan, aku menghentikan niat mereka


"Kita rembukan dulu"


Mereka menurut, dan kembali duduk


"Ren, Sis, uang toko ada?"


"Ada buk, ini" ucap keduanya sambil menyerahkan kantong kresek ke arahku


"Nanti ibu cek semuanya, kalo kalian mau pulang, silahkan, terima kasih untuk kejutannya" ucapku


Mereka tersenyum dan berpamitan pulang


Sepeninggal semua sahabatku dan karyawan yang lain, aku langsung mengadakan rembukan sedikit tentang kolam


Walau sepenuhnya aku tidak tahu bagaimana manejemen kerjanya, tapi begitu mendengar laporan dan masukan dari mereka semua, aku jadi sedikit faham


"Dan untuk pakan, itu akan kita pikirkan lagi setelah panen, dan untuk panen karena kata mas dan bapak semua sebaiknya besok, silahkan dipanen. Segera di hubungi siapa yang akan menampungnya, apa sudah ada?"


"Biasanya itu sudah ada buk, itu urusannya mas Adi"


Aku segera menoleh kearah Adi yang sejak tadi duduk di kursi mendengarkan diskusi kami


"Sini, aku minta nomor yang biasa nampung ikan" ucapku

__ADS_1


Dengan malas Adi menyebutkan nomor dan nama orang yang biasa nampung ikan dari kolam kami


"Cuma orang ini?, kolam kita banyak loh, nggak mungkin cuma dia saja"


Kembali dengan wajah malas-malasan Adi menyebutkan kembali dua nomor kontak padaku


Dengan segera aku menelpon mereka dan mengatakan jika mulai sekarang untuk urusan pengiriman ikan menjadi tanggung jawabku dan berurusan denganku langsung


Setelah disepakati, besok hingga dua hari yang akan datang, akan diadakan pengeringan kolam. Dan penampung yang telah ku telepon juga sudah deal dengan negosiasi harga


Adi kian merasa terpojok ketika ternyata harga yang ditawarkan pembeli jauh lebih tinggi ketimbang yang selama ini Adi laporkan padaku


Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku kearah Adi menyadari jika selama ini dia banyak berbohong tentang keuangan kolam


"Oke, mas-mas dan bapak-bapak, siap yah besok kita panen?"


"Siap....!!!" jawab mereka kompak


Adi yang mendengar jawaban kompak anak buahnya dulu melengos kesal


Aku tersenyum dan mengajak mereka berdoa di dalam hati semoga niat baik kami yang hendak panen besok dilancarkan oleh Sang Maha Penguasa Kehidupan


...----------------...


"Dek, tunggu!"


Aku terpaksa menghentikan langkahku demi mendengar Tomi memanggilku


"Iya?"


"Hari ini kita cek lokasi"


Aku melihat jam di hp


"Jam 10?"


Tomi mengangguk


"Oke"


Lalu aku melanjutkan langkahku tapi kembali terhenti ketika Tomi menarik tanganku


"Ini di kantor" ucapku melepas pelan tangannya


"Bagaimana keadaan kamu dek?"


"Alhamdulillah baik, bisa lihat sendiri kan?"


"Kenapa adek tidak mau Adi masuk penjara?"


Aku menatap serius wajahnya


"Tahu dari Mila?"


"Julistiar itu teman kakak"


Aku mengangguk pelan, Haduh dunia kok sempit banget, sesalku


"Jangan pernah menutupi kekerasan yang dilakukan suamimu, asal adek tahu, jika adek sakit, kakak jauh lebih sakit"


Aku terkekeh dan melambaikan tangan di depan wajahnya sambil berlalu dari hadapannya


Aku masuk keruangan masih sambil tersenyum-senyum yang membuat penasaran Nadia dan bu Halimah


"Cie yang pagi-pagi udah senyum-senyum bahagia" goda mereka


Aku terkekeh dan segera duduk di kursiku


"Pak, nanti jam 10.00 kita cek lokasi lagi"


"Siap" jawab pak Kusno


Jam 10.00 tepat, kami sudah di dalam mobil Tomi, dan sama seperti kemarin, aku duduk di depan


Pak Bagaskoro dan Pak Arsen yang telah mengetahui jika Tomi dan Dinda dulu adalah mantan tunangan bersikap sama seperti kemarin, mereka tak ingin Dinda malu


Perjalanan di dalam mobil sangat hening, dan aku menjadi bosan


Untuk membunuh bosan, aku mengeluarkan earphone, saat aku hendak memasangkan di telingaku aksiku dihentikan pak Arsen


"Mas Tomi, cobalah putar musik, dari tadi hening, kasihan mbak Dinda"


Aku menoleh kebelakang, kearah pak Arsen sambil tersenyum


Tomi segera memperlambat laju mobilnya dan menghidupkan car mp4 player

__ADS_1


Tak lama mengaku lah lagu yang sedang viral, yang akan membuat hati setiap wanita pasti akan melayang


Aku takkan pernah berhenti


Mencintaimu sampai aku mati


Aku akan selalu setia


Menemanimu setiap waktu


Tak pernah terpikir olehku


Untuk mengkhianat cintamu


Engkau satu-satunya wanita


Yang selalu aku rindu


Sayang aku takkan pernah


Pergi meninggalkanmu


Aku bernafas untukmu


Percayalah padaku


Sayang aku akan selalu


Membuatmu bahagia


Aku bernafas untukmu


Duhai kekasihku


O uh


Tak pernah terpikir olehku


Untuk mengkhianati cintamu


Engkau satu-satunya wanita


Yang selalu aku rindu oh


Sayang aku takkan pernah


Pergi meninggalkanmu


Aku bernafas untukmu


Percayalah padaku


Sayang aku akan selalu


Membuatmu bahagia


Aku bernafas untukmu


Duhai kekasihku


Sayang aku takkan pernah


Pergi meninggalkanmu


Aku bernafas untukmu


Percayalah padaku


Sayang aku akan selalu


Membuatmu bahagia


Aku bernafas untukmu


Duhai kekasihku


Tak terasa air mataku mengalir saat aku mendengar lirik syair lagu tersebut, dan aku menarik nafas panjang sambil mengusap cepat wajahku


Tomi yang duduk di sebelah Dinda melirik dan dia mendapat jika Dinda menahan tangisnya


Secara refleks Tomi mengambil tissue dan memberikannya pada Dinda


Aku yang kaget segera mengambil tissue yang diberikan Tomi dan mengusap mataku


"Lagunya bikin baper ya mbak" ucap pak Arsen lagi

__ADS_1


Aku tak menjawab, hanya mengangguk cepat, khawatir jika yang dibelakang mengetahui jika aku menangis


__ADS_2