
Tomi tidak mempedulikan semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Dia terus saja mendekap tubuh Dinda dengan erat sambil berurai air mata. Dan wajah Naya kian masam melihatnya. Berkali-kali matanya memandang tajam kearah Tomi dengan rahang mengeras
Neneknya yang melihat perubahan wajah cucunya segera mengelus bahu Naya yang membuat gadis belia itu menarik nafas panjang, dan bangkit dari duduknya lalu pindah duduk di dekat ayahnya
“Ayah kenapa mundur?”
Adi tersenyum getir mendapati jawaban Naya, kemudian dia mengusap kepala Naya dengan sayang
“Apalah posisi ayah sekarang sayang. Ayah kesini karena ayah tak ingin membuat kamu kecewa”
Naya tersenyum getir mendengar jawaban ayahnya, kemudian dia segera menempelkan kepalanya di bahu ayahnya dan memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Tomi yang masih terus terisak
“Kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang Mil jika Dinda sudah sadar” lirih Tomi sambil menghapus kasar wajahnya
Mila memutar matanya dengan malas mendengar pertanyaan Tomi
“Nggak usah banyak protes. Bersyukur aku masih menghubungi, kan kakak tahu sendiri nomor kakak aku blokir”
Tomi menelan ludahnya mendengar jawaban ketus Mila. Dan mata Naya langsung mengerling cepat kearah Mila mendengar jawaban Mila. Baru dia tahu jika begini cara aunty nya tersebut membenci ayah sambungnya tersebut
“Iya, maaf. Tidak seharusnya aku berkata begitu. Terima kasih karena kamu sudah bersedia menghubungiku” lanjut Tomi sambil mengusap kasar wajahnya. Kemudian dia menoleh kearah mertuanya dan dengan sopan diciumnya punggung tangan keduanya. Dan pada adik bungsu Dinda, Tomi juga mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Arik karena anak lelaki itu tidak merespon sedikitpun sejak dia masuk
Tomi melirik kearah Adi yang duduk bersama Naya di sudut ruangan. Tomi hanya tersenyum kaku sembari menganggukkan kepalanya yang dibalas Adi dengan tersenyum dan menganggukkan kepala juga
“Mil…….?”
Mila langsung menoleh cepat kearah ranjang ketika mendengar suara Dinda. Naya yang masih menyenderkan kepalanya di pundak sang ayah segera menegakkan kepalanya dan langsung berdiri dan berlari kearah ranjang tempat ibunya berbaring
Tangisnya langsung pecah ketika melihat mata ibunya terbuka. Tak bisa dicegah lagi bagaiamana dia menangis kencang ketika memeluk tubuh ibunya. Arik yang juga bangkit dari duduknya segera ikut memeluk erat ibunya bersama Naya
Ibunya Dinda hanya mampu mengusap kepala Dinda sambil berurai air mata. Tomi juga ikut berdiri dan langsung berdiri di samping kiri kepala istrinya. Aku hanya bengong ketika kedua anakku dan ibuku menangis ketika melihatku
Mataku hanya berputar bingung melihat semua ini. Dan berhenti pada Mila yang tersenyum bahagia ke arahku
Aku kembali harus bengong ketika mendengar bagaimana Naya berkata jika dia sangat bahagia melihatku telah sadar dan aku semakin kebingungan ketika dia berkata, bahwa dia sempat frustasi meliahtku yang tak kunjung sadar
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku bingung
Semuanya diam. Dan memandang ke arahku dengan tatapan tak percaya
“Buk?” tanyaku kearah ibuku yang masih tampak menangis
“Ibu ke……”
“Kamu harus banyak istirahat, nanti pelan-pelan kami akan ceritakan” sela Mila cepat ketika mendengar Naya yang akan menjawab pertanyaan ibunya
Kemudian Naya menoel paha Naya, memberi kode padanya yang dijawab Naya dengan anggukan pelan
Tomi maju, dan sekarang berada tepat di samping tubuh istrinya. Dan aku yang melihat ada Tomi tentu saja sangat kaget
“Kok ada kakak?. Ngapain kakak disini?” tanyaku makin bingung
Tomi menoleh dengan bingung kearah Mila yang juga tampak bingung mendengar pertanyaan sahabatnya.
“Din…. Kamu Cuma koma, bukan amnesia” ucap Mila dengan nada suara bergetar
__ADS_1
Mulut Naya ternganga mendengar ucapan Mila. Dia menggeleng cepat, kemudian segera menarik tanganku.
“Buk, ibuk ingat aku kan?”
Aku tersenyum mendengar jawabannya
“Kamu ngomong apa sih nak?. Tentulah ibuk ingat kamu. Kamu anak ibuk. Kok Cuma kalian, ayah kalian mana?”
Mulut Tomi ternganga dan dia mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan ngelantur Dinda
“Mil, tolong kamu periksa Dinda lebih intensif lagi, kenapa semuanya jadi begini?”
Mila mengangguk dan kemudian dia langsung menelepon dokter senior untuk masuk keruangan Dinda. Adik Dinda dan ayah Dinda yang juga berdiri mengelilingi ranjang tempat Dinda berbaring, wajah mereka tampak tegang
“Nay, Rik? Ayah mana? belum pulang? Masih nganter bibit sawit ke luar propinsi atau di kolam?” tanyaku penasaran karena sejak tadi aku tidak melihat mas Adi
Kulihat Tomi mundur sambil sedikit terbungkuk, kemudian dia terduduk lemas di lantai. Sementara kulihat seorang dokter masuk yang membuat seluruh keluargaku mundur
“Nah, itu mas Adi” ucapku cepat ketika aku melihat di sudut ruangan ada mas Adi berdiri dengan wajah menegang
Seluruh wajah langsung menoleh kearah mas Adi yang hanya menampilkan senyum kakunya.
“Mas kok disana, nggak mau dekat aku?” protesku yang berusaha duduk
Tapi gerakanku dihentikan oleh dokter yang memintaku untuk tetap berbaring dan langsung memeriksa kondisiku
“Mohon yang lain menunggu diluar. Kami akan melakukan pengecekan secara mendalam pada pasien. Dan kemungkinan ini akan memakan waktu lama”
Seluruh keluargaku mengangguk, dan berjalan kearah pintu
“Aku menunggu di luar Din. Kamu cepat sehat ya?”
Aku bengong mendengar jawaban mas Adi, dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan nama, selalu memanggilku dengan sebutan ibuk sejak aku melahirkan Naya. Tapi kok tadi dia memanggilku dengan nama.
“Ayo” ucap dokter yang membuatku sadar dan menatap kearah beliau
“Dari hasil ct scan malam tadi, tidak ditemukan adanya luka atau juga bekas benturan di kepala mbak Dinda. Tapi di sini tampak seperti pengurangan memori otaknya, dan mungkin itu yang membuat ingatan mbak Dinda itu balik ke masa yang agak jauh sehingga membuatnya seakan-akan dia jadi amnesia”
“Amnesia?” gumamku ketika mendengar penjelasan dokter yang melihat hasil ct scan bersama Mila. Mila yang semula serius langsung menoleh ke arahku dan menatap mataku dengan dalam
“Aku boleh ngajak dia bicara serius dokter?”
Dokter senior menggeleng
“Diperlukan terapi untuk mengembalikan ingatan mbak Dinda kembali normal seperti sedia kala. Bicara dari hati kehati sama dia memang perlu, tapi tidak hari ini. Hari ini bicara yang ringan-ringan saja. Anggaplah untuk merangsang ingatannya”
Mila mengangguk. Kemudian dia membiarkan dokter senior memeriksa keadaanku secara seksama
“Semuanya baik. Dan saya yakin mbak Dinda belum terlalu sadar karena lamanya masa dia koma kemarin”
Dan kembali ucapan tentang lamanya aku koma menjadikan rasa penasaranku kian menjadi-jadi. Dan aku harus menanyakan ini lagi pada Mila nanti. Kemudian dokter membantuku duduk dan mulai menanyaiku. Mila yang juga duduk tampak serius ketika dokter mengajakku mengobrol
“Yang aku ingat adalah aku mempunyai dua anak, Naya dan Arik. Suami aku Adi. Kami keluarga kecil yang bahagia, kami punya usaha yang membuat kehidupan kami tercukupi. Suami aku baik, penyayang dan cinta sama keluarga”
Mila memutar matanya dengan malas mendengar jawaban Dinda dan dia segera membuang wajahnya ketika Dinda menatap kearahnya
__ADS_1
“Dan Tomi? Mbak ingat siapa dia?” tanya dokter
Aku langsung menatap tajam kearah Mila dengan wajah cemberut
“Mantan tunanganku. Dan entah kenapa dia ada disini. Ini pasti akal-akalan Mila. Dia memang iseng dari dulu dokter, tapi kan nggak menghadirkan Tomi kesini juga” protesku
Dokter senior dan Mila saling toleh dan keduanya menarik nafas panjang
“Kita harus terapi setiap hari kalau begitu” ucap dokter yang dijawab Mila dengan anggukan kepala
Sekitar satu jam Mila dan dokter menanyaiku. Bahkan dokter tampak seperti menulis-nuliskan sesuatu di kertas yang diberikan oleh perawat padanya. Setelah itu dia kembali memeriksa ku secara intensif sampai akhirnya beliau keluar dan meninggalkanku berdua dengan Mila
“Mil, aku butuh jawaban kamu”
Mila menarik nafas panjang lalu menarik sebuah kursi dan duduk di dekatku
“Berapa lama aku koma?. Kenapa aku bisa nggak ingat apa-apa?”
Mila diam dan memandang wajahku dengan dalam. Baru saja dia mau menjawab dari luar terdengar suara gradak gruduk yang tak lama pintu ruangan kami terbuka, dan muncul para sahabatku dan anggota keluargaku yang tadi keluar
Tampak olehku Putri, Rohaya dan Vita menghambur ke arahku dan langsung memelukku dari segala arah. Ketiganya tampak menangis ketika mendekap ku dan itu membuatku semakin terharu dan memandang sayang kearah mereka
“Nay, ayah mana?” kembali aku bertanya
Wajah Mila kembali menegang, begitu juga yang lainnya. Terlebih wajah Tomi.
“Ayah pulang buk” jawab Naya pelan
“Pulang?. Kok pulang?” Jawabku sambil berusaha menurunkan kakiku
“Kamu mau kemana?” larang Mila dengan menekan bahuku
“Aku mau menyusul suami aku Mil. Aku mau nanya sama mas Adi kenapa dia pulang padahal aku masih sakit”
Mulut Putri, Rohaya dan Vita menganga. Kemudian secara kompak ketiganya saling toleh kemudian memutar tubuh mereka menatap kearah Tomi dengan tatapan yang sulit diungkapkan. Tomi yang ditatap oleh ketiga sahabat istrinya hanya bisa menarik nafas panjang dengan mata berkaca-kaca
“Mas Adi nanti pasti kesini lagi. Waktu kamu masih tidur tadi dia bilang jika kolam hari ini panen makanya tidak bisa ditinggal” jawab Mila berbohong
Ketiga sahabatnya yang baru datang makin penasaran mendengar jawaban Mila. Dalam hati mereka menebak jika sudah terjadi hal buruk pada sahabat mereka. Jika tidak, tidak mungkin sampai sahabat mereka menganggap jika Adi itu masih suaminya
Aku hanya menganggukkan kepalaku mendengar jawaban Mila kemudian menoleh kearah ayahku
“Bapak nggak ikut lihat kolam? Biasanya bapak paling antusias jika kolam panen” ucapku sambil tersenyum
Bapakku menggeleng sambil mendekat dan mengusap sayang kepalaku
“Cepat sehat ya nak. Jangan bikin bapak makin khawatir”
Aku segera menarik tangan bapakku, kemudian menempelkannya dengan sayang kewajahku yang membuat bapakku langsung meneteskan air mata
“Sebenarnya aku sakit apa?. Kenapa kalian begitu berteka teki sama aku?”
Ibuku kembali terisak. Arik dan Naya merangkulku, dengan sayang keduanya menciumi wajahku
“Cepat sehat ya buk. Biar kita pulang ke rumah kita” lirih Arik yang membuat jantung Tomi kembali berdenyut perih
__ADS_1