Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Air Mata Tomi


__ADS_3

Setelah itu aku langsung lunglai dan menutup mataku.


“Tidak…..!!!!” teriak Tomi panik ketika melihatku diam tak bergerak


Mila dan dokter makin panik, begitu juga dengan perawat. Berkali-kali Mila berteriak memanggil namaku dengan terus menggerakkan tubuhku, sementara dokter telah menjalan sebuah alat di atas perut besarku. Wajahnya tampak tegang, dan sudah terdengar suara isak tangis dari Tomi yang terus mengusap kepalaku


“Sayang bangun…., jangan tinggalkan aku…..” isaknya


“Heeeeekkkkkk……” aku kembali membuka mataku dan kembali ngeden yang membuat tangis Tomi kembali pecah dan kembali bersemangat mengangkat bahuku


Mila tak kalah semangatnya dengan Tomi, dengan wajah tegang bercampur panik dia juga ikut mengangakt bahuku. Dia sudah tidak memperdulikan bagaimana keadaannya yang sangat berantakan. Dan dokter yang membantu persalinanku kembali memberiku semangat


“Operasi saja dokter, aku tak sanggup melihat istriku kesakitan seperti ini” ucap Tomi


Aku menggeleng, dan mengambil tangannya yang mengusap kepalaku. Mencium tangannya dengan sayang


“Bilang sama anaknya kak, suruh keluar dengan mudah” lirihku


Air mata kembali mengalir di wajah Tomi ketika aku mengucapkan kalimat tersebut. Dia tidak berkata apa-apa selain menangis, dan aku ikut menangis melihatnya menangis


Dan kembali aku ngeden, dan kali ini aku bertekad semakin kuat jika ini harus berhasil. Apalagi ketika dokter sudah bilang jika sudah mulai kelihatan calon anakku. Tentu saja itu semakin membuatku bersemangat. Terlebih dengan dukungan semangat dari Mila dan Tomi yang semakin membuatku harus kuat


“Nggak kuat, dokter…..” lirihku ketika kembali aku merasa tak sanggup


“Nggak,nggak. Kamu kuat, kamu kuat sayang. Kami tahu itu” ucap Tomi


“Ingat Naya sama Arik, bestie….” Ucap Mila dengan suara bergetar


Kembali ada butiran hangat mengalir di wajahku ketika aku mendengar ucapan Mila. Terlintas bagaimana wajah basah dan harapan kedua anakku ketika aku akan pergi tadi


Dan kembali aku ngeden, dan kali ini dokter bilang jika kepala anakku sudah keluar


“Terus mbak Dinda, jangan sampai bayinya terjepit….” Ucap dokter yang membuatku semakinm kuat ngeden


“Gunting……” ucap dokter pada perawatnya yang jelas terdengar oleh telingaku


Tomi langsung memalingkan wajahnya ketika dokter mulai menggunting jalan lahir istrinya yang membuat aku merasakan ada cairan hangat keluar dari jalan lahirku


“Air ketubannya sudah keruh…..” ucap dokter


Aku tidak mempedulikan ucapan dokter karena aku sudah kembali ngeden, dan kurasakan jika dokter mulai merogoh bayiku, dan dapat kurasakan jika dia menarik anakku, mengeluarkannya dari jalan lahir


Aku langsung menarik nafas lega ketika anakku sudah keluar, terlebih ketika terdengar suara tangisnya yang sangat nyaring. Dan Tomi yang sejak tadi memegangi bahuku langsung terduduk di lantai, dan menangis sejadi-jadinya


Mila yang melihat Tomi menangis, hanya membiarkannya saja. Sedangkan aku yang sangat kelelahan hanya bisa menarik nafas dengan ngos-ngosan dan hanya melirik kearah bawah, ke lantai dimana kulihat Tomi masih menangis terisak


Mila mengusap kepalaku, mencium keningku yang basah dengan keringat


“Selamat ya bestie, anak kamu selamat dan sehat” ucapnya dengan haru


Aku tersenyum dan melihat kearah dokter yang masih berkutat dengan jalan lahirku. Mengeluarkan ari-ari dan menjahit jalan lahirku yang tadi robek


“Anakku cowok apa cewek dokter?” tanyaku


“Cowok….”


Aku menoleh kearah Tomi yang sekarang berdiri dan memelukku. Wajahnya masih basah dan dia masih terisak ketika mendekap kepalaku, berkali-kali dia menciumi kepalaku dan aku berusaha untuk tersenyum kearahnya

__ADS_1


“IMD ya buk….” ucap perawat yang membawa anakku


“Maa Syaa Alloh……” ucapku takjub


Ternyata Tomi dan Mila sama kagetnya denganku ketika anakku diletakkan di atas dadaku


“Empat kilo enam ons…..” ucap perawat itu


Aku ternganga, begitu juga dengan Mila dan Tomi


“Pantesan susah keluarnya, tahunya bayinya sebesar ini…..” ucap Mila dan dokter berbarengan


“Tapi waktu USG kemarin masih normal kan dok?” tanyaku sambil mengusap rambut tebal bayiku


Kepala bayiku bergerak mencari-cari dadaku, dan ketika dapat dia langsung melahapnya yang membuatku tertawa haru. Tomi kembali menangis ketika anakku diletakkan di atas dadaku, sambil terisak dia hanya bisa mengusap kepala anaknya, tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya selain isak tangis


“Sudah dong kak nangisnya, cemen banget…..” goda Mila


Tomi tidak memperdulikan perkataan Mila dia terus saja terisak sambil mengusap kepalaku dan bergantian mengusap kepala anaknya


Sementara perawat yang keluar dari ruang persalinan, segera dicegat oleh ibuku dan ibu mertuaku. Dan kedua ibuku itu langsung mengusap wajah mereka ketika mendengar jika aku sudah melahirkan dengan selamat


“Selesai ya IMD nya, kita ganti baju…..” ucap dokter dengan mengangkat tubuh anakku dari atas dadaku


Mila mengikuti dokter tersebut mengganti pakaian anakku, dan setelah selesai mengganti baju anakku, dokter memberikan anak tersebut kearah Tomi untuk diadzankan. Sementara perawat yang telah kembali kedalam ruangan saat ini tengah membersihkan tubuhku


“Terima kasih sayang…..” lirih Tomi ketika aku selesai dibersihkan dan memberikan anak kami pada dokter untuk diletakkan di dalam box bayi


Aku mengangguk dan menatap wajah basah Tomi dengan haru


“Seperti biasa ya buk, tidak boleh tidur selama dua jam. Dan tidak boleh bergerak. Jika dirasa darah keluar tidak normal dari jalan lahir, segera beritahu kami”


“Aku minta maaf dokter….” Lirih Mila sambil


Dokter yang membantu proses persalinanku mengangguk, aku melihat keduanya berpelukan


“Maafkan Mila ya dokter, Mila itu sangat menyayangiku, oleh karena itulah makanya tadi dia marah” ucapku kepada dokter yang menoleh sambil tersenyum


“Kami sudah hafal watak dokter Mila mbak, jadi aku tidak tersinggung. Dan jika aku jadi dokter Mila, aku juga akan marah”


Mila tertawa kecil sambil memukul lengan teman sejawatnya itu.


“Dokter, aku boleh minjem jas dokter nggak? Dokter lihat deh bagaimana pakaianku” ucap Mila yang membuatku terkekeh


Dokter tersebut mengangguk. Dan meminta pada perawat untuk mengambil jasnya di ruangannya


“Aku nggak mikir apa-apa lagi tadi begitu dapat kabar kamu melahirkan Din. Yang ada di benak aku adalah aku harus menemani kamu…..” ucap Dinda sambil memakai jas yang diberikan oleh dokter padanya


“Aahhhhhh…. Kamu baik banget…..” jawabku dengan nada manja


Mila mendecak mendengar jawabanku, kemudian dia segera mengeluarkan hpnya dan langsung mengarahkannya kearah anakku yang tampak pulas tertidur


“Dokter nggak pulang?” tanya dokter pada Mila yang dijawab Mila dengan menggelengkan kepalanya.


“Sebentar lagi juga jam enam dokter, tanggung”


Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban Mila. Entah harus rasa syukur apalagi yang dapat aku ungkapkan memiliki sahabat sebaik dan se care dia

__ADS_1


“Sayang, aku keluar sebentar ya, ngasih tahu ibuk” ucap Tomi sambil mengusap kepalaku


Aku mengangguk, kemudian Tomi berdiri dan berjalan kearah box bayi, memandang lama pada wajah anaknya


“Boleh dicium kok mas…..” ucap dokter yang sepertinya faham keinginan Tomi


“Serius dokter?” tanya Tomi dengan nada antusias


Doketr tersebut mengangguk. Dan Tomi langsung membungkukkan tubuhnya, dan mencium lama pipi gembul anaknya


“Terima kasih karena sudah hadir dikehidupan papa nak……” lirih Tomi dengan kembali meneteskan air matanya


Mila menepuk bahu Tomi, yang membuat Tomi langsung mengusap kasar wajahnya. Kemudian Tomi menoleh ke arahku dan tampak tersenyum getir


“Sudah dong kak……” ucap Mila lagi karena kembali terlihat Tomi meneteskan air matanya


“Aku sangat terharu dan bahagia Mil….” Jawab Tomi dengan suara tercekat


Aku tersenyum mendengar jawaban Tomi dan ikut meneteskan air mata. Setelah mengusap kasar wajahnya, Tomi keluar dari dalam ruangan. Dan ketika sampai diluar ruangan, Tomi langsung bersujud di kaki ibunya dengan menangis terisak


Tak urung perbuatan Tomi membuat ibunya dan ibuku menangis.


“Terima kasih buk….., terima kasih untuk pengorbanannya untuk aku” lirih Tomi sambil mendekap erat ibunya


Ibu Tomi tidak menjawab, melainkan ikut terisak dan mendekap erat putra tertuanya yang masih terus saja terisak


Kemudia Tomi beralih mendekap ibuku, mengucapkan kalimat yang sama seperti yang tadi diucapkannya pada ibunya. Tapi dengan tambahan


“Terima kasih buk karena telah melahirkan seorang anak yang hebat dan kuat seperti Dinda” isaknya yang tak urung membuat ibuku ikut terisak


“Kami boleh masuk kan?” tanya ibuku setelah Tomi melepas dekapannya


Tomi mengangguk dan dengan segera kedua ibuku masuk. Aku yang sedang diajak ngobrol oleh Mila menoleh kearah pintu ketika pintu terbuka


Air mataku langsung mengalir ketika melihat ibuku menangis ketika berjalan ke arahku. Dengan cepat ibuku memelukku dan mencium keningku dengan dalam. Kemudian bergantian dengan ibu mertuaku yang memeluk dan mencium keningku


Kemudian keduanya sama-sama berjalan cepat kearah box bayi, dan tampak berebutan ingin mengangkat cucu mereka. Tapi kulihat ibuku lebih mempersilahkan ibunya Tomi untuk mengambil dan menggendong anak kami duluan. Keduanya tampak tersenyum senang


“Berapa bobotnya?” tanya ibu mertuanku


“4,6 buk….” Jawab Mila yang dijawab tertawa terkekeh dari keduanya


“Tuh benerkan Din apa kata ibuk, anak kamu ini mirip Tomi”


Aku dan Tomi hanya tersenyum. Sementara pagi diluar mulai berganti dengan terang. Dan aku yang sudah lebih dari dua jam melek, akhirnya mendapatkan izin untuk tidur. Tak perlu menunggu waktu lama, aku sudah terlelap. Sedangkan Mila yang melihatku sudah terlelap, memilih berpamitan dengan seluruh keluargaku dan mengusap wajahku ketika dia akan pulang


“Aku mau pulang, ngantuk. Kalau kalian mau kesini, silahkan. Jam Sembilan nanti aku akan balik lagi ke rumah sakit ini” balas Mila pada chat group ketika sahabatnya yang lain mulai heboh ketika membaca pesan group


Setelah itu Mila langsung memasukkan hp kedalam dompetnya dan berjalan cepat kearah parkiran. Karena dia tak mau orang melihat keadaannya dalam keadaan hanya memakai baju tidur tipis


Sementara Tomi, sedetikpun tidak tidur lagi, dia terus duduk di dekat istrinya, menggenggam erat jemari istrinya bahkan sesekali menciuminya. Dipandangnya wajah Dinda yang tampak pulas tidur dan menoleh kearah box bayi anaknya, dimana kedua ibunya tengah menunggui bayinya


Dan kabar bahwa Dinda sudah melahirkan sampai juga di telinga para saudara kandung Tomi. Tomi yang memberitahu keluarganya ketika dia tadi berada diluar ruangan ketika kedua ibunya masuk. Adik-adik Tomi langsung heboh dan sibuk ingin ke rumah sakit saat itu juga


Berbagai ucapan selamat juga mengalir di group kerja pribadi Tomi sebagai kontraktor. Dan tentu saja kabar bahagia ini juga diberitahu Tomi pada Pak Burlian yang langsung mengucapkan selamat padanya dengan haru


“Kamu tahu Tom, kasta tertinggi di dalam keluarga itu adalah cucu pertama” ucapnya sambil tertawa ngakak

__ADS_1


Tomi langsung mencibir, karena dia tahu kemana arah omongan kakak sepupunya satu itu. Dia pasti ingin membanggakan jika dia adalah cucu pertama di keluarga besarnya dan yang paling berkuasa dari yang lain


__ADS_2