
Rabu pagi
Aku dikagetkan dengan hp ku yang berdering tak berhenti. Dengan malas aku membuka mata lalu turun dari atas ranjang
Dengan masih menguap lebar aku segera mengambil hp yang ku letakkan di atas meja.
Tampil nama Lisa yang membuat mataku langsung terbuka lebar
"Ya bestie, kenapa?".
"Nanti jam 08.00 orang percetakan bakal ke kantor kamu untuk ngantar undangan, sisanya aku suruh mereka untuk mengantarkan ke kantorku karena aku akan menyebarnya langsung"
Seriusan kamu yang mau nyebar?, apa nggak ganggu kerjaan kamu?" tanyaku dengan nada khawatir.
"Alah sedikit juga kok yang kuambil. Paling juga cuman Lima puluh"
"Iya, tapi kan Sa lima puluh itu juga cukup menyita waktu kamu untuk menyebarnya"
Terdengar suara terkekeh dari seberang
"Sebenarnya sih yang menyebarnya bukan aku, aku nanti akan nyuruh orang lagi untuk menyebarnya".
Aku ikut terkekeh mendengar jawaban dari Lisa. Kemudian aku mengucapkan terima kasih karena undangan instan yang dibuatnya kemarin malam itu sudah jadi. Dan aku sangat yakin Lisa pasti mengeluarkan banyak uang untuk menyuruh orang percetakan mencetak kilat undanganku.
"Maaf ya Jika aku pagi-pagi membangunkan kamu. Habisnya aku yakin deh kamu pasti masih tidur, ya kan?".
Kembali Aku terkekeh mendengar ucapan Lisa.
"Ya sudah terima kasih ya sekali lagi untuk kebaikan kamu Lisa ku sayaaanggg".
"Sama-sama Dinda ku sayang, sahabatku yang paling baik yang bentar lagi nggak jadi jendong lagi..."
Kemudian secara kompak kami berdua terbahak.
Selesai obrolan dengan Lisa aku segera turun dan langsung membuatkan sarapan untuk kedua anakku.
Hingga akhirnya Tommi datang dan langsung mengantarkan Naya dan Arik ke sekolah.
Barulah setelah itu Tomi mengantarkan ku ke kantor.
"Mobil Aku sudah lama loh Kak nggak dipakai, rasanya kasihan aja sama mesinnya" ucapku yang membuat Tomi tersenyum.
"Jadi maksudnya kamu nggak mau lagi kakak antar jemput?"
Aku menggeleng sambil tersenyum.
Ya bukan gitu sih kak, kan sayang aja sama mesinnya nggak pernah dipanaskan.
"Ya sudah nanti begitu pulang dari kantor, mesin mobil yang kamu Panaskan, ya?" ucap Tomi sambil mengusap kepalaku. Aku mengangguk mendengar ucapan Tomi.
Dan begitu sampai di kantor aku segera turun dari mobil. Tapi sebelum itu aku mencium punggung tangan Tomi terlebih dahulu.
"Cantiknya istriku..." ucap Tomi ketika aku mencium punggung tangannya.
__ADS_1
Aku hanya bisa tersipu malu mendengar gombalannya.
Kemudian aku melambaikan tangan ke arah Tomi yang mengklakson sekali padaku kemudian dia melajukan mobilnya meninggalkan depan kantor tempat ku berdinas.
"Mbak Dinda ya?" tanya seorang pemuda ke arahku begitu Aku berjalan masuk ke arah kantor.
Aku menganggukkan kepalaku ke arah pemuda itu dan pemuda itu tersenyum ke arahku.
"Nganter pesanan dari Mbak Lisa, Mbak" ucap lelaki itu sambil menyerahkan kresek besar berwarna hitam padaku.
"Loh kata Lisa jam 08.00, ini belum Jam 08.00 loh, kok sudah nyampe?" jawabku antusias.
"Nggak papa mbak, mau jam 08.00 ataupun sebelum jam 08.00 sama saja" jawab pemuda itu sama tersenyum.
Aku segera mengambil kantong kresek tersebut Lalu mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.
"Sini Mbak Biar aku bantu" ucap Redho yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Aku tidak menolak tawaran dari Redho, segera kantong kresek tersebut aku serahkan kepadanya.
Di perjalanan menuju ruangan kami, Redho bertanya apa isi kantong kresek tersebut dan aku tidak menjawab pertanyaannya melainkan hanya tersenyum.
Selesai apel, aku langsung memulai aktivitasku. Dan ketika jam istirahat, aku ditelepon oleh Pak Burlian untuk segera menghadap ke ruangannya.
Entah kenapa setiap kali dipanggil untuk menghadapi oleh Pak Burlian dadaku tiba-tiba berdegup kencang.
Begitu aku telah duduk di ruang kerjanya, Pak Burlian langsung mengatakan jika persiapan kami menikah hari Sabtu dan Minggu nanti semuanya telah beres.
Dan itu tentu saja membuatku kaget bukan kepalang.
Beliau mengangguk pasti, lalu Beliau kemudian menjelaskan Bagaimana seluruh gedung, dekorasi sampai catering sudah semuanya disiapkan tinggal pelaksanaannya saja.
Wajahku yang semula tegang berubah menjadi senyum sumringah.
"Semoga pernikahan ini adalah pernikahan terakhir untuk kalian ya Din"
"Aamiin" aku dengan cepat mengaminkan ucapan Pak Burlian.
"Ya sudah kamu silakan kembali lagi ke ruangan kamu. Dan Oh iya Din, masalah undangannya katanya teman kamu ya yang sudah membuat undangan. Bagaimana, sudah disebarkan?" tanya Pak Burlian lagi.
"Iya Pak, memang teman saya yang membuatkan undangan. Dan pagi ini kebetulan undangannya sudah jadi. Itu ada ruangan saya. Tapi saya belum berani untuk menyebarkannya karena saya masih bingung siapa saja yang akan saya undang"
"Jika begitu, kamu tetap di sini saya akan memanggil Redho untuk membawa undangan tersebut ke ruangan ini"
Aku hanya bisa mengangguk menyetujui perkataan Pak Burlian. Segera pak Burlian menempelkan HP ke telinganya dan terlihat seperti menyebut-nyebut nama Redho.
Tak lama Redho muncul sambil membawa kantong kresek yang tadi aku letakkan di bawah meja kerjaku.
Lalu terlihat kembali Pak Burlian menempelkan HPnya dan menyebut beberapa nama pegawai di kantor ini.
Tak lama semua yang disebutkan oleh Pak Burlian tadi muncul ke dalam ruangan ini, yang membuat degup jantung ku kian berdebar kencang.
"Nah kalian semua segera buka kantong kresek itu, dan ini nama-nama yang sudah saya cetak ini kalian tempel di sana nanti" ucap pak Burlian sambil menyerahkan kertas yang ternyata sudah di cetak dengan nama seluruh pegawai kantor ini dan juga dari instansi lain.
__ADS_1
"Hah?, undangan??!" ucap Redho tercekat sambil menoleh ke arahku.
Dan aku kembali hanya bisa menelan ludah melihat Redho yang menatap tajam ke arahku terlebih ketika dia membaca undangan tersebut.
Nadia adalah orang pertama yang berdiri dan segera mendekap ku dengan erat.
"Mbak kok nggak ngomong sih kalau mbak mau menikah?, jahat deh....." ucap Nadia dengan nada merajuk.
Aku yang semula khawatir jadi ikut tersenyum ke arah Nadia yang kembali mendekap Ku. Secara bergantian seluruh pegawai yang ada di ruangan ini mengucapkan selamat padaku, bahkan mereka semua sama kagetnya seperti Redho dan Nadia.
Hingga akhirnya dua jam undangan yang sebegitu banyaknya selesai dikerjakan oleh sepuluh orang pegawai kantor ini.
Dan mereka juga telah memilah instansi mana yang akan mereka sebarkan sesuai dengan arahan dari Pak Burlian.
Kembali Aku hanya bisa speechless dengan apa yang dilakukan oleh Pak Burlian.
"Dan yang ini adalah khusus untuk teman kamu Dinda. Mungkin kamu punya teman masa sekolah dulu bersama Tomi, jadi kalian berdua lah nanti yang rembukan siapa yang akan kalian undang".
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku kemudian aku meminta izin keluar dari ruangan beliau.
Dan ternyata kehebohan sesungguhnya terjadi ketika aku masuk ke dalam ruanganku kembali.
Ibu Halimah dan Pak Kusno langsung mendekap ku dengan erat. Bahkan Pak Kusno layaknya seperti Ayahku sendiri mengusap-usap kepalaku dan matanya tampak berkaca-kaca.
"Akhirnya doa kita semua dikabulkan oleh Allah" ucap bu Halimah yang ku balas dengan anggukan haru.
Baru saja aku duduk setelah selesai kami bertiga mengharu biru, hp ku berdering.
"Ya Bestie?" jawabku. Setelah aku melihat di layar HP tertera nama Rohaya.
"Keluar gih dari ruangan kamu. Aku sama Vita ada di luar nih" ucap Rohaya
"Serius?!"" tanyaku tak yakin
"Ya iyalah, masa kita bohong??" jawab Rohaya lagi yang membuatku terkekeh .
"Jangan lupa undangannya di bawa" tambah Rohaya lagi.
Aku segera berdiri lalu berjalan keluar ke depan kantor. Dan benar aku lihat Rohaya bersama Vita berdiri di depan motor mereka.
Segera Kami bertiga cipika cipiki.
Rohaya langsung merebut undangan yang masih ada dalam genggamanku
"Sini undangannya, kami yang nyebar. Dan untuk masalah nama nggak usah kamu pikirkan, karena kami sudah tahu siapa saja yang harus kamu undang" .
Kembali Aku hanya bisa menatap haru ke arah mereka berdua.
"Nggak usah lebay...." ucap Rohaya sambil memukul lenganku ketika melihat wajahku yang berubah sedih.
"Gimana aku nggak haru, kalian semua baik banget sama aku...." jawabku dengan ada manja yang membuat mereka berdua kembali mendekap Ku.
"Bahagia kamu bahagia kita juga Din. Begitu juga sedih kamu, sedih kita juga" Ucap Vita sambil mengusap wajahku.
__ADS_1
"Karena sejatinya persahabatan itu adalah yang selalu ada dan siap sedia untuk sahabatnya kapanpun dan di manapun" ucap Rohaya.