
Saat aku akan berjalan mengikuti yang lain apel pagi, aku harus dikejutkan dengan panggilan pak Burlian. Aku menghentikan langkahku, lalu menunggu beliau yang berjalan di belakang kami
“Ibu duluan” bisik bu Halimah yang ku jawab dengan anggukan kepala
“Ya Pak?” tanyaku ketika beliau berdiri di depanku
“Kamu mulai hari ini nggak usah ikut apel pagi lagi, sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan”
Aku langsung menarik nafas panjang dan mencoba tersenyum kaku kearah beliau
“Ini karena Tomi kan pak?”
Beliau tersenyum, kemudian mengangguk. Kembali aku harus menghembus nafas panjang. Sementara para pegawai yang berjalan di depan kami agak menundukkan sedikit kepala mereka, tanda penghormatan pada pak Burlian sebagai atasan di sini
“Tomi nggak bakal tahu pak, jika bapak nggak ngasih tahu dia” lanjut lagi berusaha meyakinkan beliau jika aku baik-baik saja
“Untuk hari ini kamu nurut saja perintah saya Din. Saya nggak mau adik sepupu saya itu ngadu ke ibunya, bisa panjang urusan nya jika ibunya Tomi yang turun tangan”
Aku langsung tersenyum kecil mendapati jawaban beliau, apalagi beliau mengatakannya dengan nada khawatir
“Janji hari ini saja ya Pak?” tanyaku lagi
Beliau diam, dan tampak berfikir
“Gini aja Din, kamu kan tahu bagaimana Tomi itu sangat bucin sama kamu. Terlebih sekarang kamu mengandung anaknya, makin bucin dia. Dan satu lagi, ini adalah anak pertama buat Tomi. Kamu tentu pernah berpengalaman bagaimana dulu antusiasnya mantan suami kamu ketika tahu kamu hamil”
Aku terpaksa terdiam mendengar ucapan pak Burlian kali ini, aku tidak mau membantah lagi. Benar yang beliau katakana, Adi dulu juga antusias ketika tahu aku mengandung Naya. Tapi rasanya Tomi berlebihan deh.
“Ya sudah, akmu kembali ke ruangan kamu, ya?. Jika memang kondisi kamu benar-benar fit, besok-besok kamu boleh ikut apel”
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian segera mundur selangkah memberi jalan untuk beliau yang akan pergi ke lapangan karena memang beliau sudah telat karena harus ngomong empat mata dulu sama aku
Aku berjalan kembali masuk kedalam ruangan, dan hanya bisa bengong beberapa menit sampai akhirnya ruangan penuh kembali dengan temanku yang lain yang masuk Karen apel selesai
“Kok nggak ke lapangan?” Tanya bu Halimah begitu beliau masuk
“Nggak dibolehin” jawabku singkat
Bu Halimah langsung terkekeh, begitu juga dengan pak Kusno. Sedangkan Redho dan Nadia memandang curiga ke arahku.
“Sakit mbak?” Tanya Nadia
Aku menggeleng
“Lah terus?” kejarnya
“Mbak hamidun, makanya sama suami mbak, mbak nggak boleh ikut apel, alasannya berdiri terlalu lama nggak bagus untuk janin. Padahal kan cuma beberapa menit doang” jawabku dengan wajah sedih
Nadia langsung berlari ke arahku dan langsung merengkuh bahuku serta merta langsung bertubi-tubi menciumi wajahku sambil mengucapkan kata selamat
“Ya ampun, jangan saja mbak Dinda mabuk akibat abab kamu…” komentar Redho yang membuat kami semua tertawa
Karena semuanya telah masuk dan telah lengkap, akhirnya aktifitas kami langsung berjalan lancar seperti sedia kala. Sesekali Redho dan Nadia menawarkan jasa mereka padaku, mereka tak ingin aku stress dan kelelahan
“Kalian sudah mirip Tomi deh….” Keluhku
“Ya kan kami care sama mbak” kelit mereka yang ku balas dengan tatapan haru
Sampai akhirnya jam makan siang, seperti biasa akan ada deliver yang datang membawakan kami makan siang. Tapi kali ini berbeda, khusus untukku ada dua bungkus rujak
__ADS_1
Dan entah memang aku penyuka rujak atau memang aku lagi ngidam, dua bungkus rujak habis dalam waktu singkat.
Saat aku akan berdiri mengambil minum, Nadia langsung member kode untuk aku tetap duduk. Dan dengan sigap dia mengambilkan botol air minum yang ada di mejaku
Selagi asyik kami berlima makan dalam satu meja, hp ku berdering. Dan kembali Nadia yang berdiri
“Panggilan group rempong mbak” ucapnya ketika dia menatap layar hp
Segera aku mengambil hp yang diulurkan nya padaku, dan langsung bergabung dengan keenam sahabatku yang lain
“Lu tuh ya Din, selalu paling akhir kalau gabung” protes Mila ketika wajahku muncul
“Maaf bestie, lagi makan” jawabku sambil kembali menyuapkan nasi kedalam mulutku
“Eh, bestie, selamat ya…….” ucap mereka kompak sambil cekikikan
Aku langsung menghentikan kunyahan ku. Dan menatap melongo
“Selamat? Untuk apa?”
“Is, ini nih yang aku paling nggak suka dari elo ya Din. Elo ada apa-apa nggak mau ngasih tahu kita. Bahkan saat bahagia pun elo milih menyembunyikannya dari kita”
Aku langsung nyengir mendengar protes dari Rohaya
“Iya maaf….belum sempat. Kan aku baru tahunya semalam…..” jawabku
Mulailah mereka berenam rebut menjawab sehingga membuat pak Kusno yang tadi bergabung bersama kami makan, memilih kembali ke mejanya karena saking bisingnya suara para sahabatku
“Maaf ya pak…….” Jawabku sambil terkekeh kearah beliau. Sedangkan temanku yang lain ikut terkekeh karena pak Kusno memilih kabur
“Eh, lu bicara sama siapa?”
Aku langsung memutar hp ku kearah teman sekantorku yang melambaikan sendok kearah hp
Aku mengangguk
“Ya ampun, maaf ibuk-ibuk bapak-bapak” ucap mereka lagi
“Biasa aja. Mereka sudah tahu kok kalo aku punya sahabat gila”
Jawabanku dijawab beragam oleh keenam sahabatku, ada yang tertawa tapi ada yang protes tak terima aku bilang gila, tapi tentu saja protes mereka dengan tawa canda
“Lusa kita ke rumah elu, ya?” ucap Vita lagi yang langsung disambut setuju oleh yang lain
“Mau dibawain apa? Elu ngidam apa?” serobot Mila
“Kalo sekarang sih aku belom pengen apa-apa, tapi kalian tahulah mood bumil itu suka berubah-ubah. Kalian tunggu aja kabar dari aku, kalo aku ngidam aku pasti ngasih tahu kalian”
“Dah ya bestie, aku mau lanjutkan makan aku, teman aku sudah semua loh” kembali aku memutar hp dan menunjukkan jika memang makan siang temanku yang lain sudah kosong
“Ya udah, selamat makan siang ya bestie, jaga kesehatan. Dan iya gue lupa, obat yang kemaren gue kasih, nanti pas gue kesana gue ambil lagi” ucap Mila yang mampu membuatku melongo
“Nggak usah jelek gitu mukanya, tenang aja. Aku akan bawa obat khusus bumil”
Aku langsung mengembangkan senyumku mendengar kelanjutan ucapan Mila. Setelah aku berpamitan dan melambaikan tangan, aku kembali melanjutkan makan siangku.
“Permisi……” ucap penjaga kantor ketika kami melanjutkan pekerjaan kami setelah jam kantor usai. Saat itu hampir jam tiga sore
Pak Kusno yang memang terkenal humble sejagat kantor segera berdiri dan langsung menghampiri penjaga kantor tersebut
__ADS_1
“Masuk pak, jangan sungkan” ucap beliau sambil mengajak penjaga kantor masuk
“Ehm, ini pak. Cuma mau nganter buah” ucap penjaga kantor tersebut memamerkan kantong kresek di tangannya
“Buah?” Tanya pak Kusno
Penjaga paruh baya tersebut kembali menganggukkan kepalanya.
“Tadi disuruh sama bos untuk panen buah yang ada di kebun belakang. Dan kebetulan memang ada buah belimbing dan jambu air yang masak” ucapnya
Aku langsung menelan ludahku ketika mendengar ucapan beliau. Sudah terasa segar dan manisnya kedua buah itu di mulutku
“Kata pak Bos, bu Dinda lagi ngidam. Makanya saya disuruh beliau untuk mengantar buah tersebut kesini. Dan kebetulan buahnya sudah saya cuci, tinggal makan lagi”
Aku segera berdiri dari kursiku, dan segera menerima kantong buah yang beliau ulurkan padaku. Setelah aku mengucapkan terima kasih, beliau langsung berpamitan. Dan kembali, Nadia bertugas membagikan buah ke setiap meja, tapi tentu saja di mejaku yang paling banyak
“Ya ampun, lain ya kalau adik iparnya Bos. Sampai seluruh karyawan turun tangan” sindir pak Kusno sambil terkekeh
Aku langsung memanyunkan bibirku kearah beliau dengan memasang wajah masam dan beliau makin terkekeh geli
Aku segera turun dari mobil ketika mobil sudah sampai depan rumah. Dan betapa terkejutnya aku ketika aku berjalan kearah teras dari dalam rumah muncul ibu mertuaku dan para iparku
Aku langsung menoleh kearah Tomi, terlebih ketika ibu mertuaku langsung mendekap ku dengan mata berkaca-kaca
“Sehat terus dan panjang umur ya Nak……” ucap beliau dengan suara bergetar
Aku hanya bisa mengangguk sambil terus mendekap beliau. Lalu bergantian lah para iparku memelukku
“Nggak sabar mau lihat cucu tertua di keluarga ini” ucap Aldi sambil mencium punggung tanganku
Aku tersenyum, lalu bergantian adik-adik Tomi yang lain juga mencium punggung tanganku.
“Kami sudah masak makanan kesukaan mbak Dinda, semuanya. Sampai bakso setan, bahkan rujak mangga juga ada” ucap istrinya Aldi antusias
“Dan kami juga nggak ketinggalan……” teriak keenam sahabatku bersama anak mereka
Tentu saja aku melongo melihat mereka datang, bahkan Lisa masih berpakaian dinas, dan sepertinya dia tidak membawa anak, karena aku yakin dia dari kantor langsung kesini
Keenam sahabatku bergantian mendekap ku, bahkan Mila yang paling bikin aku baper. Matanya tampak berkaca-kaca ketika dia mendekap ku, dan aku tersenyum haru kearahnya
“Cemen, preman kok mau nangis….” godaku padanya yang dibalasnya dengan kembali mendekap ku
Dan kembali kejutan datang ketika aku lihat kedua orang tua dan saudara-saudaraku juga ada disini.
“Kok pada nggak bilang jika mau kesini?’ tanyaku pada semuanya
“Kami sih nggak bilangnya sama kamu Din. Karena Tomi yang pagi tadi ngasih tahu kami semua” jawab sahabatku member jawaban
Aku menoleh kearah Tomi yang tersenyum
“Minta bantuan mereka sayang untuk pindah kamar sama syukuran”
Tentu saja aku langsung melongo
“Syukuran?, kak kita saja belum ke dokter kok sudah mau syukuran sih?” protes ku dengan wajah menegang
“Saya disini……” ucap seorang perempuan yang kira-kira umurnya tidak jauh dengan kami muncul dari dalam yang membuatku menelan ludah
“Gue tahu semuanya. Laki ku sudah cerita. Makanya sekalian dokter spesialis OPGin gue bawa” jawab Mila
__ADS_1
Entah aku harus bilang apa sekarang. Semuanya membuatku speechless, aku hanya bisa menatap penuh cinta kearah Tomi dan memandang haru kearah semua keluarga besar ku
“Karena aku sangat mencintaimu……” lirih Tomi yang membuat wajahku terasa panas