
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Aku lebih banyak diam. Dan sepertinya itu menarik perhatian ibunya Tomi padaku yang duduk di sebelahnya.
Kudengar beliau menarik nafas panjang kemudian aku menoleh ke arahnya dan memaksakan sebuah senyum kaku ke arah beliau.
"Apa kamu keberatan Din dengan cara kami seperti ini?" tanya beliau
Kembali aku terdiam dan hanya bisa memasang senyum kaku ke arahnya.
"Seperti yang Kami bilang tadi Din, ini memang sengaja kami lakukan karena kami tidak ingin kamu mengulur-ngulur terus waktu pada Tomi. Padahal kamu tahu bahwa Tomi itu sangat mencintai kamu, ya kan?" tanya Pak Burlian yang membuatku langsung menundukkan kepala.
Tomi yang duduk di depan bersama Pak Burlian menoleh ke belakang, dan jelas tampak olehku wajahnya menyiratkan sebuah kesedihan.
"Maafkan kakak Din jika ini membuatmu kecewa. Ya sebenarnya sih, kakak itu ingin mengetahui bagaimana perasaan kamu sama kakak . Yaaa walaupun kakak tahu kamu itu mencintai kakak tapi kan selama ini kamu sangat dingin sama kakak. Makanya kakak buat prank kaya gini".
Aku memandang kosong ke arah Tomi, mencoba untuk tersenyum sambil menjawab perkataannya
"Sebenarnya kakak nggak usah melakukan ini sih. Karena jujur aku takut melihat bagaimana kakak tadi ditutupi kain putih, aku beneran mengira kalau kakak itu tadi beneran mati" jawabku lirih menahan malu.
Terdengar suara terkekeh dari Pak Burlian yang saat ini mengemudikan mobil. Juga terdengar suara tawa Aldi yang duduk di belakang yang membuatku menoleh kepadanya lalu melotot kan mataku ke arahnya
"Kamu ya, kecil-kecil berani godain mbak"
Mendengar perkataanku, Aldi langsung sontak terbahak dan dia langsung menjawab.
"Ya gimana aku nggak setuju dengan rencananya Kak Tomi. Orang akunya kasihan sama Kak Tomi Mbak. Masa dia puluhan tahun jomblo nungguin mbak. Ya karena aku tahu mbak sekarang sudah singel, aku langsung nyuruh kak Tomi gas kan" jawabnya santai yang membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku menahan geram.
"Jadi gimana ini?" tanya ibunya Tomi padaku.
Aku menundukkan kepalaku kembali sambil menahan senyum karena sebenarnya aku sangat malu.
"Orang zaman dulu itu Yu bilang, kalau diam itu artinya setuju" ucap pak Burlian yang membuatku semakin malu.
Kembali Tomi menoleh ke belakang kemudian dia mengangkat alisnya berkali-kali ke arahku.
"Gimana?, setuju kan Dek?" tanya Tomi
"Tau ah" jawab ku yang membuat seisi mobil kembali terkekeh.
"Gimana Yu, apa kita putar balik nih?, kita mampir ke toko emas, sekalian cari cincin untuk pertunangan mereka malam besok?" tanya Pak Budian pada ibunya Tomi .
__ADS_1
"Kalau untuk masalah cincin, Tomi sudah menyiapkan dari dulu cincinnya" jawab ibunya Tomi yang membuatku langsung menatap ke arah Tomi yang menatap lurus ke depan.
"Seriusan kamu sudah menyiapkan cincinnya sejak lama?" tanya Pak Burlian dengan nada kaget. Sama seperti aku yang juga penasaran
"Iya Kak, cincin itu sudah lama banget aku sediakan untuk Dinda. Nggak tahu sih masih muat apa enggak di jarinya sekarang" jawab Tomi.
"Ya kalau memang sudah kamu sediakan, besok pagi kamu bawa aja dulu ke rumah Dinda. Di coba dulu sama Dinda. Kalau nggak muat bisa langsung di ganti" lanjut pak Burlian.
"Aku nggak gendut kali sehingga cincin itu nggak muat di jari aku" jawabku tanpa sadar dengan nada merajuk
Ternyata jawabanku itu kembali mengundang tawa seisi orang yang ada di dalam mobil.
"Ya maaf, kan cincinnya itu udah lama, takutnya kekecilan" sambung Tomi.
Kembali seisi mobil tertawa yang membuatku ikut tertawa juga
"Jadi kita pulang atau putar balik ini?" tanya Pak Berlian
"Pulang aja Kak, kita langsung ke rumah orang tuanya Dinda. Kita langsung bilang jika malam besok kita mau melamar Dinda lagi".
Pak Burlian menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Tomi
"Makanya Tom, lain kali jangan bodoh. Dulu sudah tinggal menunggu hari H, malah kamu yang berlaku bodoh"
Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Pak Burlian.
Kembali mobil yang dikemudikan oleh Pak Burlian menembus jalanan kota menuju ke rumah orang tuaku yang tak lama berselang sudah sampai di depan rumah orang tuaku.
Aku yang duluan sekali turun segera mengajak semuanya untuk masuk. Begitu sampai di depan pintu rumah orang tuaku, aku mengetuk pintu yang tak lama muncul Ibuku dan terlihat jelas di wajah Ibuku jika Ibuku kaget melihat siapa yang datang ke rumahnya.
Kulihat Ibuku tersenyum kaku ke arah ibunya Tomi yang menjabat hangat tangannya. Lalu Ibuku menoleh ke arahku yang ku balas dengan senyum kecut.
Ibuku langsung mempersilahkan mereka semua masuk. Kemudian Ibuku menarik ku ke dalam rumah dan langsung bertanya padaku, Apa tujuan mereka semua datang ke rumah ini.
"Panggil Ayah saja Bu biar lebih jelas. Karena kalau ibu bertanya sama aku, nanti aku salah jawab lagi" jawabku menjelaskan pada Ibuku.
Ibuku hanya menarik nafas panjang. Kemudian beliau masuk ke dalam kamar yang ternyata Ayahku sedang tidur siang. Kemudian aku berpindah ke belakang, membuatkan teh hangat dan juga menyuguhkan cemilan kepada Pak burlian dan yang lainnya yang saat ini berada di depan.
Ayahku muncul dengan senyum khasnya, senyum yang sangat ramah ketika melihat Pak Burlian dan juga ibunya Tomi. Sedangkan Tomi kulihat wajahnya berubah menjadi tegang.
__ADS_1
Mereka langsung mengobrol berbasa-basi sebentar sampai akhirnya pak Burlian menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah ini yang membuat ayah dan ibuku saling toleh.
"Melamar Dinda lagi?" tanya Ayahku dengan nada kaget
Pak Burlian menganggukkan kepalanya dengan cepat begitu juga dengan Tomi .
Ayahku langsung menoleh ke arahku yang duduk di sebelah ibuku.
"Kami tidak bisa memutuskan, karena semuanya berada di tangan Dinda" jawab ayahku.
Aku yang menjadi perhatian semua yang ada di dalam ruangan ini, semakin gugup dan tidak tahu harus menjawab apa. Sampai akhirnya Ayahku bertanya kepadaku, Apakah aku menerima lamaran Tomi atau tidak. Aku melihat ke arah wajah Tommi yang menatap lekat ke arahku, dan tatapan matanya menyiratkan penuh pengharapan.
Dengan pelan aku mengangguk yang membuat Tomi, Pak Burlian dan ibunya Tomi menarik nafas lega.
"Jadi lamaran kami ini diterima kan?" tanya Pak Burlian dengan antusias yang kembali aku jawab dengan anggukan kepala.
"Yess!!!" Jawab Tomi semangat dengan mengepalkan tangannya yang membuat aku tersenyum melihat kelakuannya.
"Tapi ada syaratnya" ucapku memotong selebrasi kebahagiaan Tomi
Dan Tomi yang mendengar ucapanku langsung menoleh cepat ke arahku.
Syarat apa Din?" tanya ibunya Tomi dengan gesture gelisah
"Syarat apapun dari kamu akan kami terima dan kami akan berusaha untuk memenuhinya" tambah beliau lagi.
Aku menoleh ke arah ibuku yang juga menoleh ke arahku. Kemudian aku menatap dalam pada wajah kedua orang tuaku.
"Katakan saja Nak, apa syarat dari kamu" ucap Ayahku
"Jika kamu memang memiliki syarat agar Tomi bisa menikahi kamu, maka katakanlah" .
Aku menelan ludahku mendengar perkataan Ayahku. Lalu Aku menoleh ke arah Tomi yang juga saat ini menatap dalam ke arahku.
"Aku nggak mau tunangan" jawabku pelan sambil menunduk
"Alhamdulillah, berarti apa yang ada di kepala kamu itu sama seperti yang ada di pikiran bapak" ucap pak Burlian begitu mendengar jawabanku.
"Maaf sebelumnya Bapak, saya kembali berbicara. Sebenarnya saya juga berpikiran sama seperti Dinda. Saya ingin antara Dinda dan Tomi itu tidak usah tunangan"
__ADS_1
"Bila perlu malam besok kita lamaran dan hari Minggu nanti kita langsung menikah. Benar apa yang dikatakan oleh Dinda. Nggak perlu tunangan, yang kami takutkan adalah, pertama Dinda kembali berubah pikiran dan yang kedua kami takut adik kami Tomi kembali berulah".
Aku langsung menelan ludah mendengar ucapan Pak Burlian.