
Yesa masih saja menangis dan aku membiarkannya sampai dia melepaskan semua sesak di dadanya. Aku hanya menarik nafas panjang melihatnya yang terus menangis. Sampai akhirnya, Yesa mengusap kasar wajahnya kemudian aku memberinya gelas minuman dingin yang sejak tadi belum disentuhnya
“Mungkin ini karma aku karena aku telah jahat sama kamu” ucapnya setelah dia meletakkan gelas yang tadi diambilnya dariku
Aku menggeleng
“Mungkin bukan dari aku saja. Mungkin jauh sebelum kamu kenal mas Adi, kamu juga ada menyakiti hati perempuan lain. Mungkin doa wanita itu yang di jabah sama Tuhan”
Yesa tersenyum kecut, kemudian kembali menarik nafas panjang.
“Mungkin kamu benar Din. Maklumlah wanita sepertiku ini memang tugasnya menggoda laki-laki. Tidak peduli dia mau suami orang atau single, tahu kami uang. Dan bisa jadi juga ada banyak hati wanita yang sakit karena ulahku, yang mengakibatkan mereka menyumpahiku. Dan mungkin karena inilah, makanya aku menerima nasib malang akibat perbuatanku sendiri”
“Sudahlah nggak usah dibahas, itu urusan pribadi kamu. Jika kamu sadar kalau perbuatan kamu ini banyak mudoratnya, ada baiknya kamu tinggalkan pekerjaan ini. Masih banyak kok Yes pekerjaan halal. Janganlah gengsi, kamu kalau nurutin gengsi ya gini jadinya. Aku Cuma kasih saran, jika suatu hari nanti kamu mau berhenti dari pekerjaan kamu ini, ambillah lagi anakmu. Asuh dia, kasihan jika dia harus tinggal sama orang lain”
Yesa menarik nafas panjang, dan terlihat matanya kembali berkaca-kaca
“Sebenarnya aku punya anak lain selain Karen, Din”
Aku langsung melongo mendengar ucapannya, dan makin menatap penasaran padanya
“Laki-laki. Dan sama seperti Karen, dia aku kasih sama orang. Dan aku kembali terjun kedunia hitam, sampai akhirnya aku bertemu mas Adi”
Aku diam, aku tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar ucapannya. Dalam hati aku kasihan akan nasibnya, tapi satu sisi aku juga kesal karena gampang sekali dia memberikan anaknya pada orang lain. Nggak mikir bagaimana psikis anaknya apa ya?. Oke kalau anaknya benar-benar diasuh sama orang, lah kalau disiksa?. Aku jadi bergidik ngeri membayangkannya
“Kamu mau kan Din menyampaikan permintaan maaf aku sama anak gadis kamu?. Sampaikan Din sama dia, aku benar-benar menyesal”
Aku mengangguk dan kembali menarik nafas panjang
“Naya itu sampai detik ini masih membenci ayahnya. Kamu tahulah Yes bagaimana perasaan anak ketika melihat orang tuanya berpisah, terlebih mas Adi juga melakukan tindakan kriminal sama aku. Naya itu sangat sayang sama ayahnya, tapi ketika melihat video kalian bertiga, amarahnya tak bisa terkendali. Dan aku harap, kamu jangan pernah muncul di depan kedua anakku. Karena mereka masih dendam sama kamu”
“Permintaan maaf kamu akan aku sampaikan. Dan aku harap kamu juga memaklumi kemarahan Naya”
Yesa mengangguk sambil tersenyum getir, kemudian aku menoleh ke arah pengunjung lain yang mulai berdiri, dan kulihat memang jam istirahat kantor akan berakhir. Kemudian aku menyeruput minuman dingin hingga tandas kemudian kembali menatap kearah Yesa
“Aku duluan ya, jam kantor sudah mau habis”
Yesa mengangguk sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Dan aku menyambut uluran tangannya, kemudian aku berusaha untuk berdiri
“Biar aku bantu” ucap Yesa cepat ketika dilihatnya aku agak kesulitan untuk berdiri karena kakiku terasa kram
“Kamu nggak apa-apa kan Din?” tanya Yesa ketika aku sudah berdiri walau belum terlalu sempurna
__ADS_1
Aku mengangguk, kemudian membetulkan seragam dinasku. Dan Yesa terus memandang khawatir ke arahku
“Aku antar aja ya?” tawarnya
“Nggak usah, kamu kalau mau pulang, pulang aja. Aku bisa kok ke kantor sendiri. Toh kantor aku kelihatan dari sini” ucapku
Yesa mengangguk sambil tersenyum mendengar tolakanku
“Kamu hamil lagi Din?” tanya Yesa lagi ketika aku memakai sepatu
Aku menoleh kemudian mengangguk
“Ya ampun, selamat yaaa……” ucapnya refleks dengan merangkul bahuku.
Aku kembali tersenyum dan mengusap perutku yang memang mulai kelihatan besar karena seragam dinasku terlihat ngepress di tubuhku saat ini
“Hati-hati Din…..” ucap Yesa ketika aku berjalan meninggalkannya. Aku mengangkat tanganku kemudian melambai kearahnya
“Biar aku yang bayar!” kembali terdengar Yesa berteriak ketika aku berdiri di depan penjual warteg. Aku menoleh kearah Yesa dengan menggelengkan kepalaku
“Anggaplah aku ngangsur hutang aku karena telah banyak makan uang kamu” jawab Yesa yang sekarang telah berdiri di sebelahku dan sedang membuka dompetnya. Memberikan selembar uang merah kearah penjual warteg yang menerimanya dengan mengembangkan senyum
“Nggak gitu juga kali Yes” jawabku sambil menepuk bahunya
“Malu ya Din jalan sama pelacur?” ucapnya ketika aku terus menolak tawarannya
Aku segera mendecak, kemudian segera menggandeng tangannya. Membawanya menyeberang jalan raya yang tidak terlalu ramai tersebut. Yesa tersenyum ketika kami telah sampai di depan gapura kantor, dan aku memegang bahunya
“Aku harap kamu memikirkan ucapan aku tadi. Carilah pekerjaan halal, walaupun tidak sekarang. Setidaknya suatu hari nanti kamu bukanlah wanita malam lagi”
Yesa mengangguk, kemudian mendekapku. Untuk pertama kalinya selama hidupku, aku dipeluk oleh orang yang sempat aku benci. Orang jahat yang menghancurkan hidup dan kebahagiaanku
“Terima kasih Din atas kebesaran hati kamu” lirih Yesa ketika dia memelukku
Aku mengusap-usap punggungnya, kemudian setelah Yesa melepas dekapannya padaku, aku menggenggam erat tangannya.
“Aku berharap kamu menemukan kebahagiaan kamu Yes, tanpa kamu merebut kebahagiaan orang lain”
Yesa mengangguk, kemudian aku menoleh kearah parkiran ketika mendengar alarm salah satu mobil berbunyi
“Aku pergi Din” ucap Yesa cepat sambil menarik tangannya. Kemudian dia langsung setengah berlari ketika menyeberang jalan raya. Aku yang tahu jika alarm itu berasal dari mobil pak Burlian berusaha mencari dimana keberadaan beliau
__ADS_1
Kemudian aku kembali melihat ke seberang jalan, dimana aku sudah tidak melihat keberadaan Yesa lagi. Dengan menarik bahu aku segera berbalik dan berjalan kearah kantor
“Ngapain perempuan itu menemui kamu?”
Aku langsung berbalik dan terkaget-kaget mendengar suara pak Burlian yang keluar dari balik pos keamanan
“Bapak bikin spot jantung aku saja deh….” Jawabku sambil mengusap dadaku
“Dia nggak macem-macem kan?” pak Burlian kembali bertanya tanpa mempedulikan kekagetanku
“Nggak kok pak. Dia minta maaf sama aku. Dan menyesali perbuatannya”
Pak Burlian menaikkan alisnya
“Jangan percaya sama mulut wanita seperti itu Din. Kamu kan wanita, kamu tahu lah mana yang tulus dan mana yang modus”
Aku menarik nafas dalam kemudian terkekeh mendengar jawaban pak Burlian
“Bagaimana kabar Berlian?” tanya beliau lagi ketika kami sama-sama berjalan masuk
Pak Burlian memang beda sendiri memanggil anak pertama kami. Jika kami memanggilnya dengan sebutan Yusuf, maka beliau akan memanggilnya dengan nama Berlian. Bahkan istri dan keempat anak beliau memanggil Yusuf dengan sebutan Berlian pula.
“Sehat pak. Dan sekarang sepertinya dia mau belajar duduk” jawabku
Wajah pak Burlian mengembangkan senyum ketika mendengar jawabanku
“Bapak kok tahu kalau tadi ada Yesa?” tanyaku penasaran. Karena aku saja tidak tahu jika tadi ada Yesa, ehh kok beliau malah tahu?
“Yang makan di warteg tadi ada teman kakak, dan dia langsung chat kakak. Dia tahu jika kamu itu istri Tomi, makanya dia nanya kenapa kamu di luar dan dengan seorang perempuan yang menangis di depan kamu”
“Karena penasaran kakak mintalah teman kakak itu fotoin kalian. Dan ternyata benar, wanita itu Yesa. Makanya sejak tadi kakak nunggu di pos jaga ini. Dan meminta pada teman kakak itu untuk melihat keadaan kamu, jangan pergi sampai batas jam kantor bubar”
Aku kembali terkekeh
“Bagaimana jika aku masih disana padahal jam kantor sudah mulai pak?” tanyaku lagi
“Gampang, tinggal kakak suruh pemilik warteg untuk ngusir kalian” jawab pak Burlian sambil tertawa pula
“Kakak harap kamu jangan berurusan dengan wanita itu lagi Din. Repot kakak jika Tomi menyalahkan kakak jika ada apa-apa sama kamu di kantor ini. Lagian tumben-tumbennya kamu makan di luar. Apa Tomi nggak ngirim jatah makan siang seperti biasanya?”
“Ngirim kok pak. Tapi aku tiba-tiba pengen aja makan diluar. Mungkin memang ada feeling jika Yesa nunggu aku di sana” jawabku santai
__ADS_1
Pak Burlian menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban santaiku. Dan ketika aku masuk ke ruanganku, jatah makan siangku masih utuh tidak disentuh sama sekali. Sementara milik teman-temanku yang lain sudah habis tak tersisa
“Kamu dari mana dengan pak Bos?” tanya pak Kusno begitu aku duduk di kursi kerjaku