
Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapan Arik. Lalu aku kembali menoleh kearah Tomi yang tampak berwajah murung ketika menatapku
“Kak Tomi nggak pulang?”
Tomi memaksakan sebuah senyuman ke arahku sambil menggelengkan kepalanya. Kulihat wajahnya yang tadi tampak mendung berangsur mulai cerah ketika aku menatap dalam matanya. Dan entah kenapa aku dalam hati merutuki perasaanku yang kacau ketika menatap matanya
“Ya ampun sampai lupa” ucap Rohaya memecah kekakuan dengan mengambil kantong kresek yang tadi diletakkannya di lantai
“Dinda bolehkan Mil makan ini?” tanya Rohaya sambil mengangkat sebuah plastik berkuah merah yang membuat mataku langsung melotot senang
“No. Dinda masih makan makanan rumah sakit” jawab Mila cepat dengan menarik kasar plastik yang ada di tangan Rohaya yang membuat aku langsung menatap kecewa kearah Mila
“Kak Tomi mau kan belikan aku bakso kaya gitu?”
Tomi melirik kearah Mila yang langsung melototkan matanya ke arahku
“Oops aku lupa. Kok aku minta bantuan kakak ya?” ucapku bingung sendiri
“Kamu menyandar lagi” ucap Mila membantu ku berbaring. Dan aku menurut saja saat Mila membaringkan tubuhku. Lalu ibuku menyuapiku dengan makanan rumah sakit yang tadi diantar oleh seorang perawat
“Buah bolehkan Mil?” tanya Vita yang saat ini sudah mengupaskan buah anggur untukku
Mila mengangguk yang membuatku langsung membuka mulutku ketika Vita menyuapiku
“Lisa sama Nanda mana?” tanyaku sambil terus makan buah anggur yang disuapkan oleh Vita
“Kerja lah. mereka bilang nanti sore akan kesini” jawab Putri
Arik dan Naya sepertinya tak mau jauh dariku. Keduanya bahkan sampai duduk di sebelah aku duduk dan sesekali keduanya mengusap pelan wajahku, tampak sekali kerinduan di mata mereka padaku. Ketiga sahabatku dan juga keluargaku sampai sore berada di rumah sakit ini. Bahkan Tomi tidak mau pulang ketika semuanya pulang
Naya pun demikian, dia bersikeras untuk tetap menungguiku di rumah sakit walau aku sudah memintanya pulang
“Biar ayah saja yang nungguin ibuk. Ibuk yakin ikan sudah dikirim” jawabku mencoba memberi pengertian pada Naya
Dan kembali sudut hati Tomi merasakan nyeri mendapati jika Dinda, istrinya sama sekali tidak mengingat jika saat ini dialah yang menjadi suaminya, bukan Adi
Tapi Naya tetap keras kepala yang akhirnya membuatku mengalah dan membiarkannya menungguiku di ruangan ini. Sementara Tomi keluar bersama dengan Mila
“Apa Dinda amnesia?” tanya Tomi begitu keduanya sudah berada di luar
Mila menarik nafas panjang kemudian menggeleng
“Tidak, hanya saja memori otaknya mundur kebelakang. Sehingga yang diingatnya adalah masa lalunya. Tapi pihak rumah sakit akan melakukan terapi untuk mengembalikan ingatannya. Dan kami yakin, memori otak Dinda akan cepat pulih karena otaknya hanya mengalami trauma saja”
Tomi menarik nafas panjang mendengar penjelasan Mila. Kembali dia mengusap wajahnya setelah tadi dia menengadahkan kepalanya terlebih dahulu
“Aku sih berharapnya memori otak Dinda itu kembali kemasa dia sakit hati sama Adi, sehingga dia membenci Adi dan dia juga membenci kakak. Karena yang sangat aku inginkan adalah Dinda lepas dari dua lelaki bajingan yang telah menghancurkan hidupnya”
Tomi terdiam dan hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah mendengar ucapan santai Mila. Kemudian keduanya menoleh kearah pintu dimana Naya berdiri di sana
“Kenapa sayang?” tanya Tomi dengan wajah tegang
__ADS_1
“Aunty, ibuk mau ke toilet, bisa bantu?”
Mila mengangguk dan segera meninggalkan Tomi yang hendak ikut masuk
“Om ngapain masuk lagi? Kan ibuk aku nggak ingat sama om” ucap Naya yang sekali lagi membuat Tomi harus menelan ludahnya dengan susah payah
Mila yang masuk kembali langsung berjalan ke arahku yang telah duduk
“Mau ke toilet” ucapku padanya yang menganggukkan kepala dengan membantuku turun
Tapi baru saja kakiku turun dan aku berdiri, kurasakan tubuhku oleng yang menyebabkan aku nyaris terjerembab. Suara penyangga infus yang jatuh membuat Tomi yang menunggu diluar segera menerobos masuk. Dilihatnya tubuh Dinda yang disangga sekuat tenaga oleh Mila dan Naya. Sementara selang infus telah lepas dari tangan istrinya yang menyebabkan darah mengalir dari nadinya
“Biar aku” ucap Tomi yang mengambil alih tubuhku
Dengan kuat dipeganginya tubuhku dan Mila langsung mengambil kain kasa dan menekannya di nadiku yang terus meneteskan darah.
“Ke toiletnya sama kakak saja ya?” ucapnya yang kujawab dengan menggelengkan kepala.
Aku berusaha memejamkan mataku untuk mengurangi rasa pusing dikepalaku. Dan tubuhku yang sejak tadi dipegangi oleh Tomi sepertinya tak ingin dia lepas, tapi perutku yang kembali melilit memaksaku untuk mengajak Mila kembali ke toilet
“Biar aku yang antr Mil. Nanti kamu yang nungguinnya” ucap Tomi yang langsung mengangkat tubuhku tanpa permisi
Aku tentu saja kaget dengan gerakan refleks Tomi tapi akhirnya aku pasrah saja ketika dia mengangkat dan mendudukkan di toilet
“Aku bisa sendiri. Kamu tunggu di luar saja” pintaku pada Mila yang masuk. Kemudian aku juga meminta pada Naya untuk menunggu diluar
Tomi menunggu gelisah dengan wajah tegang selama istrinya di dalam toilet. Tapi rasa gelisah dan tegangnya segera berubah lega ketika dia mendengar suara Dinda memanggil Naya
“Please om, ibuk aku nggak ingat kalau om itu suaminya. Jadi om jangan makin merusak ingat ibuk aku”
Tomi mundur dan membiarkan Naya yang masuk. Tak lama keduanya keluar, dan tampak sekali jika Dinda tertatih ketika berjalan. Dan Tomi yang sudah sejak tadi tak tahan melihatnya segera kembali mengangkat dan menggendong tubuh istrinya
Degup jantungku kian berpacu cepat ketika jarak wajahku dan wajah Tomi begitu dekat. Tapi aku berusaha menahan degup jantungku agar tak terdengar oleh Tomi jika saat itu aku begitu gugup. Dan kembali dengan pelan Tomi meletakkan tubuhku di ranjang dan membetulkan posisi bantal agar aku nyaman bersandar
“Mil, kok diperut aku ada bekas luka ya? Seingat aku, aku tidak punya luka. Satunya kayanya sudah lama. Tapi satu lagi baru. Kamu tahu Mil apa penyebabnya? Apa ini yang menyebab kan aku sampai di rumah sakit ini?”
Diam. Tiga orang yang ada di hadapanku saat ini tidak ada satupun yang menjawab pertanyaanku sampai akhirnya aku sendiri yang menarik nafas panjang dan membiarkannya menjadi misteri
Besoknya dan besoknya lagi, keluargaku datang secara bergantian begitu juga dengan teman satu kantorku. Bu Halimah dan Nadia sampai menangis begitu lama begitu mereka masuk ke ruangan dan memelukku. Tapi ada satu hal yang membuat ku merasa sangat bahagia ketika pak Burlian dan istrinya yang membesukku, anak lelaki mereka
“Bapak sejak kapan ada anak cowok?” tanyaku sambil mengambil anak mereka dan menciuminya dengan sayang
Kulihat Tomi, yang saat itu ada di dalam ruangan bersama ibu dan adik-adiknya menangis ketika aku mendekap sayang anak pak Burlian
Istri pak Burlian hanya tersenyum ketika aku menanyakan itu pada mereka, dan anehnya anak cowok yang berbadan besar itu begitu berada di pangkuanku langsung anteng. Sejak tadi begitu mereka masuk, dia bergerak gelisah tapi langsung diam dan tampak menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit aku ungkapkan
“Tante cantik, iya? Sampai kamu lihatin tante sebegitunya?” tanyaku sambil kembali menciumi pipinya dengan sayang
“Namanya siapa pak?” tanyaku
“Yusuf. Lengkapnya Yusuf Berlian Alkahfi” jawab Tomi cepat
__ADS_1
“Yusuf?” lirihku dengan bingung. Tomi mengangguk
“Yusuf?” aku kembali bergumam dengan memejamkan mataku
Air mata Tomi kian mengalir deras melihat Dinda seolah sedang berusaha memikirkan sesuatu. Dan dia sangat berharap jika Dinda ingat padanya dan juga pada anak mereka.
“Jangan dipaksa Din…..” lirih Mila yang membuatku membuka mata dan tersenyum getir
Hari ini, sabtu siang. Delapan hari pasca aku sadar. Seperti biasa aku akan diterapi oleh seorang dokter spesialis. Dan aku mulai menceritakan semuanya padanya sepanjang yang aku ingat. Sampai aku menyebutkan keenam sahabatku yang sangat aku sayangi padanya. Hingga satu jam berikutnya keenam sahabatku masuk dan dokter membiarkan kami bertujuh asyik dengan dunia kami tanpa menghiraukan dirinya yang menjadi pendengar cerita kami
“Kapan dokter Dinda boleh pulang, kami mau ajak dia ke ecoresto. Mau kan bestie?”
Aku mengangguk cepat kearah Lisa yang duduk di sebelahku sambil merangkul bahuku
“Lain ya yang gajian. Mentang-mentang tanggal muda” seloroh Vita yang disambut tawa oleh yang lain
“Tanggal muda? Inikan pertengahan bulan say. Tanggal mua dari mana?” protesku pada mereka yang masih terkekeh
“Ya ampun bestie, ini itu tanggal delapan. Bukan pertengahan bulan” jawab Nanda tak sadar
Mila dan dokter terapis saling toleh melihat reaksi terkejut dari wajah Dinda
“Delapan? Please deh, kemarin itu tanggal empat belas ya. Kok hari ini tanggal delapan sih? Ngaco kalian”
Semuanya diam, dan tampak saling toleh. Dan membuatku makin penasaran
“Mil, kamu inget kan Mil malem kemarin itu kita kedokter karena aku periksa anak aku yang menangis terus. Nah itu kan tanggal empat belas Juli Mil. Kok Nanda bilang ini tanggal delapan. Delapan Juli maksudnya?”
“Delapan September, Din…..” jawab Mila dengan wajah tegang
“What???? Delapan September?????” pekikku
Aku mengusap wajah dan kepalaku dengan bingung lalu menatap kearah semua sahabatku yang wajah mereka menegang bahkan dengan mata berkaca-kaca
“Aku periksa anak aku?” gumamku kembali tanpa sadar seolah pada diriku sendiri
Kemudian aku meraba perutku
“Mil, aku hamil saat itu. Tapi kok sekarang perut aku rata?”
Aku kembali mengusap wajah dan kepalaku dengan bingung lalu menoleh kearah dokter terapis yang saat ini memegangi tanganku
“Keluarkan. Keluarkan semua yang mbak ingat” ucapnya
Aku menghembus nafas panjang dengan menggelengkan kepalaku kearahnya
“Ayo mbak, secara tidak sadar ingatan mbak sudah kembali ke masa kini” ucapnya memberi semangat padaku
“Yusuf…… aku punya anak bernama Yusuf. Dokter, anak pak Burlian kemarin itu anak aku dokter. Dia anak aku. Bukan anak pak Burlian ” jawabku seperti orang linglung
Sontak saja jawabanku mengundang pekik tertahan dari seluruh sahabatku sehingga mereka langsung menubrukku dan mendekap ku sambil menangis
__ADS_1