
Aku menatap layar hp dengan heran ketika melihat nama yang tertera
"Mas Adi nelpon?, kan dia di penjara?" gumamku heran
Karena aku tak mengangkat akhirnya panggilan tersebut terputus dan tak lama kembali hp ku berdering
"Mau apa sih dia?" gerutuku kesal
Tapi tak urung panggilannya aku angkat juga
"Din, ini aku"
Aku langsung memutar mataku dengan malas begitu mendengar suara wanita
"Jangan diputus Din, aku mohon" sambung suara di seberang yang membuatku harus menarik nafas panjang
"Iya ada apa?" jawabku malas
"Ini Din, aku mau nanya masalah rukonya mas Adi"
Aku langsung mendecak kesal mendengar tujuan Yesa meneleponku
"Aku nggak tahu menahu urusan ruko itu, aku baru saja pulang dari rumah sakit akibat ditusuk oleh suami kamu" jawabku ketus
Dan Yesa yang diseberang hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban Dinda
"Tolong Din, aku sudah bicara sama mas Adi, dia minta sama aku untuk bicara sama rombongan pak Endro, kamu bisa tidak menghubungi mereka?"
"Kenapa harus aku?, kamu bisa hubungi sendiri kan?"
"Mereka pasti nggak yakin Din, semalam aku juga sudah minta bantuan pak Bara tapi sampai detik ini belum ada jawaban"
Aku menghembus nafas panjang
"Jujur ya Yes, aku sangat malas berurusan sama kamu terlebih sama suami kamu itu, tapi demi kemanusiaan oke aku akan bantu, tapi aku hanya bantu ngasih nomor mereka ke kamu, terus kamu buka blokir nomor mereka agar kamu bisa nelpon mereka, selebihnya maaf ya Yes aku nggak bisa"
Selesai berkata seperti itu aku langsung memutus telepon dari Yesa dan segera membagi kontak pak Endro dan pak Alfian agar Yesa sendiri yang menghubungi mereka
Tak lama aku mendapatkan balasan ucapan terima kasih dari perempuan itu yang tidak aku gubris lagi karena di luar terdengar ketukan pintu
Mbak Sri yang berada dibelakang segera berlari ketika didengarnya ada suara ketukan diluar
"Bestie......" aku langsung menoleh kearah pintu ketika muncul keenam sahabatku
"Ya Tuhan kebiasaan deh kesini nggak ngasih kabar" protes ku sambil cipika cipiki pada mereka berenam
"Sengaja biar kami bisa memergoki kamu sedang berduaan sama kak Tomi" jawab Mila santai sambil meletakkan tas cukup besar berwarna hitam di atas meja
Aku segera mencibir kearahnya diikuti terkekeh dari yang lain
"Apaan nih?" tunjuk ku kearah tas Mila
__ADS_1
"Alat untuk meriksa kamu" jawabnya yang masih berdiri dengan langsung menarik bajuku tanpa permisi
"Masih sakit?" tanyanya ketika aku meringis
Kelima sahabatku yang lain langsung melongok kan kepala mereka melihat lukaku
Kembali tanpa permisi Mila langsung membuka perban lukaku yang membuat sebagian sahabatku langsung bergidik ngeri
Dan kembali aku harus meringis ketika Mila membersihkan lukaku dengan cairan infus lalu dia tampak mendekatkan kepalanya kearah lukaku bahkan meminta Putri untuk menghidupkan senter hpnya
"Kenapa Mil?" tanyaku takut
"Sudah mulai agak kering, makanya kamu jangan bandel kalau aku bilang, disuruh stay di rumah sudah ngantor, awas saja kalau kamu salah makan"
Aku menarik nafas lega mendengar jawabannya walaupun diiringi dengan omelan
"Kalian nggak jalan sama keluarga kalian?" tanyaku sambil melihat kearah yang lain
"Nggak, kita lebih milih nengok kamu" jawab Rohaya santai yang membuatku langsung menatap mereka dengan sayang
"Aaaahhhh....kaliaaannnnn" jawabku melow
"Makanya cepat sembuh, biar kami nggak mikirin kamu terus" jawab Mila yang sekarang mengoleskan salep ke lukaku
"Nggak usah diperban lagi, karena sudah agak kering, yang penting ketika mandi jangan sampai basah saja lukanya" lanjutnya lagi sambil menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya lalu mengusap kepalaku
"Ini obatnya diminum dua kali sehari ya, jangan sampe telat" lanjutnya sambil mengambil obat di dalam tasnya lalu memberikannya padaku
Selagi kami mengobrol sambil diselingi makan dan tertawa, dari arah luar terdengar salam dan muncul Tomi
Dan seketika aku langsung memejamkan mataku dengan malu akibat ulah mereka
"Bawa apa kak?" tanya Vita yang langsung melirik kearah kantong besar yang dibawa Tomi
"Oh, ini kiriman ibuk untuk Dinda" jawab Tomi menyerahkan kantong tersebut ke arahku
"Aku aja yang nerima" sambar Putri dengan cepat yang langsung disambut riuh rendah sahabat-sahabatku
Tomi hanya tersenyum melihat kearah kami dan dia masih tampak berdiri sampai akhirnya Mila yang duduk di sebelahku pindah tempat
"Kakak mau duduk dekat Dinda kan?" ucapnya yang langsung berdiri dan kembali membuat sahabatku yang lain kembali menggoda kami
Dan Tomi tanpa malu langsung duduk di sebelahku dan langsung mengarah ke arahku
"Masih sakit?"
"Cieeee......."
Aku kembali mendecak karena sahabatku lagi-lagi menggoda kami
"Nggak, barusan diobatin sama bu dokter" jawabku melirik kearah Mila yang tengah merebut kantong kresek bawaan Tomi dari pangkuan Putri
__ADS_1
"Waahhh jadi bener ya, cinta itu obat mujarab, tadi waktu Mila memeriksanya, Dinda meringis kesakitan tuh lah kok kak Tomi datang langsung nggak sakit lagi" goda Nanda yang kembali membuat heboh di ruangan ini
Aku refleks menempelkan kepalaku ke dada Tomi saking malunya aku akibat selalu digoda mereka, tapi ternyata ini bumerang untukku, karena keenam sahabatku makin gencar menggoda kami
"Ahhh so sweet nyaa...." ucap mereka iri
Dan aku dengan cepat menarik kembali kepalaku dari dada Tomi dan melemparkan bungkus obat yang tadi diberikan Mila pada Rohaya yang duduk tak jauh dariku
"Sudah ah, kasihan Dinda, dia nggak bisa ketawa lepas kaya kita karena lukanya" lerai Mila yang telah membuka kantong kresek bawaan Tomi
"Waaawww...." yang lain langsung berkomentar ketika kotak kue dalam kantong kresek tersebut terbuka
Mila dengan cepat memukul tangan Putri yang telah terulur kearah kue lapis legit yang memang menggoda selera itu
"Izin dulu sama yang punya"
Aku tersenyum
"Makan aja, nggak papa kok"
Dengan segera Lisa berjalan kebelakang dan muncul telah membawa piring dan pisau, di belakangnya mengekor mbak Sri yang membawa nampan air dingin
"Buah dari kami tolong dicuci dan dikupas ya bik" ucap Nanda sambil memberikan beberapa kantong buah kearah mbak Sri yang menganggukkan kepalanya
Jadilah kami makan bersama-sama. Dan kembali Tomi bersikap sangat manis padaku sehingga kembali aku jadi bulan-bulanan sahabatku
Hingga jam empat mereka belum juga tampak akan beranjak dari rumahku ketika Reni dan Siska masuk
"Nganter uang toko buk" ucap mereka yang terlihat malu
Aku segera melambaikan tanganku kearah mereka dan meminta pada mereka untuk mendekat ke arahku
"Pak Tomi uang toko kedua setor sama bapak apa setor bu Dinda?"
Aku yang sedang membaca catatan Reni langsung menoleh kearah Tomi yang menggelengkan kepala serta sedikit melotot kan matanya kearah Siska
Lalu aku menoleh kearah Siska yang refleks menutup mulutnya
"Ini ada apa?" tanyaku penuh selidik kearah mereka berdua
Tomi menelan ludahnya sedangkan Siska hanya bisa menundukkan kepalanya
Sementara keenam sahabatku saling toleh dan saling sikut lalu ikut menatap kearah Tomi pula
"Sis....?" tanyaku pada Siska yang tampak gelisah
Lalu aku menurunkan buku dan menatap kearah Reni
"Kamu tahu Ren?"
Reni menggeleng, dan kulihat wajahnya juga tampak tegang
__ADS_1
"Ini maksudnya apa?" ulang ku
Tomi menggaruk kepalanya dan berusaha tersenyum ke arahku yang makin menatap curiga kearahnya