Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Meminta Adi Cepat Pulang


__ADS_3

Aku memasang senyum kaku kearah Tomi yang duduk di depanku. Karena pembeli adalah raja, maka aku harus ramah pada setiap pembeli yang datang ke toko ku, siapapun itu termasuk Tok cat yang aku benci


"Ada yang bisa kami bantu Tom?, mungkin jika karyawan saya tidak menemukan barang yang kamu cari, saya sendiri yang akan mencarinya"


Tomi masih diam memandang wajah Dinda, wajah yang selama belasan tahun ini dirindukannya


Aku sedikit membuang mukaku karena Tomi terus menatapku. Dan parahnya lagi mengapa hatiku masih berdegup kencang.


"Aseem!" geram ku dalam hati pada diriku sendiri


"Tom?, hei kok malah bengong?"


Tomi tersenyum manis sekali. Senyum yang dulu sangat aku suka, senyum yang selalu bikin aku rindu, senyum yang mampu meluluhkan hatiku ketika aku marah padanya


Kembali aku merutuk dalam hati melihat senyum manisnya, karena tak ingin terlihat gugup aku segera berdiri, berjalan kearah lemari pendingin minuman, mengambil minuman dua botol, lalu meletakkan ke atas meja


"Minum Tom"


"Terima kasih"


Aku segera membuka botol minuman teh, mereguknya dengan tak nyaman karena memang aku tak haus, aku melalukan itu karena aku grogi ada Tomi di depanku


"Jika kamu mau berbicara masalah pribadi sama saya tidak disini, disini tempatnya saya berjualan"


Tomi menarik nafas dalam, lalu meraih botol minuman, tidak dibukanya melainkan hanya diputar-putarnya saja


Aku yakin dia sama gugupnya seperti aku. Ahh, Tomi andai kamu tahu... batinku pilu


"Adek ada waktu untuk menemui kakak?"


Aku meletakkan botol minum yang sejak tadi aku pegang


Aku tersenyum hampa mendengar ucapannya


"Tolong sebutan antara kita bukan itu lagi. Kamu cukup panggil saya nama seperti yang saya lalukan sama kamu"


Tomi menggeleng. Ah, ternyata dia masih keras kepala


"Kakak nggak bisa dek, kakak akan terus panggil adek"


Kembali aku tersenyum hambar


"Cepatlah katakan apa mau kamu, mau beli apa, biar saya sendiri yang mengambilkan"


"Kakak mau cari maaf dari adek"


Aku merebahkan punggungku ke sandaran kursi, melihat kearah Tomi yang terus menatap wajahku


"Kita bicara diluar kalau begitu, waktunya biar saya yang buat"


Mata Tomi berbinar


"Serius dek, kapan?"


"Nantilah, saya cari waktu dulu, hari ini saya sibuk. Mungkin besok, mungkin juga minggu depan"


"Kakak tunggu"


Aku kembali tersenyum hampa mendengar nada suaranya yang sangat berharap


Tomi lalu berdiri, menoleh kearah karyawan kami yang masih sibuk karena toko ramai


"Mbak, pesanan saya tadi mana?"


Karena karyawan saya sedang melayani pembeli yang lain, aku yang handle


"Yang ini maksud kamu?"


Tomi menoleh kearah plastik yang aku pegang. Dia mengangguk.


"Berapa dek?"


Aku melihat kodenya


"Tiga puluh ribu"


Tomi segera mengeluarkan dompet dan memberiku uang lima puluh ribu dan aku memberinya kembalian

__ADS_1


"Terima kasih karena telah berbelanja di toko kami" ucapku


Tomi tersenyum, sebelum pergi dia kembali berbicara padaku


"Kakak tunggu"


Aku diam tak merespon. Lalu Tomi berjalan keluar, aku terus menatap punggungnya yang kian menjauh


...****************...


Jam istirahat aku segera ke toko satunya, begitu sampai aku segera memarkirkan motor dan segera masuk


Kulihat toko masih ramai, Reni sang kasir sampai kewalahan karena banyaknya barisan yang antri membayar


"Sudah ada yang istirahat belum ini?" tanyaku dengan suara lantang yang membuat para pembeli yang antri dan yang menunggu barang mereka menoleh ke arahku


"Saya sudah bu" tunjuk tiga karyawan kami.


"Kalau gitu gantian, ayo tiga lagi silahkan istirahat makan, ibu-ibu atau bapak-bapak yang masih menunggu barangnya dicari sama karyawan kami, harap bersabar ya" ucapku ramah


Mereka menganggukkan kepala. Aku mendekati seorang ibu paruh baya


"Barang punya ibu sudah disiapkan belum?"


"Sudah bu, tapi belum semuanya"


Aku mengangguk


"Yang nyiapin barang ibu ini siapa?"


Seorang karyawan mendekati kami sambil mengangkat sekarung tepung terigu lalu meletakkan di dekat ibu itu


"Saya bu"


"Sini kertas catatan belanjaan ibu ini biar ibu yang akan mencarinya, kamu makan dulu"


"Tapi bu?"


"Nggak ada tapi-tapian, sana makan!"


"Terima kasih bu"


"Sebentar ya bu, saya akan mengambil pesanan ibu" ucapku berlalu dari hadapan beliau


"Dia siapa Ren?, karyawan baru?" tanya seorang pembeli saat membayar pada Reni


"Sembarangan, itu bos kami"


"Ohhh, kok mau ya dia turun tangan langsung?"


"Ah, itu sih sudah biasa. Ibu Dinda memang kaya gitu. Kadang kami karyawannya sampai malu jika beliau yang turun tangan"


Para pembeli yang antri mengangguk-anggukkan kepala mereka mendengar jawaban Reni


"Tapi kok jarang kelihatan di toko Ren?"


"Beliau kerja kantoran, beliau memang jarang ke toko, seringnya bapak. Tapi ini bapak lagi pergi"


Aku membawa kardus minuman ringan lalu meletakkan di dekat karung terigu, lalu masuk lagi kedalam mencari barang lain


Setelah seluruh karyawanku makan dan kembali bekerja, aku duduk di kursi yang biasa ditempati suamiku


Aku segera membuka laptop melihat laporan barang masuk dan stok.


Kulihat Reni sedang tidak menghitung pembayaran, maka dia ku panggil


"Ren, sini kamu!"


Reni mendekat


"Duduk!"


Reni duduk di depanku


"Bapak pernah minta uang sama kamu?"


Reni diam, aku menatap tajam kearahnya yang mulai gelisah

__ADS_1


"Berarti pernah, kapan?" putus ku langsung karena dia diam


"Sering bu, hampir tiap minggu"


Aku diam, kembali menatap layar laptop


"Stok barang masih banyak, kapan sales masuk?"


"Biasanya senin bu, karena besok minggu, seluruh sales libur"


Aku menganggukkan kepala


"Ren, mulai sekarang, tiap bapak mau minta uang, kamu harus laporan dulu sama ibu, kalau bapak marah kamu telpon ibu, biar ibu datang langsung ke toko, ngerti?"


"Ngerti buk"


"Bagus, kalau kamu sekongkol sama bapak, ibu nggak segan-segan pecat kamu"


"Baik buk, saya nurut apa kata ibu" jawab Reni takut


"Ya sudah, kembali kerja!"


Lalu aku berkeliling toko, melihat stok barang, bahkan aku masuk ke area gudang penyimpanan barang melihat berapa banyak lagi barang di gudang


Kembali aku mengeluarkan handphone, berharap jika nomor suamiku aktif


Segera aku mendialnya, tersambung, tapi kembali tidak diangkat


"Kurang ajar!" geram ku


Dengan emosi aku membuka aplikasi pesan singkat, mengetik pesan


Kalau masih hidup, orang nelpon tu diangkat!!! 😡😡


Terkirim dan langsung centang biru. Itu artinya dia aktif. Segera aku menelponnya lagi.


Saat itu Adi sedang menggendong anaknya di luar, dan yang memegang hpnya Yesa.


Dengan cepat Yesa berlari ke teras


"Dinda nelpon pa!"


Wajah Adi menegang dan dengan cepat dia memberikan anak yang digendongnya pada Yesa.


"Kalian masuk sana, papa nggak ingin Dinda dengar suara anak kita"


Yesa segera masuk dan melihat dari dalam saat suaminya mengobrol dengan istrinya


"Ya buk?"


"Kemana hah?, dari tadi ditelpon nggak aktif, giliran aktif nggak diangkat, di WA di baca saja"


"Anu buk, ayah lagi di pabrik ini, lagi fokus melihat barang plastik, kira-kira barang apa yang cocok untuk kita ambil dari pabrik ini"


Aku diam, emosi yang sejak tadi pagi menumpuk rasanya kian menggunung saja mendengar alasannya


"Kapan pulang?"


"Belum tahu buk kapan, soalnya mumpung di ibukota jadi ayah mau keliling banyak pabrik"


Aku membuang nafas kasar. Aku segera duduk, mengambil botol minuman dan menenggaknya karena dadaku kian panas mendengar suara Adi


"Kamu cepat pulang ya. Tadi pagi sales datang ke toko, dia nagih. Gila kamu Adi, masa tagihan sampai lebih dari dua ratus juta???!"


"Kamu kemana kan uang toko, hah?, kamu mulai mau main-main ya sama aku, ingat Adi, sedikit saja kamu curang, tamat riwayat kamu!"


Wajah Adi terkesiap mendengar kemarahan istrinya. Dia lupa menelpon sales agar tidak menagih karena dia sedang tidak ada di tempat


Sekarang semua telah diketahui Dinda, tentu saja Dinda akan marah.


"Anu buk, itu ehmm, adduhhh...."


"Nggak ada anu-anuan, nggak ada ah eh ah eh, kamu cepat pulang, kita selesaikan urusan ini. Aku mau tahu semua kemana larinya uang itu. Bukan sedikit uang itu Adi, nyampe bengek juga kamu nggak bakal dapat uang itu dalam sehari!!!"


"Iya buk, nanti saya pulang"


Segera aku memutus panggilan, meletakkan hp dengan kasar keatas meja

__ADS_1


Karyawan toko kedua yang melihat kemarahan bos mereka untuk pertama kalinya saling melirik dan menunduk takut


__ADS_2