
Yusuf masih terus menangis walau kami sudah keluar dari dalam rumah. Arik yang duduk di belakang sampai condong ke depan dengan terus memanggil nama adiknya dan menggerak-gerakkan tangannya, berusaha membuat wajahnya jadi jelek bahkan melakukan ciluk ba, berharap agar adiknya diam. Tapi Yusuf masih saja terus menangis walau tidak kencang seperti tadi
“Ibuk fokus nyetir saja. Biar adik sama kami” ucap Naya ketika aku menoleh khawatir antara jalan dan antara Yusuf
Setengah jam rasanya sangat lama untukku sampai di klinik yang aku tuju. Akhirnya mobil yang aku kendarai masuk kearea klinik ibu dan anak tempat aku biasa periksa. Dengan cepat aku turun duluan, barulah setelahnya aku membuka pintu tempat Naya duduk. Dengan cepat aku mengambil Yusuf dari dalam gendongan Naya, kemudian kami bertiga masuk ke dalam klinik tersebut
Kembali kesabaranku harus diuji ketika antrian untuk periksa ternyata panjang. Dengan menghembus nafas panjang aku duduk di kursi antrian, dan Yusuf mungkin karena sudah kelelahan akhirnya dia diam. Dan sesekali terdengar suaranya sedikit cegukan. Beberapa ibu-ibu yang duduk berdekatan denganku menanyakan Yusuf sakit apa, aku menggelengkan kepalaku karena aku tidak tahu anakku sakit apa
“Aku shalat tadi dia nangis, nggak berhenti sampai disini barulah dia berhenti” jawabku
Beberapa dari mereka menempelkan punggung jari mereka ke kening Yusuf, dan mereka sama-sama mengangguk karena memang kening Yusuf tidak panas
“Semoga nangis biasa ya bu anaknya” ucap mereka yang kujawab dengan anggukan kepala
“Buk, tante Mila nelepon” ucap Arik memberikan hp ku
Aku segera menerima hp ku tersebut, dan berjalan agak menjauh dari tempat duduk antrian.
“Ya bestie? Kenapa?” jawabku ketika hp sudah menempel di telingaku
“Kamu dimana?”
Aku menelan ludahku ketika mendengar suara ketus dari Mila
“Rumah” jawabku berbohong
“Rumah mana? Rumah sakit?” jawabnya lagi dan nada suaranya masih seperti tadi
Aku akhirnya menarik nafas panjang dan menyebutkan klinik tempatku berada saat ini
“Tunggu disana, aku sudah di jalan. Sebentar lagi sampai”
Kemudian aku menurunkan hp dari telingaku, menarik nafas dalam dan menunduk kearah Yusuf yang mendongakkan wajahnya ke arahku
“Anak pinter, sudah nggak nangis lagi……” ucapku dengan nada bahagia sambil menciumi wajah gembulnya
Selesai itu aku kembali ketempat dudukku semula. Sementara Arik dan Naya duduk di kursi lain, dan keduanya sama-sama menatap hp mereka masing-masing, tanpa mengobrol satu sama lain
Aku kembali melihat nomor antrian yang ada di genggamanku. Dan kembali menghembus nafas dalam ketika menyadari giliran antrianku masih sangat lama
“Bestie….!!”
Aku menoleh cepat kearah sumber suara. Mila berjalan cepat sambil menenteng tas kerjanya. Jas dokternya masih melekat di tubuhnya, sehingga bisa dipastikan jika dia baru pulang dari dinas
Beberapa orang yang antri bersamaku ikut menoleh kearah Mila yang berjalan ke arahku. Dan dia langsung berjongkok, mencium pipi kanan kiriku, kemudian menoel pipi Yusuf
“Yusuf sakit?” tanyanya
Aku mengangkat bahuku. Kemudian Mila mengajakku pindah tempat duduk, agak menjauh dari kursi antrian. Dan aku menurut, karena aku yakin dia kesini karena ada yang ingin disampaikannya padaku
“Kalian cuma berempat? Kak Tomi mana?” tanyanya celingukan ketika kami sudah duduk
Aku berusaha tersenyum mendengar pertanyaannya,kemudian menganggukkan kepalaku dan mengatakan jika aku datang kesini hanya dengan ketiga anakku
“Kak Tomi mana?” kembali Mila mengulangi pertanyaannya
“Belum pulang kerja” jawabku sambil tersenyum kembali
“Ohhhh….” Hanya itu jawaban Mila sambil mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menoleh kearah Naya yang saat itu menatap kearah kami
“Kenapa nggak ngajak ibu mertua lu, kan kasihan jika Yusuf harus di pangku oleh Naya”
Kembali aku berusaha tersenyum mendengar protes dari Mila, bersikap semuanya seakan baik-baik saja agar dia tidak curiga
“Kasihan lah jika ngajak ibu mertuaku, kan beliau sudah tua. Dia juga capek jagain Yusuf seharian”
“Kan pengasuh Yusuf ada?”
Aku mengelus lengan Mila
__ADS_1
“Biar ah. Aku bisa kok”
Mila memanyunkan bibirnya, kemudian mengambil Yusuf dari pangkuanku
“Sini duduk sama aunty, kasihan dedek dalam perut ibuk kamu kalau kamu duduk di pangkuan ibuk kamu terus, ya?” ucap Mila sambil menciumi wajah Yusuf kembali
“Badan Yusuf biasa aja Din, nggak panas. Lah kok kamu bawa kesini kenapa?”
Aku diam, bingung harus menjawab dari mana. Aku tidak mau terjebak dengan jawabanku sendiri
“Tadi adik nangis terus aunty…..” jawab Naya yang duduk di sebelah Mila
“Ohhh….. nangis terus. Haus kali, atau mungkin kembung?”
“Ya nggak tahu, tapi nggak haus kayanya. Orang mau aku kasih asi dia nggak mau. Kalau kembung iya kali ya, aku juga nggak tahu. Makanya aku bawa kesini. Biar tahu Yusuf sakit apa” jawabku
Kembali aku lihat bibir Mila tertarik kesamping, sepertinya dia tidak yakin dengan jawabanku.
“Sekalian kamu cek kandungan aja Din, mumpung kesini” saran Mila yang langsung aku setujui
Lebih dari satu jam barulah giliran Yusuf di panggil. Aku masuk dengan ditemani Mila. Dan dokter yang menangani Yusuf yang memang adalah temannya Mila, begitu melihat Mila masuk langsung berdiri dan mereka saling peluk
“Aku nggak tahu kalau ada dokter di depan, kalau aku tahu, tentulah dokter aku dahulukan” ucap dokter anak tersebut merasa tak enak kearah Mila
“Ini yang nggak boleh, harus professional ah……” jawab Mila sambil terkekeh
Dokter tersebut juga terkekeh, lalu dia mulai mendekati Yusuf yang duduk di pangkuanku. Mengajak Yusuf berinteraksi sampai akhirnya dia mengambil Yusuf dari gendonganku dan membawanya ke tempat pemeriksaan, meletakkan Yusuf yang menatap wajah dokter tersebut dengan mata nanar
Dokter mulai menanyaiku apa keluhanku terhadap Yusuf, dan sama seperti jawabanku pada ibu-ibu tadi, aku hanya menjawab jika Yusuf nangis, itu saja.
“Sebelum nangis dia kenapa? Maksudnya apa dia makan sesuatu, apa dia pup?”
Aku menggeleng
“Dia tidur. Dan aku shalat. Ada papanya yang menungguinya di kamar. Saat itu dia langsung digendong oleh papanya, tapi masih terus nangis. Sampai klinik ini baru diem” jawabku tanpa sadar jika aku telah membongkar kebohonganku sendiri pada Mila
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian mulai meletakkan stetoskop di atas perut Yusuf dan wajah ramahnya terus tersenyum kearah Yusuf yang menggumam tak jelas
“Mungkin dia kurang nyaman saja di dalam kamar, atau mungkin tadi dia belum terlalu puas tidur sudah di bangunkan oleh papanya” lanjut dokter tersebut sambil membetulkan baju Yusuf. Kemudian Mila dengan cepat mengambil Yusuf dan menggendongnya
“Kamu sekalian periksa Din!” ucapnya yang membuatku menganggukkan kepala. Kemudian kami secara bersama keluar dari ruangan dokter anak tersebut dan berpindah ke ruangan pemeriksaan ibu hamil
“Semuanya baik-baik saja. Hanya saja tekanan darah ibu rendah, perbanyak istirahat” ucap dokter kandungan setelah selesai memeriksaku
Kemudian dia menuliskan resep obat dan memintaku untuk mengambilnya di apotek. Setelah itu kami keluar dari klinik tersebut dan berjalan kearah parkiran.
“Aku antar pulang” ucap Mila ketika aku akan membuka pintu mobil
Aku menggelengkan kepalaku. Dan memintanya untuk tidak mengantarku, karena dia sendiri belum pulang ke rumahnya, masa mau mengantar aku pulang. Sedangkan rumahnya dengan klinik tempat aku sekarang berada tidak terlalu jauh. Jika Mila mengantarku pulang, aku khawatir dia nanti bertemu dengan Tomi dan bisa dipastikan Mila akan melontarkan banyak pertanyaan dan protes pada Tomi
“Nggak usah, aku bisa pulang sendiri” jawabku ketika Mila terus bersikeras memaksakan kehendaknya
“Kalau begitu kenapa kamu tidak beritahu kak Tomi jika kamu di klinik sekarang? Biar dia jemput kamu. Dan tumben kok kamu pakai mobil kamu lagi? Biasanya mobil ini dalam garasi, hanya kamu panaskan mesinnya saja. Kok sekarang kamu pake? Mobil mahar kamu kemana?”
Aku kembali harus berusaha bersikap biasa saja di depan Mila. Sedikit saja aku salah bicara atau salah saja mimik wajahku, maka Mila pasti akan curiga
“Kan tadi sudah aku bilang, suami aku belum pulang kerja” jawabku
Mila tertawa sinis mendengar jawabanku, sementara Naya dan Arik yang berdiri di dekatnya menatap serius ke arahku
“Dasar bego. Elu itu nggak pinter bohong. Lu lupa apa tadi di dalam ruang periksa anak, lu bilang laki lu ada dan dia yang menggendong Yusuf waktu Yusuf nangis pas lu shalat? Lupa lu dengan kebohongan lu sendiri?”
Wajahku menegang, degup jantungku tiba-tiba berdebar kencang mendengar jawaban menohok Mila. Senyum yang sejak tadi aku pamerkan seketika hilang berganti dengan diam seribu bahasa
“Mertua aku nggak enak badan, makanya Tomi nggak ikut. Lagian aku pengen aja pakek mobil aku. Kan sudah lama digarasi, sayang kalau dia jelek di simpan” jawabku mencoba untuk tertawa
Dan kembali Mila tersenyum sinis mendengar tawaku. Kemudian dia menoleh kearah Naya
“Jaga ibuk kalian. Bilang aunty jika ada yang nggak beres. Jangankan ayah tiri kalian, ayah kandung kalian saja aunty hajar karena dia nyakitin ibu kalian”
__ADS_1
Aku dengan cepat tersenyum kaku sambil melotot kan mataku kearah Mila mendengar ucapannya. Naya dan Arik menganggukkan kepalanya, kemudian keduanya berpindah berdiri di sebelahku. Sementara Yusuf sudah pulas tidur di dalam dekapan Mila
“Sana cepat buka mobilnya!” ucap Mila pada Naya yang segera membuka pintu bagian tengah. Dengan cepat Mila meletakkan tubuh besar Yusuf dan Naya segera naik, kemudian dia memangku kepala adiknya. Sementara Arik sekarang berpindah duduk di depan
“Makasih bestie ya…..” ucapku mendekap hangat Mila
Mila mengelus punggungku dengan sayang, dan menggenggam erat tanganku ketika aku melepas dekapan ku padanya
“Stop bersikap semuanya baik-baik saja. Gue nggak suka. Lu sudah tahu, lu nggak sendiri, ada gue dan ada anak-anak yang lain”
Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapan Mila yang selalu care padaku. Entah dengan cara apa aku membalas kebaikannya. Sudah tak terhitung bagaimana dia selalu ada buat aku. Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti Mila, yang selalu membela dan ada buatku
“Hati-hati” ucap Mila ketika aku masuk kedalam mobil
Kemudian secara beriringan, mobil kami keluar dari parkiran klinik, dan akhirnya berpisah di persimpangan dimana Mila akan berbelok kea rah rumahnya dan aku terus saja. Klakson mobil Mila aku balas dengan suara klakson pula, baru setelahnya kami benar-benar berpisah
Sepanjang perjalanan menuju rumah aku dan kedua anakku lebih banyak diam. Hanya sesekali kami berbicara, dan itupun obrolan ringan. Sampai akhirnya, mobilku sampai di depan pagar rumah.
“Turun nak” ucapku pada Arik. Memintnya untuk membukakan pagar, karena pagar telah tertutup
Arik menurut, dia segera turun. Dan kulihat dia seperti berusaha mendorong pagar. Tapi tak lama kemudian dia kembali lagi ke dekatku. Dengan segera aku membuka kaca mobil
“Pagarnya dikunci buk”
Aku menelan ludah mendengar ucapan anakku.
“Dikunci?” batinku dengan menggigit bibirku.
Aku lihat lampu dalam rumah masih menyala, itu artinya Tomi belum tidur, lagian ini juga belum malam, masih jam Sembilan lewat.
“Ya sudah, biar ibuk telepon papa dulu, ya?” ucapku berusaha untuk tersenyum sambil berusaha mengambil hp dalam tas yang terletak di sebelah ku duduk
Kemudian aku langsung mendial nomor suamiku, tersambung dan langsung diangkatnya
“Kak, kami di depan. Pagar terkunci, jadi Arik nggak bisa buka pagarnya. Bisa tolong bukain kak?”
Tak ada jawaban, tapi aku lihat pintu terbuka. Aku menarik nafas lega ketika melihat Tomi berjalan di halaman, dan membuka gembok pagar. Lalu dibantu Arik dia mendorong pagar sehingga terbuka lebar. Kemudian barulah aku masuk. Dan Arik berjalan bersama Tomi
Naya turun dengan menggendong Yusuf. Terlihat jika dia sedikitpun tidak menoleh kearah Tomi. Dan aku kian bertanya dalam hati ada apa dengan Naya, pasti telah terjadi sesuatu. Terlebih tadi dia juga menyebut Tomi dengan sebutan “Om”
Tomi menatapku dengan wajah datar ketika aku berjalan kearah teras. Dan aku tak memperdulikan itu, karena aku juga merasa kecewa dengan sikapnya yang sama sekali tidak menghubungi aku ketika aku di klinik tadi.
Begitu aku masuk, ternyata ibu mertuaku masih duduk di ruang tamu. Begitu melihat aku masuk dia langsung berdiri
“Selesai ngelayapnya?”
Aku menghentikan langkahku dan menoleh kearah beliau
“Buk, aku bawa Yusuf ke dokter anak. Bukan ngelayap. Kalau ibuk nggak percaya, ibuk bisa tanya Naya dan Arik. Kalau masih juga nggak percaya, ibuk bisa tanya Mila”
Setelah itu aku menarik nafas panjang dan ngeloyor masuk ke dalam kamar
“Sudah buk, ibuk nggak usah bela diri. Ibuk itu nggak ada artinya di mata om Tomi” ucap Naya ketika aku masuk ke dalam kamar kami
Aku diam, dan hanya bisa mengerjapkan mataku mendengar ucapan Naya
“Apa nak?” tanyaku tak percaya
“Ibuk itu nggak ada artinya dimata om Tomi” ulang Naya sambil berdiri di depanku
“Naya, kamu salah sangka nak….” Ucap Tomi yang tiba-tiba masuk
Naya membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Tomi
“Telinga aku mendengar jelas Om, omongan om dengan eyang di dapur tadi. Dan jika om bilang eyang jauh lebih berharga dari ibuk aku. Maka aku tekankan sama Om, ibuk aku jauh lebih berharga juga dibanding Om dan eyang”
Setelah berkata seperti itu Naya berlalu dari hadapan Tomi yang hanya bisa memandangnya dengan wajah sedih
Sedangkan aku yang shock mendengar ucapan anakku hanya bisa terduduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahku dengan kalut
__ADS_1
“Sayang aku bisa jelasin” ucap Tomi berusaha meraih tanganku. Tapi aku terus menepis tangannya dan mendorong tubuhnya agar menjauh dariku