
Aku memasang senyum kaku pada Tomi yang kian dekat kearah kami
Rohaya dan temannya yang lain saling pandang dan mengulum senyum melihat wajah tegang Dinda
"Loh kok semuanya pada bengong?, ayo dong duduk, kita makan bareng"
Lagi Rohaya dan temannya tersenyum ditahan mendengar ucapan Tomi
Aku yang begitu keenam sahabatku duduk, ikut duduk juga. Vita tepat duduk di sebelahku
"Maaf jika kakak melibatkan seluruh sahabat adek, kalau nggak kaya gini kakak yakin adek nggak bakal mau ketemu kakak"
Byurrr..
Merah rasanya wajahku. Asem tenan batinku. Aku lalu melirik sekilas pada keenam sahabatku yang langsung membuang muka pura-pura tidak tahu
"Ayo dong dimakan"
Akhirnya Rohaya dan temannya yang lain menurut, mereka duduk melingkari meja dan langsung mengulurkan tangan mereka mengambil makanan yang tersaji di atas meja
Aku memanjangkan leherku melihat kearah anak-anak yang sedang bermain
"Kedua anak adek cakep-cakep, ya"
Aku hanya tersenyum kaku mendengar pujian Tomi
"Gimana Tom lukanya kemarin, sudah sembuh total?" tanya Rohaya
"Kakak kali Roh manggilnya, nggak sopan banget sih" protes Nanda
Rohaya mencibir
"Kan bukan jamannya sekolah lagi jeng, jadi nggak papa dong jika aku manggilnya Tomi"
"Susah emang ya Roh ngomong sama kamu"
Rohaya mencibir kearah Nanda
"Halaaahhh wong Dinda yang mantannya aja manggilnya Tomcat"
Aku langsung memejamkan mataku dengan wajah nggak enak mendengar ceplosan Rohaya
Mila langsung menyikut lengan Rohaya yang membuatnya tersadar dan nyengir ke arahku
"Nggak kok kak, Dinda nggak pernah nyebut kakak Tomcat" jawab Nanda cepat
Aku langsung memasang wajah cemberut pada Rohaya
"Dari jaman SMA dulu kalau Dinda marah sama aku, dia memang suka nyebut Tomcat"
Kompak seluruh temanku langsung terbahak.
"Pantesan waktu di nikahan Marina dia nyebut kakak Tomcat"
Kembali aku harus memejamkan mataku menahan malu
"Udah ah, kasian tuh wajah Dinda udah kaya kepiting rebus"
Aku berusaha tersenyum sementara sahabat-sahabatku masih cekikikan
Karena aku tak mau terpancing emosi melihat mereka cekikikan aku segera mengambil sup buntut, mengangkat mangkuknya, mencium dengan dalam aroma kuahnya yang masih sedikit mengepulkan asap
"Masih tak berubah" batin Tomi melihat tingkah Dinda
Lalu aku segera menyeruput kuahnya, memejamkan mataku sebentar lalu mengangguk-angguk
Tomi yang terus memperhatikan tingkah Dinda tersenyum dalam hati
"Masih sama seperti dulu" kembali dia membatin
"Kalian nggak mau makan?"
Sahabat-sahabatku langsung dengan cepat memanjangkan tangan mereka mengambil piring langsung melahap makanan yang tersedia
Aku segera berdiri
"Kemana dek?"
"Mengajak anakku makan, aku nggak bisa makan jika mereka nggak makan" jawabku langsung berdiri di pinggir pondokan tempat kami makan saat ini
"Nayaaaa, Ariiik... makan dulu sini nak"
"Ya ampun nggak usah teriak ngapa sih?"
Aku mencibir kearah Mila
"Nanti buk, ibu duluan ajaaaa...." balas Naya sama berteriaknya
Mendengar jawaban anakku, aku segera kembali duduk di tempatku
Tring...
Hp ku berbunyi tanda pesan masuk. Aku segera mengambil hp yang ada di dalam tas
Pesan dari Shella, adik sepupuku
Shella: Dimana yuk?"
Aku segera membalas pesannya
__ADS_1
Me; Lagi jalan sama teman-teman
Shella: Dengan kakak juga nggak?"
Aku mengerutkan keningku, tumben-tumbennya Shella bertanya tentang suamiku
Me: Nggak dek, dengan teman-teman aja, lagi di ecoresto. Napa dek?
Shella: Aku lagi di kota sejuk, tapi kok aku kaya lihat kakak ya yuk
Deg! jantungku langsung berdetak begitu membaca pesannya
Lalu tak lama pesan masuk lagi dari Shella. Pesan gambar
Ku zoom gambar yang dikirim Shella. Benar itu Adi, pikirku.
Me: Sama siapa dia dek?"
Shella: Nggak tahu yuk, kayanya dengan wanita dan anak kecil
Kembali jantungku berdetak. Tomi yang melihat perubahan di wajah Dinda semakin lekat menatapnya
Kembali aku memperhatikan gambar yang dikirimkan Shella. Di sana Adi hanya duduk ramai-ramai, di depannya ada seorang lelaki, tapi di sampingnya, tidak begitu jelas terlihat siapa, hanya baju perempuan berwarna hijau toska
Aku menarik nafas dalam dan membuang wajahku keluar
"Ngapa Din?"
Aku segera menoleh kearah Putri, dan menggeleng. Lalu aku kembali menyendok makanan ke mulutku. Tapi Tomi menangkap jelas perubahan sikap dan sinar di mata Dinda.
Dia yakin telah terjadi sesuatu. Dinda langsung berubah begitu melihat handphonenya
Untuk bertanya tidak mungkin karena itu akan sangat tidak sopan
"Eh kak, istri kakak kok nggak diajak?"
Aku segera menoleh pada Nanda
Vita dan Mila langsung mendelik kan mata mereka kearah Nanda
"Kan nanya..."
"Tapi pertanyaan kamu nggak bermutu" sungut Vita
"Kakak sudah lama cerai"
Jawaban Tomi mampu membuatku menoleh padanya.
"Hanya dua bulan kakak menikah, setelah itu langsung cerai"
Nanda dan Rohaya ber O panjang. Wajar jika kami berempat tidak tahu kabar perceraian Tomi, karena memang tempat tinggal kami berempat jauh dengan daerah Tomi
"Kok nggak ngasih kabar ke kita kalo kakak cuma dua bulan nikah, kan tahu gitu kita comblangin lagi dengan Dinda"
Aku langsung menoleh tak senang pada Putri, sedangkan yang bersangkutan langsung cekikikan
"Dinda yang nggak mau nerima duda" jawab Tomi
Aku mendecak kesal mendengar jawaban Tomi
"Please deh kalian apaan sih"
Keenam temanku langsung terdiam dan nyengir ke arahku yang memasang wajah masam
"Makasih ya dek untuk donornya kemaren" ucap Tomi setelah kami cukup diam dan khusyuk makan
Aku hanya mengangguk dan segera menyendok dessert kesukaanku. Kembali Tomi memperhatikan kelakuan Dinda makan dessert kesukaannya
Mataku kembali terpejam dengan menggerak-gerakkan kepalaku menikmati kenikmatan dessert yang memanjakan lidahku
Rohaya menyikut siku Putri yang duduk di sebelahnya melihat Tomi yang terus menatap tak berkedip pada Dinda
"Semuanya masih sama, cuma perasaannya saja yang telah berbeda" kembali Tomi membatin
Kekhusyukan makanku kembali terganggu saat handphone ku kembali berdenting
Shella: Pesan gambar
Aku segera mengklik gambar yang dikirimkan Shella
Kembali detak jantungku berpacu cepat. Bagaimana tidak, di sana terlihat jelas Adi, suamiku memangku anak kecil
Dengan cepat aku meletakkan sendok yang tadi kupakai untuk makan dessert. Segera mendial nomor Shella
"Posisi adek dimana?"
Semua sahabat Dinda langsung menatap pada Dinda yang langsung berdiri menjauh
"Adek terus awasi kak Adi nya, jangan sampai dia tahu kalau adek ada di sana"
"Iya dek, pokoknya pinter-pinter lah adek ya, bila perlu adek awasi terus kemana dia pergi"
"Iya dek, makasih ya dek"
Aku menghempas nafas panjang lalu menoleh kearah sahabatku dan Tomi yang terus memandangku
"Are you okay?"
Aku mengangguk mendengar pertanyaan Putri
__ADS_1
Tapi Tomi yakin Dinda menyembunyikan sesuatu dari mereka
"Aku boleh pulang duluan?"
Keenam sahabatku saling toleh
"Kan acara kita belum selesai Din, abis ini kita mau jalan lagi, kita-kita aja, nggak sama kak Tomi kok" bujuk Mila
Aku menggeleng
"Tapi aku tiba-tiba nggak enak badan" elak ku
Nanda dan Putri makin serius menatap ke arahku
gue yakin lu boong sama kita
Aku segera membuka pesan WA yang dikirim Rohaya
Sehabis membaca pesan tersebut aku menoleh kearahnya sambil tersenyum
"Aku pulang, ya?"
Kembali mereka diam tak menjawab
"Kapan-kapan kita hang out lagi, aku janji" ucapku sambil mengulurkan tangan kearah mereka dan cipika cipiki
Giliran pada Tomi aku mencium punggung tangannya, seperti kebiasaanku dulu.
Lalu aku segera turun dari pondok tempat kami makan, memanggil kedus anakku dan mengajak mereka pulang
"Kok pulang bun, kan belom berenang?" protes Naya
"Besok-besok kita kesini lagi nak"
Lalu aku segera merengkuh pundak keduanya mengajak mereka berjalan menuju parkiran
Sedangkan keenam sahabat Dinda hanya menatap bengong melihat punggung Dinda yang kian menjauh
...----------------...
Begitu sampai di rumah aku berkali-kali mendial nomor suamiku, tapi seperti yang sudah aku duga, tidak aktif
Dengan kesal aku beralih menelpon mas Toro
"Dimana mas?"
"Lampung mbak"
"Mas Adi mana?"
"Ah, eh beliau kami tinggal sebentar mbak, kami lagi nyari bibit"
Aku mengernyitkan dahiku mendengar suara gugup mas Toro
"Awas kalau mas ketahuan bohong, aku nggak akan segan-segan untuk pecat mas"
Lalu aku memutus panggilan, dan kembali mendial nomor suamiku.
Tersambung dan diangkat
"Dimana yah?"
"Ini buk masih di rumah tauke"
Aku menarik nafas panjang. Segera panggilan aku rubah ke mode video.
Adi seketika langsung kelabakan karena istrinya mengubah ke panggilan video
Lama aku menunggu suamiku mengubah panggilan ke video
"Sinyal disini jelek buk, nanti video call nya malah macet dan nggak jelas"
Aku kembali menarik nafas panjang. Segera aku menelpon Shella
"Kamu masih di sana dek?"
"Iya yuk, aku lihat kak Adi kaya bingung gitu ngomong di handphone"
"Itu ayuk barusan nelpon dia"
"Ohh..."
"Dek fotoin dia lagi, pastikan dapat wajah perempuan di sebelah dia"
"Kayanya susah yuk"
"Aduh, berusaha kek dek, gimanapun caranya"
"Iya yuk, aku suruh cowok aku aja ya, pura-pura nya dia melihat pemandangan dekat kak Adi duduk"
"Nah, iya benar, cepat ya dek"
"Iya yuk"
Lalu panggilan ku putus, sekitar sepuluh menit berikutnya aku sudah mendapat pesan gambar dari Shella
Kembali aku harus terhenyak, ternyata suamiku memang sedang dengan seorang perempuan.
Memang banyak orang di sekitar mereka, tapi tangan suamiku yang memegang kepala wanita itu mampu membuatku sakit, dan meneteskan air mata
__ADS_1