
Tangisku kian pecah ketika kulihat Tomi terpejam di atas brankar rumah sakit
Mila masuk kemudian muncul juga beberapa orang berseragam sama seperti Mila.
"Kamu yang sabar ya Din" lirih Mila sambil memegang pundakku
Sementara beberapa temannya mulai menutupkan kain putih di atas tubuh Tomi.
"Nggak, nggak mungkin. Kak Tomi nggak mungkin ninggalin aku" ucapku berusaha melepaskan tangan Mila pada pundakku.
Beberapa dokter dan juga perawat yang tadi masuk bersama Mila mulai membereskan alat medis yang mungkin mereka gunakan untuk membantu Tomi tadi
Sementara Aku kian menangis histeris melihat tubuh Tomi yang sudah ditutupi kain putih.
"Kamu yang sabar Dinda. Kita nggak tahu kapan maut menjemput kita" ucap Mila berusaha menenangkan ku.
"Nggak......!!" kembali aku berteriak dan sekuat tenaga aku melepaskan tangan Mila dan langsung berlari kearah tubuh Tomi
"Tolong bangun kak, kakak nggak boleh mati, kakak sudah janji bahwa kakak akan memperjuangkan cinta kita lagi. Jadi kakak nggak boleh mati!!!" kembali aku berteriak dengan memeluk tubuh Tomi dan mengguncang-guncang kan bahunya.
Tak lama masuk ibunya Tomi dan dia juga sama seperti ku, Langsung memeluk Tomi kemudian berteriak histeris.
Mila yang masih berada di ruangan segera mendekat ke arah ibunya Tomi dan membawa beliau keluar ruangan.
Sementara aku yang terus menangis tidak melepaskan dekapanku pada tubuh Tomi dan terus menyuruhnya untuk bangun dan membuka matanya.
Kembali kurasakan sebuah sentuhan di pundakku dan aku menoleh. Kulihat Mila memandang sedih ke arahku.
Aku segera memeluk erat pinggang Mila kemudian kembali menangis tersedu.
"Tolong bantu aku Mil. Kamu kan Dokter, Tolong hidupkan kembali Kak Tomi. Kak Tomi nggak boleh pergi meninggalkan aku. Aku sangat mencintainya. Aku nggak mau kehilangan dia Mil...." isak ku.
Kurasakan Mila mengusap-usap kepalaku dan aku masih saja terus menangis sedih.
Lalu aku kembali memeluk tubuh Tomi dan kembali menangis sejadi-jadinya .
"Tolong kamu jangan pergi kak. Jangan pergi lagi, aku nggak mau kamu pergi kak. Kakak bilang, kakak mau menikah sama aku, jadi kakak nggak boleh mati......" .
"Tomi bangun, Aku mau menikah sama kamu. Aku mau menikah sama kamu kak Tomo. Jadi kakak tolong bangun". teriakku histeris
Lalu kembali kurasakan semua tangan menyentuh pundakku.
"Kamu yang sabar ya Dinda. Mungkin sudah takdir Tomi untuk pergi begitu cepat meninggalkan kita semua" lirih suara pak Burlian.
Aku menggeleng cepat kemudian kembali menangis.
"Tomi bilang, jika dia sangat mencintai kamu Din. Dan dia juga ingin sekali menikah sama kamu" kembali Pak Burlian bersuara sedih yang membuatku makin menangis terisak.
"Aku juga mau Tom menikah sama kamu dan aku juga sangat mencintai kamu. Tapi kamu bangun Tom, jangan tinggalkan aku......".
__ADS_1
Aku terus memeluk erat tubuh Tomi. Dan meletakkan kepalaku di dadanya. Rasanya sakit sekali hatiku menyaksikan orang yang kucintai terbujur kaku di hadapanku.
Aku yang terus menangis pilu merasakan ada sebuah sentuhan di atas kepalaku.
"Aku juga mencintaimu Dinda, sangat mencintaimu...." lirih sebuah suara yang membuatku refleks mengangkat kepalaku.
Aku menatap tak percaya pada Tomi yang tersenyum ke arahku. Secepat kilat aku menjauhkan tubuhku yang sejak tadi memeluknya
Kemudian Aku menoleh ke arah Mila, Pak Burlian juga ibunya Tomi yang juga sama-sama tersenyum menatap ke arahku.
Dan aku kembali menatap ke arah Tomi saat ini tersenyum sambil menggenggam erat jari tanganku.
"Ini benar kamu sudah sadar Tom?" tanyaku dengan suara bingung.
Tomi mengangguk sambil tersenyum lebar yang membuatku kembali memeluknya dengan erat.
Kembali tangis ku pecah ketika aku memeluknya dengan erat
"Jangan tinggalin aku....." lirihku di sela-sela isak tangisku
Tomi tidak menjawab melainkan terus mengusap kepalaku.
Kemudian aku tersadar lalu mengangkat kepalaku dan mengusap kasar wajahku.
Refleks aku langsung menoleh ke arah Mila dan memandangnya dengan tatapan tajam. Kemudian aku juga menoleh ke arah Tomi yang sepertinya menahan tawa.
"Apa kalian sengaja membuat prank ini?" tanyaku sambil melotot kearah Mila.
Kemudian aku segera menarik kain yang tadi digunakan untuk menutupi seluruh tubuh Tommy.
Mataku langsung mengecil dan dadaku langsung turun naik. Segera aku mencengkram kuat tangan Tommy, kemudian tanpa ampun aku langsung memukuli tubuhnya.
Tommy berusaha duduk lalu menangkap tanganku yang terus memukuli tubuhnya dan dia terlihat berteriak meminta ampun sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Kurang ajar kamu ya Tom, kamu sudah buat aku spot jantung, kamu sudah membuat aku hampir mati dan ternyata kamu pura-pura mati tadi?, kurang ajar kamu Tomi....!!!" geram ku sambil terus memukuli tubuhnya tanpa ampun.
Setelah puas memukuli tubuh Tomi aku langsung membalikkan badanku dan secepat kilat aku langsung menarik rambut Mila yang telah siap berlari meninggalkan ruang UGD.
"Milaaaaa.....!!!" geram ku sambil segera mencubit keras pipinya .
Mila menjerit kesakitan karena aku begitu kencang mencubit pipinya. Tak sampai di sana, Aku juga memukul tubuhnya berkali-kali sampai Mila juga berteriak minta ampun karena kesakitan.
"Aku kan hanya mengikuti skenarionya Kak Tomi, Din. Bukan salah aku. Kalau kamu mau menyalahkan, sana salahkan Kak Tomi, aku kan hanya mengikuti kata dia aja".
Aku tak menggubris ucapan Mila. Aku terus saja memukuli tangan, tubuh, bahkan kakinya.
"Dinda...., Jika kamu ingin marah, marah lah pada ibu juga. Karena ibu juga ikut menyetujui idenya Tomi" ucap Ibunya Tomi padaku yang membuatku refleks menghentikan tanganku yang memukuli Mila.
"Sama Bapak juga" ucap Pak Burlian.
__ADS_1
Mulutku langsung ternganga mendengar ucapan Pak Burlian karena aku betul-betul tidak menyangka jika Pak Burlian Ikut andil dalam skenario ini.
Karena jelas-jelas tadi ketika di perjalanan beliau sangat terlihat panik.
Aku langsung mengusap wajahku dan kembali terduduk di dekat Tomi yang saat ini telah duduk di atas brankar.
"Kami minta maaf ya Din...." ucap Mila dengan tampang innocent nya yang membuatku sangat ingin kembali memukulinya.
Aku hanya bisa terdiam sambil menekuk wajahku.
"Maafin kami ya Dek, ini semua idenya kakak. Kakak yang meminta mereka semua untuk berbohong. Karena kakak ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan kamu sama kakak".
Aku menggelengkan kepalaku lalu kembali mengusap wajahku berkali-kali dengan rasa tak percaya dengan apa yang barusan dilakukan Tomi padaku.
"Ya Tuhan Tomi, berapa kali aku harus bilang kalau aku mencintai kamu" lirihku akhirnya yang buat Tomi kembali tersenyum lega.
"Cieeee....." jawab Mila yang membuatku langsung melirik tajam ke arahnya.
"Apa??!" bentak ku padanya yang dibalasnya dengan tertawa cikikikan.
"Awas kamu ya Mil, urusan kita berdua belum selesai!" jawabku mengancamnya.
"Kalau sama Aku belum selesai, itu artinya sama Kak Tomi, sama ibunya Kak Tomi dan sama bosnya kamu di kantor juga belum selesai!l, dong?!!" jawab Mila yang membuatku sontak terdiam.
Lalu aku melirik ke arah ibunya Tomi dan juga Pak Burlian yang menatap serius ke arahku.
Kemudian aku tersenyum kaku ke arah mereka.
Kurang ajar dokter satu ini, kali ini dia kembali menang!" batinku sambil menatap tajam ke arah Mila.
Dan kembali seperti biasanya Mila memasang wajah yang sangat menjengkelkan.
"Jadi Din, sesuai dengan yang kamu katakan tadi dan kami semua mendengar sangat jelas, Jika kamu mencintai Tomi dan mau dinikahi oleh Tomi. Jadi itu artinya, malam besok kami akan melamar kamu lagi sama orang tua kamu" ucap pak Burlian yang membuatku tercekat.
"Hahhh??!" jawabku ternganga
"Iya, karena takutnya, jika kami lambat melamar kamu, kamu kembali berubah pikiran dan kembali tidak mau dilamar oleh Tomi" lanjut pak Burlian.
Aku lalu melirik ke arah Tomi yang masih duduk di atas brankar dengan tersenyum penuh kemenangan ke arahku.
"Tapi Pak?" tanyaku bingung ke arah Pak Burlian.
"Tapi apa Dinda?, pokoknya semua permintaan kamu akan kami turutin, apapun itu. Katakan saja"
"Kamu mau minta apa untuk serah-serahannya?, mas kawinnya apa?, semuanya akan kami turuti" ucap ibunya Tomi yang membuatku kembali harus ternganga.
"Ini terlalu mendadak buatku buk" jawabku bingung
"Lebih baik mendadak karena kalau mengulur-ngulur waktu, takutnya seperti kemarin, kamu selalu menolak ajakan Tomi" kembali Pak Burlian mendikte-ku.
__ADS_1
"Ya Tuhan....." ucapku sambil mengusap kasar wajahku.