
Tiga Minggu Selanjutnya
Saat aku di kantor dan sedang sibuk mempersiapkan mau ke kabupaten, tiba- tiba hp ku berdering
"Ya Tuhan, pak Bara..."
Aku langsung gugup dan bingung mau menjawab atau harus bagaimana
Tapi demi rasa kemanusiaan dan rasa bersalah karena telah berhutang, aku menerima panggilan beliau
"Ya pak?"
"Adi saya telpon dari kemarin tidak aktif, dimana dia mbak?"
Aku menarik nafas panjang dan keluar dari ruanganku, aku tak ingin temanku yang lain mendengar percakapanku dengan pak Bara
"Adi di rumah istri mudanya pak"
Pak Bara terdiam, ada rasa kaget ada pula rasa tak enak hati pada Dinda
"Oh, maaf mbak"
"Tidak apa-apa pak, itu sudah menjadi pilihannya. Oh iya, bapak mau menanyakan masalah perjanjian kemarin?"
"Iya mbak, karena sudah jatuh tempo"
"Bagaimana kalau bapak temui saja Adi di rumah istri barunya, di kota sejuk"
"Kota Sejuk?"
"Iya pak, di sanalah sekarang Adi tinggal, bersama istri dan anaknya"
Terdengar pak Bara menarik nafas dalam, tapi beliau tidak punya pilihan lain
"Kolamnya sudah mau diisi lagi belum mbak?"
Aku tersenyum, aku tahu beliau mengalihkan topik pembicaraan
"Pasti pak, tapi kolam lagi dibersihkan, jadi nanti ketika kolam telah siap diisi kembali, saya akan hubungi bapak, karena pakannya kan ambil di tempat bapak"
Terdengar suara pak Bara tertawa
"Bagaimana pak?, kapan bapak mau menemui Adi?"
Tampak pak Bara diam, mungkin beliau sedang berfikir
"Mungkin sebentar lagi saya berangkat mbak, bisa mbak kasih saya alamatnya?"
"Iya nanti pak, sepertinya alamat rumah istrinya masih ada di hp saya"
"Mbak tahu alamatnya?"
Aku tertawa
"Nggak sengaja tahu pak "
Pak Bara juga tertawa tapi tak urung dalam hatinya tetap merasa tak enak pada Dinda, dia tahu wanita itu pasti sakit hati
"Baiklah pak, nanti saya lihat dulu di wa, masih tidak alamatnya"
Lalu panggilan berakhir dan aku segera mencari pesan dari Shella yang tidak aku hapus sebagai bukti perselingkuhan Adi
Dan ketika aku mendapatkan map yang pernah dibagikan Shella beberapa bulan yang lalu, aku segera meneruskannya pada pak Bara
Tak lama aku mendapatkan balasan emoticon jempol dari beliau
Aku lalu berdiri berniat kembali keruangan ku, tapi sebelum itu aku menoleh dulu ke lorong ruangan pak Burlian
"Biasanya ada Tomi" gumamku tersenyum samar
Tomi sudah dua minggu ini tidak berada di kantor ini lagi. Dia sibuk mengurusi proyek di daerah lain
Dan proyek jalan di beberapa desa yang ada di kecamatan ini yang kemarin di garapnya dengan pak Arsen dan pak Bagaskoro telah berjalan, oleh karena itulah makanya mereka bertiga pergi dari kantor ini
Sejak Tomi pergi, kami nyaris tak pernah berhubungan lagi. Mungkin dia sibuk, walau terkadang ada rasa kangen dalam diriku karena biasanya setiap hari selalu bertemu dengannya dan hampir tiap hari pula dia menghubungiku
__ADS_1
"Woy senyum-senyum, kesambet ??"
Aku menoleh kearah Redho dan langsung melotot kan mataku kearahnya
...----------------...
Sore hari ketika Adi dan keluarga kecilnya sedang bercengkrama di teras, masuklah sebuah mobil mewah berwarna putih dari arah jalan raya
Wajah Adi seketika terkesiap ketika dilihatnya mobil siapa yang datang
Yesa segera berdiri menggendong Karen melihat suaminya juga berdiri seperti menyambut kedatangan tamu mereka
Pak Bara membetulkan kaca matanya sebelum dia turun dari mobil, dua anak buahnya telah turun duluan
Melihat pak Bara turun dan diiringi dua anak buah dibelakangnya, dada Adi kian berdegup kencang
"Assalamualaikum" ucap pak Bara
Yesa dan Adi menjawab salam pak Bara, dan Adi langsung mengulurkan tangan kearah pak Bara yang langsung menyambutnya
Pak Bara tampak tertegun ketika melihat wajah Yesa
"Sepertinya kita pernah ketemu"
Yesa pun tampak seperti berfikir, dan ketika ingatannya merujuk pada kenangan tentang siapa pak Bara wajahnya langsung berubah tegang
"Di klub malam kota P saat akhir tahun dua tahun yang lalu" ucap pak Bara
Adi spontan menoleh kearah Yesa yang wajahnya terus tegang
"Mungkin bapak salah orang" elak Yesa
Pak Bara terkekeh dan menggelengkan kepalanya sambil duduk
Adi yang walaupun dia curiga dengan arah omongan pak Bara mau tak mau ikut duduk pula
"Disini rupanya kamu mas Adi" ucap pak Bara sambil mengedarkan pandanganya ke seluruh halaman.
Yesa segera masuk dan menyiapkan teh hangat untuk tamunya
"Lemes juga mulut bandot tua itu, kenapa juga dia masih teringat dengan kejadian dulu, bahaya ini kalau mas Adi sampai tahu"
"Kamu jelas tahu mas Adi apa tujuan saya kesini"
Wajah Adi makin menegang. Pak Bara kembali tersenyum sinis ketika dilihatnya Adi kian gelisah
"Jadi uang yang seharusnya mas setorkan sama saya lari kesini" sindirnya
Pak Bara mematikan rokok yang sejak tadi dihisapnya ketika Yesa keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi air teh hangat
"Diminum pak"
Pak Bara hanya tersenyum sekilas, tanpa Yesa dan Adi sadari saat itu pak Bara mengambil foto wajah Yesa dan dikirimkannya pada temannya
Ingat dengan wanita ini nggak bro?
Setelah mengirimkan pesan pada temannya pak Bara segera meraih gelas teh yang tadi disuguhkan Yesa
Pak Bara mengambil handphonenya yang berbunyi notifikasi pesan
Ketemu dimana bro dengan wanita itu, wahhhh😀😀
Pak Bara tersenyum membaca balasan temannya
Dia makin yakin jika Yesa adalah benar wanita dua tahun lalu yang menemani mereka di klub malam
Pak Bara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mengejek kearah Adi
"Bagaimana mas Adi?, sudah ada uangnya?"
Adi menarik nafas panjang dan Yesa yang menguping di dalam diliputi tanda tanya besar
"Sudah lewat sehari dari perjanjian yang mas tanda tangani, dan sesuai perjanjian, jika mas tidak bisa membayarnya maka mas akan saya tuntut di pengadilan"
Wajah Adi kian menegang dan Yesa yang mendengar dari belakang tampak kaget
__ADS_1
"Tolong berilah saya kesempatan lagi pak, bapak tahu sendiri, saya diusir oleh Dinda, dan sekarang saya tinggal di sini, dan selama disini saya belum mendapatkan pekerjaan"
Pak Bara tersenyum sinis
"Diusir apa anda yang memilih pergi?"
Adi menarik nafas panjang
"Pesona istri muda memang mampu mengalahkan segalanya ya mas, bahkan akal sehat juga kalah"
Adi menelan ludah mendengar sindiran pak Bara
"Biasanya seorang lelaki itu ketika dia beruang akan pergi ketempat wanita yang disukainya, dan ketika dia terpuruk akan kembali ketempat wanita yang mencintainya"
"Semoga anda tidak menyesal mas, ingat dengan siapa anda mencapai posisi sekarang, dengan mbak Dinda atau mbak Nadine"
"Nadine?"
Pak Bara terkekeh
"Iya, wanita itu ketika menemani kami dua tahun yang lalu mengaku bernama Nadine"
Wajah Adi merah padam tak karuan, rasanya dia sudah ingin marah pada pak Bara karena fitnahnya, tapi ditahannya karena dia masih harus bermulut manis karena saat ini dia berhutang banyak pada beliau
"Mungkin bapak salah orang seperti yang dikatakan istri saya"
Pak Bara tersenyum penuh arti dan kembali menyeruput teh nya
"Bagaimana mas Adi?, kapan kira-kira uang yang menjadi hak saya itu anda lunasi?"
Adi lagi-lagi menarik nafas panjang
"Pak, semua aset dan harta saya dikuasai Dinda, saya sudah tidsk punya apa-apa lagi sekarang, jika bapak bersikeras mau meminta saya melunasi semua hutang saya, bapak bisa menagih dengan Dinda, karena toh semua harta dia yang menguasai, tidak ada dengan saya"
Kembali pak Bara terkekeh
"Adi, adi... pintar kamu mengelak ya"
Adi hanya membuang wajahnya dan kelihatan masih tampak gelisah
"Setidaknya saya sudah tahu dimana kamu tinggal sekarang, jika suatu hari nanti kamu masih juga ingin bermain-main dengan saya, saya bisa mencari kamu disini, dan kamu akan terima akibatnya"
Adi diam tak berani menjawab
"Oh iya, ini saya lihat mobilnya baru, beli cash?"
Adi diam tak menjawab sedangkan pak Bara tersenyum sinis
"Begini saja, karena saya telah datang jauh-jauh, jadi saya tidak mau pulang dengan tangan kosong"
Adi mengangkat wajahnya dan melihat kearah pak Bara yang sejak tadi menatap mobil barunya
"Maksud bapak?"
Pak Bara tersenyum menyeringai
"Mobil ini saya sita sebagai jaminan"
Adi menelan ludahnya dengan mata terbelalak kaget
"Tolong pak, pasti semuanya akan saya lunasi, tapi tidak bisa kalau harus dalam jangka waktu sekarang. Tapi saya janji, ketika saya ada uang, saya akan melunasi semua hutang saya sama bapak"
Pak Bara bukanlah orang bodoh, beliau sudah puluhan tahun berbisnis, jadi beliau sudah banyak mengecap asam garam bermain dengan pelanggan yang mangkir model Adi ini
"Jika anda keberatan memberikan mobil ini sebagai jaminan pada saya, saya minta bpkb mobil ini beserta dengan surat sertifikat rumah ini!"
Mata Adi kian terbelalak, tapi nyalinya langsung menciut ketika dua anak buah pak Bara yang sejak tadi berdiri di belakang pak Bara segera menekan kuat pundaknya
"Terserah mas Adi, mau menyerahkan sertifikat rumah dan bpkb mobil ini sebagai jaminan atau mas langsung saya bawa kekantor polisi"
Adi terdiam, degup jantungnya berdebar kencang, Yesa yang menguping di dalam ikut deg-degan
"Baiklah pak, akan saya ambil surat sertifikat rumah ini beserta bpkb nya"
Pak Bara tersenyum menyeringai dan memerintahkan kedua anak buahnya untuk melepaskan tangan mereka dari pundak Adi
__ADS_1