
Aku terus menarik nafas panjang hingga akhirnya lagu itu habis dan berganti lagu lain
Entah aku merasa baper saja saat mendengarnya. Semua perasaanku campur aduk, rasa kecewa yang telah dua kali aku alami dan rasa pengkhianatan yang dulunya serasa tak akan terjadi
Tomi menjadi serba salah ketika dilihatnya wajah Dinda menjadi murung
"Bukan lagu itu pak Tomi, mbak Dinda itu suka sekali sama lagu RnB" ucap pak Kusno karena sejak tadi dia melihat Dinda hanya diam
Aku akhirnya tersenyum mendengar ucapan beliau
"Wah, bapak tahu juga kesukaan Mbak Indah?"
Aku dengar itu suara pak Bagaskoro
"Kita hampir sebelas tahun satu ruangan pak, jadi wajar jika pak Kusno tahu kebiasaan saya" jawabku
Mereka lalu tergelak
Akhirnya sepanjang jalan mereka kembali mengobrol sedangkan aku hanya sibuk dengan hp di tanganku
Aku tertegun ketika karyawan kolam menelpon
"Ya mas, ada apa?"
"Mas Adi ngamuk mbak"
Aku menarik nafas panjang, dan Tomi menoleh kearah Dinda
"Emangnya ada masalah apa?"
"Mas Adi pengennya dia yang ngurusi semua masalah panen ini, kami hanya nurutin apa kata dia saja"
Aku kembali harus menarik nafas panjang
"Terus sekarang dia dimana?"
"Masih disini mbak, marah-marah sama kami bahkan seorang karyawan dipukulnya"
Aku menutup mataku sebentar mendengar jawaban karyawan kolam.
"Apa lagi sih mau dia" gumamku lirih
"Kenapa Din?"
Aku menoleh kearah pak Kusno
"Nggak pak, ada masalah sedikit ini"
Pak Kusno hanya menganggukkan kepalanya saja dan aku kembali bertanya pada karyawan kolam
"Sekarang kalian handle dulu kerja kalian sampai selesai, untuk urusan mas Adi biar itu jadi urusan saya"
Lalu aku menutup panggilan dan membalik handphone
Tak lama hp ku berdering, kulihat itu panggilan dari Adi, aku segera merejectnya dan kembali fokus menatap ke depan
Tapi kembali hp ku berdering dan kembali aku merejectnya
Rupanya pak Kusno dan dua kepala tender sejak tadi memperhatikan kegelisahan Dinda
"Din?"
Aku menoleh kembali pada pak Kusno dan tersenyum kaku
"Urgent?"
Aku menggeleng
Dan kembali hp ku berdering
"Sini bapak saja yang jawab kalau kamu nggak mau" tangan pak Kusno telah terulur dan aku hanya menggelengkan kepalaku
"Itu kayanya penting Din"
__ADS_1
Aku menggeleng dan mensilent hp ku agar mereka tak terganggu dengan deringan hp ku
Lagi-lagi hp ku berdering, tetapi karena aku silent, jadi hanya layarnya saja yang nampak menyala
Dan Tomi yang sejak tadi juga gelisah makin tak tahan karena hp Dinda terus menyala
Dengan cepat direbutnya hp di tangan Dinda, dan langsung menekan speaker
"Hei anji***, kamu kemana, hah?, kenapa telpon aku nggak kamu angkat??!"
Wajahku terkesiap, begitu juga dengan keempat wajah lelaki yang saat ini satu mobil dengan Dinda
Dinda berusaha kuat menarik hp miliknya yang ada di tangan Tomi
Tapi Tomi segera menghentikan mobil dan mengangkat hp Dinda, dia ingin mendengar kelanjutan kata dari Adi
"Kamu mau melawan sama aku, iya?, kamu mau sok sok an menguasai semuanya, iya?"
"Nggak bisa kamu Din, kamu itu siapa, hah?, selama ini kamu itu hanya tahu uang dan tak pernah tahu bagaimana capeknya aku"
"Dimana kamu sekarang, cepat kesini, atau jika tidak kolam ini akan aku obrak abrik"
Teg!!!
Tomi langsung memutus panggilan dan menatap kearah Dinda tanpa berkedip
"Seperti ini perlakuan suami kamu dengan kamu?"
Aku diam, melengos keluar sambil menarik nafas panjang
Kembali hp di tangan Tomi berdering, tapi bukan dari Adi
Kembali Tomi menekan tombol speaker
"Mbak cepat kesini, mas Adi ngamuk. Dia bahkan hendak membakar pondok kolam"
Wajah pak Kusno menegang, begitu juga dengan wajah kedua kepala tender
"Halangi dia mas, jangan sampai dia berhasil mendekati pondok"
"Mas Adi bawa senjata tajam mbak, kami tidak berani mendekatinya"
"Kami kesana sekarang!" jawab Tomi
Aku menoleh kaget kearahnya
"Tunjukkan jalan kearah kolamnya"
Tanpa menunggu jawabanku Tomi langsung membelokkan mobil dan mencari jalan keluar dari desa yang sedang kami tuju
"Arahnya kemana?" tanya Tomi kencang yang membuatku harus menatap tak percaya padanya
Karena Dinda masih tak mau menjawab, Tomi dengan kalap membawa ngebut mobil
Dia kemarin pernah membuntuti Dinda jadi dia ingat jalannya
"Hati-hati Tom"
Tomi tak menjawab ucapan pak Bagaskoro, dia terus menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi
"Telpon Julistiar!"
Aku bergeming, aku hanya fokus menatap ke depan
"Din?, telpon Julistiar!"
Aku menggeleng
"Tak perlu, aku bisa hadapi Adi sendiri"
Tomi mendengus mendengar jawaban Dinda
Tak lama setelahnya mobil yang dikendarainya telah masuk ke kawasan kolam
__ADS_1
Aku menoleh dan memandang tak percaya pada Tomi, bagaimana dia tahu kolam kami, batinku
Tomi segera menghentikan mobilnya dan aku segera melepas seat belt
"Bapak-bapak semua tunggu disini saja, ini urusan pribadi saya" ucapku yang segera membuka pintu mobil
Tomi ikut turun dari mobilnya dan sudah berlari di belakang Dinda, mengejar Dinda yang berlari kearah kolamnya
"Please kamu disini saja Tom. Di sana itu yang mau aku temui adalah suami aku, dan aku tahu bagaimana cara aku menghadapinya"
"Kamu tidak dengar apa tadi kata anak buahmu, suamimu itu bawa senjata tajam"
"Tolong kamu mengertilah Tom. Kamu itu mantan tunangan aku dan apabila suami aku melihat aku dengan kamu, kemarahannya akan semakin menjadi!"
Pak Kusno yang telah berdiri tak jauh dari mereka terdiam begitu mendengar kalimat Dinda
Aku segera berlari meninggalkan Tomi yang masih keras kepala. Tangan Tomi segera ditarik pak Kusno
"Benar yang dikatakan Dinda, ini urusan rumah tangganya, kita tidak bisa ikut campur"
"Tapi pak?, bapak dengar sendiri kan bagaimana tadi anak buahnya bilang jika Adi itu ngamuk dan mau bakar rumah kolam?"
"Masalah akan semakin kacau jika pak Tomi kesana, pak Tomi bisa memancing suami Dinda makin kalap"
Tomi mengusap wajahnya dengan frustasi. Dan dia berdiri dengan gelisah menatap kearah kolam yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari tempatnya berdiri sekarang
Pak Arsen dan pak Bagaskoro juga tampak keluar dari mobil dan mereka juga telah berdiri di dekat pak Kusno dan Tomi
"Kita tunggu saja disini, saya yakin jika terjadi hal buruk pada Dinda, tidak mungkin para anak buahnya akan tinggal diam"
Tomi diam mendengar ucapan pak Arsen, tapi dia masih saja gelisah dan terus menatap kearah kolam
Dari tempatnya berdiri dilihatnya Adi yang seperti mengacung-acungkan pisau kearah Dinda
Gemuruh dada Tomi kian tak tertahankan ketika dilihatnya bagaimana Adi berniat menyerang Dinda
"Tahan mas Tomi, mas Tomi lihat sendiri kan jika banyak anak buah yang memegangi Adi, tenang saja mas, mbak Dinda aman"
Aku yang begitu sampai kolam langsung berteriak marah pada Adi yang sedang memecahkan kaca jendela pondok kolam
"Stop Adi, kamu mau apa, hah?"
Adi menoleh dan mendengus kesal
"Akhirnya tiba juga kamu, ya" seringainya dengan berjalan ke arahku dan mengacungkan pisau padaku
Dengan sigap tiga orang pekerja langsung melompat kebelakang Adi dan berusaha merebut pisau yang saat ini ada di genggaman tangan Adi
Bahkan salah satu pekerja terluka karena berusaha merebut pisau dari tangan Adi
Setelah pisau terlepas, aku jadi lebih berani mendekat kearah Adi yang dipegangi oleh tiga orang pekerja
PLAAAAAKKK.....
Tamparan keras dari tanganku melayang ke wajahnya
"Stop mempermalukan ku dan mempermalukan dirimu sendiri Adi!!!!" teriakku
Adi yang kedua tangan dan bahunya dipegangi tiga pekerja terus berusaha melepaskan diri
"Awas kamu, akan aku bunuh kamu!!!" teriaknya
Aku segera mundur dan mengambil handphone dalam saku bajuku
"Mas Julistiar, segera tangkap Adi sekarang. Aku kian hari kian terancam oleh perbuatannya"
Wajah Adi makin memerah karena Dinda menelepon polisi
"Lepaskan aku setan!!!" geramnya
Tapi cengkeraman tiga pekerja lebih kuat dari gerakan tangannya
"Awas kamu Dinda, akan ku buat kamu menyesali semua ini!!!" teriak Adi
__ADS_1