
Sudah sepuluh hari Dinda masih juga belum sadarkan diri. Dan Tomi hanya sesekali saja meninggalkan Dinda, selebihnya dia akan terus menunggui wanita yang sangat dicintainya itu
Naya dan Arik sekarang tinggal di rumah nenek mereka, mereka hanya sekali di bawa ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibu mereka, selebihnya mereka hanya di rumah, tidak diperkenankan untuk melihat keadaan ibu mereka lagi, karena kasihan melihat mereka yang menangis histeris ketika melihat ibu mereka masih saja tak sadarkan diri
Dan hari ini kembali kelima sahabat Dinda membesuk Dinda, kebetulan ada Mila di rumah sakit
Jadi mereka lebih mempunyai waktu yang agak lama melihat Dinda
"Kok Dinda masih belum sadar?" tanya Lisa dengan raut sedih ketika dia dan Vita masuk bersama Mila
Mila yang memeriksa keadaan Dinda hanya menarik nafas panjang
"Dia koma dan kita berdoa yang banyak semoga Dinda komanya tidak lama"
Dengan sayang Lisa mengusap rambut Dinda dan mencium kening sahabatnya
"Bagaimana kabarnya Adi, sudah tertangkap belum?"
Mila mendengus mendengar pertanyaan Vita
"Sudah, sehari setelah dia menusuk Dinda langsung berhasil ditangkap oleh mas Julistiar"
"Syukurlah, terus?"
"Ya gue buat bonyoklah itu orang, gue hajar habis-habisan"
Lisa dan Vita menoleh cepat kearah Mila
"Serius???"
"Serius lah, kalau nggak mikir karir gue aja, udah gue bunuh tuh orang"
"Ya ampun....." gumam Vita dan Lisa
"Kalian nggak ngeliat gimana Dinda sempat mati kemarin, makanya kalian agak kasihan gitu sama si brengsek Adi" jawab Mila cepat dengan wajah kesal
"Bukan gitu maksudnya Mil...." jawab Lisa dan Vita cepat begitu mendengar jawaban marah dari Mila
"Kalau boleh milih, aku sih pengennya Adi juga merasakan koma kaya yang Dinda alami saat ini" geramnya
Lisa dan Vita hanya bisa menarik nafas panjang lalu keduanya sama-sama menatap kearah Dinda yang masih terus terpejam
Selesai dengan Lisa dan Vita, masuklah Rohaya, Nanda dan Putri
Sama halnya dengan ketiga sahabatnya sebelumnya, ketiganya memandang sedih kearah Dinda yang masih juga belum sadarkan diri hingga detik ini
"Apa Dinda jadi sleeping princess ya?" gumam Rohaya yang langsung mendapatkan pukulan dari Nanda
"Kalau gila berobat Roh, mumpung kita di rumah sakit" ucap Putri kesal
Rohaya menoleh kearah kedua sahabatnya sambil tersenyum kaku
"Ya kan biar kita nggak sedih, gitu maksud aku" bela Rohaya
__ADS_1
"Nggak lucu!" jawab Nanda dan Putri berbarengan sambil mengusap kepala Dinda
"Din... kamu sadar ya, kami sedih lihat kamu kaya gini" lirih Putri sambil meneteskan air mata
"Jari Dinda gerak!!!" refleks Rohaya berteriak yang membuat Putri dan Nanda melihat kearah jari Dinda yang bergerak
Ketiganya langsung berpelukan dan langsung menangis haru
"Panggil Mila!" ucap Putri yang membuat Nanda berlari keluar
"Mil, tangan Dinda gerak" ucap Nanda antusias ketika pitu icu terbuka
Tanpa komando, Lisa dan Vita ikut berlari masuk juga, tak ketinggalan Tomi juga ikut berlari masuk
Dengan cepat Mila kembali memeriksa kondisi Dinda dan kelima sahabatnya yang lain memperhatikan dengan wajah tegang
Kelimanya kembali berpegangan tangan dengan erat ketika kepala Dinda bergerak
"Mil....?" ucap Putri tercekat
Mila menoleh, dan matanya basah
"Teruslah berdoa"
Tampak mulut teman-temannya komat kamit sedangkan Tomi yang berdiri di dekat Dinda terus memegang kaki Dinda
Gerakan tangan dan kepala Dinda makin lama makin jelas dan kuat hingga membuat sahabat-sahabatnya langsung berpelukan satu sama lain dan langsung menangis terisak
"Sayaaanggg....." bisik Tomi pelan di samping telinga Dinda
"Hmm... hmmm..."
Tomi langsung menatap wajah Dinda dengan tegang ketika mendengar wanita itu bergumam
"Minggir dulu kak....." pinta Mila yang segera memeriksa intensif Dinda kembali
Mila langsung menggenggam erat tangan Dinda ketika tangan itu seperti bergerak mencari sesuatu
"Din...?, Dinda?, ini kami ada disini" lirih Mila
Perlahan dan pasti aku membuka mataku walaupun belum membuka sepenuhnya
Melihat Dinda membuka matanya, kembali ruang icu gaduh oleh isak tangis bahagia dari sahabat-sahabatnya yang kembali berpelukan
"Jangan dipaksa, buka pelan-pelan saja" ucap Mila terisak
"Mil...?"
Tangis Mila langsung pecah ketika Dinda menyebut namanya, dan langsung dia memeluk sahabatnya itu dan menangis dengan kencang
Aku lalu mengedarkan pandanganku dimana aku lihat kelima sahabatku yang lain mengelilingiku dengan wajah basah
"Aku kenapa?"
__ADS_1
Kelima sahabatku tak ada yang menjawab, mereka memegangi tangan dan mengusap-usap kepalaku, sementara Mila yang berdiri memeriksaku kembali
"Kak Tomi....." lirihku
"Dia ada di sini, kamu tenang saja" ucap Vita yang menyingkir lalu muncullah wajah kak Tomi yang juga basah
"Kak....." lirihku
Tomi berjongkok lalu mendekapku, tak dihiraukannya jika saat ini ada sahabat-sahabatku
"Jangan begini lagi, kakak bisa mati jika tanpa kamu" lirihnya sambil memegang erat tanganku.
Aku kembali mengerang karena tiba-tiba kepalaku sakit
"Kalian di luar dulu, aku telah meminta dokter dan perawat untuk kesini" pinta Mila pada sahabat-sahabatnya yang masih menatap Dinda dengan mata basah
Saat Tomi mau pergi, tanganku yang digenggamnya tak mau kulepaskan. Aku makin mengeratkan genggaman tanganku pada jarinya
"Kak Tomi disini saja, Dinda sepertinya butuh kakak"
Tomi menurut dan kembali mengusap lembut kepalaku
Kelima sahabatku yang lain keluar dan tak lama kemudian masuk seorang dokter dan dua orang perawat
"Kakak minggir sebentar, ya?"
Aku menganggukkan kepalaku pelan kearah Tomi yang mundur dua langkah
Aku hanya menurut saja ketika Mila dan temannya memeriksa kondisiku
"Siapkan ruang perawatan, kita pindahkan pasien kesana" ucap dokter temannya Mila pada dua perawat yang menganggukkan kepala
Sementara menunggu ruangan siap, kembali dokter dan Mila memeriksaku dan melepas selang yang berjalar di tubuhku.
Bahkan ventilator juga dilepas dari dalam mulutku
"Kak....." aku kembali menoleh kearah Tomi yang langsung mendekat ke arahku
Segera Tomi memegang erat jari tanganku dan memasang senyum padaku
"Kakak disini, kakak tidak akan meninggalkan kamu"
Aku mengedipkan mataku mendengar ucapan Tomi. Begitupun ketika dua perawat mendorong brankar memindahkan ku kekamar perawatan, Tomi terus menggengam erat tanganku, tidak melepasnya sedikitpun
Hingga akhirnya aku sudah berada di dalam ruang perawatan dan sahabat-sahabatku kembali mengelilingi ku
Kulihat wajah mereka menyunggingkan senyum padaku dan berkali-kali mengucapkan syukur mereka
Satu jam berikutnya kudengar suara teriakan dari luar denga langkah kaki yang cepat
Naya dan Arik berlari ke arahku, mendekapku sambil menangis meraung
"Ibu nggak apa-apa" lirihku
__ADS_1
Kulihat ayah dan ibuku juga ada di ruangan ini, keduanya mendekapku sambil berlinangan air mata
"Aku nggak apa-apa, yah, buk...." lirihku berusaha menenangkan mereka