
Besok aku ke kantor kamu lagi
Begitu isi pesan yang ku kirim pada Putri sebelum aku tidur. Setelah mengirim pesan tersebut, aku langsung mematikan data selular hp ku, kemudian aku berbaring di sebelah Yusuf yang sudah sejak tadi pulas. Dengan sayang aku menciumi seluruh wajahnya
“Maafin ibuk ya nak jika harus membuatmu berjauhan dengan papa mu. Tapi ini harus ibuk lakukan nak, ibuk tak ingin semakin terluka jika ibuk bersama papamu. Mungkin terkesan egois karena ibuk tidak memikirkan masa depan mu. Tapi yakin lah nak, ini ibuk lakukan demi masa depan dan mental ibuk juga. Ibuk janji, kamu tidak akan kehilangan sosok papamu, kita hanya tidak bisa satu atap lagi, tapi dalam mengasuh dan membesarkan mu, yakinlah ibuk akan terus melibatkan papamu jika dia mau” batinku sambil menatap wajah Yusuf dengan nelangsa
Dengan menarik nafas panjang, aku mencoba memejamkan mataku. Berkelebat semua kenanganku dengan Tomi. Awal kami pacaran, awal perpisahan kami, pengkhianatan nya, pernikahannya dengan selingkuhannya, hingga akhirnya kami menikah. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Rasanya aku baru sebentar mengecap kebahagiaan hidup bersamanya, tapi sekarang aku harus merelakan untuk berpisah dengannya
Lelah. Mungkin ini yang sedang aku rasakan. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mundur, aku tidak bisa bertahan dengan orang yang tidak menghargai ku dan tidak mementingkan diriku. Aku bukan ingin dianggap nomor satu. Aku tahu, sampai kapanpun seorang ibu tidak akan pernah tergantikan posisinya di hati sang anak. Tapi tidak dengan menyakiti dan merendahkan pasangannya juga. Tubuhku sudah bolak balik, tapi mataku masih saja tidak bisa dipicingkan. Dengan gelisah aku duduk, menekuk kakiku, meletakkan daguku di atas lutut dan kembali menoleh kearah Yusuf yang masih sangat pulas
Berkali-kali aku mengusap wajahku, menarik nafas panjang sampai akhirnya aku bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar. Berjalan kearah kamar Naya, sebenarnya itu bukan kamar Naya, itu adalah kamar kakak pertamaku, dulu sebelum menikah dia tidur di kamar tersebut, tapi sejak dia menikah belasan tahun lalu, kamar tersebut kosong
Naya juga tampak pulas, dan aku tersenyum melihat wajahnya yang tenang. Kemudian aku berpindah ke kamar adik bungsuku, dimana Arik tidur bersama adik bungsuku tersebut. Sama seperti Naya, Arik juga tampak pulas
Karena kedua anakku pulas, jadi tidak ada alasan untukku gelisah lagi. Terlebih ini juga sudah sangat larut. Maka aku memutuskan untuk kembali masuk ke kamarku dan kembali berbaring di sebelah Yusuf. Dengan memiringkan tubuhku sambil mendekap tubuh Yusuf aku kembali berusaha memejamkan mataku, hingga akhirnya usahaku tak sia-sia, aku benar-benar terlelap
**
Seperti janjiku, jam istirahat kembali aku keluar dari ruanganku dan segera menuju ke kantor Putri. Dan lagi-lagi kelakukan Dinda diamati oleh pak Burlian dari ruangannya. lima belas menit aku sudah sampai di depan kantor Putri dan langsung masuk kedalam ruangannya
Putri langsung menyerahkan berkas ke tanganku dan aku segera membacanya sekilas. Kemudian aku membuka tas yang memang aku bawa, mengambil kantong kresek dari dalam tas dan meletakkan kantong kresek tersebut ke meja
“Ini ada uang cash 300. Sisanya aku transfer ke rekening Tomi langsung. Nanti setelah aku pulang dari kantor kamu, kamu bisa minta pada Tomi untuk kesini mengambil uang cash ini. Sekalian kamu berikan surat ini sama dia. Artinya, toko itu memang fix toko aku sekarang, karena uang Tomi sudah aku kembalikan. Anggap saja kemarin itu aku berhutang sama dia”
“Dan satu lagi yang aku ingin minta tolong sama kamu…….” ucapku menatap serius wajah Putri
__ADS_1
Jantung Putri sudah deg-degan menanti kelanjutan ucapan Dinda, dia tak ingin ketakutannya menjadi kenyataan. Putri hanya mampu menelan ludahnya ketika Dinda menatap serius wajahnya
“Kamu mau kan jadi lawyer aku lagi?”
Putri langsung menarik nafas panjang mendengar kelanjutan ucapan sahabatnya. Sepertinya ketakutannya akan menjadi kenyataan. Tapi dia masih bergeming, belum bertanya apa maksud dari ucapan sahabatnya itu
“Aku minta kamu jadi lawyer aku lagi kali ini. Aku akan menggugat Tomi. Secepatnya”
Tarikan nafas panjang Putri terdengar sangat jelas di telingaku, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku tahu dia shock, tapi setidaknya dia juga sudah menyadari, bahwa suatu hari aku pasti akan mengambil keputusan seperti ini.
“Apa kamu yakin Din?”
Aku tersenyum samar mendengar ucapannya. Kemudian aku mengangguk
“Aku bukan bermaksud mendukung kak Tomi, Din. Tentulah aku marah dengan yang dia katakan. Bahkan kami semua marah sama kak Tomi”
“Kami?” tanyaku dengan kening berkerut dan wajah penuh tanda tanya
Putri mengangguk pelan
“Kami semua sudah tahu tentang video itu jauh sebelum kamu tahu Din. Tepatnya ketika kamu koma kemarin. Kami semua marah, kami juga kecewa. Karena itulah kami semua memblokir nomor kak Tomi. Karena yang kami pikirkan tentang dia itu ternyata tidak sesuai dengan kenyataan”
Aku menarik nafas panjang, mengusap wajahku, kemudian mengusapkan kedua tangan ke atas rambutku dan meremas rambutku sambil kembali tertunduk
“Kalian semua benar-benar menyayangiku. Sampai rahasia sebesar ini kalian sembunyikan dari aku. Tapi sayangnya, bangkai yang tersembunyi suatu hari pasti akan tercium juga”
__ADS_1
Putri diam, dia juga tak tahu harus menjawab apa atas ucapan Dinda. Keduanya diam, larut dengan pikiran mereka masing-masing untuk sekian detik
“Sudah lah Put, pokoknya aku minta kamu jadi lawyer aku. Kalau kamu nolak, kamu bisa bilang sekarang, biar aku bisa cari lawyer lain”
“Aku akan jadi lawyer kamu” jawab Putri cepat yang ku balas dengan senyum samar
“Oke, jadi hari ini kamu kembalikan uang Tomi. Terus setelah itu kamu urus gugatan ku. Jangan lupa kamu urus juga pengembalian seluruh harta yang Tomi belikan untuk aku, rumah, mobil dan juga seserahan. Semuanya akan aku kembalikan”
Mulut Putri sampai ternganga mendengar ucapanku
“Kamu serius mau mengembalikan itu semua? Itu kan hak kamu sebagai mahar kamu Din”
Aku menggeleng
“Nggak Put. Tanpa uang dari Tomi aku bisa beli mobil, tuh yang di depan mobil aku. Bahkan kamu tahu sendiri mobil itu aku beli jauh sebelum aku nikah sama Tomi. Terus masalah rumah, aku nggak menginginkan rumah itu. Ucapan ibu mertua aku terlalu sakit jika aku mengingatnya. Persetan dengan itu mahar dari Tomi, Karena rumah itu pernah diungkit oleh ibunya Tomi, dan itu sangat melukai perasaanku. Satu lagi, rekening yang Tomi buatkan untuk aku juga kamu kembalikan sama dia nanti, nanti di draft gugatan kamu masukkan semua apa yang akan aku kembalikan sama dia. Seingat Ku hampir dua tahun menikah dengan Tomi, rekening itu tidak pernah aku senggol. Paling aku cek via e banking ketika ada transferan dari Tomi saja. Untuk membeli keperluanku aku ada gaji sendiri”
“Terus masalah seserahan, kemarin waktu pulang ke rumah, aku lihat semuanya masih terbungkus rapih dan masih berada di dalam lemari, jadi aku berfikir jika itu semua akan aku kembalikan juga. Aku nggak ingin ada satupun sisa pemberian dari Tomi tertinggal dalam hidupku. Cukuplah Yusuf pemberian darinya yang akan aku jaga sampai mati”
Putri kembali menarik nafas panjang. Dan menatap sendu ke arahku
“Sesakit itukah yang kamu rasakan Din?” lirihnya
Aku tersenyum samar
“Aku nggak tahu ini sakit apa kecewa Put. Yang pastinya aku sudah mati rasa sama semua ini. Sedikitpun aku tidak merasa kehilangan, aku malah merasa ikhlas kehilangan ini semua. Karena aku yakin, yang bukan milikku, suatu hari nanti akan diambil juga sama Alloh. Dan aku yakin, jika sesuatu itu milikku, mau sesulit apapun jalannya, pasti akan Alloh akan kembalikan padaku”
__ADS_1