
Adi masuk kedalam rumah dengan tergesa dan langsung masuk ke dalam kamar
Yesa yang sejak tadi menguping melihat suaminya masuk ke kamar ikut masuk juga
"Kamu mau ngapain pa?"
Adi tak menjawab dia terus membuka tumpukan baju bahkan sampai mencari hingga kebelakang tumpukan
"Nyari apa sih pa?"
"Mana bpkb mobil sama sertifikat rumah ini?"
Yesa menarik nafas dalam mendengar nada khawatir suaminya
"Mana ma?, cepat..."
Yesa bergerak keluar dan masuk ke kamar dimana anak mereka sedang pulas tidur
Tak lama dia telah kembali dengan membawa sebuah map plastik di tangannya
"Ini..." ucapnya menyerahkan map tersebut pada Adi
Adi segera mengambil map tersebut dengan cepat lalu langsung menemui pak Bara
Pak Bara tersenyum menyeringai ketika melihat map yang dibawa Adi. Dengan wajah yang tegang dan tampak bingung, Adi menyerahkan map tersebut pada pak Bara
Pak Bara yang menerima map tersebut langsung membuka dan meneliti bpkb terlebih dahulu
Membaca dengan seksama dan mencocokkan dengan plat kendaraan, lalu beliau berpindah ke sertifikat tanah
Membaca batas tanah, luas tanah dan juga harga tanah. Setelah membaca kedua surat tersebut, pak Bara memasukkannya kembali kedalam map lalu menatap wajah Adi yang masih tegang
"Ini saya bawa sebagai jaminan, dan selama kedua surat ini berada di tangan saya, rumah maupun mobil ini tidak bisa diperjualbelikan, jika mas Adi coba-coba berkhianat, mas akan terima resikonya"
Adi menelan ludahnya
"Rumah dan mobil ini pas lah nominalnya dengan hutang anda pada saya, ya paling kurang-kurang sedikit"
"Tidak mungkinlah pak, bapak tahu dengan jelas nominal hutang saya dan nominal harga mobil dan rumah ini jelas jauh lebih mahal dibanding hutang saya"
Pak Bara tersenyum menyeringai
"Itu kata anda, bukan kata saya"
Andi tercekat dan harus menelan ludah kembali dengan rasa dongkol
"Oke mas Adi, kedua surat ini saya bawa, dan beritahu saya jika uangnya telah ada"
Setelah berkata begitu pak Bara langsung berdiri dan mengajak kedua anak buahnya pergi dari rumah Adi, yang hanya bisa terduduk lesu menatap kepergian pak Bara
Sepeninggal pak Bara, Yesa segera keluar dari dalam rumahnya
"Kenapa bisa pak Bara membawa bpkb mobil sama sertifikat rumah kita pa?"
Adi menoleh cepat
"Pak Bara?, mama kenal sama beliau?"
Yesa tergagap dan berusaha menutupi kegugupannya
__ADS_1
"Tidak, tadi kan mama dengar papa nyebut nama beliau pak Bara, makanya mama tahu jika nama beliau pak Bara"
Adi mencoba untuk mempercayai ucapan Yesa dan kembali menarik nafas panjang
"Papa belum jawab pertanyaan mama"
Adi membuang mukanya dengan menatap lurus ke depan, kearah jalan raya yang agak menanjak dari rumahnya
"Pa?" desak Yesa
Sambil menarik nafas panjang akhirnya Adi menjawab pertanyaan Yesa
"Papa berhutang sama beliau"
"Hutang? hutang apa?"
"Beliau itu tauke pakan ikan, nah papa sudah hampir dua tahun ini selalu mencicil pembayaran sama beliau, bahkan akhir-akhir ini papa sama sekali tidak membayar, jadi beliau marah dan menagih sama papa, bahkan tagihan terakhir beliau menagih ke rumah"
"Dan Dinda marah besar, karena setiap papa ambil pakan, uang pakan ikan itu selalu dikasih sama Dinda, jadi Dinda tidak tahu jika uang itu papa korupsi kan"
"Saking kesal karena papa lama menunggak, pak Bara membuat surat perjanjian, jika selama sebulan papa belum bisa membayar hutang, papa akan diseretnya ke penjara, dan perjanjian itu kemarin jatuh temponya, makanya beliau datang kesini"
"Dan papa herannya kenapa beliau bisa tahu jika papa disini"
Yesa memasang wajah masam mendengar penjelasan panjang lebar Adi, wajahnya ditekuk sedemikian rupa
"Ngapain juga papa harus banyak hutang sama pak Bara, kalau begini kan kita yang bingung, gimana kalau rumah dan mobil kita disitanya?"
"Mama kok nanya kenapa papa bisa banyak hutang sama beliau sih?, apa mama lupa buat rumah dan beli mobil itu uang dari mana?, ya dari uang yang harusnya papa setorkan sama pak Bara itu!"
Wajah Yesa makin ditekuk
"Uang papa kan banyak, kenapa tidak pakai uang cash saja bayar hutangnya, kenapa juga harus menyerahkan bpkb sama sertifikat?"
"Semuanya telah di putus dengan Dinda"
Mata Yesa terbelalak
"Maksudnya?"
"Atm dan segalanya sekarang diblokir dengan Dinda. Bahkan segala jenis usaha papa semuanya diputus dengan Dinda"
Yesa terhenyak dan menatap nanar
"Jadi selama tiga minggu ini uang yang mama keluarkan tidak akan diganti?"
Adi diam
"Papa kan tahu, papa sudah lama tidak memberi mama uang, dari mana mama dapat tambahan jika bukan dari kiriman papa"
"Eh malah sekarang papa nggak ada pemasukan lagi, terus kita hidupnya bagaimana pa?"
Adi memasang wajah kesal mendengar keluhan istrinya
"Mama tuh bantu mikir, bukannya malah nambahi beban papa"
"Tau ah, bodo..." sambil berkata begitu, Yesa masuk kedalam rumah dengan menghentak-hentakkan kakinya
...----------------...
__ADS_1
Seperti sebelum-sebelumnya, jika week end, kegiatanku seputaran usaha yang kini menjadi tanggung jawabku
Sekarang aku harus terjun langsung, jika tidak usaha yang sudah kami rintis sekian tahun bisa kolaps, apalagi begitu banyaknya hutang peninggalan Adi yang harus aku lunasi
Entah dengan cara apa lagi aku membayar banyaknya hutang Adi. Rupanya selain dengan pak Bara, hutangnya ada juga petani bibit sawit. Dan nominalnya tak tanggung-tanggung, hingga aku harus menarik banyak tabunganku.
Dan kini, aku harus benar-benar mengelola toko, pembibitan dan kolam. Alhamdulillah nya aku dikelilingi oleh orang baik, para pekerja kolam semuanya jujur begitu juga karyawan toko dan gudang
Sedangkan karyawan pembibitan, tiga orang karyawan baru, pengganti mas Toro cs yang aku pecat kemarin
Sebenarnya mas Toro dan kedua temannya sudah sering datang ke rumah untuk meminta kerja kembali, dan berjanji jika mereka tak akan mengulangi kesalahan mereka lagi
Tapi hatiku masih belum bisa percaya, aku bukanlah orang munafik, aku bisa baik dengan orang yang baik sama aku, tapi aku akan menjadi jahat pada orang yang berkhianat padaku
Seperti pagi ini, selesai mengantarkan Naya dan Arik sekolah, aku sudah bersiap akan berangkat ke toko ketika beberapa karyawan kolam datang
"Mbak, kolam sudah siap untuk di isi ikan lagi"
Aku menarik nafas dalam, itu artinya aku harus menyiapkan uang lagi untuk beli bibit ikan
"Mas atau bapak tahu tidak, selama ini suami saya ambil bibit ikan dengan siapa?"
Mereka bertiga diam lalu menggeleng, karena mereka tidak mengetahuinya
"Atau mbak hubungi pak Bara saja, kami yakin beliau pasti tahu mbak"
Aku mengangguk setuju, segera aku masuk kedalam mengambil hp menghubungi pak Bara
"Ya mbak Dinda, ada yang bisa bapak bantu?" sapa pak Bara dari seberang ketika tersambung
"Begini pak, kata mas dan bapak-bapak ini, kolam kami sudah siap diisi kembali, bapak ada kenalan yang jual bibit ikan?, soalnya selama ini yang menangani ini semua mas Adi"
Pak Bara belum menjawab, beliau diam sejenak
"Oh ada mbak, nanti saya kirimi nomor mereka, mbak bisa nego langsung sama mereka"
Aku tersenyum mendengar jawaban pak Bara, itu artinya satu masalah sudah terpecahkan
Tak lama beberapa pesan dari pak Bara masuk, beliau benar-benar mengirimi saya nomor kontak tauke bibit ikan
Segera aku menghubungi mereka satu persatu
Ternyata tak mudah bernego dengan mereka, karena lagi-lagi mas Adi meninggalkan hutang sama mereka dan mereka marah-marah sama aku
"Bapak bisa temui saya siang ini di toko, jangan lupa bawa bukti nota hutang suami saya" janjiku pada mereka berlima
Selesai menelpon para tauke bibit ikan aku menatap ketiga karyawan kolam dengan mata berkaca-kaca
"Bapak-bapak dan mas dengar sendiri kan apa kata mereka?"
Huffff, aku membuang nafas dalam dan air mataku langsung mengalir
"Uang dari panen ikan kemarin saya lunasi hutang mas Adi pada para petani bibit sawit, bayar upah bapak dan mas semua, terus saya juga bayar upah karyawan pembibitan, itu saja banyak kurangnya, terpaksa saya ambil uang tabungan, pusing saya mas..." keluhku
Mereka bertiga menatap kasihan padaku, tapi aku balas dengan senyum terpaksa sambil menyusut air mataku
"Dan ini rupanya mas Adi berhutang pula pada mereka berlima, mati saya bapak-bapak jika harus membayar semua hutang mas Adi..." keluhku sambil kembali meneteskan air mata
Ketiganya menarik nafas berat
__ADS_1
"Kalau begitu, ngisi kolamnya dipending saja mbak, biarlah upah kami membersihkan kolam tidak mbak bayarkan dulu, yang penting masalah mbak selesai" ucap salah satu yang paling tua diantara ketiganya, yang disetujui dengan yang lain dengan menganggukkan kepala
Aku menarik nafas panjang mendengar keikhlasan mereka. Kembali air mataku mengalir