
Kemudian kudengar Tomi menarik nafas panjang.
"Kamu tahu lah Arik kan masih kecil jadi dia nggak tahu permintaannya tadi itu adalah permintaan konyol" sambung ku dengan hati-hati.
"Tapi aku rasa itu bukan pernyataan konyol Din, tapi itu memang sebuah permintaan tulus dari hati Arik" jawab Tomi.
Aku berusaha tersenyum mendengar jawaban Tomi.
"Ya dia kan belum paham Tom bagaimana meminta seseorang untuk jadi ayahnya, tidak semudah dengan meminta barang yang saat itu bisa langsung didapat".
Tomi lalu kembali menatap mataku dengan dalam. Cukup lama dia menatap wajahku sampai aku gelisah sendiri dibuatnya.
"Maafkan aku Tom" lirihku sambil menunduk.
Tomi berusaha tersenyum mendengar ucapanku
"Iya Din, Aku ngerti kok" jawabnya dengan lirih pula .
Lalu kami berdua sama-sama terdiam.
"Din, beritahu aku apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kamu bahwa aku bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kedua anak mu" ucap Tomi kembali setelah kami berdua cukup lama diam.
Aku menarik nafas panjang kemudian aku menggeleng
"Aku nggak tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku tahu kamu baik, baik banget malah. Tapi ya itu, aku belum bisa tolong beri aku waktu lagi, ya?".
Kembali ku dengar Tomi menarik nafas panjang kemudian dia kembali mengusap lembut rambutku.
"Aku tidak peduli berapa lama lagi aku harus menunggu, selama apapun itu aku akan menunggumu Din".
Aku kembali hanya bisa menelan ludah dan menatap Tomi tanpa bisa berkata-kata.
Entah apa yang terjadi selanjutnya, karena aku tidak tahu siapa yang memulai duluan. Karena setelah itu, kami sama-sama saling menyesap bibir kami satu sama lain.
Lembut, dalam, hangat, itulah yang aku rasakan.
Dan aku rasakan Tomi mengusap-usap lembut punggungku sehingga aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku.
Hingga dering handphone dari HP Tomi yang terletak di atas meja membuat kami sama-sama melepaskan pagutan kami.
Aku dengan kikuk mengelap bibirku dengan punggung tanganku kemudian menggeser duduk ku dari Tomi.
"Iya Buk, ini Tomi masih di rumah Dinda. Sebentar lagi Tomi pulang"
Setelah itu Tomi kembali meletakkan hp-nya di atas meja kemudian menoleh ke arahku. Dan aku segera membuang mukaku menghindari tatapan Tomi.
Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat malu dengan perbuatanku barusan.
Terdengar Tomi seperti tertawa pelan yang membuatku menoleh ke arahnya dengan tajam.
__ADS_1
"Bibir kamu bilang kalau kamu belum siap dan masih meminta waktu. Tapi perasaan kamu mengatakan bahwa kamu mencintai aku" ucap Tomi percaya diri.
Bluurrrrr
Seketika wajahku langsung terasa panas.
"Aku hanya terbawa perasaan saja Tom" elak ku yang kembali membuat Tomi terkekeh.
"Okelah jika itu jawabanmu, nggak apa-apa. Tapi setidaknya itu sudah cukup menunjukkan perasaan kamu yang sebenarnya" kembali Tomi menjawab dengan percaya diri.
Dan aku semakin merasakan panas pada wajahku.
"Ya sudah aku pulang ya, besok aku datang lagi kemari dan aku akan mengantarkan kamu ke kantor kembali. Sampai kamu benar-benar sembuh dan bisa melangkah ke kantor sendiri" ucap Tomi sambil mengacak-acak rambutku.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Tomi kemudian kami melangkah pelan bersama. Keluar dari rumah, mengantarkan Tomi ke mobilnya yang terparkir di luar.
Cuppp!!!
Sebuah ciuman lembut mendarat sempurna di pipiku yang membuatku langsung terbelalak kaget.
Saat aku masih terkaget dan ingin memukul lengan Tomi, Tomi sudah berlari masuk ke dalam mobilnya sambil terkekeh penuh kemenangan.
"Aku pulang sayang ya....." ucap Tomi sambil menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arahku.
Aku tidak menjawab ucapannya melainkan hanya cemberut.
Ketika mobil Tomi keluar dari halaman barulah aku masuk ke dalam rumah dan tersenyum-senyum sendiri.
Seperti biasanya, aku pagi-pagi sudah bangun dan membuatkan sarapan untuk kedua anakku. Dan ketika mereka sarapan kembali Arik dan Naya menatap ke arahku yang membuatku curiga.
"Kenapa?" tanya ku pelan sambil meletakkan sendok ke piring lalu menatap kedua anakku.
"Apakah kami boleh minta sesuatu sama ibu?" kali ini Naya yang menjawab pertanyaanku.
Melihat tatapan wajah kedua anakku yang serius ke arahku aku juga gantian menatap serius ke arah mereka.
"Mau minta apa?, Bilang saja. Selagi Ibu bisa ngasihnya akan Ibu kabulkan" jawabku .
"Janji?" tanya Arik dan Naya serempak.
Aku menganggukkan kepalaku pasti
"Kami ingin Om Tomi jadi Papa baru kami" jawab keduanya.
Mataku langsung terbelalak dan Mulutku seketika langsung menganga mendengar permintaan kedua anakku.
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku seperti tak yakin dengan pendengaran telingaku sendiri.
"Ibu dengarkan kami tadi ngomong apa?" tanya Arik pelan.
__ADS_1
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Arik, Melainkan aku segera meraih segelas teh hangat lalu menyeruputnya dengan pelan.
"Buk, Ibu sudah janji kan bahwa ibu akan mengabulkan semua permintaan kami. Itulah permintaan kami. Kami ingin Om Tomi menjadi Papa baru kami" ulang Naya.
Aku langsung menarik nafas panjang, mengusap wajahku, lalu meletakkan kedua tanganku di atas kening, menunduk. Berusaha untuk menenangkan degup jantung ku yang tiba-tiba berdetak sangat kencang.
"Assalamualaikum...." teriak sebuah suara di luar yang memaksa Kami bertiga langsung menoleh.
"Itu om Tomi...." ucap Arik yang langsung turun dari kursi dan langsung berlari ke depan untuk membukakan pintu.
Dan aku kembali menarik nafas panjang begitu melihat Tomi berjalan dengan Arik sambil bergandengan tangan.
"Ayo, sudah siap belum? khusus untuk hari ini om yang akan mengantarkan kalian berdua ke sekolah" ucap Tomi sambil mengusap kepala kedua anakku cara bergantian.
Aku langsung menghembus nafas panjang begitu mendengar ucapan Tomi. Tapi berbeda dengan kedua anakku, mereka langsung berteriak kegirangan.
"Sana salim dulu sama ibu" ucap Tomi kepada kedua anakku sebelum akhirnya dia mengambil tas kedua anakku dan membawanya keluar.
Naya dan Arik langsung mencium punggung tanganku dengan takzim dan aku tidak bisa berkata-kata ketika keduanya menyalamiku karena aku masih sangat merasa shock.
Dan aku hanya mendengar suara deru mobil di luar, yang itu artinya kedua anakku benar-benar sudah berangkat sekolah dengan diantar oleh Tommy.
Kami ingin Om Tomi menjadi Papa baru kami
berkali-kali kalimat yang tadi diucapkan oleh Naya terngiang-ngiang di telingaku.
Dan tiba-tiba nafasku rasanya sesak. Dan aku berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paruku.
"Aduh....., mengapa pula pagi ini Tomi sudah muncul ke rumah" sesalku.
Di saat aku masih gelisah dan kebingungan dengan pikiranku, kembali terdengar suara Tomi mengucapkan salam di luar yang membuatku harus berdiri dari kursi dan menjawab salamnya.
"Selamat pagi sayang......" sapa Tomi dengan langsung mengacak rambutku.
Aku mendecak kesal mendengar ucapannya lalu berusaha membuang tangannya yang ada di atas kepalaku.
Tomi yang sudah hafal dengan perangaiku hanya terkekeh.
"Karena Mbak Sri belum datang dan kita hanya berdua saja di rumah, itu artinya......." ucap Tomi menggantung yang membuatku langsung melotot kan mataku.
Tomi terkekeh melihat aku melotot tajam ke arahnya.
"Tidak mungkin Dinda aku berani berbuat macam-macam sama kamu. Kamu tahu betapa cintanya aku sama kamu" lirih Tomi sambil membelai wajahku.
Aku hanya diam mendapat perlakuan Manis dari Tomi dan hanya menatap dalam pada matanya.
Tapi tak lama aku mendecak kesal dan menepis tangannya.
"Mulai deh, nanti ujung-ujungnya aku baper, terus kamu nyosor" ucapku sambil cemberut.
__ADS_1
Kembali Tomi terkekeh mendengar jawabanku yang makin membuatku kesal melihatnya.
"Oh ya tadi di jalan Naya bilang, kalau dia mengulang pertanyaan yang sama ketika sarapan tadi. Apa itu benar?" tanya Tomi yang kembali harus membuatku menelan ludah.