
Dengan malas aku meraih handphone di dalam tas
Adi
"Mau ngapain lagi dia" keluhku sambil menarik nafas panjang
Aku hanya mendiamkan hp tanpa berniat mengangkat panggilan darinya, aku yakin surat panggilan telah sampai ke rumahnya
Kembali nada panggilan masuk berbunyi dan kembali aku harus menarik nafas panjang karena ada nama Adi yang tertera di layar
Dengan mendecak kesal aku menyentuh tombol hijau dan menempelkan hp ke telingaku
"Ya, ada apa?"
"Aku di rumah, kamu dimana?"
"Kantor, kan ini masih jam kantor"
"Mana kunci rumah?, aku mau masuk"
Aku tersenyum sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalaku
"Tunggulah di luar, nanti ketika Arik pulang baru kamu bisa masuk"
"Tapi Din?"
Aku segera mematikan hp tak berniat mendengar alasannya lagi
Adi yang kesal akhirnya hanya bisa terduduk di teras dan memandang berkeliling pada rumahnya yang telah cukup lama ditinggalkannya
Berkali-kali dia mendecak kesal, dan akhirnya dia kembali mengeluarkan hpnya
"Dimana mas?, bisa antar saya ke toko tidak?"
Kembali Adi harus menelan kecewa karena ternyata mas Toro yang di telponnya rupanya saat ini sedang bekerja
Adi berdiri dari kursi lalu berjalan kearah gazebo dan merebahkan dirinya di sana.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya terdengar olehnya suara pagar dibuka, lalu suara motor masuk
Benar, mbak Sri masuk dengan membonceng Arik di depannya
Melihat jika yang datang adalah mbak Sri dan Arik, Adi segera turun dan berjalan kembali kearah teras
"Loh dek, ada ayah"
Arik menoleh mengikuti mbak Sri yang menatap kearah Adi yang berjalan kian dekat ke teras
Adi mengembangkan senyum di bibirnya ketika dekat dengan teras dan segera merangkul Arik yang hanya menatap datar padanya
"Anak ayah apa kabar?"
Arik diam tak menjawab dan hanya menatap lurus ke depan
"Cepat buka pintu bik, aku mau masuk"
Mbak Sri yang menatap bengong pada majikannya segera tergopoh mencari kunci di dalam tas lalu membuka kunci
Adi segera masuk sambil terus merangkul pundak Arik yang masih diam tak bereaksi seperti biasanya
Sampai di dalam Arik langsung masuk menuju kamarnya dan mbak Sri mengganti pakaiannya, sementara Adi segera naik ke kamar pribadinya yang telah cukup lama ditinggalkannya itu
Adi segera merebahkan tubuhnya dan menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit kamar
Dilihatnya ke tembok dimana sudah tak ada lagi fotonya dengan Dinda di sana. Adi segera bangkit lalu membuka lemari dan dilihatnya jika bingkai foto itu terletak di bagian paling bawah lemari, diambilnya foto tersebut dan ditatapnya senyum manis Dinda di sana
"Apakah semuanya akan berakhir Din?" lirihnya sambil mengusap foto tersebut
Setelah itu Adi lalu melihat isi lemari yang sudah tak ada satupun lagi pakaiannya. Dia ingat ketika pergi meninggalkan rumah ini memang dia membawa seluruh pakaiannya
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Adi
__ADS_1
"Iya?"
"Makanannya telah saya siapkan pak"
"Iya makasih mbak, nanti saya turun"
Hening, tak ada lagi suara. Adi kembali ke ranjang dan berbaring
Sementara aku yang sibuk di kantor pikiranku jadi sedikit terbagi karena ada Adi di rumah kami
Mbak sudah di rumah belum?
Centang dua langsung berwarna biru
Iya bu, mbak sudah di rumah, ada apa?
Mas Adi nya sedang apa mbak?
Nggak tahu bu, beliau ada di kamar atas
Aku mendecak dan akhirnya meletakkan hp dan melanjutkan pekerjaanku, berkali-kali aku menarik nafas dalam dan itu menjadi perhatian pak Kusno
Aku hanya tersenyum getir kearah beliau
Karena tak ingin terlalu menjadi pusat perhatian karena aku benar-benar stress, aku keluar sebentar dari dalam ruangan, berjalan kearah taman kantor
Duduk sendiri di sana sambil menarik nafas dalam-dalam
Lamunanku buyar ketika hp ku berdering. Aku mengerutkan kening ketika di layar tampil nama pak Bara
Dengan cepat aku angkat panggilan beliau, aku yakin ini pasti masalah hutang lagi
"Ya pak?"
"Mbak Dinda ada nomor baru mas Adi?"
"Nggak ada pak, barusan dia meneleponku masih pakai nomor lama"
"Kenapa ya pak?" tanyaku penasaran
"Nomor kami di blokirnya semua mbak"
"Kami?"
"Iya, semu yang ada piutang sama dia, dia blokir semua"
Aku menarik nafas panjang
"Aku lepas tangan pak jika masalah hutang Adi, aku sudah habis-habisan pak"
"Iya mbak kami faham, jika begini caranya artinya memang mas Adi memilih kami laporkan lewat jalur hukum"
Kembali aku menarik nafas panjang
"Begini saja pak, sore ini bapak dan teman-teman bapak datang saja ke rumah kami, karena kebetulan Adi ada di rumah, sekitar dua jam yang lalu dia sampai di rumah"
Tak ada jawaban dari pak Bara, mungkin beliau berfikir
"Bagaimana pak?, jadi bapak-bapak semua bisa ketemu dengan Adi di rumah kami, bapak-bapak semua selesaikanlah masalahnya dengan dia, jika memang perlu langsung bawa polisi juga, saya tidak perduli"
"Baiklah mbak, saya hubungi teman yang lain, nanti setelah dapat konfirmasi dari mereka mbak saya hubungi lagi"
Lalu panggilan berakhir dan aku kembali menatap kosong ke depan
Putri juga telah memberitahuku jika semua urusan harta gono gini sudah dia pelajari, katanya sih aku nanti akan dikasih tahu dia apa yang harus aku lakukan
Aku sedikitpun tidak menyadari jika aku yang sedang melamun sendiri di taman kantor memantik perhatian seluruh pegawai di kantor ini
"Yakin kamu jika suami Dinda serong?"
"Iya bu, tetangga saya kan ada yang kerja di tokonya Dinda"
__ADS_1
"Nggak nyangka ya, padahal kurang apa coba Dinda?"
"Godaan lelaki kan emang gitu buk, kalau sudah berduit dikit pasti bertingkah"
Aku kembali menarik nafas dalam dan mengusap kasar wajahku karena jujur saja aku agak khawatir menghadapi sidang perceraian ini
Aku yakin Adi pasti akan berbelit-belit nanti, apa bisa nanti Putri menghadapi pengacara Adi?
...----------------...
Aku memasukkan mobil kedalam garasi dan segera turun dari mobil, menarik nafas dalam sebelum akhirnya aku mengucap salam dan masuk kedalam rumah
Arik dan Naya berhamburan ke pelukanku ketika aku masuk
"Ada ayah, buk" adu mereka
Aku hanya menganggukkan kepala dan mengajak mereka duduk di sofa
"Ibu capek?" sambil berkata begitu Arik dan Naya telah memijit lenganku
Aku hanya tersenyum melihat perhatian mereka padaku. Lalu aku melirik kearah tangga dimana aku dengar ada suara langkah kaki
Benar saja, Adi turun dengan santainya dan langsung duduk di depan kami
Kedua anakku masih melanjutkan pijatan mereka ke lenganku tanpa menoleh pada ayah mereka
"Baru pulang buk?"
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Adi
"Naya, ajak adik masuk dulu ya sayang, ibu mau ngomong sama ayah kalian"
Naya melirik tajam kearah ayahnya lalu menatap tak yakin padaku
"Cuma sebentar" lanjut ku meyakinkannya
Naya berdiri lalu menggandeng tangan Arik tanpa menoleh pada ayahnya, kemudian Naya segera mengajak Arik masuk ke kamarnya
Aku hanya diam dan menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi
"Aku sudah nerima surat dari pengadilan" buka Adi
Aku bergeming, hanya menatap kosong padanya
"Bisa tidak buk, kamu batalkan gugatan itu?, aku janji aku bakal berubah dan meninggalkan Yesa"
Aku masih diam dan hanya menatap pada wajah Adi yang memelas
"Coba ibu pikir kembali, bagaimana dengan Naya dan Arik jika kita berpisah?"
Aku tersenyum getir
"Arik dan Naya bagaimana?, kamu tanya mereka bagaimana?"
Aku kembali tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepalaku
"Dulu waktu kamu senang-senang dengan istri muda mu, menghambur-hamburkan uang apa kamu ingat dengan nasib mereka berdua?"
Adi terdiam mendengar jawaban menohok dari Dinda
"Sudahlah mas, nggak usah mikirin bagaimana Arik dan Naya, karena bisa aku jamin jika hidup mereka tak bakal kekurangan apapun walau mereka tidak punya ayah lagi"
"Jadi kamu tetap pada keputusan kamu?"
"Iya" jawabku pasti
Kulihat wajah Adi tampak kusut dan aku tak memperdulikan itu, apalagi ketika terdengar suara ketukan pintu diluar membuatku bangkit dan meninggalkannya
"Masuk bapak-bapak semua, itu Adi ada"
Adi segera menoleh kebelakang dan matanya langsung terbelalak kaget
__ADS_1