
Tommy berjalan dengan lesu ke arah sofa kemudian dia kembali duduk di sebelah ibunya
"Kamu harus bersabar Tom" ucap pak Burlian
"Bukankah sebelum mendapatkannya kamu juga sudah belajar bersabar? Jadi mungkin lamanya waktu yang kamu butuhkan kemarin itu belum cukup untuk meyakinkan Dinda. Dan sekarang mungkin adalah waktu yang harus kamu tambah biar Dinda semakin yakin bahwa memang kamu adalah pria yang tepat untuknya"
Tapi ini konteksnya berbeda Kak, jika dulu aku bersabar menantikannya agar dia menjadi istri aku. Dan sekarang itu Dinda sudah menjadi istri aku, dan aku harus minta bersabar lagi ?harus berapa lama lagi Kak ?"
"Ya itu sih tergantung sama kamu, kalau kamu nya mau bersabar seperti yang Dinda minta, Iya kamu harus bersabar dong. Tapi kalau kamu nggak mau, ya udah masih banyak kan perempuan lain"
Tomi mendecak mendengar jawaban yang diucapkan oleh pak Burlian
"Sayangnya perempuan di dunia ini yang aku cinta itu cuma Dinda Kak"
"Ya kalau kamu tahu kalau kamu itu memang mencintai dia, terus Mengapa kamu bilang sama Bibi jika Dinda itu nggak ada artinya di mata kamu. Dan kakak yakin kalimat yang kamu katakan, jika Dinda mengetahuinya itu akan benar-benar menyakiti hatinya"
Tommy diam tertunduk sembari menarik nafas panjang mendengar perkataan Pak Burlian. Sementara ibunya hanya bisa menundukkan kepalanya, dia sangat menyesali perbuatannya"
"Ada baiknya kalian ke rumah orang tua Dinda, kalian minta maaf sama kedua orang tuanya, terlebih kepada kedua anak Dinda. Karena kakak yakin, keluarga besar Dinda itu tidak ada yang memberitahu Dinda tentang yang kamu omongkan kepada ibu kamu. tapi ya, kita juga nggak tahu, jika kedua anak Dinda itu membocorkan video yang mereka ambil ketika kamu mengucapkan kalimat itu kepada ibu kamu dengan ibu mereka"
"Tapi dari gelagat yang dikatakan oleh Dinda tadi sepertinya Dinda sudah mengetahui Kak" ucap Tommy dengan wajah lesu
"Ya apa salahnya kamu coba dulu, tidak ada yang instan Tommy. makanya sebelum melakukan sesuatu itu kamu harus berpikir lebih dulu. tidak ada penyesalan itu di awal semua penyesalan itu pasti di akhir. dan Maaf ya Bi, Saya memang keponakan Bibi tapi di sini Saya ingin menasehati Bibi juga walaupun bibi itu jauh lebih tua dari saya. Saya rasa tidak ada salahnya jika saya memberi nasehat kepada bibi. saya tahu Bibi sayang sama Tommy sayang juga kepada Dinda, dan tidak ingin keluarga mereka hancur tapi, tidak dengan cara bibi itu masuk terlalu dalam mencampuri urusan pribadi mereka. biarlah urusan pribadi mereka itu mereka selesaikan berdua. jika urusan pribadinya itu benar benar sudah menuju ambang kehancuran, barulah Bibi ikut campur. dan ikut campurnya di sini pun Bibi sebagai penengah, bukan sebagai api.
"Tapi kan maksud Bibi kemarin itu baik, bibi tidak ingin Tomi merasakan kehancuran rumah tangganya yang kedua kalinya"
__ADS_1
"Iya Bi saya tahu niat bibi itu baik tapi caranya bibi itu yang salah"
"Terus apa yang harus aku lakukan sekarang Kak? Apa aku harus ke rumah orang tuanya Dinda?"
"Ya Jika kamu mau, apa salahnya kamu datang ke sana. Sowan ke rumah mertua kamu. yakinkan mereka Jika kamu akan berubah. Bila perlu kamu buat surat perjanjian di atas materai Biar mereka semakin yakin jika kamu itu berubah"
"Apa harus segitunya Kak?"
"Yaa nggak ada salahnya kan dicoba?"
Tommy menarik nafas panjang kemudian menganggukkan kepalanya lalu dia menoleh ke arah ibunya dan ibunya pun mengangguk.
"Baiklah Kak jika itu yang kakak sarankan. saya akan kembali lagi ke rumah mertua saya, membujuk mereka dan meyakinkan mereka agar mereka kembali ikhlas melepas Dinda untuk kembali ke rumah kami"
Pak Burlian tersenyum kemudian menepuk bahu Tommy memberikan semangat kepada adik sepupunya itu
Hari Minggu adalah hari yang aku tunggu-tunggu setelah bekerja 4 hari kemarin. Hari ini aku dan ketiga anakku memang sengaja berencana untuk keluar. tidak jauh-jauh, kami hanya sekedar berjalan-jalan di komplek rumah hanya untuk sekedar melepas rasa kangenku pada lingkungan tempat tinggal ku dulu.
Ibuk, Bagaimana kalau kita ke rumah kita yang lama ?"
Aku tampak tercenung memikirkan ide yang dilontarkan oleh Naya. Kemudian aku menatap matanya dan juga mata Arik yang berbinar menantikan jawaban dariku
"Hmm, okelah. Nggak ada salahnya kita pulang ke rumah kita. itung-itung Ibuk juga kangen sama pekerja sawit dan juga ibuk kangen sama rumah. sudah lama sekali Ibuk nggak pulang ke rumah kita"
Kedua anakku mengangguk, Kemudian kami langsung berjalan menuju rumah lama kami yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah orang tuaku
__ADS_1
Terlihat Mbak Sri yang sedang menyapu halaman. Dan ketika melihat Kami sampai, beliau langsung berlari menyongsong kami. Begitu juga dengan para pekerja sawit yang begitu melihat kedatanganku mereka Langsung melepaskan pekerjaannya, mengelap tangan mereka dan langsung mengulurkan tangan mereka ke arahku. Tentu saja sambutan hangat dari mereka benar-benar membuat tentram rasa hatiku.
Kemudian aku langsung menanyakan kabar mereka dan kami langsung terlibat obrolan hangat. sementara Naya segera mengambil Yusuf dari gendonganku dan segera membawanya masuk ke dalam rumah
Ketika kami sedang berbincang-bincang, handphone Arik yang kebetulan saat itu ada di dalam kereta dorong Yusuf berdering. dan kulihat itu panggilan masuk dari ayahnya. aku tertegun ketika melihat tulisan di layar, yang bertuliskan kata Ayah. Aku tidak menyangka jika anakku membuka kembali akses untuk ayah mereka agar bisa berkomunikasi dengan mereka
Karena Arik berada di dalam rumah dan tidak mendengar teriakanku, akhirnya panggilan dari ayahnya terabaikan. kemudian aku melanjutkan obrolan dengan para pegawai lamaku dan secara kebetulan mereka mengatakan jika hasil penjualan bibit sawit seluruh uangnya selama aku koma, itu mereka setorkan ke kakakku
Mbak Sri keluar dengan membawakan cemilan yang langsung kami santap sambil melanjutkan obrolan kami.Setelah ngobrol sudah cukup agak lama, para pegawai sawitku Langsung kembali berpamitan padaku dan melanjutkan pekerjaan mereka menyusun Bibit ke dalam beberapa buah mobil yang memang sudah antri untuk diisi muatan
Masuklah Bu, Istirahat di dalam. Toh ini rumah Ibu" ucap Mbak Sri yang aku jawab dengan senyuman dan anggukan kepala
Mbak Sri masuk ke dalam rumah karena pekerjaannya belum selesai untuk menyiapkan makan siang untuk para pekerja sawit. sementara aku iseng membuka HP Arik
Tidak banyak isinya, maklumlah anakku tersebut masih kecil, masih kelas 3 SD. Isi hp-nya hanya ada beberapa game online. Kemudian rasa penasaran ku berlanjut ke galerinya. Apa saja isi galeri anak tersebut. dan ketika pada menu video aku segera menekan aplikasi tersebut karena di sana Aku melihat ada beberapa buah video
Naya itu Bukan Anakku jadi aku tidak masalah jika dia merajuk yang terpenting buat aku itu adalah ibu karena Ibu adalah segalanya untuk aku
Bergemuruh rasanya Dadaku melihat video yang ada di HP Arik yang menampilkan suasana rumah kami tepatnya itu di dapur. dan aku ingat sekali saat itu, waktu itu, jam itu pun aku ingat.
Karena diiringi oleh rasa penasaran aku kemudian menekan kembali video tersebut agar video tersebut kembali berjalan
Dinda itu tidak ada artinya di mata aku. bagi aku Ibu adalah segalanya ibu yang telah mengasuh aku hingga aku jadi seperti sekarang ini
Aku langsung membekap Mulutku begitu selesai video tersebut aku lihat. mataku terasa panas dan detik berikutnya air mataku langsung berjatuhan dengan derasnya
__ADS_1
Ya Tuhan, jadi ini yang di sembunyikan oleh kedua anakku? aku yakin keluargaku tahu tentang video ini. tapi mengapa mereka tidak ada yang memberitahuku? ya Allah Tomi, Aku tidak menyangka seperti ini kamu terhadap aku. Jadi untuk apa kemarin-kemarin kamu meminta aku untuk kembali sama kamu, Jika aku ini tidak ada artinya di mata kamu?" batinku pilu