Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Sales Datang


__ADS_3

Yesa terjaga karena tangisan bayinya makin kencang. Dia kembali memberi bayinya asi.


Diputar-putarnya matanya mengelilingi ruangan kamar siapa tahu ada suaminya di sana.


"Pa?, Papa?"


Tak ada sahutan. Karena tak ada sahutan dari Adi, Yesa kembali fokus memberi asi anaknya. Sekitar setengah jam akhirnya bayinya kembali pulas dan Yesa turun dari ranjang, keluar kamar mencari suaminya yang duduk di ruang tengah sambil merokok


"Loh, kok nggak tidur pa?"


Adi menoleh dan tersenyum kearah istri mudanya yang tampak makin seksi di matanya


"Habis tempur, perut papa lapar, itulah makanya papa bangun dan masak mie"


Yesa duduk di sebelah Adi dan menempelkan kepalanya di pundak Adi


"Pa, yang lama ya disini, anak kita butuh papa"


"Yang butuh papa itu anak kita, apa mama?"


Yesa tersenyum manja dan memeluk pinggang Adi


"Tadi sewaktu papa menelpon istri papa, anak kita terbangun dan menangis. Terus istri papa bertanya itu suara bayi siapa?"


Yesa segera mengangkat kepalanya yang sejak tadi menempel di pundak Adi. Menatap serius


"Terus papa jawab apa?"


Adi menarik nafas dalam


"Papa jawab kalau papa lagi nginap di hotel, mana ada suara bayi nangis"


Yesa menarik nafas lega mendengar jawaban Adi


"Akhir-akhir ini istri papa sepertinya mulai curiga, itulah mengapa papa tak bisa selalu kesini"


Yesa diam


"Ini demi kebaikan kita bersama. Papa tak mau istri papa tahu jika


papa mengkhianatinya dan telah memiliki anak dari wanita lain"


"Jadi papa tidak mencintai mama?"


"Bukan begitu sayang, tapi kita harus berhati-hati. Jika ketahuan semuanya jadi kacau"


Yesa cemberut dan membelakangi Adi, tampak sekali kesal di wajahnya


"Jangan marah, memangnya kamu mau uang jatah kamu tidak papa beri lagi?, kan kamu tahu sendiri, keuangan yang kontrol istri papa"


Yesa cepat membalikkan badannya dan menggeleng. Dengan lembut dia memeluk suaminya


"Ternyata mudah sekali membujuk perempuan yang merajuk, sebut kata uang saja maka marahnya segera reda" batin Adi sambil tersenyum menyeringai


...****************...


Berhubung ini hari Sabtu, jadi kantor libur. Walaupun kantor libur tapi aku selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk kedua anak ku.


Aku segera ke kamar Arik, melihatnya yang masih pulas tidur, membenarkan selimutnya dan mengecup keningnya.


Lalu pindah ke kamar Naya, sama seperti adiknya, Naya juga masih nyenyak dan tak ada tanda akan bangun


Selesai shalat, aku segera ke dapur, memulai aktivitasku. Jam enam pagi mulai aku membangunkan kedua anakku.


Naya mandi sendiri, sedangkan Arik aku mandikan. Selesai itu, aku memakaikannya baju seragam, menyuapinya makan dan memberinya segelas susu.


Naya melakukan semuanya sendiri, aku hanya membuatkannya susu, sedangkan sarapan dia ambil sendiri.


Pukul 06.45, aku memanaskan mesin motor, sementara kedua anakku memakai sepatu


Aku kembali masuk kedalam rumah, mengambil jaket dan helm, baru setelahnya kedua anakku naik keboncengan dan mengantarkan mereka ke sekolah masing-masing


Dua puluh menit berikutnya aku sudah kembali masuk ke halaman luas rumah kami.


Kembali aku membereskan bekas anakku mandi, dan membereskan kamar mereka ketika beberapa karyawan suamiku mulai berdatangan.


"Yuk, buat kopi, ya?"


Aku tahu itu suara karyawan sawit suamiku


"Iya, buat saja sendiri. Tapi dapur jangan berantakan"


"Siap yuk!"

__ADS_1


Lalu aku meneruskan aktivitasku merapikan kamar kedua anakku. Dari luar aku dengar suara salam, aku yakin itu suara Siska


Sambil menjawab salamnya aku keluar dan menemuinya


"Buk, mau laporan, nanti ada sales yang masuk"


"Oh iya, nanti ibuk ke toko, sekarang kamu duluan aja ya. Buka tokonya, jam berapa sales datang?"


"Biasanya jam 11.00.bu"


"Oh iya, nanti selesai ini ibuk ke toko"


Siska mengangguk lalu berpamitan padaku. Sepeninggal Siska, aku segera keluar menemui karyawan pengantaran sawit


"Kemana rute hari ini?"


"Saya keluar kota yuk" jawab mas Toro


"Yang lain?"


"Kalau kami ambil bibit yuk" jawab dua orang yang lain


"Ada yang keluar propinsi nggak?"


Semuanya menggeleng


"Oh, ya sudah. Berhubung bapak nggak ada, lagi ke ibukota, jadi semua pekerjaan kalian saya yang memanage"


Mereka menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, bagi yang belum sarapan silahkan sarapan, saya sudah masak"


"Makasih yuk"


Aku hanya tersenyum pada mereka lalu segera masuk ke kamarku


...****************...


"Nggak mungkin sebanyak ini juga kali mas notanya" ucapku kaget ketika menerima tagihan dari sales yang masuk hari ini


Beberapa karyawan yang mendengar nada suara Dinda yang tinggi menoleh kearah meja dimana Dinda sedang duduk bersama seorang sales


"Ibu bisa lihat, itu nota ada banyak bu, sudah lama bapak Adi tidak membayar"


Benar kata sales itu, bahkan dua buah nota adalah nota tahun kemarin.


Sedangkan sisanya adalah nota bulan ini dan nota tiga bulan yang lalu


"Bagaimana bisa suami saya tidak membayar tagihan sama kalian?" gumamku seperti berbicara sendiri


Sales itu hanya diam dan menatap ke arahku yang masih terus menggeleng-gelengkan kepalaku


"Sebentar mas ya, saya mau nelpon ke toko satunya. Jangan-jangan kasusnya sama seperti ini"


Dengan degup jantung kencang aku menelpon Reni


"Ren, ada sales masuk nggak hari ini?"


"Kayanya nggak ada bu"


"Oh ya sudah, kalau ada suruh tunggu ibu, nanti jam istirahat ibu kesana"


"Baik bu"


Kembali aku menatap lima lembar nota yang mampu membuatku menggelengkan kepala berulang kali


"Ahhh suamiku, aku harus menelponnya. Menanyakan sama dia, kemana uang setoran ini larinya, sebentar mas ya"


Masih dengan dada menyimpan marah, aku mendial nomor suamiku


Tidak aktif


Dengan menggigit bibit menahan kesal aku kembali mendial nomornya


Masih tidak aktif


"Astaghfirullah, tiap genting begini pasti nomornya nggak aktif"


Dengan kesal aku meletakkan handphone dan menatap sales yang masih setia duduk di depanku


"Bisa tidak bayarnya nunggu suami saya pulang, mas lihat sendirikan, nomornya tidak aktif saat dihubungi"


Sales itu diam

__ADS_1


"Begini aja deh mas, mas save nomor saya, pokoknya mulai hari ini tiap mas mau ngisi barang dan survey apa saja yang habis di toko kami, mas hubungi saya"


"Ini tidak bisa dibiarkan, kenapa sampai ada kebocoran uang sebegini banyaknya yang saya tidak mengetahuinya" gumamku


"Siska!, sini kamu!"


Siska mendekat kearah ibu bosnya dengan takut.


"Kamu sebagai kasir, mulai hari ini, jika bapak minta uang jangan dikasih. Kalau bapak marah lapor sama ibuk!"


"Baik buk" jawab Siska sambil mengangguk takut


"Astaghfirullah" kembali aku beristighfar ketika aku melihat kertas nota itu lagi


"Save nomor saya mas"


Sales itu segera membuka handphonenya dan aku mulai menyebutkan nomorku


"Saya janji, begitu saya mendapatkan penjelasan dari suami saya, saya akan segera melunasi semuanya"


"Baik bu, terima kasih"


Aku menganggukkan kepalaku dan memasang senyum kaku saat sales itu berpamitan.


Segera aku membuka laptop, memeriksa uang masuk toko, dan memeriksa stok barang.


"Sepertinya Adi mulai mau main-main ini ya..." geramku


Dinda terus fokus melihat setiap laporan, tak menyadari jika ada seorang pembeli yang sejak tadi menatapnya


"Bapak mau cari apa?"


Tomi menoleh kearah karyawan perempuan yang mendekatinya


"Dari tadi sepertinya bapak belum menemukan barang yang bapak cari, ada bisa saya bantu?"


"Saya mau cari plastik yang ukurannya itu cukup besar tapi berwarna warni"


"Kira-kira untuk apa ya pak?"


"Hmm, untuk... untuk saya pakai" Tomi menjawab dengan gugup, karena tujuannya ke toko ini bukan untuk belanja melainkan melihat Dinda


"Plastik untuk parcel bukan pak?"


"Bukan"


"Untuk membungkus hantaran?"


"Ahh iya bisa jadi"


Karyawan itu tersenyum bingung, tapi tak urung dia segera masuk mengambilkan plastik yang diminta Tomi


Tak lama dia telah kembali dan memberikannya pada Tomi


"Yang ini pak?"


Tomi mengambil plastik itu dan mengamatinya sebentar


"Sepertinya bukan, coba deh kamu tanya sama bos kamu itu"


Karyawan itu menurut dan kembali mengambil plastik yang tadi diberikannya pada Tomi


Aku yang sedang fokus menatap layar laptop langsung mengangkat kepalaku dan melepaskan kacamata ketika karyawanku menjelaskan barang yang ingin dicari customer kami


"Mana orangnya mbak?"


"Itu bu"


Aku mengikuti matanya yang menoleh kearah Tomi yang berdiri tegak menatap ke arahku


"Astaghfirullah, musibah apa lagi ini" batinku sambil berdiri


Dengan dada yang kembali berdegup tak karuan aku mendekati Tomi yang tersenyum ke arahku


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ketika aku sampai di depannya


Tomi masih memasang senyum di wajahnya ketika aku menanyakan tujuannya


Aku membuang mukaku melihat senyumnya


"Mari kita bicara di sana, tidak enak dilihat karyawan" lirihku


Aku berjalan mendahului Tomi yang mengekor di belakangku

__ADS_1


"Ya Tuhan Tomi... mengapa kamu harus kembali datang di hidupku?" sesalku sambil duduk


__ADS_2