Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Kembali Ke Rumah Orang Tuaku


__ADS_3

Tomi mundur, dan hanya bisa melihat tangisan kesedihan istrinya dalam derita yang juga dirasakan dalam dadanya. Para sahabatku yang berdiri mengelilingiku menarik nafas dalam, menatapku dengan wajah sedih dan muram


“Kita pulang, ya? Sudah cukup lama kita disini, kamu belum terlalu sehat Din….”


Aku tak merespon ucapan Mila, aku terus saja menangis dalam dekapan anakku. Kemudian secara bergantian para sahabatku membujukku sehingga membuatku kembali harus menangis dalam diam ketika melihat gundukan tanah janinku yang harus aku tinggalkan


“Kalau kondisi kamu sudah sehat, kamu boleh kesini lagi. Yang paling penting itu adalah kondisi kamu Din, ya?” kembali Mila membujukku


Aku mengangguk. Kemudian aku berdiri dengan dibantu oleh Naya dan juga Rohaya. Dengan menarik nafas panjang, aku kembali menunduk menatap gundukan tanah merah di dekat kakiku


“Ibuk pulang nak, tapi ibuk yakinkan sama kamu, bahwa ibuk akan sering kesini” lirihku tercekat karena air mataku sudah kembali jatuh berderai


Kemudian aku kembali berjongkok, dan menyentuh nisan yang juga berukuran kecil, hanya sebagai penanda jika disana ada sebuah makam walau hanya janin berumur lima bulan. Kucium dengan air mata berderai nisan tersebut, dan kembali bahuku berguncang ketika aku mencium nisan tersebut


“Ya Alloh sesakit ini kah rasanya….?” Lirihku dengan menekan dadaku


Tomi kembali mengusap kasar wajahnya ketika melihatku menangis ketika memeluk nisan anaknya. Tapi aku tak mempedulikan air matanya, yang ada di dalam dadaku saat ini adalah rasa marah dan kecewa padanya yang aku rasa sudah setinggi gunung Himalaya saking tingginya


“Ayo……” ajak Mila menyentuh pundakku yang memaksaku kembali bangun dan berdiri dengan menarik nafas panjang


Aku kembali menoleh setelah kami berjalan beberapa langkah. Dan para sahabatku juga ikut berhenti ketika aku berhenti. Dan mereka pun ikut menoleh seperti yang aku lakukan


“Kami tahu kamu wanita hebat Din. Kamu pasti bisa melewati ini” sentuh Putri pada bahuku


Aku tak menjawab, aku menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan kasar, kemudian aku kembali melanjutkan langkahku. Ketika di depan barisan mobil, Tomi mendekatiku


“Semobil sama aku ya?”


Aku menggeleng. Mataku yang sembab hanya memandang kosong ketika dia berkata demikian.


“Kita pulang ke rumah kita” ucapnya lembut sambil menyentuh tanganku


“Rumah yang mana? rumah yang kata ibu kamu adalah rumah kamu? Rumah yang aku tak punya hak itu?”


Para sahabatku menelan ludah mereka, kemudian mereka saling toleh


“Aku ingat semuanya sekarang Tom. Malam itu ibu kamu bilang jika rumah itu bukan rumah kami karena itu dibeli memakai uang kamu. Jadi rumah mana yang kamu bilang sebagai rumah kita?”


Tomi diam, bingung harus menjawab apa atas ucapanku. Dan aku kembali menatap kosong kearahnya sambil tersenyum getir


“Mil, antar aku ke rumah ibuk aku ya. Aku ingin dipeluk ibuk aku” jawabku sambil kembali terisak


Mila mengangguk, dan membimbingku kemobilnya. Kemudian aku masuk bersama ketiga anakku, sementara para sahabatku yang lain masuk ke mobil Lisa dan Putri. Mila melajukan mobil dengan pelan menuju rumah ibuku. Sepanjang jalan aku kembali terisak teringat dengan makam janin yang tadi aku sambangi


“Sudah dong Din. Ini sudah suratan takdir kamu. Kamu harus tabah, yang kuat”


Aku hanya membuang mukaku, melihat keluar jendela mendengar ucapan Mila. Lamban namun pasti, akhirnya mobil Mila masuk ke lorong rumah ibuku. Kedua orang tuaku langsung menyambutku ketika melihatku keluar dari dalam mobil


Begitu melihat ibuku, aku langsung berlari cepat dan langsung masuk kedalam dekapannya. Dan langsung menangis sejadi-jadinya


Ayahku mengusap kepalaku, dan kulihat wajahnya juga basah. Kemudian aku bergantian memeluk beliau, dan beliau membimbingku berjalan masuk ke dalam rumah. dan ketika sampai di dalam rumah kembali tangisku pecah

__ADS_1


Ibuku yang memelukku pun akhirnya kembali ikut menangis melihat aku yang tak berhenti menangis


“Maafin aku ya buk jika aku pernah melukai hati ibuk. Aku yakin ujian yang menimpa ku ini karena banyaknya dosa yang aku lakukan sama ibuk” lirihku


“Ayah maafin juga ya yah. Aku yakin aku pernah mengecewakan hati ayah. Karena itulah Tuhan menegurku dengan mengambil anak dari dalam kandunganku” isakku


Ayahku menggeleng. Kemudian beliau kembali mengusap kepalaku dengan sayang yang membuatku melepas dekapanku pada ibuku lalu mendekap ayahku


“Dua kali aku koma, dan dua kali pula aku dikasih kesempatan hidup sama Tuhan. Aku yakin ini semua karena doa ayah dan ibuk. Jika bukan karena kuatnya doa kalian berdua, aku yakin aku sudah mati”


Ibuku menggeleng mendengar ucapanku


“Jangan bilang begitu nak, melihatmu tak sadar dalam waktu yang sangat lama, nyawa ibu rasanya sudah diujung tenggorokan”


Aku kembali terisak mendengar jawaban ibuku. Para sahabatku yang masuk ke dalam rumah, menyaksikan momen haru kami dengan menyusut sudut mata mereka pula


“Ibuk istirahat ya, kamar sudah Naya rapihkan” ucap Naya yang membuatku mengangkat kepalaku


“Naya benar Din, kamu harus istirahat” lirih Mila yang memaksakan sebuah senyum ke arahku


Aku kemudian menoleh kearah Tomi yang duduk tak jauh dari kami, kemudian menoleh kearah kedua orang tuaku kembali


“Aku boleh tinggal di rumah ini kan buk?”


Kedua orang tuaku langsung mengangguk cepat tanpa meminta persetujuan dari Tomi terlebih dahulu


“Biarkan Dinda disini dulu Tom, sampai dia benar-benar sehat baru kamu boleh bawa dia pulang” ucap ayahku


“Aku nggak akan kembali ke rumah itu lagi. Itu bukan rumahku, jika pun aku pulang, aku akan pulang ke rumahku sendiri. Toh aku masih ada rumah”


Tanpa perlu bernegosiasi lagi, aku segera berdiri diikuti oleh keenam sahabatku yang ikut masuk kedalam kamarku. Mila langsung meninggikan bantal ketika aku sampai di kamar, dan langsung memintaku untuk berbaring


Segera dikeluarkannya alat medis yang ada di dalam kotak yang sejak tadi dibawanya. Kemudian dia langsung memeriksa tekanan darahku


“Masih pusing?” tanyanya


Aku menggeleng


“Tekanan darah kamu lemah sekali Din. Jangan banyak pikiran ya. Istirahat yang cukup”ucapnya ketika melihat hasil tekanan darahku


Baru saja Mila melepas tensimeter dari tanganku, Rohaya langsung mengulurkan tangannya


“Mau ngapain lu?” tanya Mila


“Ya periksa tensi darah lah Mil. Mumpung lu bawa alatnya kan?” jawabnya yang mampu membuatku tersenyum simpul


“Lu darah tinggi. Makanya lu jangan marah-marah mulu, cepat metong lu nanti” ucap Mila yang langsung kepalanya di teyeng oleh Rohaya


“Kaya nya lu juga darah tinggi Mil. Buktinya lu marah-marah mulu” jawab Rohaya


Mila mencibir mendengar jawaban Rohaya, kemudian segera dilepasnya tensi meter dari tangan Rohaya lalu menarik tangan Lisa yang kebetulan berdiri dekat Rohaya

__ADS_1


“Loh ngapain narik tangan gue?” tanya Lisa kaget


“Ah udah nggak usah bawel. Sekalian darah kalian semua gue periksa, biar tahu kalian darah rendah atau tinggi”


Yang lain hanya mampu melongo dan mengangguk setuju saja dengan ucapan Mila. Tak berani membantah, karena yang diucapkan Mila memang benar


“Kamu yang tenang ya?, jangan banyak fikiran lagi. Kamu harus selalu ingat, kamu nggak sendiri. Ada kita yang akan selalu setia menemani kamu kemanapun kamu mau” ucap Rohaya yang dijawab anggukan cepat dari yang lain


Aku menarik nafas berat mendengar ucapannya


“Ini berat untuk aku Roh. Aku harus kehilangan anak yang seharusnya sebentar lagi aku lahirkan. Kamu tahu sendiri Roh, aku masih merasakan gerakan menendangnya di malam waktu kami periksa. Dan dokter bilang sendiri jika anakku baik-baik saja. Terus kenapa kok tiba-tiba anakku nggak ada?”


Rohaya tersenyum, kemudian mengusap lenganku berkali-kali


“Kita nggak tahu takdir apa yang telah Tuhan rancang untuk ke depannya Din. Tapi yakinlah bahwa Tuhan memberi cobaan ini, karena Tuhan tahu kamu sanggup melewatinya. Tuhan tahu kamu wanita kuat, makanya kamu dikasih cobaan. Dan kami semua sangat yakin, bahwa kamu akan mampu melewati ini semua. Kami yakin kamu lulus dalam ujian kali ini”


Air mataku kembali mengalir mendengar nasihat Rohaya. Kemudian Rohaya menarik kepalaku, dan menempelkannya di pundaknya


“Kamu wanita pilihan Tuhan yang diberinya cobaan berat ini. Yakinlah Din, bahwa diluaran sana banyak wanita-wanita dengan ujian macam kamu. Malah ada ujiannya yang jauh lebih berat dari kamu. Kami semua juga diuji Din. Tapi dengan ujian yang berbeda-beda”


“Aku contohnya, aku diuji Tuhan dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. Putri yang diuji dengan menangani kasus yang berat, yang kita nggak tahu apa mentalnya kuat ketika harus beradu argument dengan lawyer lain. Lisa ujiannya juga berat, dia dihadapkan dengan banyaknya tumpukan uang di hadapannya. Jika dia tidak kuat iman, bisa tergoda dia dengan uang begitu banyaknya, iya kan Lis?”


Lisa langsung melototkan matanya tak suka ketika Rohaya ketika Rohaya menyebut namanya, sementara temannya yang lain yang semula tampak serius mendengarkan ucapan Rohaya langsung menahan senyum mereka ketika melihat Lisa melotot


“Aku juga di uji Din. Kita semua ada ujiannya, tapi ujian kita berbeda-beda” sela Vita


“Betul Din. Ujian kita beda-beda. Aku diuji dengan pasien, dengan keluarga pasien, dengan ketiga anakku, belum lagi suamiku” keluh Mila


“Tapi kan suami kamu baik Mil. Kak Julistiar sangat baik sama kamu, beda sama Tomi….”


“Iya sih….” Jawab Mila sambil tersenyum kaku


“Kalau lakinya nggak baik, bisa mati lakinya oleh Mila” celetuk Putri yang mampu membuat yang lain terkekeh


Rohaya mendecak melihat yang lain terkekeh, sehingga membuat semuanya langsung terdiam dan kembali fokus menatap ke arahku


“Kalian ini benar-benar ya……” geram Rohaya


“Intinya gini Din. Setiap manusia itu semuanya diuji dengan ujian yang berbeda-beda. Tergantung dari tiap individu nya saja bagaimana cara dia menghadapi ujian tersebut. Dan kami harapkan dan kami semua yakin, kalau kamu mampu baik-baik saja melewati ujian ini”


Aku mengangguk dan tersenyum getir mendengar nasihat Rohaya. Kemudian aku merentangkan kedua tanganku yang membuat seluruh sahabatku masuk kedalam pelukanku. Dan kami saling dekap satu sama lainnya dengan penuh haru


Sementara di luar, terdengar suara anak kecil yang mampu membuat aku mengangkat kepalaku


“Itu Yusuf….” Ucapku yang langsung turun dari ranjang dan berjalan cepat kearah pintu


Seluruh sahabatku menyusulku keluar. Dan ternyata benar dugaanku, di depan telah ada Yusuf bersama pak Burlian dan istri serta kedua anak perempuannya


“Yusuf…..” ucapku menahan air mata


Aku berjalan cepat kearah istrinya pak Burlian dengan Yusuf yang berada di dalam gendongannya. Tanpa permisi aku segera mengambil tubuh Yusuf yang terus bergerak ketika melihatku

__ADS_1


Air mataku langsung tumpah ketika berhasil mendapatkan Yusuf dan sekarang mendekapnya


“Ini ibuk nak. Ini ibuk…..” ucapku sambil tak hentinya menciumi wajahnya dengan air mataku yang terus mengalir


__ADS_2