Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
POSITIF


__ADS_3

Aku langsung dibawa masuk oleh para sahabatku ke kamar Naya yang ternyata sekarang adalah kamarku. Dan kamar Naya sekarang di atas, di kamar kami


“Ini kalian semua yang beresin?” tanyaku nggak yakin kearah mereka


“Kita ya…, bukan mereka” protes Rohaya cepat sambil menarik tangan Vita


“Kami berdua, dibantu ipar dan saudara-saudara kamu. Kalo mereka sih alasan kerja” sambung Rohaya lagi masih dengan wajah kesal


Putri dan yang lain terkekeh dan memukul lengan Vita dan Rohaya sambil meminta maaf


“Iya maaf, kalian berdua kan tahu kita kerja” sesal Lisa


“Heh, kita juga kerja ya, walau nggak digaji kaya kalian” sekarang Vita yang menimpali dengan cepat


Aku langsung cepat menarik tangannya dan memeluk erat tangannya


“Makasih, untung ada kalian berdua….” ucapku manja


“Sayang, maaf yak arena nggak bilang dulu jika kita tukeran kamar sama Naya” ucap Tomi yang tiba-tiba masuk sambil membawa sepiring rujak


Aku menelan ludahku melihat rujak dengan bumbu yang sangat banyak di atasnya. Putri dan Mila langsung mundur ketika melihat aku mulai menyendok rujak dan mengarahkannya kemulutku. Karena mereka berdua memang tidak tahan dengan buah yang asem


Sedangkan yang lainnya ikut menyendok juga. Bahkan dokter yang juga bergabung bersama kami ikut aku tawari, tapi beliau menggeleng dan tersenyum


“Jika sudah makannya, kita periksa ya?” ucapnya yang membuatku tersadar dan langsung meletakkan sendok


“Maaf dokter, aku memang nggak bisa lihat rujak. Nggak hamil saja aku hobi, apalagi sekarang aku hamil” jawabku sambil nyengir


“Yang lain keluar ya, cukup ada aku, dokter sama kak Tomi” ucap Mila mendorong bahu sahabatku yang lain yang sontak membuat mereka bersungut-sungut tak terima


‘Saru…..” lanjut Mila yang akhirnya terpaksa dituruti oleh mereka


“Kamu ngomong saru kita lihat, lah kamu sendiri kok lihat dokter meriksa Dinda?” protes Rohaya


“Gue dokter” jawab Mila yang kembali memenangkan perdebatan


“Sudah-sudah, nyari aman dan nyari siapa yang waras saja lah” ucap Putri yang langsung membuat Mila memukul lengannya


“Tunggu ya bestie…. Doain semoga semuanya lancar” ucapku sambil melambaikan tangan kearah mereka


Aku yang disuruh berbaring sekarang mengangakan mulutku ketika dokter tadi mendorong sebuah benda yang teryata di atasnya ada layar seperti monitor


“Saking nggak ingin lu kenapa-napa, gue sampai suruh dokter bawa alat tes usg kesini” ucap Mila yang seperti mengerti kekagetanku


“Ya ampun Mila……” jawabku dengan suara manja yang langsung membuat Mila duduk dan mendekapku


“Lu kan bilang, lu takut karena sudah lebih dari 35. Makanya untuk membuat lu yakin dan percaya diri, gue bawa langsung dokter spesialis kesini. Bair dokter sendiri yang ngecek semua kesehatan lu, dan biar lu semakin yakin bahwa lu kuat dan lu bisa”


“Dokter Mila memang perfeksionis dan berdedikasi tinggi mbak, nggak heran jika di rumah sakit beliau sangat disegani” ucap dokter yang membuatku makin bangga dan sayang pada sahabatku satu ini


Lalu dengan sangat perhatian Mila memintaku untuk berbaring, kemudian dia berdiri, digantikan dengan Tomi yang duduk di sebelahku sambil menggenggam erat tanganku ketika dokter mulai menjalankan alat diatas perutku

__ADS_1


Mata Tomi tak berkedip ketika dia menatap layar monitor yang menyala. Dimana disana tidak tampil gambar apa-apa, selain gambar nggak jelas.


Dan dokter yang terus menjalankan alat di atas perutku sekarang mulai menjelaskan


“Positif ini mbak, dan menurut pemeriksaan ini sudah jalan sepuluh minggu”


Tomi menoleh ke arahku dengan wajah sumringah. Tanganku yang digenggamnya kian erat saja digenggamnya.


Selesai pemeriksaan, aku dibantu Tomi untuk duduk, dan dokter mulai mengeluarkan berbagai jenis obat lalu menulis aturan minum obat tersebut


“Ini hasil print out nya” lanjut sang dokter memberikan hasil pemeriksaan pada Tomi yang menerimanya dengan wajah yang masih tampak sangat antusias


“Sehat semuanya kan dokter?” Tanya Tomi ketika aku sudah duduk


Dokter tersebut mengangguk


“Jangan stress, dan jangan banyak pikiran” tambah Mila


Giliran aku yang sekarang terkekeh mendengar ucapannya. Kami langsung menoleh cepat kearah pintu ketika pintu tahu-tahu terbuka sendiri dengan kelima sahabatku yang nyaris jatuh


“Kalian nguping?” Tanya Mila dengan nada tak suka


Kelimanya nyengir dan aku terkekeh


“Semuanya sehat, jangan khawatir” jawab dokter yang membuat mereka kembali masuk dan membuat Tomi terpaksa menyingkir


“Bagaimana dokter?”


“Sehat semuanya buk, dan memang Dinda positif hamil dan sudah sepuluh minggu” jawab Tomi sambil menyerahkan hasil print out pada ibunya


Para sahabatku segera menyingkir ketika ibu mertuaku berjalan ke arahku. Dan sudah bisa kutebak bagaimana sekarang ibu mertuaku menangis haru ketika memelukku


“Ibu mendoakan keselamatan dan kesehatan kalian berdua nak…..” lirih beliau yang membuatku ikut terharu


“Kalau begitu, makanan yang tadi sudah kita siapkan, tinggal kita antar ke panti asuhan dan panti jompo” ucap Tomi


Ibu mertuaku mengangguk, lalu kembali mengusap kepalaku


“Jujur gue iri deh Din lihat mertua lu baik banget sama lu” ucap Mila yang disetujui para sahabatku yang lain dengan anggukan kepala


“Almarhum ayahnya Tomi itu dulu sangat menyayangi Dinda, dan dia ingin sekali Dinda ini menjadi menantunya. Dan kalian tentu tahu, jika anak ibu itu semuanya laki-laki. Dan Dinda adalah perempuan pertama yang dibawa Tomi kerumah, dan langsung bisa mencuri hati ayahnya Tomi”


“Tentulah ibu sangat sayang sama Dinda. Karena selain sudah menganggap Dinda seperti anak sendiri, ibu juga ingin mewujudkan impian ayahnya Tomi”


Keenam sahabatku dan dokter memandang haru kearah ibunya Tomi yang kembali mendekapku


Aku melambaikan tanganku kearah seluruh keluarga dan para sahabatku yang pulang malam ini. Ternyata mobil mereka sengaja mereka sembunyikan dalam garasi, wajarlah jika aku tadi tidak melihat mobil mereka.


Ibu mertuaku tidak pulang, beliau sengaja ingin bermalam di rumah kami. Dan itupun memang keinginanku, aku ingin beliau tinggal di rumah kami, karena kasihan jika beliau pulang ke rumah. beliau sendirian di sana


Dan besok paginya, saat aku akan memulai aktifitas seperti biasa ternyata telah ada mbak Sri. Tentu saja kedatangan mbak Sri yang pagi buta ke rumah kami membuatku kaget

__ADS_1


“Bapak yang meminta buk” jawabnya ketika aku bertanya


“Pokoknya kamu nggak usah ngurusi rumah lagi sayang, tugas kamu cukup di kantor. Dan ketika di rumah tugas kamu cukup istirahat” ucap Tomi yang tahu-tahu telah bangun juga


“Tapi kak?”


Tomi menggeleng dan mengusap kepalaku dengan sayang


“Kamu sehat, begitu juga dengan calon anak kakak, itukan yang mau kamu jawab”


Aku diam mendengar jawaban Tomi, karena dia sudah bisa menebak alasanku


“Iya deh, mana baiknya aja” jawabku sambil duduk di kursi meja makan dan langsung membuka tudung saji


“Ibu itu kalau hamil, bunting kebo pak” jawab mbak Sri yang membuat Tomi kaget dan aku terkekeh


“Maksudnya?” tanya Tomi dengan raut bingung


“Apa saja masuk perut kak, maunya makan melulu” jawabku yang terus mengunyah kue sisa semalam


“Bagus deh, dengan begitu berarti anak kakak sehat”


Aku kian mengembangkan senyumku, dan terus mencomot kue yang hampir habis satu piring olehku. Dan jadilah mulai hari itu, aku seperti ratu di rumahku. Segala pekerjaan mbak Sri yang handle, mengantar anak sekolah dan antar jemput aku adalah tugasnya Tomi, sedangkan untuk pulang sekolah, kedua anakku kembali dijemput oleh mbak Sri


Dan ibu mertuaku semakin sering bertandang di rumah kami, bahkan beliau yang memang jago membuat aneka kue, setiap hari membuatkan ku kue dan makanan lainnya. Sehingga berat badanku kian bertambah


Di kantor, aku masih seperti dulu, aku masih ikut apel tiap pagi walau pak Burlian sudah melarang. Dan para teman satu ruanganku tetap perhatian padaku, malah sekarang perhatian mereka kian besar padaku.


Tapi hari ini mood ku berubah buruk ketika jam istirahat kantor hp ku berdering dan itu panggilan dari Yesa. Aku memang sengaja tidak memblokir nomor perempuan itu, aku ingin membuat dia semakin kebakaran jenggot tiap melihat kebahagiaan yang selalu aku bagikan lewat story what’s aap


Karena perempuan itu tak pernah ketinggalan melihat snap yang selalu aku buat, dan itu makin membuatku semangat untuk memanas-manasinnya


Aku menghembus nafas panjang karena hp ku kembali berdering dan Nadia yang duduk tepat di sampingku hanya menoleh dan nyengir ketika menatap ke arahku


“Males ngangkatnya” ucapku kesal


“aku aja mbak yang angkat” usul Nadia


Aku diam tapi aku membiarkan ketika dia yang menerima panggilan dari Yesa


“Kenapa?” jawab Nadia sinis. Dan aku tersenyum melihat lagaknya


“Dinda tolong kami, kami diusir dari kontrakan”


Hp yang memang diloudspeaker oleh Nadia jelas membuatku mendengar lantang suara Yesa.


“Bodo amat, bukan urusan kita ya……”


Setelah itu Nadia langsung memutus panggilan dan tanpa memberitahuku terlebih dulu dia langsung memblokir nomor Yesa


“Biar nggak ada parasit lagi dalam hidup mbak” ucapnya memandang kesal ke arahku

__ADS_1


__ADS_2