Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Sidang Lagi


__ADS_3

Kembali aku dan Adi dipertemukan di ruang sidang. Aku yang masuk didampingi Putri tidak menoleh sedikitpun padanya yang memandang terus padaku


Sidang kali ini tertutup untuk umum karena sifatnya hakim dan pihak lawyer ingin mendamaikan kami tentang pembagian harta bersama, agar kami tidak ribut memperebutkan harta


Mulailah aku memberikan daftar harta bersama kami, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak


Hakim melihat daftar harta yang diberikan oleh Putri lalu membacanya dihadapan kami


"Interupsi yang mulia hakim"


Kami semua menoleh kearah Adi yang mengangkat tangannya


"Masih ada harta yang belum dimasukkan oleh Dinda, yang mulia"


Aku menoleh kearahnya dengan heran


"Mobil pribadi warna putih dengan plat sekian sekian tidak ada di daftar yang telah dibacakan yang mulia"


Aku menggelengkan kepalaku dengan rahang mengeras


Putri yang menoleh padaku dengan cepat menggeleng lalu memegang tanganku


"Jangan terpancing provokasi dari toxic itu"


Aku menghembus nafas panjang lalu memejamkan mataku


Hakim yang tadi bacaannya dipotong oleh Adi akhirnya menyelesaikan membacakan draf harta yang ada di tangannya


Lalu hakim dan anggotanya mulai bertanya asal usul harta bersama kami


Dengan cepat Putri langsung menjawab, karena memang hakim meminta pihak kami yang duluan menjawab


"Terima kasih bapak hakim yang terhormat, disini saya selaku lawyer saudari Dinda akan menjelaskan dari mana saja asal harta bersama mereka"


"Yang paling pokok asal dari harta kekayaan mereka berdua adalah dari surat keputusan ASN klien kami yang telah mereka gadaikan pada pihak bank"


"Dari hasil uang itulah mereka memulai usaha mereka, dan sampai saat ini SK Klien kami masih berada di pihak bank, karena masih ada tanggungan"


Aku menatap kearah Adi yang menatap tajam pada Putri yang menjelaskan semuanya secara detail, karena aku telah menceritakan semua padanya, berikut dengan bukti-bukti yang menguatkan argumennya


Lawyer Adi juga tak kalah sengitnya, dia juga mengungkit, jika bukan hasil kerja keras Adi, tidak mungkin kami sekarang memiliki banyak aset


Karena sidang hari ini masih berlangsung sengit dan kami sama-sama mempertahankan argumentasi, akhirnya sidang kembali ditunda


Aku masih duduk di kursiku ketika hakim dan anggotanya telah pergi, bahkan aku masih betah duduk di sana ketika Adi dan lawyernya sudah keluar


Putri memegang lenganku, mengusapnya berkali-kali


"Mobil itu aku beli dari gajiku Put, kamu tahu sendiri berapa lah gajiku sebagai ASN, tidak serupiah pun aku memakai uang Adi, uang kolam bahkan uang toko dan juga uang sawit. Semuanya murni dari gajiku yang dipotong pihak bank"


Putri mengangguk dan terus mengusap lenganku

__ADS_1


"Kamu yang sabar, tenang saja, kita masih akan bertemu dengan pihak Adi dipersidangan minggu depan, saat itulah kita akan mengungkapkan semua hutang piutang Adi yang selama ini kamu bayar dan juga kita akan mengungkap bagaimana Adi telah mengorupsi kan uang kalian"


Aku menarik nafas panjang dengan mengangguk pelan


Lalu Putri mengangguk ke arahku dan menuntunku berdiri


Di parkiran aku masih melihat Adi dan lawyernya tampak bercakap-cakap. Aku kembali seperti tak melihat kearahnya dan terus saja berjalan kearah mobil putih yang tadi disebutkan oleh Adi dalam persidangan


"Din....?"


Aku terus saja berjalan tak memperdulikan panggilan Adi yang berjalan cepat di belakangku


Aku dengan cepat membuka pintu mobil lalu membanting keras pintunya lalu segera menghidupkan mesin mobil dan mengklakson keras kearah Adi yang menghadang mobilku


Aku memukul keras stir karena Adi berdiri dengan memegang kap mobil dengan terus memintaku untuk turun


Aku yang menahan marah melihatnya hanya bisa menggigit jari kukuku dengan kesal


Adi lalu berpindah kesamping, lalu mengetuk jendelanya


Aku masih bergeming dan terus saja memandang lurus ke depan dengan kesal


"Din, please turun sebentar. Aku mau bicara sama kamu"


Aku menarik nafas panjang dan menggeleng pelan, tapi Adi yang sangat aku fahami sifat keras kepalanya masih terus mengetuk jendela mobil yang berada tepat di sebelahku


Putri yang telah masuk kedalam mobilnya hanya memperhatikan dari dalam, terus memantau gerak gerik Adi


Spontan diambilnya hp lalu merekam ketika dilihatnya Dinda keluar dan tampak antara Dinda dan Adi terlibat percekcokan


Adi yang dadanya ku dorong hanya diam


"Please Din, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya"


"Memperbaiki apa?, semuanya telah selesai Adi, selesai. Antara kita tidak ada lagi hubungan, dan kuharap kamu tidak lupa jika aku paling membenci pengkhianatan"


"Aku janji aku akan berubah Din"


"Stop, stop kamu ngomong janji, aku muak mendengarnya, kuharap kamu ngerti sekali lagi ya Adi, mobil ini aku beli dari uang aku, keringat aku tanpa sepeserpun uang dari usaha kita, kamu tahu itu"


"Terserah jika kamu juga mau memasukkannya kedalam daftar harta bersama, karena aku juga punya bukti kuat yang menyatakan jika mobil ini hasil kredit aku pada showroom, dipotong gajiku, bukan dengan mengangsur pakai uang pribadi kita"


"Tolonglah Din, ngertiin posisiku, aku berada diposisi sulit Din, aku terpaksa"


Aku menggeleng dengan tertawa basi


"Terpaksa?" kembali aku tertawa basi dan mendorongnya menjauhi mobilku


Kembali aku mengklakson ketika kulihat Adi masih berdiri ditempatnya menghalangi mobilku


Aku segera menurunkan kaca jendela mobil lalu melongok kan kepalaku

__ADS_1


"Bisa minggir tidak?, jika tidak mau, aku akan menabrak kamu!"


Adi yang masih bergeming ditempatnya segera ditarik paksa oleh lawyernya, dan aku segera melajukan mobil dengan ngebut


...----------------...


Semua bukti nota pembayaran seluruh hutang Adi telah aku kumpulkan dan akan aku berikan pada Putri


Bahkan pak Bara dan Pak Endro siap datang kepersidangan jika memang dibutuhkan


Aku yang sibuk dengan sidang harta gono gini jadi agak mengganggu pekerjaanku di kantor


Tapi untunglah teman satu ruanganku semuanya baik hati dan mengerti keadaanku, mereka dengan sukarela membantu menyelesaikan pekerjaanku


"Kamu fokus saja sama persidangan mu, pekerjaanmu biar kami yang handle" begitu yang diucapkan pak Kusno yang membuatku lega dan terharu


Dan akhirnya hari ini kembali sidang kami lanjutkan.


Dan kembali sidang kedua ini pihak Adi ngotot tentang semua harta gono gini harus dibagi adil, bagi dua sama rata


Aku terus-terusan menarik nafas panjang dengan kesal ketika lawyer Adi dengan santainya menyebut semua hasil harta kekayaan dari hasil kerja Adi, tanpa ada campur tanganku, jadi karena itulah pihaknya ingin harta dibagi rata


Putri tak mau kalah, kembali diberikannya bukti aku membayar segala hutang piutang Adi, bahkan video pernyataan dari pak Bara dan pak Endro yang menyatakan jika Adi berhutang pada mereka dan sekarang surat berharga kami ada di tangan mereka berdua


Bahkan tanpa sepengetahuanku ternyata Putri juga telah memvideokan orang-orang yang telah aku bayar bibit sawitnya


Aku yang merasa berada di atas angin melihat bukti yang diberikan Putri memandang tajam kearah Adi dan lawyernya


Tidak lupa, Putri juga melampirkan bukti print out buku bank dan bukti pembayaran kredit mobilku.


Kulihat pak Hakim tampak serius melihat bukti yang diberikan Putri, dan seperti berbincang-bincang dengan hakim anggota


Hingga akhirnya kembali sidang ditunda dan minggu depan keputusan.


Kembali ketika diluar aku dan Adi terlibat adu argumen, dan kali ini sangat sengit, karena kali ini aku benar-benar marah


"Hebat kamu ya, aku tidak ikut andil?, iya?, bagus....."


Adi tak mau kalah, kali ini dia juga terpancing emosi


"Memang benarkan Din, kamu hanya di rumah, mana tahu apa kerja aku, bagaimana aku kesulitan ketika nganter bibit sawit, bagaimana aku kesulitan mengelola kolam, bagaimana aku melobi tiap distributor"


Aku menutup wajahku sebentar dengan frustasi, lalu menghembus nafas panjang


"Oh, jadi karena itu kamu mikir aku tidak ikut andil, iya?, oke, aku terima. Memang aku lebih banyak di rumah, tapi kamu jangan lupa Adi, dari mana asal semua harta itu. Jika bukan karena SK aku yang digadaikan, aku yakin kamu masih jadi kuli, bukan tauke dan bos yang sering orang panggil"


"Dan satu lagi yang jangan pernah kamu lupa, hutang kamu aku semua yang melunasi, dan bisa aku yakinkan jika itu juga menjadi bahan pertimbangan hakim"


Setelah itu aku segera berjalan cepat meninggalkan Adi yang masih terus mengejar ku


Dari arah berlawanan aku lihat Mila berjalan dengan memasang wajah marah

__ADS_1


Dan ketika tiba di dekatku dia hanya memelukku sebentar lalu langsung berjalan cepat kearah Adi yang tak jauh di belakangku


"Mil....." aku berteriak tertahan ketika kulihat Mila memasang kuda-kuda lalu berlari cepat kearah Adi dengan melayangkan kakinya yang tepat mengenai kepala Adi


__ADS_2