
Kehadiranku di kantor pagi ini kembali menjadi pusat perhatian orang satu kantor
Aku yang merasa jadi perhatian, menganggukkan kepalaku ketik melewati serombongan ibu-ibu yang bergerombol menunggu jadwal apel
Aku langsung berjalan cepat kearah ruanganku dan langsung menghenyak kan tubuhku di kursi
"Apa kabar Din?" sapa pak Kusno yang sudah duduk di kursinya
"Alhamdulillah sehat pak"
"Gimana?, lancar semuanya?"
Aku mengangguk dan tersenyum lebar kearah pak Kusno
Tak lama muncul bu Halimah dan Nadia
"Hai, gimana?" tanya keduanya dengan nada suara antusias sambil mendekatiku dan kami langsung cipika cipiki
"Alhamdulillah, lancar buk" ucapku dengan kembali tersenyum lebar
Bu Halimah dan Nadia refleks memelukku dari samping dan mengelus-elus lenganku
"Its okay kok bu, aku bisa lewati ini" ucapku getir
Keduanya memandang sedih ke arahku dan kembali mendekap ku.
"Sudah, nanti sedih-sedihnya, sekarang waktunya apel" ucap pak Kusno yang duluan berdiri
Aku mengusap mataku yang tadi berkaca-kaca lalu bangkit dari kursiku dan berjalan bersama bu Halimah dan Nadia
Kembali aku merasa seperti menjadi perhatian ketika berjalan di lapangan
Bu Halimah yang sepertinya tanggap segera menggandeng tanganku dan mengajakku segera berbaris
...----------------...
Aku kembali melaksanakan rutinitas pekerjaanku sebagai ASN. Terus menyibukkan diri agar aku lupa dengan kesedihanku
Tawa canda kami di dalam ruangan ini mengalir seperti biasanya. Dan semua teman satu ruanganku tidak ada yang membahas masalah persidangan ku lagi
"Mbak aku sama Nadia mau ke kabupaten, ada yang mau dititip nggak?"
Aku menoleh kearah Redho yang menumpuk map yang akan dibawanya, lalu aku segera melihat tumpukan map yang ada di hadapanku
"Kayanya nggak ada Do" ucapku sambil terus melihat isi map satu persatu
"Beneran nggak ada mbak?"
Aku mengangguk
"Iya Dho, beneran nggak ada"
"Ya udah deh" ucapnya lesu dengan mengambil tas ranselnya lalu segera menyandangnya
Aku menepuk jidatku karena tersadar jika ada yang lupa
"Iya, ada...."
Redho yang telah sampai di depan pintu kembali menoleh, begitupun dengan Nadia
Aku segera mengambil dompet dalam tas, lalu mengambil dua lembar uang merah
"Ini...." ucapku mengulurkan uang tersebut kearahnya
Wajah Redho langsung berubah cerah, begitupun dengan wajah Nadia
Pak Kusno dan bu Halimah spontan tertawa
"Dasar ya, kebiasaan tiap mau pergi ada aja alasannya untuk pungli sama Dinda" ucap bu Halimah
"Perbaikan gizi di akhir bulan bu" jawab Redho cepat yang makin membuat kami tertawa
"Ini beli apa mbak?"
__ADS_1
"Apa aja terserah"
"Tapi uangnya kebanyakan mbak" protes Nadia
"Ihh dasar bego, sisanya untuk kita" geram Redho kearah Nadia yang makin membuat kami tergelak
Nadia langsung memukul lengan Redho yang membuat pemuda itu meringis
"Sudah sana pergi, nanti kena marah bos loh...." ucapku melerai
Keduanya kembali berpamitan pada kami lalu segera berjalan menjauh dari ruangan
Aku hanya menggeleng-gelengkan m
kepalaku sambil kembali fokus bekerja
...----------------...
Sementara di kota Sejuk, Adi yang masih belum ada pekerjaan kembali duduk bengong di teras
Kembali teringat di kepalanya bagaimana kacaunya Dinda kemarin dan bagaimana paniknya Tomi
"Tomi...." desisnya
Kembali diraihnya bungkus rokok yang ternyata telah kosong. Dengan kesal, diremasnya bekas bungkus rokok lalu membuangnya sembarangan tempat
"Cari kerja sana Pa, jangan hanya bengong di rumah, kita itu butuh makan, butuh biaya"
Adi hanya sedikit mendecak dan melengos ketika Yesa mengomel
"Bagaimana sidangnya? sudah selesai?"
Adi menarik nafas panjang lalu mengangguk. Yesa yang duduk di sebelahnya langsung memutar badannya menghadap kearah Adi
"Terus, harta gono gini nya bagaimana?"
Adi diam, dia belum memikirkan itu, walau sebenarnya itu sudah ada dalam benaknya sejak beberapa bulan ini
Adi tergagap dan menoleh pada Yesa, kemudian menggeleng
"Maksudnya papa tidak dapat, atau apa ini?"
"Papa belum mikir masalah itu ma, biar nanti papa hubungi lawyer papa lagi, gimana baiknya"
Wajah Yesa semakin terlihat berseri ketika mendengar jawaban Adi
"Pokoknya harus segera pa, soalnya uang kita sudah nggak banyak lagi"
Adi mengangguk. Dan kembali wajahnya muram
"Papa kenapa?" tanya Yesa dengan nada curiga
"Teringat Dinda saja"
"Kenapa?, papa menyesal cerai sama dia?" wajah Yesa langsung berubah masam
"Bukan begitu ma, papa kesal saja karena kemarin ada mantan tunangan Dinda hadir di persidangan"
Yesa makin serius menatap wajah suaminya yang berubah muram
"Ngapain papa masih mikirin itu, toh Dinda sekarang sudah single, jadi terserah dong jika dia dekat lagi dengan mantan tunangannya, apa papa cemburu?"
Adi menggeleng cepat, dia tak ingin Yesa makin marah
"Ya sudahlah, nggak usah mikirin Dinda lagi, harusnya papa itu bahagia seperti mama, karena akhirnya tidak ada lagi yang menghalangi cinta kita, dan mama adalah satu-satunya istri papa" bujuk Yesa sambil memeluk suaminya dari samping
Adi tersenyum getir dan mengusap kepala Yesa yang menempel di pundaknya
...----------------...
Satu minggu setelah sidang keputusan aku kembali mendapat surat panggilan dari pengadilan yang berisikan gugatan harta gono gini
Aku hanya menggelengkan kepalaku ketika menyadari jika Adi masih saja ngotot tentang harta gono gini
__ADS_1
Selesai membaca surat tersebut aku langsung menelepon Putri
"Ya bestie?"
"Aku dapet surat dari pengadilan"
"Tentang harta gono gini?"
"Kok tahu?" ucapku sambil tertawa
"Halah, aku sudah biasa ngadepin kasus perceraian, ujung-ujungnya kalau bukan harta apa lagi?"
"Terus gimana sekarang?"
"Udah lah, kamu kerja aja yang tenang, biar semuanya aku yang urus"
"Okelah, terima kasih bestie ya...."
"Iya sama-sama"
Lalu aku masuk kedalam kamar kedua anakku, melihat mereka sedang apa
Seperti biasa jika hari libur mereka akan bangun siang
"Ibu mau ke kolam, terus itu ke toko, kalian di rumah saja ya nak, sama mbak Sri"
Naya mengangguk. Lalu aku yang telah siap segera mengeluarkan motor dan segera menutup pintu tepat disaat mbak Sri datang
"Anak-anak masih tidur mbak, mbak sarapan aja jika belum"
"Baik bu"
Aku tersenyum lalu segera memutar motor dan langsung melajukannya menuju kolam
Aku tersenyum getir ketika melihat kolam yang sampai saat ini belum diisi bibit
"Mbak...." lambai pekerja kolam ke arahku
Aku membalas melambaikan tangan juga kepada mereka yang sedang membersihkan saringan air
Lalu aku mendekat kearah mereka dan bertanya tentang keadaan kolam lalu mereka menjelaskan jika kolam sudah mereka bersihkan, bahkan dasar kolam yang kemarin banyak lumpur juga sudah dikeruk oleh alat berat, jadi semuanya memang telah siap, tinggal diisi bibit saja
Setelah berkeliling sebentar ke seluruh kolam, aku berpamitan setelah sebelumnya meletakkan cemilan dan makan siang untuk mereka
Hampir jam sembilan aku sampai di toko kedua dan langsung masuk ketika seluruh karyawanku sedang sibuk
"Bu....." sapa mereka
Aku tersenyum dan langsung ikut mereka bekerja. Setelah akhirnya sampai di jam istirahat, rolling ditutup dan seluruh karyawan ku ajak naik keatas
Seperti biasa aku akan sedikit berbasa basi menanyakan kabar mereka dan bertanya tentang bagaimana keadaan toko
Sampai akhirnya aku mengatakan inti dari mereka aku kumpulkan
"Maaf sebelumnya, toko ini sekarang "bukan" milik ibu lagi"
Seluruh karyawan saling toleh dan tampak kaget
"Surat sertifikatnya telah dipegang sama orang yang mempunyai piutang sama pak Adi, karena ibu nggak ada lagi uang untuk menutupi hutang beliau, jadi terpaksa surat ruko ini yang ibu berikan sebagai jaminan"
Kulihat kedelapan karyawanku wajahnya tampak tegang dan sedih
"Tapi kita berdoa sama-sama ya, semoga ibu dikasih rejeki dan jalan keluar terbaik agar ruko ini tetap jadi milik ibu dan kita terus sama-sama" ucapku dengan nada bergetar menahan tangis
Karyawan yang perempuan kulihat matanya telah berkaca-kaca bahkan ada yang telah menangis
"Jika ruko ini tidak lagi jadi punya ibu, gimana?"
Aku menarik nafas panjang menoleh kearah Siska, lalu menggeleng sedih
"Maaf ya mas-mas dan mbak-mbak semua, ibu akan berusaha semampu ibu untuk mempertahankan ruko ini, tapi jika memang pengadilan, mas Adi dan terutama Tuhan berkehendak lain, ibu minta maaf...."
Tak terasa air mataku mengalir saat aku mengucapkan kata itu, lalu kami semua diam larut dengan pikiran kami masing-masing
__ADS_1