Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Dalam Persidangan


__ADS_3

Aku sudah tak peduli lagi bagaimana keempat sahabatku sekarang, aku lebih fokus menatap ke depan dengan Yesa yang akhirnya tetap duduk di sebelahku. Menunggu hampir satu jam tentulah sangat membosankan untukku. Tapi itu sedikit berkurang karena ada pak Marsudi di sebelahku yang menjelaskan jika semua materi gugatan ku telah lengkap semua


Hingga akhirnya dari sebuah pengeras suara terdengar jika aku dan Tomi dipersilahkan untuk masuk keruang persidangan. Dengan menarik nafas panjang, aku bersama Yesa dan pak Marsudi berjalan kearah pintu masuk. Ketika kami melewati barisan keluarga Tomi, tanganku ditarik Tomi yang membuatku sontak berhenti


“Bapak tunggu di dalam Din” ucap pak Marsudi ke arahku.


Yesa tetap berdiri di sebelahku, dan dia ikut memandang kearah Tomi bersama keluarga dan juga para sahabatku


“Tolong pikirkan lagi. Sampai kapanpun kakak tidak akan menceraikan kamu” ucapnya


Aku menarik nafas panjang, kemudian aku melepaskan tangannya


“Lebih baik kita masuk, karena sidang akan segera dimulai” lirihku yang kembali menarik pelan tangan Yesa dan mengajaknya berjalan kembali


“Mbak…..”


Aku kembali terpaksa berhenti ketika Aldi adik bungsu Tomi memanggilku dengan lirih. Kulihat raut sedih di wajahnya ketika aku menatap wajahnya


“Maafkan mbak karena tidak bisa menjadi ipar yang baik untuk kalian bertiga”jawabku sambil menatap wajah ketiganya satu per satu


Sambil mengusap pelan wajah Aldi, aku masuk. Meninggalkan mereka semua yang diam memandang ke arahku. Ketika masuk, aku langsung duduk di sebelah pak Marsudi. Seperti biasanya sidang pertama tentulah akan ada mediasi. Setelah memberikan berbagai macam keterangan alasan mengapa aku menggugat Tomi dan pak Marsudi memberikan semua keterangan identitas dan surat kuasanya sebagai pengacaraku akhirnya giliran lawyernya Tomi dan Tomi yang diminta untuk memberikan keterangan


Dan lagi-lagi, aku harus shock dan nyaris pingsan ketika Putri adalah lawyer nya Tomi. Cukup lama aku terdiam dan memandang kosong kearah Putri yang berjalan kearah bapak hakim, memberikan surat kuasa dan kartu identitasnya


“Ibu kenal sama lawyer itu?” bisik pak Marsudi ketika dia melihat aku begitu shock


Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku


“Dia sahabat baik ku pak. Sahabat ku dari sekolah. Tapi aku tidak menyangka jika dia yang menjadi lawyer suami ku” lirihku dengan air mata yang langsung lolos dari mataku


Kemudian aku menoleh kearah para sahabatku yang duduk di barisan pengunjung sidang. Kali ini aku tidak bisa menutupi sedih dan kecewaku pada mereka semua. Sehingga aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku kearah mereka dengan air mata yang kian deras mengalir


“Aku tidak menyangka jika kalian mengkhianati ku” batinku dengan hati hancur


Aku segera menoleh kearah pak Marsudi ketika beliau menggenggam erat tanganku. Dan dengan cepat aku menghapus kasar wajahku


“Mereka semua sahabatku pak. Tapi aku tak menyangka jika mereka……” lirihku lagi sambil kembali berusaha menahan air mataku


Sidang mediasi, kami di bawa ke sebuah ruangan. Dan ketika akan meninggalkan ruang sidang, aku kembali menoleh kearah ketiga sahabatku, Mila, Vita dan Rohaya. Ketiganya membuang wajah mereka dan itu semakin membuat sakit di hatiku

__ADS_1


Sekarang aku telah duduk di dalam ruang mediasi yang berisikan hakim penasehat, aku dan pak Marsudi, Tomi dan Putri. Sedikitpun aku tidak menatap kearah Putri yang duduk berseberangan denganku. Aku hanya fokus mendengarkan nasihat yang disampaikan oleh bapak hakim


“Bagaimana bapak dan ibu? Apakah masih kalian ingin berpisah?. Tidak kah kalian sayang dengan pernikahan indah kalian dan juga dengan buah hati kalian?” tanya pak hakim yang membuatku dan Tomi menarik nafas panjang


“Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan istriku pak hakim!” jawab Tomi lantang


Aku menarik nafas panjang, kemudian aku menatap kearahnya tanpa berkedip


“Tapi aku ingin melanjutkan perceraian ini bapak hakim” jawabku yang masih terus menatap kearah Tomi


Tomi menggeleng kuat. Dan kembali dia mengulangi penyesalan dan meminta maaf atas kesalahannya


“Aku sudah memaafkan kamu Tomi. Juga memaafkan ibu. Kamu kan sudah tahu itu” jawabku pasrah karena Tomi masih terus bersikeras dengan keinginannya


“Tapi aku tetap tidak akan menceraikan kamu Dinda” bentaknya


Aku tersenyum getir mendengarnya membentak ku, terlebih ketika melihat Putri menarik tangan Tomi agar dia duduk kembali


“Lanjutkan pak hakim. Bapak lihat sendirikan sikap temperamennya” ucapku santai yang mampu membuat Tomi terperangah


“Oh iya ibu Putri yang terhormat, sebelum pak Marsudi menjadi pengacara saya, saya terlebih dahulu meminta anda menjadi pengacara saya. Tapi saat itu anda mengatakan iya walau akhirnya saya memang tidak menghubungi anda lagi. Dan karena saya pernah bilang sama anda apa saja yang akan saya tuntut di pengadilan nanti, mungkin bisa anda sampaikan pada bapak Tomi” ucapku sambil tersenyum kearah Putri yang wajahnya langsung menegang begitu aku berbicara formal padanya


Bapak hakim menganggukkan kepalanya, dan terlihat dia seperti menuliskan sesuatu di buku catatan yang ada di depannya,kemudian setelah selesai beliau membuat kesimpulan jika gugatan akan berlanjut karena tidak menemukan jalan perdamaian. Dan keputusan beliau membuatku menarik nafas lega. Selesai dengan beliau membacakan kesimpulan, aku dan pak Marsudi langsung berdiri dan segera menjabat hangat tangan beliau. Selesai dengan menjabat tangan bapak hakim, aku kemudian menjabat tangan pak Marsudi, mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Kemudian aku mengulurkan tanganku kearah Putri yang mendongakkan wajahnya menatap mataku


Wajahku datar ketika menjabat tangannya, kemudian aku beralih mengulurkan tanganku kearah Tomi yang dengan lesu membalas jabatan tanganku. Sekilas aku menjabat tangan keduanya, setelah itu aku dan pak Marsudi keluar dari ruang mediasi dan berjalan menuju arah keluar


Aku mempercepat langkahku ketika kulihat Yesa yang duduk tertunduk sedang dikepung oleh ketiga sahabatku yang lain


“Jangan ganggu Yesa. Jika kalian benci sama aku, aku saja yang kalian lawan. Jangan Yesa” ucapku dengan menarik kasar bahu Mila agar dia menjauh dari Yesa


“Apa sebegitu pentingnya pelacur ini untuk kamu Din sampai kamu lebih memilih mengabari dia ketimbang kami?” bentak Mila


Aku tersenyum kearah mereka bertiga


“Sama seperti pentingnya Tomi dimata kalian” jawabku menohok yang membuat ketiga langsung terdiam


Setelah itu aku berbalik dan menarik tangan Yesa untuk berdiri dan mengajaknya pergi dari pengadilan ini. Yesa sedikit kesusahan mengikuti langkah kakiku ketika aku menyeret tangannya. Dan begitu sampai parkiran segera aku melepas tangan Yesa dan memintanya untuk segera masuk kedalam mobil. Ketika kami sudah duduk di dalam mobil, dengan tergesa aku segera keluar dari area parkir dan dengan ngebut aku langsung tancap gas.


Yesa yang duduk di sebelahku hanya diam saja melihatku mengendarai mobil dengan ngebut. Hingga akhirnya aku menghentikan mobil ketika kami sudah jauh keluar daerah. Tepatnya perbatasan menuju kota sejuk. Aku segera mematikan mesin mobil, dan langsung menelungkupkan wajahku di atas stir. Detik kemudian aku langsung menangis kencang seperti anak kecil

__ADS_1


Yesa hanya bisa menatap kearah Dinda dengan perasaan serba salah. Dia tidak berani berkutik bahkan hanya untuk menyentuh bahu wanita itu yang berguncang


“Kenapa? Kenapa kalian mengkhianati aku? kenapaaaa???!!!” teriakku sambil memukul-mukul stir


“Apa begitu buruknya sifatku sampai kalian juga mengkhianati kuuuuu???!!” teriakku lagi


“Aku salah apa sama kalian, kalian sahabatku, kalian jauh lebih penting dari keluargaku. Tapi mengapa kalian mengkhianati ku? Mengapa???!”


Setelah terus berteriak aku kembali menangis kencang. Sakit. Sakit sekali rasanya hatiku mendapati kenyataan hari ini. Bertubi-tubi aku dikhianati oleh orang yang aku sayang, dan terakhir hari ini para sahabatku yang telah puluhan tahun menjadi tempat berkeluh kesahku kini malah ikut mengkhianati ku. Sebagai manusia biasa, aku berfikir jika aku memang sangat tidak pantas dijadikan sahabat karena pada akhirnya para sahabatku ikut mengkhianati ku


“Yesa, kamu jujur sama aku. Apa sifat aku begitu buruk sampai mereka juga ikut mengkhianati ku?” ucapku cepat sambil menarik tangan Yesa


Yesa hanya bisa menelan ludahnya ketika aku menarik kencang tangannya. Melihat Yesa diam tangisku kembali pecah


“Berarti sifat ku memang buruk. Buktinya kamu diam” isak ku sambil melepaskan tanganku


Sontak Yesa segera merangkul ku yang membuatku kembali menangis kencang


“Menangislah. Keluarkan semua beban yang kamu rasakan” ucapnya sambil mengusap punggungku


Tangisku kembali pecah. Tanganku yang terkepal ku gunakan untuk memukul punggungnya. Dan Yesa hanya bisa memejamkan matanya menahan pukulan kencang Dinda pada punggungnya


“Apa salahku sama mereka Yes. Apa salah aku. Mengapa disaat aku ada masalah mereka malah menambahi bebanku?”


Yesa tak menjawab, dia terus saja mengusap-usap punggungku. Sampai akhirnya aku melepas dekapannya dan mengusap kasar wajahku. Kemudian aku tersenyum getir sambil menghembus nafas panjang


“Hingga pada akhirnya, aku mendapati semua yang aku cintai perlahan menjauh dari hidupku. Suami, dan sekarang para sahabatku”


Yesa juga ikut tersenyum getir mendengar ucapanku


“Yang sabar Din. Kamu tentulah sangat mengenal mereka. Mereka pasti memiliki alasan yang kuat mengapa mereka melakukan ini. Tapi yakinlah Din, Tuhan menguji kamu karena Tuhan yakin kamu kuat menghadapinya”


Aku menoleh kearah Yesa kemudian aku ikut tersenyum getir


“Mungkin kamu ada benarnya, tapi aku harus berterima kasih sama kamu Yes. Karena hari ini kamu ada menemani aku, jika kamu tidak ada entah apa yang akan terjadi sama aku. Aku tentu akan sangat terluka dengan perbuatan mereka”


Yesa menganggukkan kepalanya ke arahku. Dan setelah cukup tenang dengan menarik nafas panjang berkali-kali dan menata hatiku agar melupakan kejadian tadi, aku menanyakan tujuan Yesa selanjutnya


“Antarkan aku ke hotel saja Din. Karena aku menginap di sana, besok aku check out” jawabnya yang ku jawab dengan anggukan kepala dan segera mengantarkan ke hotel yang disebutkannya tadi

__ADS_1


Setelah itu aku langsung pulang ke rumah, sedikitpun aku tidak menceritakan bagaimana aku tadi bertemu dengan Yesa dan para sahabatku di ruang sidang. Aku hanya bercerita jika mediasi gagal, dan kami akan terus melanjutkan perceraian


__ADS_2