
Aku hanya nyengir ketika Nadia masih tampak kesal memadang ke arahku
“Mbak, ngapain sih cari penyakit dengan masih nyimpen nomor kunti satu itu” ucapnya sambil cemberut
Aku mengangkat bahuku
“Sudah lah Din, putuskan semua akses wanita itu untuk bisa menghubungi kamu lagi. Baik boleh, tapi janga bodoh”
Aku langsung menelan ludahku mendengar ucapan menohok dari pak Kusno. Nadia langsung mengangguk setuju sambil mengangkat kedua jempolnya kearah pak Kusno tanda dia sangat setuju dengan ucapan beliau
“Bukan begitu sih pak, aku itu sebenarnya mau buat dia panas saja. Setiap status yang sering aku bagikan selalu ada Yesa yang melihat”
“Terserah kamu jawab apa. Yang pasti bapak hanya ingin melindungi kamu saja. Bapak tidak ingin kamu akhirnya dimanfaatkan sama perempuan itu. Bapak tahu kamu Din, kamu tidak tegaan orangnya. Jadi cukup ya Din baik samas orang yang nggak seharusnya kamu baikin”
“Cukuplah pengalaman menjadi guru yang paling berharga. Jadikan perceraian kamu dengan Adi sebagai guru untuk kamu lebih bijak lagi. Kamu pasti sadar, bahwa kebaikan kamu kemarin itu telah dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh Adi”
“Bisa jadi, tadi itu hanya akal-akalan wanita itu biar kamu iba, dan membantunya. Iya kan?. Atau mungkin memang dia disuruh dengan Adi. Ngomong-ngomong, apa mantan suami kamu itu sudah keluar dari penjara?” sambung pak Kusno lagi
Aku diam, kemudian menggeleng. Sementara ketiga temanku yang lain tampak serius menatap ke arahku
“Aku nggak ngurusi Adi lagi pak. Terserah dia mau dihukum berapa lama. Toh memang dia wajib dan harus mendapatkan hukuman itu”
“Nah, maka dari itu Din. Kita kan nggak tahu, mantan suami kamu itu sudah bebas atau belum, bisa jadikan dia sudah bebas, dan menyuruh istrinya untuk menghubungi kamu. Dan memohon bantuan kamu. Bapak yakin, Adi sangat mengenal kamu”
Kembali aku terdiam, dan memikirkan ucapan pak Kusno. Entah mengapa selama ini aku tidak berfikir jika Yesa akan memanfaatkanku. Selama ini aku sengaja menyimpan nomornya hanya karena ingin membuatnya panas dan semakin iri melihat hidupku yang semakin bahagia, sedangkan hidupnya semakin sengsara
“Jangan melamun mbak, sini hp mbak, biar aku ubah settingnya, biar tidak ada nomor baru yang bisa menghubungi mbak. Saya khawatir jika nomor kunti tadi sudah di blokir sama Nadia. Kunti tadi akan beli kartu baru, dan kembali menghubungi mbak” ucap Redho sambil mengulurkan tangannya ke arahku
Tanpa piker panjang, aku segera memberikan hp ku kepada Redho, yang langsung diterimanya kemudian tampak tangannya mulai bergerak di atas layar hp ku. Dan kulihat tatapan wajahnya berubah serius.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit kemudian Redho mengembalikan hp padaku lagi
“Beres mbak, sekarang tidak ada satupun nomor baru atau nomor yang mbak tidak kenal bisa menghubungi mbak. Semjua panggilan dan pesan masuk dari nomor baru dan nomor tidak dikenal tidak akan bisa masuk ke hp mbak” ucapnya sambil tersenyum
Aku juga tersenyum kearahs Redho dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Lalu menoleh kearah Nadia yang masih serius menatap ke arahku
“Kenapa, kan sudah kamu blokir” tanyaku karena aku yakin dia masih tidak percaya padaku
“Heran saja mbak, kalau aku jadi mbak, sejak awal wanita kunti itu menghubungi aku, detik itu juga aku bakal blokir nomor dia. Persetan dia mau panas atau mau iri, toh memang hidup pelakor nggak akan bahagia-bahagia amat. Mana ada sih mbak pelakor yang bisa bahagia?”
“Orang yang merebut kebahagiaan orang lain. Lalu bersenang-senang diatas penderitaan istri sah, itu tidak akan bertahan lama. Karma akan menimpa mereka. Jikapun ada mereka yang bahagia, yakinlah kebahagiaan itu tidak akan bertahan lebih dari sepuluh tahun”
“Hukum tabur tuai itu ada mbak. Apa yang kita tanam itu juga yang akan kita tuai. Sama hal nya dengan si kunti itu, Cuma hitungan hari kan dia bahagia sama mas Adi?. Setelah itu dunia hingar bingar dan keluarga cemara yang dia banggakan, perlahan mulai hancur”
“Nggak yakin deh mbak aku kunti itu akan bertahan sama mas Adi. Dia mau sama mas Adi kan karena menganggap mas Adi kaya, setelah mas Adi dipenjara dan kere, apa dia masih mau? Nggak kan?. Bahkan ngurusi mas Adi ketika masuk rumah sakit kemarin saja dia nggak mau, malah nyuruh mbak?”
Aku mengangguk mendnegar ucapan panjang lebar dari Nadia. Kemudian aku menoleh kearah bu Halimah, karena hanya beliau saja yang tidak berkomentar seperti yang lain
Beliau tersenyum kemudian mengusap bahuku
“Masa iya, aku harus ngocehin kamu juga Din?. Apa nggak stress nanti kamu?”
Kami semua tertawa mendengar jawaban beliau. Lalu kembali pak Kusno menasehatiku panjang lebar. Yang intinya menyuruhku untuk bijak. Terlebih karena saat ini aku sedang hamil
Diperjalanan pulang dari kantor, aku lebih banyak diam. Ucapan para teman satu ruanganku tadi begitu mengena di hatiku. Dan sepertinya Tomi menyadari jika aku lebih banyak diam, terbukti dari dia yang mencuri-curi pandang padaku
“Kamu kenapa sayang?” tanya Tomi akhirnya karena aku hanya diam sejak tadi
Aku menarik nafas mendengar pertanyaannya. Lalu menggeleng
__ADS_1
“Capek?”
Kembali aku menggeleng
“Mau makan sesuatu?” tanya Tomi lagi
Sekali lagi aku menggeleng. Dan Tomi lalu mengulurkan tangannya mengusap kepalaku lalu berpindah ke perutku
“Jangan stress. Kalau ada masalah bilang sama kakak, siapa tahu kakak ada solusinya”
Kembali aku menarik nafas panjang dan akhirnya mencerita semuanya pada Tomi
“Jadi Yesa pernah nemuin kamu di kantor?”
Aku mengangguk pelan
“Mau apa dia?” nada suara Tomi terdengar dingin ketika dia bertanya seperti itu padaku
Dan kembali aku menceritakan kejadian Yesa ke kantorku yang akhirnya bisa dihentikan oleh Mila
“Sepertinya kamu butuh pengawal pribadi” ucap Tomi lagi yang membuatku kaget dan tertawa lirih
“Jangan lebai deh. Yesa nggak bakal berani lagi muncul di depanku, Mila sendiri yang membuatnya ketakutan dan kabur tanpa pamit lagi sama kami dan pak Burlian”
Tomi ikut tersenyum dan kembali mengusap kepalaku
“Untunglah semua teman dan sahabat kamu peka sayang, benar itu apa yang dilakukan oleh Nadia dan Redho. Kakak harus berterim kasih sama mereka”
Aku tersenyum. Dan membuka hp, kemudian mengecek memang sudah tidak ada lagi nomor Yesa di sana. Dan akupun tidak mengingat satu angka pun nomor perempuan itu. Sehingga jadi aman sekarang.
__ADS_1
Sampai di rumah aku disambut oleh ibu mertua dan kedua anakku. Dan ibu mertuaku langsung memegang tanganku dan menuntunku berjalan. Sudah seperti orang sakit saja aku diperlakukan beliau, tapi aku tidak berani protes. Aku takut beliau nanti akan tersinggung karena aku tidak enak terlalu diperhatikannya
Biarlah ini ku anggap sebuah anugerah memiliki ibu mertua yang sangat penyayang dan perhatian. Karena aku tahu tidak smeua menantu di dunia ini memiliki ibu mertua sebaik ibu mertua ku