
Tomi terus membolak-balikkan badannya tanpa bisa memicingkan matanya sedetikpun
Bayangan wajah Dinda yang sangat terluka begitu membekas di ingatannya.
Kembali wajah basah Dinda yang dulu pernah menangis histeris akibat kesalahannya melintas lagi di kepalanya
"Mengapa harus aku yang kamu sakiti?!"
Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di telinganya
Dan hari ini kembali dia harus melihat air mata wanita yang dicintainya jatuh kembali, dan lagi-lagi karena seorang pria yang dicintainya
Jam sudah menunjukkan dini hari, tapi mata Tomi masih juga tidak bisa diajak kompromi
Dengan gelisah dia duduk, menimbang antara menghubungi Dinda atau tidak
Karena dia yakin, wanita itu pasti saat ini belum tidur. Tapi jika dia menghubunginya apa tidak terlalu lancang, karena saat ini Dinda pasti ingin sendiri
Tomi menarik nafas dalam, meletakkan handphonenya kembali dan mencoba merebahkan kembali tubuhnya
...----------------...
Mataku sangat sembab akibat menangis semalaman, tapi jika aku tidak kekantor apa nanti kata pak Burlian
Apa aku izin saja ya?, batinku ketika aku bercermin pagi ini
Mataku sangat bengkak, aku yakin semua teman sekantor ku akan curiga dan bertanya bila melihatnya
Aku berjalan mondar mandir di dalam kamar, berfikir bagaimana caranya aku meminta izin sehari pada pak Burlian
Dengan ragu aku mendial nomor pak Burlian, memang masih terlalu pagi, tapi aku yakin beliau sudah bangun
Sambil menunggu sambungan telpon terhubung aku kembali berjalan mondar mandir di dalam kamar
"Ya Din?"
Dadaku berdegup kencang mendengar suara pak Burlian
"Ada yang bisa bapak bantu?"
Aku menggigit bibirku berusaha untuk tak gugup
"Ehm... saya rasanya kurang enak badan pak, bisa saya izin sehari ini saja..."
Di seberang pak Burlian mengernyitkan keningnya. Karena tak biasanya Dinda izin. Bahkan dulu sehari setelah menikah saja Dinda langsung masuk kerja
"Kamu sakit?"
"Iya pak..."
Pak Burlian yang saat itu sedang berolahraga tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan dan memberi izin untuk Dinda libur sehari
Setelah mendengar jawaban pak Burlian, aku menarik nafas lega dan segera turun kebawah, karena aku yakin kedua anakku telah siap untuk berangkat sekolah
"Ibuk nggak kerja?" tanya Naya begitu dilihatnya ibunya masih memakai daster
Aku menggeleng sambil membetulkan jilbab di kepalanya
"Duduk sini dulu ya, ibuk buatkan sarapan" lanjut ku sambil berjalan kebelakang
Arik keluar dari dalam kamarnya dengan menarik tas sekolahnya
"Ehhh anak ibuk sudah ganteng" pujiku karena dia telah wangi, sudah mandi
Aku kembali melanjutkan langkahku, membuatkan dua gelas susu dan segera menyiapkan roti
__ADS_1
Membawanya ke depan, meletakkan di atas meja. Naya yang melihat langsung segera menyambar gelas susu, menenggaknya hingga tandas
Sedangkan aku beralih pada Arik, mengganti bajunya dan memakaikannya sepatu
Selesai itu, Arik langsung meminum susunya dan segera mengunyah roti seperti yang Naya lakukan
Kembali aku naik ke kamarku, memberi kedua anakku uang saku dan uang untuk nabung
Saat aku mengeluarkan motor, kulihat mas Toro dan kedua temannya di depan pagar
Mobil masih hidup dan seorang diantara mereka turun, membuka pagar
Melihat ketiganya wajahku langsung berubah murka, tiba-tiba aku benci pada mereka bertiga. Karena mereka bertiga telah bersekongkol dengan suamiku membohongiku
"Yok nak, naik" ucapku pada kedua anakku yang segera naik ke motor
Dapat kutangkap jika wajah anak buah suamiku yang tadi membukakan pagar, begitu aku mendekat berubah tegang dan tak enak dipandang
"Mbak..." sapanya sopan
Aku hanya berdehem pelan menjawab sapaannya dan segera mengangkat wajahku ketika melewati truk yang masih hidup
Sepuluh menit berikutnya, aku sudah memarkirkan motorku di sebelah mobil truk yang tadi dibawa mas Toro
Kulihat jika ketiga anak buah suamiku duduk di gazebo dan langsung terdiam begitu aku datang
"Mas, tolong kalian sini sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan"
Wajah mas Toro dan kedua temannya langsung tegang dan saling toleh
Tapi tak urung juga mereka turun dari gazebo, berjalan mendekat ke arahku
"Duduk!" ucapku dingin
Ketiganya duduk, aku memandang tajam kearah ketiganya
Dengan cepat mas Toro membuka tasnya, memberikan kantong kresek hitam padaku
Aku segera meletakkan kantong kresek hitam tersebut di atas meja di depan kami
"Ada yang mau jujur disini?" kembali suaraku terdengar tak bersahabat
Ketiganya kembali saling toleh, dan diam
"Hebat kalian ya, kalian bersekongkol dengan Adi untuk menipuku!"
Wajah ketiganya kembali menegang
"Nggak usah bohong lagi, kalian bukan ke Lampung kan?, kemana kalian?"
Ketiganya masih diam
"Aku sangat percaya pada kalian bertiga mas, aku sudah menganggap kalian seperti kakakku sendiri, yang artinya kalian akan membelaku disaat suamiku bersalah"
"Tapi apa?, kalian bertiga malah mendukung dia dengan menyembunyikan kebenaran dariku" sambil berkata begitu kembali air mataku mengalir
Mas Toro dan kedua sahabatnya kian tertunduk mendengar Dinda yang sudah terisak
"Jahat kalian mas, kupikir selama ini kalian menganggap ku saudara kalian, kalian akan mengingatkan suamiku ketika dia melakukan kesalahan, tapi ternyata kalian mendukung perbuatannya"
"Sejak kapan mas kalian tahu perselingkuhan suamiku?"
Ketiganya masih diam. Aku menarik nafas panjang melihat mereka masih betah diam
"Ohh, jadi kalian memang lebih memihak suamiku, ya?" ucapku sambil manggut-manggut
__ADS_1
"Bukan begitu mbak" sergah mas Toro
"Sejak kapan kalian tahu???!" suaraku mulai meninggi
Tiga orang anak buah Adi dari kolam yang baru datang langsung kaget begitu mendengar teriakan Dinda
Mereka yang baru masuk pagar langsung saling toleh
"Nah, kalian. Kalian juga sini!!!" teriakku
Ketiganya berjalan cepat ke arahku, berdiri di dekat mas Toro yang kedua temannya yang duduk di kursi
"Jujur sama saya sekarang, sejak kapan kalian yang ada disini mengetahui perselingkuhan suamiku??!" kembali aku membentak
Ketiga anak buah yang dari kolam langsung saling toleh dan menggeleng tak faham
"Kalian tahu suamiku selingkuh?" tanyaku pada ketiganya yang langsung menggeleng cepat
"Jangan bohong, aku benci dibohongi!!!" teriakku
"Sumpah mbak, kami benar-benar tidak tahu" jawab yang paling tua diantara mereka bertiga
"Awas kalau aku tahu kalian membohongiku" ancam ku
"Demi Alloh mbak, sumpah!" jawab ketiganya cepat dan dengan nada penuh khawatir
Kembali aku menatap kearah mas Toro dan kedua temannya
"Jawab pertanyaanku mas, sejak kapan kalian tahu??"
"Sejak setahun yang lalu" jawab mas Toro pelan
Lemas rasanya kakiku, aku langsung terduduk lemas di kursi, menyandarkan tubuhku sambil menggigit bibirku menahan air mata yang siap tumpah
"Tapi sumpah mbak, kami terpaksa menutupi ini karena kami diancam" sambung temannya
Ketiga anak buah yang dari kolam kembali saling toleh dan memandang bingung pada Dinda yang terlihat sangat kacau
"Setahun?, itu artinya memang kalian sengaja menyembunyikan ini dariku" ucapku dengan tatapan kosong
"Kami diancam pak Adi, mbak. Jadi kami menurut, kami tidak berani berbuat apa-apa"
Aku bergeming mendengar alasan mereka
"Jadi, selama ini tiap pergi ngantar bibit, suamiku ikut itu artinya dia pergi ke rumah selingkuhannya?"
Ketiganya mengangguk
Kembali ulu hatiku merasa nyeri. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-paru ku yang terasa sesak
Keenam anak buah suamiku terus memandangiku dengan bingung dan gelisah
"Sini mas kunci mobilnya"
Mas Toro kembali membuka tasnya, dan memberikan kunci mobil padaku yang segera ku genggam begitu kunci motor itu berada di tanganku
"Terima kasih karena selama ini telah bekerja sama, sama kami, dan terima kasih juga karena selama setahun ini bersekongkol bersama suamiku membohongiku" lirihku
Lalu aku menarik nafas panjang
"Maaf untuk mas Toro dan kedua teman mas yang lainnya, mulai hari ini kalian terpaksa aku rumahkan. Aku tidak bisa melihat orang yang telah membohongiku ada di sekitar rumahku dan lingkunganku"
"Terima kasih karena telah baik sama aku dan anak-anakku, maaf jika selama ini aku telah mengecewakan kalian" lanjutku sambil berdiri dan meninggalkan mereka
Mas Toro dan kedua temannya langsung mengangkat wajah mereka dan segera berdiri mengejar Dinda yang telah masuk dan menutup pintu rumah
__ADS_1
"Mbak, dengarkan penjelasan kami mbak, mbak..." panggil mereka
Aku yang telah terlanjur kecewa pada mereka segera menutup telingaku, berjalan naik kembali kelantai atas