Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Memecat Mas Toro Dkk


__ADS_3

Tomi terus membolak-balikkan badannya tanpa bisa memicingkan matanya sedetikpun


Bayangan wajah Dinda yang sangat terluka begitu membekas di ingatannya.


Kembali wajah basah Dinda yang dulu pernah menangis histeris akibat kesalahannya melintas lagi di kepalanya


"Mengapa harus aku yang kamu sakiti?!"


Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di telinganya


Dan hari ini kembali dia harus melihat air mata wanita yang dicintainya jatuh kembali, dan lagi-lagi karena seorang pria yang dicintainya


Jam sudah menunjukkan dini hari, tapi mata Tomi masih juga tidak bisa diajak kompromi


Dengan gelisah dia duduk, menimbang antara menghubungi Dinda atau tidak


Karena dia yakin, wanita itu pasti saat ini belum tidur. Tapi jika dia menghubunginya apa tidak terlalu lancang, karena saat ini Dinda pasti ingin sendiri


Tomi menarik nafas dalam, meletakkan handphonenya kembali dan mencoba merebahkan kembali tubuhnya


...----------------...


Mataku sangat sembab akibat menangis semalaman, tapi jika aku tidak kekantor apa nanti kata pak Burlian


Apa aku izin saja ya?, batinku ketika aku bercermin pagi ini


Mataku sangat bengkak, aku yakin semua teman sekantor ku akan curiga dan bertanya bila melihatnya


Aku berjalan mondar mandir di dalam kamar, berfikir bagaimana caranya aku meminta izin sehari pada pak Burlian


Dengan ragu aku mendial nomor pak Burlian, memang masih terlalu pagi, tapi aku yakin beliau sudah bangun


Sambil menunggu sambungan telpon terhubung aku kembali berjalan mondar mandir di dalam kamar


"Ya Din?"


Dadaku berdegup kencang mendengar suara pak Burlian


"Ada yang bisa bapak bantu?"


Aku menggigit bibirku berusaha untuk tak gugup


"Ehm... saya rasanya kurang enak badan pak, bisa saya izin sehari ini saja..."


Di seberang pak Burlian mengernyitkan keningnya. Karena tak biasanya Dinda izin. Bahkan dulu sehari setelah menikah saja Dinda langsung masuk kerja


"Kamu sakit?"


"Iya pak..."


Pak Burlian yang saat itu sedang berolahraga tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan dan memberi izin untuk Dinda libur sehari


Setelah mendengar jawaban pak Burlian, aku menarik nafas lega dan segera turun kebawah, karena aku yakin kedua anakku telah siap untuk berangkat sekolah


"Ibuk nggak kerja?" tanya Naya begitu dilihatnya ibunya masih memakai daster


Aku menggeleng sambil membetulkan jilbab di kepalanya


"Duduk sini dulu ya, ibuk buatkan sarapan" lanjut ku sambil berjalan kebelakang


Arik keluar dari dalam kamarnya dengan menarik tas sekolahnya


"Ehhh anak ibuk sudah ganteng" pujiku karena dia telah wangi, sudah mandi


Aku kembali melanjutkan langkahku, membuatkan dua gelas susu dan segera menyiapkan roti

__ADS_1


Membawanya ke depan, meletakkan di atas meja. Naya yang melihat langsung segera menyambar gelas susu, menenggaknya hingga tandas


Sedangkan aku beralih pada Arik, mengganti bajunya dan memakaikannya sepatu


Selesai itu, Arik langsung meminum susunya dan segera mengunyah roti seperti yang Naya lakukan


Kembali aku naik ke kamarku, memberi kedua anakku uang saku dan uang untuk nabung


Saat aku mengeluarkan motor, kulihat mas Toro dan kedua temannya di depan pagar


Mobil masih hidup dan seorang diantara mereka turun, membuka pagar


Melihat ketiganya wajahku langsung berubah murka, tiba-tiba aku benci pada mereka bertiga. Karena mereka bertiga telah bersekongkol dengan suamiku membohongiku


"Yok nak, naik" ucapku pada kedua anakku yang segera naik ke motor


Dapat kutangkap jika wajah anak buah suamiku yang tadi membukakan pagar, begitu aku mendekat berubah tegang dan tak enak dipandang


"Mbak..." sapanya sopan


Aku hanya berdehem pelan menjawab sapaannya dan segera mengangkat wajahku ketika melewati truk yang masih hidup


Sepuluh menit berikutnya, aku sudah memarkirkan motorku di sebelah mobil truk yang tadi dibawa mas Toro


Kulihat jika ketiga anak buah suamiku duduk di gazebo dan langsung terdiam begitu aku datang


"Mas, tolong kalian sini sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan"


Wajah mas Toro dan kedua temannya langsung tegang dan saling toleh


Tapi tak urung juga mereka turun dari gazebo, berjalan mendekat ke arahku


"Duduk!" ucapku dingin


Ketiganya duduk, aku memandang tajam kearah ketiganya


Dengan cepat mas Toro membuka tasnya, memberikan kantong kresek hitam padaku


Aku segera meletakkan kantong kresek hitam tersebut di atas meja di depan kami


"Ada yang mau jujur disini?" kembali suaraku terdengar tak bersahabat


Ketiganya kembali saling toleh, dan diam


"Hebat kalian ya, kalian bersekongkol dengan Adi untuk menipuku!"


Wajah ketiganya kembali menegang


"Nggak usah bohong lagi, kalian bukan ke Lampung kan?, kemana kalian?"


Ketiganya masih diam


"Aku sangat percaya pada kalian bertiga mas, aku sudah menganggap kalian seperti kakakku sendiri, yang artinya kalian akan membelaku disaat suamiku bersalah"


"Tapi apa?, kalian bertiga malah mendukung dia dengan menyembunyikan kebenaran dariku" sambil berkata begitu kembali air mataku mengalir


Mas Toro dan kedua sahabatnya kian tertunduk mendengar Dinda yang sudah terisak


"Jahat kalian mas, kupikir selama ini kalian menganggap ku saudara kalian, kalian akan mengingatkan suamiku ketika dia melakukan kesalahan, tapi ternyata kalian mendukung perbuatannya"


"Sejak kapan mas kalian tahu perselingkuhan suamiku?"


Ketiganya masih diam. Aku menarik nafas panjang melihat mereka masih betah diam


"Ohh, jadi kalian memang lebih memihak suamiku, ya?" ucapku sambil manggut-manggut

__ADS_1


"Bukan begitu mbak" sergah mas Toro


"Sejak kapan kalian tahu???!" suaraku mulai meninggi


Tiga orang anak buah Adi dari kolam yang baru datang langsung kaget begitu mendengar teriakan Dinda


Mereka yang baru masuk pagar langsung saling toleh


"Nah, kalian. Kalian juga sini!!!" teriakku


Ketiganya berjalan cepat ke arahku, berdiri di dekat mas Toro yang kedua temannya yang duduk di kursi


"Jujur sama saya sekarang, sejak kapan kalian yang ada disini mengetahui perselingkuhan suamiku??!" kembali aku membentak


Ketiga anak buah yang dari kolam langsung saling toleh dan menggeleng tak faham


"Kalian tahu suamiku selingkuh?" tanyaku pada ketiganya yang langsung menggeleng cepat


"Jangan bohong, aku benci dibohongi!!!" teriakku


"Sumpah mbak, kami benar-benar tidak tahu" jawab yang paling tua diantara mereka bertiga


"Awas kalau aku tahu kalian membohongiku" ancam ku


"Demi Alloh mbak, sumpah!" jawab ketiganya cepat dan dengan nada penuh khawatir


Kembali aku menatap kearah mas Toro dan kedua temannya


"Jawab pertanyaanku mas, sejak kapan kalian tahu??"


"Sejak setahun yang lalu" jawab mas Toro pelan


Lemas rasanya kakiku, aku langsung terduduk lemas di kursi, menyandarkan tubuhku sambil menggigit bibirku menahan air mata yang siap tumpah


"Tapi sumpah mbak, kami terpaksa menutupi ini karena kami diancam" sambung temannya


Ketiga anak buah yang dari kolam kembali saling toleh dan memandang bingung pada Dinda yang terlihat sangat kacau


"Setahun?, itu artinya memang kalian sengaja menyembunyikan ini dariku" ucapku dengan tatapan kosong


"Kami diancam pak Adi, mbak. Jadi kami menurut, kami tidak berani berbuat apa-apa"


Aku bergeming mendengar alasan mereka


"Jadi, selama ini tiap pergi ngantar bibit, suamiku ikut itu artinya dia pergi ke rumah selingkuhannya?"


Ketiganya mengangguk


Kembali ulu hatiku merasa nyeri. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-paru ku yang terasa sesak


Keenam anak buah suamiku terus memandangiku dengan bingung dan gelisah


"Sini mas kunci mobilnya"


Mas Toro kembali membuka tasnya, dan memberikan kunci mobil padaku yang segera ku genggam begitu kunci motor itu berada di tanganku


"Terima kasih karena selama ini telah bekerja sama, sama kami, dan terima kasih juga karena selama setahun ini bersekongkol bersama suamiku membohongiku" lirihku


Lalu aku menarik nafas panjang


"Maaf untuk mas Toro dan kedua teman mas yang lainnya, mulai hari ini kalian terpaksa aku rumahkan. Aku tidak bisa melihat orang yang telah membohongiku ada di sekitar rumahku dan lingkunganku"


"Terima kasih karena telah baik sama aku dan anak-anakku, maaf jika selama ini aku telah mengecewakan kalian" lanjutku sambil berdiri dan meninggalkan mereka


Mas Toro dan kedua temannya langsung mengangkat wajah mereka dan segera berdiri mengejar Dinda yang telah masuk dan menutup pintu rumah

__ADS_1


"Mbak, dengarkan penjelasan kami mbak, mbak..." panggil mereka


Aku yang telah terlanjur kecewa pada mereka segera menutup telingaku, berjalan naik kembali kelantai atas


__ADS_2